Tahun 2006
Seperti yang telah dikatakan Andini, aku yang telah menjadi penyelamatnya di tahun 2006 dengan kekuatanku. Betapa bodohnya aku yang tidak mengerti mengapa Wijaya selama ini hidup sendirian dan kenapa Andini saat itu selalu berwajah sedih ketika di sampingku. Mengejutkan, sekaligus menyedihkan. Menyebalkan, sekaligus menjijikkan. Semua perasaan itu ada di hatiku hanya karena tidak berdaya melawan waktu yang begitu ganas dalam memutuskan hidup dan mati seseorang. Cukuplah aku membenci waktu dengan segala hal yang dimuatnya. Takdir, kekuatan, atau apalah sebutannya. Aku jadi penasaran untuk mengetahui siapa sebenarnya pencipta kekuatan tak berguna yang aku miliki tersebut. Namun, daripada memikirkan hal itu, masih ada tugas penting yang harus aku tuntaskan. Aku pun sudah sepenuhnya mengerti tentang teori paradoks. Inilah perputaran waktu, perputaran takdir yang akan aku alami. Aku melakukan perjalanan menuju tahun 2006, tepatnya ketika Andini berusia sepuluh tahun. Dan di usia itulah dia sering bermain-main denganku.
Banyak hal yang sering kami lakukan ketika aku sudah berkunjung ke rumahnya bersama dengan ayahku. Kami bermain ratu dan putri, bermain tebak-tebakan, bermain pasir di halaman, mencabuti rumput-rumput liar, bahkan kami pernah mandi bersama dalam satu kamar mandi. Tak mengherankan, sebab di waktu kecil dulu, tak ada yang namanya pikiran negatif atau yang cenderung berpikir ke sisi seksual. Sebab, seperti itulah masa kecil kami yang dipenuhi oleh keinginan bermain, bermain, dan bermain. Semuanya tentang bermain, tetapi bersama-sama. Sebab, kebersamaan itu begitu menggembirakan.
Tahun 2006 adalah masa lalu. Dan tentu saja di tahun tersebut teknologi dan bangunan tidak secanggih di tahun 2018 atau di tahun 2050. Akan tetapi, melihat kota itu dalam keadaan yang belum sepenuhnya terkelola, merupakan perihal yang membuatku bernostalgia. Di tahun-tahun itu, kita dengan leluasa memilih tempat bermain. Juga dengan leluasa memilih ke mana akan pergi, meskipun sebenarnya aku lebih sering pergi ke bukit seorang diri menggunakan sepeda yang dibelikan ayahku waktu itu. Rasanya begitu menyenangkan, apalagi bila teringat saat pertama kali membonceng Andini dan dia memelukku dengan begitu erat hanya karena takut jatuh dari boncengan.
Beranjak dari segala hal yang membuat nostalgia itu, aku ingat bagaimana aku terlempar ke tahun 2050. Aku memang tidak pernah bertujuan untuk berteleportasi menuju tahun 2050, tetapi perasaan kehilangan sosok Andini itulah yang menuntunku ke tahun yang modern tersebut. Memang, sejak kematian ayahku, aku tidak pernah lagi bertemu Andini. Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh remaja dan telah melupakan sosok Andini, gadis satu-satunya yang dekat denganku. Ketika dewasa, sosok itu terpikirkan lagi di dalam benakku. Dan kuyakin bahwa keinginan itu juga yang menjadi benang merah terhadap takdirku sekarang. Aku jadi penasaran, apakah tak cukup alam memberikan hukuman padaku? Bahkan setelah cukup lama tak bertemu, lalu kami dipertemukan kembali, kami hanya diberikan waktu yang sangat singkat. Bahkan belum sempat aku merasakan pelukan-pelukan hangatnya yang melegakan dahaga rindu. Memikirkan perihal tersebut ibarat memicu kesedihan di hati. Kurasa, itu cukup berguna untuk membuat air mata terjatuh jika perasaan sedang tak menentu.
Pemandangan kota Mataram masih begitu sejuk dengan beberapa sawah yang membentang di tepi-tepi jalan. Tidak seperti di tahun 2018, bangunan-bangunan seperti: ruko, pasar, toko dan lainnya membuat napas sesak ketika memandangnya. Yah, bisa dimaklumi karena perkembangan di berbagai sektor begitu pesat. Tentu saja, tak ada yang benar-benar memiliki sisi negatif. Bagaimanapun juga, sektor-sektor itu dibutuhkan manusia sehingga bertahan hidup atau menumbuhkan kualitas hidup untuk mencapai kemakmuran.
Di sebuah jalan utama di kota ini, terdapat sebuah tempat yang merupakan kedai kopi. Kedai tersebut adalah milik keluarga Andini, tentunya. Itulah alasan mengapa dia sangat pintar membuat kopi dan selalu membikin diriku takjub. Kurasa, dia sangat berbakat untuk membuka usaha sejenis. Pernah terpikir untuk menjalani usaha tersebut bersamanya jika kami ditakdirkan menjadi suami-istri. Sayangnya, harapan itu telah tanggal tanpa sisa. Di depan kedai, ada sebuah papan yang menggantung bertuliskan “Kedai Kopi Ayu”.