Paraji

Eka Retnosari
Chapter #2

Tumpukan Koran Kuning di Gudang Belakang, Tak Jauh dari Keran

Hajjah Aminah sedang menjerang bawang putih yang telah ia haluskan selama satu jam dengan menggunakan kedua tangan yang putih bersih. Anak perempuannya, Aat, baru saja memarkir sepeda berkeranjang merah di halaman. Di samping bola plastik besar berwarna pelangi yang ditinggalkan oleh salah seorang ibu dan anak ketika mereka memasuki halaman rumah Hajjah Aminah untuk mengikuti penimbangan bayi. Setiap satu bulan sekali, halaman dan teras rumah Hajjah Aminah akan digunakan untuk menjadi tempat penimbangan bayi usia enam bulan hingga bayi lima tahun. Sebelum Subuh, anak perempuan Hajjah Aminah yang sebelumnya telah merendam tiga kilogram kacang hijau akan mulai merebusnya hingga tiba waktu yang tepat baginya memasukkan gula merah dan gula pasir. Balon, pedagang boneka kertas, dan bola plastik adalah pereda tangisan kalau-kalau menimbang badan adalah hal yang sama menyeramkannya dengan wajah seorang penagih atau pelaju kendaraan roda dua yang melesat dengan tanpa memperhitungkan wajah dan tubuh yang telah memilih satu area untuk berdiri. Menghitung dan menekuri jumlah pelaju pada setiap harinya.                                    

Anak perempuan Hajjah Aminah membawa pulang majalah wanita, alat tulis, dan ingatan tentang jadwal untuk berkunjung ke rumah seorang kawan yang gemar mendengarkan lagu jazz saat ia sedang menghafalkan banyak materi dari buku ajar yang pernah dibelinya ketika masih menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas. Ia mempunyai kawan yang gemar membaca buku teks pembelajaran daripada novel, koran, dan majalah yang memuat banyak lamunan dan warna pakaian. Hitam, abu-abu, merah, hingga warna pelangi. Untungnya, kawan perempuannya selalu tak keberatan, kalau-kalau ia memerlukannya untuk menjadi perisai saat ia harus mengunjungi perpustakaan demi mendapatkan majalah yang diinginkan, artikel yang dicari, gambar seorang tokoh yang memesona, atau salah satu di antara banyak novel Balai Pustaka yang tokoh lelaki beserta kemejanya akan melintasi teras rumah bagian belakang ketika ia menuntaskan cerita yang dibacanya. Atau suatu ketika, saat Bandung sedang mengadakan pameran buku. Keduanya akan meninggalkan rumah, menaiki kendaraan umum, dan menerobos hujan hingga akhirnya tiba pada banyak wajah serta bilik yang mempertemukannya pada banyak judul. Kawan perempuannya memutuskan untuk tidak menikah selamanya agar ia memiliki banyak waktu luang untuk menemani Aat memilihkan judul buku yang tepat atau mengatakan bagus atau tak bagus ketika ia memakai pakaian baru yang dibuat dan dirancang di rumah salah seorang penjahit kampung yang mesin jahitnya memiliki usia yang sama dengan hujan yang turun setiap kali musim hujan tiba. Selain buku-buku baru, sandal perempuan yang terbuat dari bahan serupa dengan kulit sofa depan, tak jauh dari jendela tempat ia menghitung jumlah kendaraan yang melintas tanpa suara, Aat akan memilah kartu nama yang disodorkan oleh lelaki dan perempuan yang bertugas untuk mengiklankan judul buku. Saat pulang, Aat dan kawan perempuannya akan menelusuri Jalan Braga sambil mengobrolkan salah satu tokoh dalam salah satu buku, roman yang tuntas dibacanya dalam waktu dua hingga tiga hari. Di sela-sela kegiatan mengupas kulit bawang, menyiapkan banyak kacang hijau, dan membersihkan rumah. Kawan perempuannya memiliki kamera mungil yang digunakannya untuk memotret ruas jalan, trotoar, pedagang kaki lima, dan pelukis yang melukis wajah perempuan, harimau, hewan di kebun binatang, dan pemandangan sepanjang Jalan