Paradoks Waktu: Timeline

Marion D'rossi
Chapter #26

Kenyataan Pahit [2]

Mengapa air mataku tidak bisa keluar?! Tuhan, tolonglah! Kau boleh saja mencabut nyawa kekasihku, tetapi biarkan aku menangis sebagai rasa kasih sayang terakhirku untuknya. Tolong, Tuhan!

Beberapa menit berlalu, hujan turun begitu deras, mengguyur seluruh jagat raya. Masih terdengar gelak tawa penghinaan Jaya dan itu sangat menyebalkan. Hatiku seolah-olah berubah menjadi hitam. Jangan tanya sinar apa yang aku lihat ketika kemarahan mulai menyebar ke seluruh benakku, tentu saja semua menjadi gelap. Dan kuyakin, aku tak akan pernah menghentikan penyiksaan yang berniat kulakukan pada musuhku itu.

“BIADAB!”

Muak sekali rasanya ditertawakan. Aku seolah-olah merasa sangat lemah dan hina. Merasa diremehkan seolah-olah tidak punya harga diri dan kebanggaan yang harus aku lindungi. Memang, sejak bertemu Andini, aku seperti tak punya harga diri karena hanya dia yang terlintas di pikiranku. Bahkan hanya dia yang ingin aku lindungi meskipun harus mengorbankan nyawaku. Dia menjadi prioritas di dalam hidupku. Dia benar, meskipun aku sempat melupakannya, tetapi cinta itu tetap ada. Secuil sisa ingatan itu adalah waktu dan cinta yang berkombinasi menjadi debaran-debaran kerinduan.

Aku mengumpulkan energi alam dari semua pepohonan di taman tersebut. Mereka mendengar permintaanku sehingga cahaya kuning dan hijau mulai berputar-putar di sekeliling tubuhku. Pohon-pohon dikibaskan angin. Teleportasi diaktifkan, membuat waktu menjadi lebih lambat tiga puluh detik dari biasanya. Air hujan yang turun dari langit pun tampak melambat. Pun dengan gerakan Jaya. Tanpa basa-basi, aku melesat ke hadapannya dan menendang perutnya hingga dia memekik. Dia menahan rasa sakit dari tendanganku yang bisa dikatakan sangat keras dan bertenaga. Bahkan saking kerasnya, dia memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.

Lelaki itu terbatuk-batuk dan tampak kesulitan mengambil napas. Dia memuntahkan darah segar. Meski begitu, aku tak ingin berhenti. Amarah di dalam jiwaku masih belum puas hingga lelaki itu mati di tanganku sendiri. Kedua tanganku mengepal dengan kuat bagaikan semua kekuatan alam telah membungkusnya, membungkus seluruh tubuhku dengan energi yang tak terhingga. Pada saat waktu masih bergerak lambat, aku bergerak secara normal. Menghantam wajah Jaya secara membabi buta bersama luapan amarah yang memuncak. Kepalaku merasa panas seperti gunung merapi yang meletus dan mengeluarkan begitu banyak cairan lava panas bersuhu ribuan derajat Celcius.

Lihat selengkapnya