“Aku sudah ingat semuanya. Dan aku sudah siap melawanmu.”
Seperti yang telah aku bicarakan sebelum-sebelumnya, takdir memang telah ditetapkan jauh sebelum manusia itu dilahirkan ke bumi. Hanya itu yang bisa menghancukan teori tentang waktu. Namun, bilamana kedua pernyataan itu menyatu, maka akan terjadi ketidakselarasan dalam aliran waktu itu sendiri. Jika manusia bisa mengubah takdirnya, maka itu dilakukan bukan dengan cara mengubah masa lalu. Hal yang aku yakini saat ini hingga aku datang ke hadapan Jaya di malam itu adalah karena aku menyadari bahwa tak seorang pun yang bisa mengubah takdir kecuali di masa kini.
“Oh? Benarkah? Tapi ... kau sudah terlambat menyelamatkan kekasihmu. Dia sudah kubunuh! Dan dia sungguh menyedihkan karena tidak bisa melawan sampai akhir khayatnya.”
“Jangan bercanda denganku, Bajingan!” jeritku dengan tatapan yang begitu tajam.
“Tidak, aku tidak sedang bercanda. Apa kau sedang melihat wajahku bercanda?” Jaya menyeringai sambil sesekali tertawa bergelak seolah-olah penderitaanku adalah kemenangan baginya.