Siliwangi. Keduanya kemudian akan beristirahat sejenak di salah satu rumah yang menjadikan bakso dan mi kocok Bandung sebagai menu andalan. Perempuan berusia empat puluh sembilan yang tubuhnya dibalut gaun dengan dua lengan berbentuk pipa tipis akan menyambut dengan senyuman dan sapaan. Ia menjadikan garasi rumahnya sebagai kedai yang setiap lampunya akan dipadamkan pada pukul sepuluh malam. Lima buah meja tanpa kain penutup meja dan taplak, empat buah kursi prasmanan di masing-masing meja. Tisu dalam kotak berwarna ungu muda, berhiaskan bunga sakura, serta sehelai kertas bertuliskan varian bakso dan mi kocok. Aat dan kawan perempuannya akan memilih meja dan kursi yang menghadap ke arah jalan. Sementara kursi dan meja di sudut belakangnya telah diisi oleh pasangan lelaki dan perempuan yang tersipu dan tertawa ketika membahas tentang hadiah yang bisa mereka kirimkan untuk salah seorang kerabat yang berulang tahun, sementara kerabat yang lain sedang menunggu kedatangannya di salah satu rumah sakit pemerintah karena sakit keras. Aat dan kawan perempuannya memesan mi kocok Bandung tanpa tulang dan teh manis hangat yang di dalamnya tak terdapat es berbentuk selongsong. Perempuan pedagang bakso dan mi kocok kemudian menyanggupi pesanan dengan senyuman di wajah. Percakapan tentang Hajjah Aminah yang berencana naik haji pada pertengahan tahun serta tempat yang dapat dikunjungi pada akhir tahun menjadi topik percakapan ketika menunggu pesanan. Kawan perempuannya membeli sebuah novel, Deviasi dan Delusi, karya Mira W dengan bunga mawar di sampul depan, warna abu-abu di keseluruhan, serta sinopsis di bagian akhir sampul. Bahwa buku tersebut kelak akan difilmkan. Kawan perempuannya kali itu tak membeli komik ataupun novel tipis tentang tokoh baik berakhir baik atau novel yang seluruh tokohnya memiliki kebiasaan menasihati dan mengingatkan dengan berbagai cara sehingga seluruh ruang, seluruh tempat yang didiami oleh tokoh tersebut adalah surga. Ingatan, kepala, dan seluruh tubuhnya telah terisi oleh banyak kisah serial Detective Conan sehingga jika Aat menemukan kesulitan menerjemahkan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, ia hanya perlu bertanya. Menghabiskan waktu setengah hari atau seharian mengobrol dengannya, tentang tokoh-tokoh di rumah yang memiliki peluang untuk menyakiti atau membunuh. Orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk hidup lebih lama, lebih lama daripada suami yang menikahinya, atau seseorang yang setiap harinya memiliki jadwal untuk menjerang ayam-ayam jantan yang dimilikinya. Di salah satu ruas halaman yang sekali waktu saja memiliki sejumlah cacing sebagai santapan tanpa mempermainkan. Percakapan semacam itu selalu diakhiri dengan tawa. Dua jam kemudian, setelah Aat bersama sepeda berkeranjang merah itu tiba di halaman rumah, ia akan menghampiri pesawat telepon, di samping akuarium berisi ikan oranye sejumlah sepasang dan pesawat televisi berlayar cembung yang antena televisinya berpindah ke atas tumpukan buku ensiklopedia dan Yellow Pages. Aat akan menekan nomor telepon kawan perempuannya karena menemukan hal lain dari pemikirannya tentang orang-orang. Bisa saja seseorang yang memiliki tubuh segar bugar adalah orang yang pertama kali menjumpai kematian. Kemudian kawan perempuannya akan banyak berkilah tentang banyaknya rumah, dinding, dan bangunan yang akan ditempati oleh lelaki-lelaki semacam pemusik jalanan yang akan menampilkan pertunjukan musik secara live di samping gapura jalan kecil yang dilalui oleh kendaraan beroda dua. Salah satunya akan bertugas untuk menghancurkan bata merah yang berserakan