Paraji

Eka Retnosari
Chapter #1

Hajjah Aminah Menggoreng Kacang Tanah

Hajjah Aminah telah meninggalkan tempat tidurnya sejak azan Subuh belum berkumandang. Ia memiliki kebiasaan membersihkan tubuh, mandi besar, setiap hari, pada pukul tiga pagi. Sementara suami Hajjah Aminah akan melakukan hal yang sama tiga puluh menit setelahnya. Keduanya kemudian akan memakai pakaian warna serupa, putih yang sama, melakukan salat malam bersama-sama sebanyak dua belas rakaat. Saat azan Subuh berkumandang, suami Hajjah Aminah akan meninggalkan rumah dan sajadah yang biasa digunakannya untuk mengaji dan melaksanakan ibadah salat. Ia dengan jubah putih di tubuhnya akan berjalan kaki, dengan sandal kulit hitam di kedua telapak kaki, menuju masjid. Di gapura, suami Hajjah Aminah akan berpapasan dengan beberapa lelaki yang kepalanya ditutupi peci yang sama, kemeja yang sama. Kelak, seusai salat, kemeja tersebut akan dilekatkan kemudian digantung di salah satu gantungan pakaian. Di balik pintu yang terbuat dari bahan kayu dan cat kayu yang sebagian telah mengelupas karena usianya telah melintasi angka sepuluh tahun. Aki Ada akan berjalan sepelan siput meski kedua matanya masih awas melihat jalanan, tetumbuhan, dan segala macam selebaran yang ditempelkan dan direkatkan di permukaan dinding rumah kosong yang telah ditinggalkan oleh penghuninya sejak rombongan penyanyi jalanan melakukan semacam keributan di halaman depan rumah yang berdampingan dengan gapura dan gang serta lorong menuju turunan, sepuluh meter dari masjid yang terletak di ketinggian yang sama dengan tanah pekuburan. Setiap pagi mereka akan melakukan ziarah, kunjungan kepada tanah-tanah yang telah ditutupi semen, dilapisi berbagai cat, serta dihangatkan oleh karpet bergambar masjid yang sama. Setiap Ramadan tiba, motif dan warna tersebut akan berganti. Semula hijau, kemudian merah di seluruh telapak kaki. Pada pertengahan musim hujan, seseorang yang pernah bertugas untuk menulis kaligrafi di empat ruas dinding lantai dua masjid akan meneriakkan tetesan hujan yang merembes ke permukaan masjid kemudian tiba di salah satu ubin. Ia kemudian akan memanggil salah seorang lelaki, jemaah masjid, yang juga gemar menunaikan ibadah salat Subuh berjemaah di masjid tanpa menjedanya dengan rasa kantuk dan ramai aroma kopi serta kepulan yang berasal dari batang rokok yang dibeli eceran dari warung Batak yang akan membuka pintu rumahnya pada pukul enam pagi. Mulutnya akan ramai mengiklankan sosis sapi yang merahnya akan menggenang berdampingan dengan nasi putih ketika ia dimasak dengan bumbu sup, meski tanpa menyertakan daun bawang dan potongan bawang goreng. Hajjah Aminah akan menunggu kepulangan suaminya dengan memisahkan kacang tanah, kacang panjang, dan menempatkan sayuran hijau yang belum dimasak ke dalam mangkuk besar bermotif belang-belang. Ia akan nyaring terdengar begitu terjatuh sementara mulut Hajjah Aminah tak pernah lekang memanggil nama Penciptanya, tiap kali panggilan atau kendaraan besar melintas dengan membawa muntahan dari knalpot yang memiliki lubang pembuangan sebesar kepalan sepuluh orang anak Sekolah Dasar. Hajjah Aminah akan menempatkan segala macam bumbu yang diperlukannya. Ia