Paraji

Eka Retnosari
Chapter #3

Buah Nangka Berbiji Lima Puluh Tiga

Sepeninggal Esin, kehidupan bagi Aman adalah kehidupan yang ramai oleh semerbak wangi bunga yang ditaburkannya di permukaan tanah kuburan. Tempat istri, perempuan satu-satunya yang pernah dinikahinya terbaring dan terbujur dengan wajah yang sama seperti ketika ia tertidur setelah menghidangkan banyak makanan pada awal Ramadan. Aman menjadi salah satu di antara banyak lelaki yang tak memiliki rasa takut. Rasa takut telah lama ditanggalkannya sejak orang-orang Jepang berseragam memasuki rumahnya dengan membawa sebuah senapan dan pertanyaan tentang selebaran serta wasiat dari salah seorang guru mengaji yang bertempat tinggal tak jauh dari Taman Pemakaman Umum Jati. Dulu, tentara-tentara Jepang itu memasuki rumahnya dan menanyakan keberadaan guru mengaji tersebut. Aman berkata bahwa kampung tempatnya tinggal tak memiliki seorang guru mengaji. Orang-orang lebih senang belajar pada lampu teplok dan tepukan sandal jepit serta silaru yang sayapnya terlalu rapuh untuk ditepuk sehingga suara langkah kaki seseorang yang asing akan menggugurkannya sebelum seorang anak sempat melafalkan huruf hijaiyah dan surat-surat pendek semacam Al Ikhlas, Al Falaq, dan An-Naas. Tentara-tentara Jepang tersebut menghujaninya dengan pukulan di bagian belakang kepala hingga ia memiliki hiasan berupa kawah kecil yang dibawa-bawanya sampai ia berumah tangga dengan Esin dan memiliki dua anak perempuan. Tentara-tentara Jepang tersebut juga menghujani tubuhnya dengan air ludah, tendangan serta injakan, dan mengatainya dengan bakero yang berulang. Aman adalah lelaki yang tidak pernah jatuh sakit sehingga pukulan dan injakan semacam itu tak lantas membuatnya pingsan. Tentara-tentara Jepang tersebut akan melakukan hal yang sama pada rumah-rumah di sampingnya dan rumah-rumah lain yang berderet di sepanjang jalan, tak jauh dari sawah dan tangki besar berwarna biru yang pada suatu waktu pernah digenangi oleh air bersih. Orang-orang yang terbiasa mandi pagi dengan air berwarna kuning, kelak akan menganggap tangki besar tersebut sebagai surga. Mereka dapat menggunakan air di dalamnya sebagai air minum, air wudu, dan sesekali air mandi. Tentara-tentara Jepang tersebut tak pernah sampai pada hamparan tanah pekuburan Jati. Derap sepatu mereka selalu terhenti di muka jalan. Jarak terjauh yang dapat mereka tempuh dari muka jalan A.H. Nasution adalah lapangan utama yang bersampingan dengan rumah Ketua Rukun Warga. Di hamparan tanah tersebut, orang-orang, yaitu lelaki, suami-suami dan anak muda yang sedang mendapatkan hari libur dari pabrik ataupun toko elektronik akan menghabiskan waktu dengan mengikuti berbagai macam kompetisi. Perlombaan yang biasa diselenggarakan saat memperingati hari kemerdekaan. Panjat pinang adalah salah satu perlombaan yang biasa diselenggarakan pada 17 Agustus, setelah warga yang mendapatkan undangan mengikuti upacara bendera di Kantor Kelurahan. Sebuah pohon pinang setinggi tiang listrik, diolesi oli dan minyak di seluruh bagian. Sementara di puncak pohon, digantungi banyak hadiah. Kain yang telah dibungkus dan dikemas dalam sebuah bungkusan berperekat dan berpita merah muda, mainan anak, kaus, celana jins, sepatu olahraga, bola hitam-putih, dan sepeda sebagai hadiah utama diletakkan di tengah-tengah. Warga yang merupakan kepala keluarga, lelaki dan berusia di atas dua puluh tahun, akan dibagi menjadi dua kelompok. Mereka kemudian akan belajar untuk bekerja sama, mendaki ketinggian, dan mengalahkan permukaan pohon pinang yang berkali-kali membuat tubuh mereka terjatuh. Tawa kemudian akan terdengar dari orang-orang yang menghabiskan waktu dengan menonton dan menjajakan kudapan. Keripik singkong dan keripik pisang yang dimasak oleh Hajjah Aminah dan anak perempuannya, Aat, dibantu oleh ibu-ibu rumah tangga yang pernah sekali waktu muncul di salah satu episode sinetron, opera sabun, sebagai pelintas yang bergegas memenuhi jadwal mencuci pakaian. Di sekitar pohon pinang, terdapat ruas-ruas yang dibagi ke dalam banyak petak. Seseorang, perempuan berusia dua puluh tiga yang bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini bertugas sebagai panitia. Ia dibantu oleh adik perempuannya yang bekerja sebagai pembuat kue tar akan mengendalikan acara sehingga orang-orang yang tak mengikuti perlombaan panjat pinang, akan mengikuti lomba lain. Balap karung, lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba memasukkan benang ke dalam lubang jarum, lomba menyelamatkan sebutir kelereng dalam sebuah sendok makan, dan permainan catur yang selalu dimenangkan oleh Hidayat. Hidayat kala itu masih bekerja di pabrik Tarumatex, sebuah pabrik tekstil yang menggajinya dengan banyak roti berisi pisang yang dibungkus balutan keju di dalamnya. Hidayat adalah salah seorang pejalan kaki, bertubuh tinggi, memiliki sepasang kaki yang kokoh meskipun tak pernah menenggak susu pada setiap harinya. Roti yang selalu dibawa pulang setiap minggu bersama gaji yang kemudian ditabung seluruhnya selalu ia berikan kepada adik semata wayangnya, yaitu Ratna, seorang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri yang waktunya lebih banyak dihabiskan dengan membaca banyak buku yang dipinjamnya dari perpustakaan ataupun teman yang sekali waktu mengajaknya bermain, mengunjungi rumah dan kamar, mengobrolkan guru paling muda di sekolah, dan menghabiskan waktu hingga menjelang petang. Membahas buku yang memiliki akhir cerita yang mudah ditebak dan cerita yang tak mudah ditebak. Hidayat menempuh pendidikan terakhirnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1, tak jauh dari rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak bayi. Ketika dilahirkan, tubuh hidayat masih sangat mungil, sebesar botol kecap yang kerap menghiasi roda pedagang bubur ayam dan bakso keliling. Ketika ia menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas Negeri 1, Hidayat telah belajar untuk berjalan kaki. Mengepit tas mungil di ketiak, bertahan dengan satu-satunya sepatu kulit yang dimilikinya, dan menghirup sebanyak-banyaknya udara pagi yang berserakan di sekeliling bangunan pabrik sepatu dan pabrik tekstil Tomenbo yang berdampingan, bersisian. Pabrik sepatu tersebut dimiliki oleh orang Tiongkok yang kemudian diwariskan kepada anak cucunya hingga puluhan tahun kemudian. Sementara pabrik tekstil Tomenbo dimiliki oleh orang-orang Jepang yang akan senang hati mengakhiri hidup ketika sebuah keputusan yang diusulkan menghasilkan kerugian.     