di bawah papan pengumuman yang kertas pengumumannya dikunci oleh pegawai kelurahan. Tak lama setelahnya, ia akan memasuki salah satu rumah kontrakan berpetak yang disewa oleh salah seorang pemusik jalanan yang telah berumah tangga karena perempuan yang dipacarinya hamil sebelum menikah. Sementara saat ia sedang hamil besar, dengan usia kandungan lebih dari tujuh bulan, Mak Ani, paraji yang biasa menangani perempuan-perempuan yang hamil sebelum menikah sedang meninggalkan rumah mungil yang telah menjadi tempat tinggalnya selama puluhan tahun. Keduanya pada akhirnya menikah di salah satu rumah kontrakan dengan sebuah gitar sebagai mas kawin. Keesokan harinya, perempuan yang dipacarinya tersebut melahirkan. Kali itu, Mak Ani sedang duduk di ruang tamunya. Di samping kopi hitam tanpa gula, melahap beras ketan yang dikemas dalam daun pisang yang dipanaskan di atas api menyala. Pada waktu Subuh hingga tengah hari, angin meskipun bertiup pelan, selalu terasa lebih dingin daripada air yang digenangkan dan dibiarkan dalam sebuah bak di kamar mandi atau ember plastik di kawasan MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Tempat pemandian umum yang berlokasi tak jauh dari masjid, pacilingan, dan pekuburan. Ember-ember itu dijajarkan di samping jalan masuk tempat pemandian umum dan pompa air yang seluruh bagiannya telah memiliki kuning yang melekat hingga sebagian dari kuning tersebut tertinggal di dasar ember salah seorang pendatang yang tinggal di salah satu rumah kontrakan yang pintunya berhadapan dengan keranda, beduk, serta sandal jemaah masjid yang keliru dengan alas kaki yang dipilihnya. Pemusik jalanan yang terbiasa menumbu bata merah tersebut kelak akan meningkatkan kemampuannya dalam menumbuk benda-benda lain semacam obat-obatan, pil, butiran, yang dapat berubah bentuk menjadi serbuk kemudian diisap secara bersama-sama di salah satu kamar tanpa cahaya di dalamnya.                                            

Aat menutup pesawat telepon dengan keyakinan yang dalam tentang jumlah ember di kamar mandi yang seluruhnya telah terisi penuh. Ia bertugas untuk memastikan setiap ember telah memiliki air bersih tanpa noda kuning di dalamnya agar para pengantre, yaitu ibu-ibu berusia di atas empat puluhan dapat menggunakan air bersih untuk mencuci tubuh yang digunakan untuk bekerja. Melakukan segala jenis pekerjaan yang diiklankan oleh seorang perempuan berkacamata bingkai hitam bernama Wati. Wati memiliki dua orang anak, lelaki dan perempuan, yang selalu dibawanya serta setiap kali tiba baginya menelusuri dan mendatangi rumah-rumah warga yang sedang membutuhkan pekerjaan. Dengan jaket jins dan belahan dada serta kalung bertali hitam dengan matahari besar di tengah-tengah, Wati akan hadir di pintu. Muncul sebagai sebuah kejutan bagi sebuah keluarga yang matanya lebih tertarik pada gambar erotis di kalender, sampul buku Teka-teki Silang, atau VCD film semi yang dibeli seharga lima ribu rupiah dari seorang pedagang VCD bajakan. Wati akan menghadiahkan sebuah permen yang dikemas dalam kemasan merah muda serta biru tua ke telapak tangan salah seorang anak yang pernah dilahirkan dengan bantuan tangan Mak Ani pada satu atau dua hari setelah melangsungkan pesta pernikahan. Wati akan mempertanyakan lelaki yang bertugas sebagai kepala rumah tangga untuk menghentikan tontonan di televisi. Salah seorang perempuan yang mendiami dan menempati salah satu rumah kemudian akan mencari tahu dengan membuang salah satu dari banyaknya sampah yang berserakan di meja makan. Ia akan melontarkan pertanyaan kepada salah seorang pelintas yang melintasi pagi dengan tubuh yang telah mandi dan memiliki harum sabun serta pewangi yang berasal dari botol yang dipercikkan ke telapak tangan.                                                                                               