tak pernah melupakan kencur, bawang putih, dan bawang merah. Waktu Subuh hingga menjelang pukul delapan adalah waktu yang tepat untuknya membuka pintu rumah sehingga angin segar dan udara tanah pekuburan yang telah disemen akan sampai ke permukaan wajah yang memiliki jadwal dua kali seminggu mendapatkan olesan bedak Saripohaci. Butiran putih yang telah dipilin menjadi satu per satu remahan yang akan memerlukan beberapa tetesan air. Meski rumah Hajjah Aminah berseberangan dengan rumah warung Batak, hal itu tak serta merta membuatnya memesan banyak bumbu dan sayuran demi memenuhi ruang masak yang memiliki ukuran yang sama dengan ruang makan di samping warung nasi yang baru dikelola selama enam bulan. Tante pemilik warung Batak akan menyalakan mesin mobil Carry yang diparkir di halaman rumah agar seorang lelaki Batak dapat menggunakannya pada pukul tujuh pagi. Salah satu mobil yang dimilikinya digunakannya untuk mencari penumpang yang mayoritas adalah anak-anak usia sekolah, pekerja kantor pemerintahan, dan buruh pabrik yang memutuskan untuk menghabiskan usianya dengan menghemat dan menabung kemalasan. Jarak antara warung batak dengan pabrik yang berderet di sepanjang jalan menuju jalan besar yang kelak akan berganti nama menjadi Jalan A.H. Nasution, sekitar lima ratus meter. Biasanya, buruh-buruh pabrik akan berjalan kaki. Menempuh lima belas menit perjalanan dengan memperbincangkan rekan kerja yang belum melunasi cicilan sepeda motor dan berencana akan menambah cicilan telepon genggam terbaru. Sementara anak-anak Sekolah Dasar yang bersekolah di Sekolah Dasar yang tanahnya merupakan tanah pemerintah, akan berjalan kaki seorang diri. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan mainan yang bisa dimainkan ketika menghabiskan waktu dengan melamunkan nasihat yang disampaikan oleh ibu yang melahirkannya tentang dua batang kaki yang tak boleh dibuka terlalu lebar di hadapan orang asing. Mereka biasanya akan mengajukan pertanyaan yang sama, pertanyaan serupa, tentang batang kaki. Tentang jarak dan orang asing. Tentang seberapa asingnya orang-orang yang mereka temukan dan mereka temui sepanjang perjalanan. Apakah guru yang mengajar mereka selama delapan jam sehari adalah orang asing. Bagaimana dengan penjaga kantin yang memiliki jadwal memasak dan menghidangkan makanan yang sama pada setiap harinya. Dengan potongan wortel yang diiris sama tipisnya dan jumlah daun bawang yang sama banyaknya. Lalu bagaimana dengan teman sekelas yang mulut dan wajahnya akan tertawa bersama ketika seseorang mengeluarkan sebuah lelucon tentang piring terbang dan warna celana dalam salah seorang murid perempuan yang khilaf tak memakai celana dalam sepanjang lutut. Atau mata kaki. Seringkali ibu yang melahirkannya akan memilih dapur sebagai tempat kembali dan menekuri bayang-bayang yang berasal dari pantulan sinar matahari dan asbes yang dipotong melintang. Serupa roti tawar di atas pinggan dan piring sarapan pagi Icel, anak Tante pemilik warung Batak yang saat itu sedang berjuang untuk menambah kosakata agar suatu hari nanti dapat bekerja di sebuah kapal dengan kemampuan bahasa Inggris yang melebihi adik semata wayangnya, yaitu Itta. 

