Paradoks Waktu: Timeline

Marion D'rossi
Chapter #34

EPILOG: Sebuah Awal dan Akhir

12 tahun kemudian

Tahun 2030

Tahun ini adalah kejayaan bagi seluruh dunia. Teknologi sepenuhnya menjadi alat yang sangat membantu manusia. Di kota ini, ratusan bangunan pencakar langit telah didirikan. Setiap desa dan hutan telah diubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Penduduk kota makin padat. Segala macam transportasi diciptakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas mereka. Banyak robot telah diciptakan. Dan semuanya hanya untuk membantu manusia.

Di sini, hanya ada satu desa yang tidak akan pernah bisa direnggut kealamiannya oleh pemerintah, yaitu desa yang disebut desa yang ditinggalkan atau Desa Tebilin. Hingga kapan pun, desa ini akan menjadi tempat untuk menyerap banyak energi alam bagiku. Dan satu-satunya yang terpenting di desa ini adalah tubuh gadis yang kucinta. Meski telah melebur dan menyatu dengan tanah, tetapi makam tersebut akan menjadi satu-satunya tempat penenang bagiku.

Bersama dengan orang-orang yang mencintai desa mereka, aku hidup di sini dan menjadi seorang pekebun. Sejak kematian Andini, aku tidak pernah berkeinginan mencari penggantinya. Aku merasa bahwa cinta di dalam diriku tidak akan bisa dimiliki wanita lain. Hatiku seolah-olah sudah mati, tetapi masih terasa hidup begitu mengingat Andini. Sebab, kutahu bahwa dia belahan jiwaku. Sebab kutahu bahwa dia penyemangat hidupku. Dan kutahu bahwa dia nyawaku.

Seperti yang kukatakan, takdir selalu memberikan kejutan pada setiap manusia. Kita tidak akan pernah bisa memprediksi takdir kita sendiri. Kita tidak akan pernah bisa melihat masa depan kita sendiri. Takdir akan terus berputar. Diriku di aliran-aliran waktu yang lain akan merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang mereka cinta. Mereka akan merasa terpuruk. Mereka akan berpikir untuk mengubah masa lalu. Meskipun terpuruk dan terus mengalami sakit yang teramat, hal ini akan menjadikan mereka tetap kuat. Kokoh. Mereka akan menjadi tak terkalahkan, bahkan meski kenyataan pahit mencoba menghancurkan keteguhan hati mereka.

Hanya saja, aliran waktu telah berubah, khususnya di garis waktu tempatku berada. Puluhan tahun yang lalu, aku tersesat di sebuah tempat di garis waktu yang lain. Seorang gadis membuatku sadar bahwa takdir tak selamanya bisa menang. Sebab, manusia sendiri yang memegang kendali atas takdirnya sendiri. Bertahun-tahun aku mencari jawaban dari kalimat yang terkesan sederhana itu, tetapi begitu rumit dimengerti. Hingga pada akhirnya, aku mendapatkan kesimpulan bahwa takdir bisa diubah, sedangkan masa lalu sama sekali tak dapat diulang kembali. Yang bisa mengulang semua itu hanya waktu dan imajinasi. Hanya fantasi yang bebas tanpa mengkhawatirkan ketakutan-ketakutan yang bisa saja menghampiri.

Masa lalu adalah pengalaman. Pengalaman adalah guru terbaik bagi setiap manusia. Kita akan terus belajar segalanya ketika melewati waktu-waktu manis maupun pahit. Yang pasti, waktu yang telah pergi akan mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakannya. Serta yang terpenting, bahwa cinta akan tetap terabdi hingga kapan pun.

Karena masa lalu sangat berharga.

Ketika aku sedang duduk di beranda rumah sederhanaku, seorang lelaki bertubuh tinggi dengan tatapan tajam berdiri di depanku. Kedua tangannya terkepal kuat. Dia menunduk, sedangkan aku melihatnya lamat-lamat.

“Siapa kamu?” tanyaku.

Aku tak mendapatkan jawaban apa pun dari sosok yang tak kuketahui tersebut. Melihat dari postur tubuhnya saja, aku yakin tidak pernah memiliki rekan seperti dirinya. Meskipun memang sampai detik ini aku masih belum menjalin pertemanan apa pun dengan siapa pun. Sebab, aku mungkin telah asyik dengan diriku sendiri. Aku telah menikmati kesendirianku yang penuh tantangan.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku kemudian.

“Jangan tanya apa yang aku inginkan. Tentu saja, sama seperti apa yang kamu inginkan.”

Keningku mengerut mendengar jawabannya. Suaranya sangat tegas dan begitu dalam. Dari yang bisa aku tangkap, dia juga salah satu dari orang yang mengalami kehilangan. Pada dasarnya, aku bisa mengetahui mana orang yang tengah mengalami kehilangan atau tidak. Namun, sebagian besar orang pasti pernah mengalami hal tersebut. Hanya saja, rasa kehilangan yang aku maksud jauh berbeda dari orang kebanyakan. Perasaan yang begitu dalam dan sangat sulit dihindari. Pikiran yang terus-menerus membayangkan akan sebahagia apa jika tidak mengalami kehilangan tersebut.

“Mengembalikan sesuatu yang hilang?”

Lihat selengkapnya