Perempuan bernama Susan tersebut memiliki jadwal untuk menunggui kendaraan umum yang biasa dinaikinya setiap Senin hingga Jumat dengan baby doll putih, lipstik merah muda, dan pipi yang telah diolesi gincu yang sama dengan gincu di bibir. Pukul sembilan, halaman rumah Hajjah Aminah telah ramai oleh perempuan-perempuan dengan ember di tangan kanan dan anak yang telah melintasi usia penimbangan bayi. Mereka akan mengantre sambil menghitung jumlah buih sabun pencuci pakaian yang dihasilkan oleh tangan seorang pencuci pakaian. Ojoh adalah salah satu pencuci pakaian yang menjadikan mencuci pakaian sebagai profesinya. Ia telah memiliki sejumlah pelanggan, tiga pintu rumah yang dihuni oleh seorang guru Pendidikan Agama Islam, lelaki dan anak lelaki pedagang ikan, serta seorang mahasiswa yang sedang melalui masa Kuliah Kerja Nyata selama enam bulan. Mahasiswa tersebut menjadi buah bibir perawan-perawan berusia empat belasan dan anak Sekolah Dasar kelas enam yang mayoritas berusia dua belas tahun. Lelaki berusia dua puluh tahun yang sangat memahami segala jenis bebatuan sehingga ia dapat menghabiskan waktu selama satu hari hanya membahas tentang batu. Mahasiswa tersebut tinggal di rumah Kiai Undi, seorang Kiai yang menikah dengan seorang wanita salihah yang wajahnya sama sekali tak pernah mendapatkan sentuhan riasan, krim, ataupun bedak. Perempuan yang dinikahinya, setiap harinya, menempuh perjalanan dari ruangan kamar, teras rumah, kemudian jalan mungil selebar satu meter demi mendapati ruangan masjid yang telah dibersihkan sebelumnya. Jua adalah perempuan yang biasa bertugas membersihkan lantai masjid, dinding masjid, serta setiap kaca yang menempati bingkai jendela. Ia menyapu dan mengepel lantai masjid setelah membersihkan karpet yang menjadi alas kaki jemaah yang menunaikan ibadah salat fardu di masjid. Perempuan yang kedua matanya memiliki celak alami, berupa garis hitam yang pekat dan tak akan terkikis oleh kepulan asap kemenyan ataupun selorohan tentang gedebok pisang yang berenang dengan tenang di permukaan genangan air kotoran pacilingan, memiliki raut wajah serupa dengan orang Turki dan menjadikan cucur sebagai makanan favoritnya sepanjang hayat. Cucur dan segala makanan yang di dalamnya terdapat kejutan berupa gula merah dan seluruh permukaannya ditutupi dan diselimuti gula pasir putih. Menjelang Asar, Jua akan membawa tangan dan telapak kaki yang tak beralas tersebut untuk memasuki halaman rumah dan menyapa salah satu dari empat cucunya yang sedang menikmati waktu sore harinya dengan melahap berbagai jenis kudapan yang terbuat dari sagu. Cireng serupa pocong yang dibalut oleh saus tomat dan saus cabai curah yang cabai dan tomatnya digiling bersamaan, tak jauh dari mesin pemarut kelapa. Aat akan menyapa perempuan-perempuan pengantre kamar mandi yang pintunya terbuat dari besi dan akan dibuka sejak pukul enam pagi dan ditutup satu jam setelah Isya. Pekerja pabrik tekstil dan pabrik sepatu kulit yang merupakan pendatang dari Leles, Tasikmalaya, dan Garut tinggal di rumah kontrakan tanpa kamar mandi sehingga mereka akan menggunakan tempat pemandian umum dengan jadwal yang telah disepakati bersama. Pada waktu gajian tiba, yaitu tanggal lima setiap bulan, mereka akan mengumpulkan uang hingga mencapai jumlah yang cukup untuk menyewa sebuah mobil minibus demi menempuh perjalanan akhir pekan. Berlibur ke Lembang, berendam di