Seketika itu juga, aku menoleh ke arah si gadis yang mulai angkat bicara untuk menjawab pertanyaanku. Aku menunggunya melanjutkan penuturannya.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku melihat cahaya malam itu. Cahaya yang bersinar sangat terang. Semua orang yang berada di dalam rumah berbondong-bondong keluar untuk menyaksikan cahaya yang entah berasal dari mana. Tak lama kemudian, cahaya itu makin terlihat dekat. Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri.
“Ribuan batu menghujani seluruh tempat ini. Semua bangunan, kendaraan, bahkan orang-orang tewas dalam seketika. Sepertinya Tuhan sudah menghukum manusia karena kesombongan mereka.”
Sepanjang cerita yang dipaparkan gadis tersebut, mulutku seolah-olah bungkam. Masih banyak pertanyaan yang harus kuajukan. Namun, bahkan untuk percaya ceritanya saja begitu sulit. Tidak, maksudku, mungkin aku saja yang tidak bisa menerima cerita semacam itu. Bisa saja dia membohongiku demi hanya sekadar menjawab pertanyaanku dan aku segera pergi meninggalkannya.
“Itulah yang terjadi. Dan sekarang kamu lihat sendiri. Semua orang mati. Bangunan tidak ada yang utuh.”
Mengembuskan napas panjang, aku menunduk. Mengumpulkan beberapa pertanyaan yang tersisa untuk kutanyakan.
“Katamu semua orang mati, tapi kenapa kamu dan bayi itu bisa hidup?”
Si gadis mengangguk pelan. “Aku tidak tahu kenapa aku bisa bertahan hidup dari musibah besar itu. Tapi, satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaanmu, aku hidup karena takdir. Begitu pun dengan bayi ini. Aku mungkin sudah ditakdirkan untuk merawat dan membesarkannya.”
“Takdir?”
Padahal, aku kerap kali berbicara perihal takdir. Ternyata, di tempat lain dan garis waktu yang berbeda, takdir terus dibicarakan dan dipercaya oleh sebagian besar orang, termasuk si gadis. Saat itu juga, aku jadi sedih membayangkan diriku yang tidak bisa menerima takdir. Bahkan sempat memaki-maki dengan kemarahan yang meledak-ledak. Sedangkan, gadis itu mengalami sesuatu yang buruk, tetapi dia tetap bersikap tenang dan seolah-olah matanya yang bulat itu menampakkan sebuah harapan. Nyaris tanggal, tetapi aku melihat bahwa dia berusaha mempertahankannya.