Paraji

Eka Retnosari
Chapter #2

Tumpukan Koran Kuning di Gudang Belakang

Hajjah Aminah sedang menjerang bawang putih yang telah ia haluskan selama satu jam dengan menggunakan kedua tangan yang putih bersih. Anak perempuannya, Aat, baru saja memarkir sepeda berkeranjang merah di halaman. Di samping bola plastik besar berwarna pelangi yang ditinggalkan oleh salah seorang ibu dan anak ketika mereka memasuki halaman rumah Hajjah Aminah untuk mengikuti penimbangan bayi. Setiap satu bulan sekali, halaman dan teras rumah Hajjah Aminah akan digunakan untuk menjadi tempat penimbangan bayi usia enam bulan hingga bayi lima tahun. Sebelum Subuh, anak perempuan Hajjah Aminah yang sebelumnya telah merendam tiga kilogram kacang hijau akan mulai merebusnya hingga tiba waktu yang tepat baginya memasukkan gula merah dan gula pasir. Balon, pedagang boneka kertas, dan bola plastik adalah pereda tangisan kalau-kalau menimbang badan adalah hal yang sama menyeramkannya dengan wajah seorang penagih atau pelaju kendaraan roda dua yang melesat dengan tanpa memperhitungkan wajah dan tubuh yang telah memilih satu area untuk berdiri. Menghitung dan menekuri jumlah pelaju pada setiap harinya.                                    