Pabrik sepatu itu dikelilingi oleh pintu pagar besi hingga menutupi seluruh bagian dinding pabrik. Sementara pabrik tekstil menyisakan ruas untuk karyawan-karyawannya agar bisa melihat pemandangan dari arah ketinggian. Buruh pabrik Tomenbo yang berpakaian seragam cokelat muda dan cokelat tua tersebut, serta topi Fujiko F. Fujio di tengah kepala, akan memasuki pintu gerbang dengan wajah cerah dan riang. Setelah melintasi gerbang, mereka akan mendaki bukit tinggi berwarna hijau yang penuh dengan rumput hingga kemudian ia tiba di muka pabrik yang mengharuskannya menelan segala jenis suara. Saat waktu istirahat tiba, buruh pabrik Tomenbo akan menghampiri pedagang makanan dan minuman yang berjajar di dekat pagar berwarna serupa dengan kemeja cokelat muda yang mereka pakai pada setiap harinya. Buruh pabrik Tomenbo menerima gaji lebih besar daripada buruh pabrik sepatu. Saat buruh pabrik Tomenbo mendapatkan kecelakaan di tempat kerja, seperti jari terpotong ataupun telinga terbelah, pihak pabrik akan membayar ganti rugi berupa uang puluhan juta. Sementara buruh yang bekerja di pabrik sepatu milik orang China, akan segera mengajukan pengunduran diri jika mereka dilanda gangguan di tempat kerja, seperti pergunjingan ataupun pemalakan, pemukulan dan perundungan. Pesangon tidak akan mereka dapatkan. Hidayat yang perkenalannya dengan papan catur telah dimulai ketika mulutnya merasakan sasagon untuk yang pertama kali, tak akan menghabiskan waktu dengan melakukan percakapan dengan orang-orang yang bekerja di pabrik sepatu ataupun pabrik tekstil meskipun sebagian besar dari mereka akan melontarkan sapaan. Hidayat memiliki raut wajah yang mudah dikenali, selain karena rahang wajah dan tingginya tubuh. Pun punggungnya yang akan selalu membungkuk tiap kali ia berpapasan dengan orang-orang yang gemar menyapanya dengan mendahulukan pertanyaan. Tentang kabar ibu yang melahirkannya, juga nenek yang ketika itu masih hidup dan tinggal dalam ruang kamarnya yang gelap dan memiliki seekor kucing hitam-putih bernama Cingor.                       

Lihat selengkapnya