tempat pemandian umum yang air hangatnya dipakai secara bersama demi menghilangkan salah satu di antara banyaknya penyakit kulit yang tinggal di permukaan handuk salah satu pekerja pabrik. Sementara perempuan bersuami yang suaminya bekerja dengan penghasilan tak tentu, akan memilih kamar mandi Hajjah Aminah sebagai tempatnya membersihkan tubuh. Kadang, karena ramainya jumlah pengantre dan sempitnya waktu, mereka pada akhirnya mandi bersama-sama dan menyimpan hal itu sebagai rahasia yang sekali waktu terkenang ketika memasak sayur lodeh dan memilah-milah manakah yang lebih baik. Tempe yang dibalut dengan plastik transparan ataukah tempe yang dibalut dengan daun pisang. Pedagang tempe, tahu, dan makanan yang dibuat dari olahan kacang kedelai akan mendaratkan sepeda motornya setiap hari, setiap pagi, di salah satu tiang listrik. Ia akan mengabaikan teriakan perempuan Batak yang telah menjagai warungnya selama satu jam dan mengusir lalat hijau yang begitu tertarik pada ampas tahu yang sekali waktu dipesan oleh pemetik gitar dan pelahap pil BK. Lelaki pedagang tempe dan tahu tersebut akan sabar menunggu kedatangan anak-anak perempuan dan ibu rumah tangga yang akan memasak tiga jenis masakan pada setiap harinya dan tak segan membuang sisanya jika salah satu di antara anak atau suami yang menikahinya dalam keadaan hamil hanya melahap setengah atau tiga perempat dari jumlah makanan yang tersaji di atas piring. Lelaki pedagang tahu dan tempe akan mengisi waktu menunggunya dengan menyanyikan lagu-lagu Malaysia yang sedang populer di salah satu radio demi menarik perhatian salah satu buruh pabrik pakaian berusia sembilan belas yang bercita-cita, kelak, bekerja di Malaysia sehingga lagu dan artis yang dihafalnya adalah lagu dan artis Malaysia. Setelah sejumlah perempuan usai membeli tempe dan tahu, seorang pedagang lain akan tiba di samping tiang listrik yang sama. Pedagang ayam potong yang ayamnya selalu ia sumpahi memiliki kesegaran lebih kentara dibandingkan dengan ayam-ayam yang dijual di pasar. Mereka tak perlu melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan pertunjukan tentang darah yang terciprat atau mata yang terbelalak ketika seorang ibu tua yang tangannya mengepit tas belanjaan plastik bergerigi memohon kepada pedagang ayam untuk mendapatkan ayam yang masih hidup. Ia perlu menyaksikan secara langsung, dengan kedua mata bercelak, bahwa ayam yang kelak akan menempati lambungnya adalah ayam yang tak pernah menempuh perjalanan jauh dalam sebuah mobil colt dengan punggung terbuka sehingga tubuhnya akan bersisian dan bergesekan serta dijerang oleh terik matahari yang mematangkan kotoran yang berserakan di permukaan kotak serupa kandang ayam. Anak perempuan guru Bahasa Indonesia, yaitu Tina, akan menghampiri pedagang ayam tersebut dengan wajah memberengut. Kepalanya masih penuh dengan ingatan dan taksiran tentang anggaran yang harus ia tuangkan dalam sebuah proposal. Pintu rumah ibunya seringkali didatangi oleh warga yang memiliki profesi sebagai pedagang keliling. Mereka kerap meminta bantuannya untuk membuat proposal pengajuan dana perbaikan roda bubur kacang atau ban yang biasa digunakan untuk membawa cilok, bubur ayam, dan semacamnya. Karena banyaknya pedagang yang mengetuk pintu rumah, anak perempuan guru Bahasa Indonesia kemudian menghabiskan waktu dengan merutuki meja belajar. Meraut tiga buah pensil, memotong-motong penghapus karet, menggambar wajah salah satu pedagang yang menyertakan kisah anak semata wayangnya yang digendong dalam keadaan tak sadarkan diri karena sakit gejala tipus yang dideritanya.                           