Mereka beragama Kristen sehingga waktu pagi hari akan mereka isi dengan mengerjakan hal-hal lain selain membaca buku, memutar ulang pita kaset, dan menulis sejumlah catatan di dalam buku tebal bergaris. Keduanya, Icel dan Itta, tak pernah mempertengkarkan pendapatan yang diperoleh tiap kali Tante pemilik warung Batak mendapatkan pemasukan melebihi lima ratus ribu pada salah satu hari. Hari Senin adalah hari teramai, namun keramaian tak selalu mendatangkan keselamatan dan keuntungan. Hari Sabtu, sopir yang juga orang Batak akan memarkir mobil Tante Batak untuk menyetorkan uang dengan jumlah melebihi angka lima ratus ribu rupiah. Itta selalu abai pada segala bahasan dan percakapan tentang penghasilan ibunya yang didapat dari menyewakan mobil untuk dijadikan salah satu di antara banyaknya angkutan kota. Ia lebih memilih untuk kembali pada laman dan akun media sosial yang telah dikelolanya selama bertahun-tahun. Kelak, ia akan menjadi salah satu di antara pedagang pakaian daring yang memiliki penghasilan lebih banyak daripada Tante Batak pemilik warung dan pemilik mobil angkutan kota. Sementara itu, Hajjah Aminah sangat mencintai semua masakan yang dimasaknya. Terlebih ketika ia harus menyertakan gula ke dalam letupan kuah sayur kacang merah yang direbus pada waktu yang lama dengan santan yang diparutnya seorang diri. Anak semata wayangnya hanya sekali waktu membantunya memarut kelapa yang dibelikan oleh suaminya di pasar setelah menuntaskan dua rakaat salat sunat qabla Subuh dan dua rakaat salat Subuh. Suami Hajjah Aminah memiliki tiga buah mobil dan dua buah motor. Pada waktu menjelang pagi, suami Hajjah Aminah akan menaiki salah satu motor, menelusuri ruas jalan PU, melintasi kawasan golf yang berdampingan dengan tungku bata merah setinggi Gunung Manglayang. Suami Hajjah Aminah menyeberangi jalan, melintasi kawasan sekolah swasta yang siswanya sedang belajar untuk menyelipkan candaan ke dalam percakapan-percakapan rahasia di dalam toilet ataupun ruang UKS. Harum tubuh mereka akan tercium hingga menempati rongga hidung suami Hajjah Aminah. Sepeda motornya akan melintasi kawan Zipur, berpapasan dengan prajurit dan tentara yang mengisi pagi harinya dengan berlari-lari pagi. Setelah deretan perumahan tentara yang seluruhnya dicat dengan hijau yang sama, suami Hajjah Aminah akan memasuki kawasan alun-alun. Berpapasan dengan perempuan tua penjaja serabi yang telah menjajakan serabi dengan satu-satunya rasa yang sama. Oncom yang sama, penyedap rasa yang sama, cabai-cabai yang sama. Tak jauh dari lelaki penunggu jam tangan dan lelaki penunggu cincin serta perhiasan yang dijual oleh salah seorang lelaki berusia tanggung yang memerlukan biaya tambahan untuk membayar SPP. Suami Hajjah Aminah akan memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah gedung pertokoan yang menjajakan buku tulis lusinan, pas foto yang bisa ditunggu hingga foto ukuran buku rapor dan KTP akan terkemas dalam sobekan kantung pas foto yang tak jauh berbeda dengan kantung pengemas gorengan. Deretan pasar yang menjajakan sayuran segar yang daunnya masih digigiti oleh ulat terletak di bagian bawah gedung pertokoan yang menjual tak hanya buku tulis. Buku TTS, tempat pensil yang permukaannya memiliki piano mungil sebanyak dua belas tuts, serta alat-alat untuk menulis dan menggambar. Di bagian tengah deretan tersebut, terdapat toko yang memajang majalah anak-anak dan majalah remaja terbaru. Majalah Bobo, Tabloid Fantasi, Komik Serial Cantik, Majalah Aneka Yess!, Majalah Gadis, dan Majalah Kawanku