Anak perempuan Hajjah Aminah membawa pulang majalah wanita, alat tulis, dan ingatan tentang jadwal untuk berkunjung ke rumah seorang kawan yang gemar mendengarkan lagu jazz saat ia sedang menghafalkan banyak materi dari buku ajar yang pernah dibelinya ketika masih menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas. Ia mempunyai kawan yang gemar membaca buku teks pembelajaran daripada novel, koran, dan majalah yang memuat banyak lamunan dan warna pakaian. Hitam, abu-abu, merah, hingga warna pelangi. Untungnya, kawan perempuannya selalu tak keberatan, kalau-kalau ia memerlukannya untuk menjadi perisai saat ia harus mengunjungi perpustakaan demi mendapatkan majalah yang diinginkan, artikel yang dicari, gambar seorang tokoh yang memesona, atau salah satu di antara banyak novel Balai Pustaka yang tokoh lelaki beserta kemejanya akan melintasi teras rumah bagian belakang ketika ia menuntaskan cerita yang dibacanya. Atau suatu ketika, saat Bandung sedang mengadakan pameran buku. Keduanya akan meninggalkan rumah, menaiki kendaraan umum, dan menerobos hujan hingga akhirnya tiba pada banyak wajah serta bilik yang mempertemukannya pada banyak judul. Kawan perempuannya memutuskan untuk tidak menikah selamanya agar ia memiliki banyak waktu luang untuk menemani Aat memilihkan judul buku yang tepat atau mengatakan bagus atau tak bagus ketika ia memakai pakaian baru yang dibuat dan dirancang di rumah salah seorang penjahit kampung yang mesin jahitnya memiliki usia yang sama dengan hujan yang turun setiap kali musim hujan tiba. Selain buku-buku baru, sandal perempuan yang terbuat dari bahan serupa dengan kulit sofa depan, tak jauh dari jendela tempat ia menghitung jumlah kendaraan yang melintas tanpa suara, Aat akan memilah kartu nama yang disodorkan oleh lelaki dan perempuan yang bertugas untuk mengiklankan judul buku. Saat pulang, Aat dan kawan perempuannya akan menelusuri Jalan Braga sambil mengobrolkan salah satu tokoh dalam salah satu buku, roman yang tuntas dibacanya dalam waktu dua hingga tiga hari. Di sela-sela kegiatan mengupas kulit bawang, menyiapkan banyak kacang hijau, dan membersihkan rumah. Kawan perempuannya memiliki kamera mungil yang digunakannya untuk memotret ruas jalan, trotoar, pedagang kaki lima, dan pelukis yang melukis wajah perempuan, harimau, hewan di kebun binatang, dan pemandangan sepanjang Jalan Siliwangi. Keduanya kemudian akan beristirahat sejenak di salah satu rumah yang menjadikan bakso dan mi kocok Bandung sebagai menu andalan. Perempuan berusia empat puluh sembilan yang tubuhnya dibalut gaun dengan dua lengan berbentuk pipa tipis akan menyambut dengan senyuman dan sapaan. Ia menjadikan garasi rumahnya sebagai kedai yang setiap lampunya akan dipadamkan pada pukul sepuluh malam. Lima buah meja tanpa kain penutup meja dan taplak, empat buah kursi prasmanan di masing-masing meja. Tisu dalam kotak berwarna ungu muda, berhiaskan bunga sakura, serta sehelai kertas bertuliskan varian bakso dan mi kocok. Aat dan kawan perempuannya akan memilih meja dan kursi yang menghadap ke arah jalan. Sementara kursi dan meja di sudut belakangnya telah diisi oleh pasangan lelaki dan perempuan yang tersipu dan tertawa ketika membahas tentang hadiah yang bisa mereka kirimkan untuk salah seorang kerabat yang berulang tahun, sementara kerabat yang lain sedang menunggu kedatangannya di salah satu rumah sakit pemerintah karena sakit keras. Aat dan kawan perempuannya memesan mi kocok Bandung tanpa tulang dan teh manis hangat yang di dalamnya tak terdapat es berbentuk selongsong. Perempuan pedagang bakso dan mi kocok kemudian menyanggupi pesanan dengan senyuman di wajah. Percakapan tentang Hajjah Aminah yang berencana naik haji pada pertengahan tahun serta tempat yang dapat dikunjungi pada akhir tahun menjadi topik percakapan ketika menunggu pesanan. Kawan perempuannya membeli sebuah novel, Deviasi dan Delusi, karya Mira W dengan bunga mawar di sampul depan, warna abu-abu di keseluruhan, serta sinopsis di bagian akhir sampul. Bahwa buku tersebut kelak akan difilmkan. Kawan perempuannya kali itu tak membeli komik ataupun novel tipis tentang tokoh baik berakhir baik atau novel yang seluruh tokohnya memiliki kebiasaan menasihati dan mengingatkan dengan berbagai cara sehingga seluruh ruang, seluruh tempat yang didiami oleh tokoh tersebut adalah surga. Ingatan, kepala, dan seluruh tubuhnya telah terisi oleh banyak kisah serial Detective Conan sehingga jika Aat menemukan kesulitan menerjemahkan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, ia hanya perlu bertanya. Menghabiskan waktu setengah hari atau seharian mengobrol dengannya, tentang tokoh-tokoh di rumah yang memiliki peluang untuk menyakiti atau membunuh. Orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk hidup lebih lama, lebih lama daripada suami yang menikahinya, atau seseorang yang setiap harinya memiliki jadwal untuk menjerang ayam-ayam jantan yang dimilikinya. Di salah satu ruas halaman yang sekali waktu saja memiliki sejumlah cacing sebagai santapan tanpa mempermainkan. Percakapan semacam itu selalu diakhiri dengan tawa. Dua jam kemudian, setelah Aat bersama sepeda berkeranjang merah itu tiba di halaman rumah, ia akan menghampiri pesawat telepon, di samping akuarium berisi ikan oranye sejumlah sepasang dan pesawat televisi berlayar cembung yang antena televisinya berpindah ke atas tumpukan buku ensiklopedia dan Yellow Pages. Aat akan menekan nomor telepon kawan perempuannya karena menemukan hal lain dari pemikirannya tentang orang-orang. Bisa saja seseorang yang memiliki tubuh segar bugar adalah orang yang pertama kali menjumpai kematian. Kemudian kawan perempuannya akan banyak berkilah tentang banyaknya rumah, dinding, dan bangunan yang akan ditempati oleh lelaki-lelaki semacam pemusik jalanan yang akan menampilkan pertunjukan musik secara live di samping gapura jalan kecil yang dilalui oleh kendaraan beroda dua. Salah satunya akan bertugas untuk menghancurkan bata merah yang berserakan di bawah papan pengumuman yang kertas pengumumannya dikunci oleh pegawai kelurahan. Tak lama setelahnya, ia akan memasuki salah satu rumah kontrakan berpetak yang disewa oleh salah seorang pemusik jalanan yang telah berumah tangga karena perempuan yang dipacarinya hamil sebelum menikah. Sementara saat ia sedang hamil besar, dengan usia kandungan lebih dari tujuh bulan, Mak Ani, paraji yang biasa menangani perempuan-perempuan yang hamil sebelum menikah sedang meninggalkan rumah mungil yang telah menjadi tempat tinggalnya selama puluhan tahun. Keduanya pada akhirnya menikah di salah satu rumah kontrakan dengan sebuah gitar sebagai mas kawin. Keesokan harinya, perempuan yang dipacarinya tersebut melahirkan. Kali itu, Mak Ani sedang duduk di ruang tamunya. Di samping kopi hitam tanpa gula, melahap beras ketan yang dikemas dalam daun pisang yang dipanaskan di atas api menyala. Pada waktu Subuh hingga tengah hari, angin meskipun bertiup pelan, selalu terasa lebih dingin daripada air yang digenangkan dan dibiarkan dalam sebuah bak di kamar mandi atau ember plastik di kawasan MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Tempat pemandian umum yang berlokasi tak jauh dari masjid, pacilingan, dan pekuburan. Ember-ember itu dijajarkan di samping jalan masuk tempat pemandian umum dan pompa air yang seluruh bagiannya telah memiliki kuning yang melekat hingga sebagian dari kuning tersebut tertinggal di dasar ember salah seorang pendatang yang tinggal di salah satu rumah kontrakan yang pintunya berhadapan dengan keranda, beduk, serta sandal jemaah masjid yang keliru dengan alas kaki yang dipilihnya. Pemusik jalanan yang terbiasa menumbu bata merah tersebut kelak akan meningkatkan kemampuannya dalam menumbuk benda-benda lain semacam obat-obatan, pil, butiran, yang dapat berubah bentuk menjadi serbuk kemudian diisap secara bersama-sama di salah satu kamar tanpa cahaya di dalamnya.                       


Lihat selengkapnya