Ruangan kamarnya memiliki sebuah mesin tik yang kegaduhannya acapkali mendatangkan racauan dari ayahnya yang memiliki kebiasaan mengisi kotak-kotak Teka-teki Silang tanpa menyisakan sedikit pun ruang kosong. Ayahnya, yaitu Adang selalu berkisah tentang cerita rakyat tiap kali Tina menghampiri tubuhnya dan mengeluhkan tentang banyaknya pedagang yang mengetuk pintu. Tangannya telah begitu lelah mengetik dan menyusun kata-kata serta kalimat yang sama dalam proposal berisi sejumlah angka yang kelak akan berbuah dengan senyuman merekah istri-istri mereka. Lima ratus ribu atau tiga ratus ribu demi memperbaiki salah satu ban yang tak sengaja melindas salah satu paku payung yang tersebar di permukaan jalan berpolisi tidur. Tina dengan boneka beruang berwarna krem dan pita merah muda di leher akan menunjukkan jemari dan telapak tangan yang keriput sebelum waktunya. Sementara Adang akan menunjukkan telapak tangan dan jemari yang sama yang sebagian jarinya telah dihiasi cincin berhiaskan batu ali berwarna hijau. Dua buah cincin di jemari sebelah kanan dan satu buah di jemari sebelah kiri. Adang akan memamerkan lembaran buku Teka-teki Silang tanpa memperlihatkan sampul bukunya kepada Tina hingga ia tak lagi membahas tentang proposal dan semacamnya. Setelah kedua telinganya tuntas menyimak deretan kosakata yang baru terpikir dan ditemukannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia milik istrinya serta kisah tentang kelinci yang dapat menaiki pohon kemudian terjatuh tanpa menjerit, Tina akan kembali memasuki ruangan kamar tidur dan mengetik sejumlah kata, kalimat, seperti yang tertera dalam lembaran proposal. Para pedagang tersebut tak mengetuk pintu dengan tangan lengang. Mereka membawa serta proposal yang sebelumnya pernah digunakan oleh pedagang cingcau untuk mengajukan dana penambahan jumlah cingcau dan perbaikan kaca roda yang biasa digunakan sebagai sumber penghasilan. Pedagang cingcau tersebut biasa berdagang di halaman belakang Sekolah Dasar, di depan pintu pagar atau gerbang sekolah yang bersisian dengan Taman Kanak-kanak. Ada sebuah karusel berwarna kuning dan ayunan biru muda di sebelah kiri gerbang. Kampung tersebut tak memiliki pedagang es serut yang serutan esnya dapat dihiasi sirup warna-warni. Merah, kuning, dan biru. Warna-warna pelangi. Saat mereka membutuhkan es batu, mereka akan menempuh perjalanan. Menuruni undakan, melintasi Masjid An-nur, melintasi kawasan peternakan bebek berbulu cokelat dan berselaput hitam, serta kandang kerbau yang sebagian kerbaunya begitu gemar menghabiskan waktu dengan tidur siang yang ranum serta mengenyangkan. Para pendamba es batu akan melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi pacilingan sambil merekatkan kerah atau tepian kaus agar aroma kotoran yang telah bertahun-tahun tak dibersihkan tak tiba di tepi rongga hidung. Terlebih memasukinya. Mereka kemudian akan menyeberangi ruas jalan yang pada waktu musim hujan akan tertutup seluruhnya. Digenangi banjir bereceng gondok, ramai oleh tarian belut, dan kemasan makanan yang dibuang secara sembarang oleh orang-orang yang menjadikan ziarah sebagai kebutuhan penebus dosa dan rasa sesal pada bilangan waktu yang ditempuh dengan bekerja daripada menunggui seseorang yang terbaring di atas sebuah dipan dalam keadaan sekarat. Orang-orang pendamba es batu akan memasuki kawasan yang telah bermusuhan selama satu abad dengan kawasan Cicukang sehingga setiap pintu yang terbuka adalah pintu yang menawarkan hidangan yang lebih hangat daripada nasi basi atau kerak yang tertinggal di dasar sebuah dandang yang karena terlupa akan dibiarkan berasap selama bermenit-menit hingga terdengar sebuah teriakan dari salah seorang kepala rumah tangga. Deretan rumah yang berjajar di tepi jalan mungil tersebut ditanami oleh sejumlah tanaman dan bunga. Sebagian pohon apel dan mangga yang rutin berbuah pada waktunya. Saat salah seorang anak perawan mereka yang bertekad untuk tak melanjutkan pendidikan ke universitas akan memetik dan memanen salah satu pohon, anak perawan yang lain, dua rumah di sebelahnya, akan melakukan hal yang sama. Mereka akan membantu perawan tersebut untuk memindahkan mangga dan apel sehingga siang hari yang terik akan dihabiskan dengan membuat rujak yang sambalnya terbuat dari lima cabai, tanpa bawang, disertai potongan kencur, dan sejumput garam. Belum sempat memasuki halaman rumah pedagang es batu, orang-orang yang memiliki keperluan dengan es batu, yaitu Obir dan suami dari Esin bersirobok dengan dua orang lelaki, warga Cisaranten, seteru dari Cicukang yang baru saja meninggalkan halaman rumah Kiai Olip. Mereka memiliki seorang guru mengaji yang gemar mengajarkan penduduk sekitar tentang iman dan takwa.                                                                                 

Lihat selengkapnya