Sepulang sekolah, remaja yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama akan menelusuri jalanan samping pasar, menaiki untaian tangga, dan memilih salah satu majalah. Biasanya, siswi Sekolah Menengah Pertama tersebut akan memilih majalah Kawanku agar mereka dapat menggunting pin up dan menempatkannya ke dalam salah satu halaman plastik yang memuat seluruh pin up artis kesayangan. Penyanyi, kelompok penyanyi, aktor, aktris, ataupun pembawa acara musik yang saat itu sedang naik daun. Sementara pegawai staf Tata Usaha sekolah akan melakukan hal yang sama, namun memilih majalah yang lain. Buku bacaan yang di dalamnya terdapat bacaan-bacaan seperti surat pendek, zikir, primbon dan tafsir mimpi, serta kumpulan doa bagi jemaah pengajian. Suami Hajjah Aminah akan menghabiskan empat puluh menit waktunya demi mendapatkan sayuran segar dan ayam yang baru dipotong di hadapan mata. Dengan darah yang masih mengalir. Lima ekor ayam, masing-masing dipotong dan dibagi menjadi dua belas bagian. Ia selalu tak melupakan kunyit serta daun salam. Pada akhir pekan atau pertengahan bulan, seseorang akan membuat sebuah pesanan. Nasi tumpeng yang santannya dihasilkan dari empat butir kelapa yang diparut dengan menggunakan mesin. Suami Hajjah Aminah tak memerlukan waktu lama demi mendapatkan parutan kelapa yang kelak akan berubah dan berpindah ke dalam perut sopir angkot, jemaah masjid An-nur, dan sebagian penagih utang. Rentenir dan lintah darat yang memiliki sepasang alis tebal yang dibuat oleh pensil alis kualitas pasar dan bibir merah yang pinggirannya pun dibuat oleh pensil kualitas pasar. Hajjah Amanah selalu menyelipkan amarah tiap kali suami Hajjah Aminah membawa pulang parutan kelapa. Ia tak pernah menyertakan parutan kelapa sebagai salah satu bahan masakan atau bahan makanan yang kelak akan diolahnya. Hajjah Aminah akan kembali memeriksa daftar belanjaan yang ditulisnya sesaat setelah menunaikan ibadah salat Subuh dengan mukena putih masih membalut tubuh. Hajjah Aminah menulis daftar belanjaan yang diperlukannya pada hari itu dengan menggunakan kertas bergaris bersampul Tweety Bird dan pena Pilot warna hitam. Anak satu-satunya akan meninggalkan rumah pada akhir pekan untuk berjalan-jalan dengan sepeda berkeranjang merah. Ia akan menelusuri ruas jalan yang sama, melintasi plang bertuliskan alamat dan kelurahan yang memisahkan kawasan komplek perumahan dengan perkampungan, dua gapura besar yang memisahkan deret warung berjumlah tiga yang masing-masing berjarak sekitar dua hingga sepuluh rumah. Sementara kawasan komplek perumahan tak pernah memiliki warung, kecuali sebuah toko yang menjajakan roti kemasan mungil, seukuran genggaman tangan anak usia Sekolah Dasar dan jasa fotokopi serta menjilid proposal yang diajukan oleh warga komplek ataupun warga perkampungan. Saat mereka hendak membuat dan merancang setelah memperkirakan angka, jumlah dana, besaran yang diperlukan untuk memperbaiki jalan, atap masjid, cat dinding, mengganti keran air, atau membayar seseorang yang bertugas untuk menyampaikan ceramah di atas mimbar setiap Jumat atau Minggu malam. Ceramah dengan tema yang masing-masing berlainan. Tentang keluarga, rumah tangga, kehidupan bertetangga, dan cara menjaga keimanan di tengah hiruk pikuk masyarakat. Toko kecil tersebut dijagai oleh seorang lelaki yang sekali waktu pernah menempuh perjalanan menaiki bus antarkota, Bandung-Jakarta, untuk kemudian bekerja sebagai seorang pekerja kantoran. Lelaki tersebut menghabiskan lima tahun yang penuh peluh, mengisi pagi harinya dengan menahan lapar, berpuasa Daud, hingga memperoleh tabungan yang cukup untuk membuka toko. Benda-benda yang pertama kali terpikir olehnya adalah alat-alat tulis yang lazim digunakan oleh pekerja kantoran dan siswa Sekolah Dasar yang bersekolah tak jauh dari toko kecil tersebut. Lelaki tersebut acapkali disapa dengan sapaan Pak Kusno, setiap kali anak perempuan Hajjah Aminah tiba di toko kecil tersebut untuk membeli dua buah pena Pilot bertinta hitam serta sebuah buku bergaris yang kelak akan ia tulisi dengan berbagai macam tulisan.      

Lihat selengkapnya