Sepeninggal Esin, kehidupan bagi Aman adalah kehidupan yang ramai oleh semerbak wangi bunga yang ditaburkannya di permukaan tanah kuburan. Tempat istri, perempuan satu-satunya yang pernah dinikahinya terbaring dan terbujur dengan wajah yang sama seperti ketika ia tertidur setelah menghidangkan banyak makanan pada awal Ramadan. Aman menjadi salah satu di antara banyak lelaki yang tak memiliki rasa takut. Rasa takut telah lama ditanggalkannya sejak orang-orang Jepang berseragam memasuki rumahnya dengan membawa sebuah senapan dan pertanyaan tentang selebaran serta wasiat dari salah seorang guru mengaji yang bertempat tinggal tak jauh dari Taman Pemakaman Umum Jati. Dulu, tentara-tentara Jepang itu memasuki rumahnya dan menanyakan keberadaan guru mengaji tersebut. Aman berkata bahwa kampung tempatnya tinggal tak memiliki seorang guru mengaji. Orang-orang lebih senang belajar pada lampu teplok dan tepukan sandal jepit serta silaru yang sayapnya terlalu rapuh untuk ditepuk sehingga suara langkah kaki seseorang yang asing akan menggugurkannya sebelum seorang anak sempat melafalkan huruf hijaiyah dan surat-surat pendek semacam Al Ikhlas, Al Falaq, dan An-Naas. Tentara-tentara Jepang tersebut menghujaninya dengan pukulan di bagian belakang kepala hingga ia memiliki hiasan berupa kawah kecil yang dibawa-bawanya sampai ia berumah tangga dengan Esin dan memiliki dua anak perempuan. Tentara-tentara Jepang tersebut juga menghujani tubuhnya dengan air ludah, tendangan serta injakan, dan mengatainya dengan bakero yang berulang. Aman adalah lelaki yang tidak pernah jatuh sakit sehingga pukulan dan injakan semacam itu tak lantas membuatnya pingsan. Tentara-tentara Jepang tersebut akan melakukan hal yang sama pada rumah-rumah di sampingnya dan rumah-rumah lain yang berderet di sepanjang jalan, tak jauh dari sawah dan tangki besar berwarna biru yang pada suatu waktu pernah digenangi oleh air bersih. Orang-orang yang terbiasa mandi pagi dengan air berwarna kuning, kelak akan menganggap tangki besar tersebut sebagai surga. Mereka dapat menggunakan air di dalamnya sebagai air minum, air wudu, dan sesekali air mandi. Tentara-tentara Jepang tersebut tak pernah sampai pada hamparan tanah pekuburan Jati. Derap sepatu mereka selalu terhenti di muka jalan. Jarak terjauh yang dapat mereka tempuh dari muka jalan A.H. Nasution adalah lapangan utama yang bersampingan dengan rumah Ketua Rukun Warga. Di hamparan tanah tersebut, orang-orang, yaitu lelaki, suami-suami dan anak muda yang sedang mendapatkan hari libur dari pabrik ataupun toko elektronik akan menghabiskan waktu dengan mengikuti berbagai macam kompetisi. Perlombaan yang biasa diselenggarakan saat memperingati hari kemerdekaan. Panjat pinang adalah salah satu perlombaan yang biasa diselenggarakan pada 17 Agustus, setelah warga yang mendapatkan undangan mengikuti upacara bendera di Kantor Kelurahan. Sebuah pohon pinang setinggi tiang listrik, diolesi oli dan minyak di seluruh bagian. Sementara di puncak pohon, digantungi banyak hadiah. Kain yang telah dibungkus dan dikemas dalam sebuah bungkusan berperekat dan berpita merah muda, mainan anak, kaus, celana jins, sepatu olahraga, bola hitam-putih, dan sepeda sebagai hadiah utama diletakkan di tengah-tengah. Warga yang merupakan kepala keluarga, lelaki dan berusia di atas dua puluh tahun, akan dibagi menjadi dua kelompok. Mereka kemudian akan belajar untuk bekerja sama, mendaki ketinggian, dan mengalahkan permukaan pohon pinang yang berkali-kali membuat tubuh mereka terjatuh. Tawa kemudian akan terdengar dari orang-orang yang menghabiskan waktu dengan menonton dan menjajakan kudapan. Keripik singkong dan keripik pisang yang dimasak oleh Hajjah Aminah dan anak perempuannya, Aat, dibantu oleh ibu-ibu rumah tangga yang pernah sekali waktu muncul di salah satu episode sinetron, opera sabun, sebagai pelintas yang bergegas memenuhi jadwal mencuci pakaian. Di sekitar pohon pinang, terdapat ruas-ruas yang dibagi ke dalam banyak petak. Seseorang, perempuan berusia dua puluh tiga yang bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini bertugas sebagai panitia. Ia dibantu oleh adik perempuannya yang bekerja sebagai pembuat kue tar akan mengendalikan acara sehingga orang-orang yang tak mengikuti perlombaan panjat pinang, akan mengikuti lomba lain. Balap karung, lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba memasukkan benang ke dalam lubang jarum, lomba menyelamatkan sebutir kelereng dalam sebuah sendok makan, dan permainan catur yang selalu dimenangkan oleh Hidayat. Hidayat kala itu masih bekerja di pabrik Tarumatex, sebuah pabrik tekstil yang menggajinya dengan banyak roti berisi pisang yang dibungkus balutan keju di dalamnya. Hidayat adalah salah seorang pejalan kaki, bertubuh tinggi, memiliki sepasang kaki yang kokoh meskipun tak pernah menenggak susu pada setiap harinya. Roti yang selalu dibawa pulang setiap minggu bersama gaji yang kemudian ditabung seluruhnya selalu ia berikan kepada adik semata wayangnya, yaitu Ratna, seorang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri yang waktunya lebih banyak dihabiskan dengan membaca banyak buku yang dipinjamnya dari perpustakaan ataupun teman yang sekali waktu mengajaknya bermain, mengunjungi rumah dan kamar, mengobrolkan guru paling muda di sekolah, dan menghabiskan waktu hingga menjelang petang. Membahas buku yang memiliki akhir cerita yang mudah ditebak dan cerita yang tak mudah ditebak. Hidayat menempuh pendidikan terakhirnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1, tak jauh dari rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak bayi. Ketika dilahirkan, tubuh hidayat masih sangat mungil, sebesar botol kecap yang kerap menghiasi roda pedagang bubur ayam dan bakso keliling. Ketika ia menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas Negeri 1, Hidayat telah belajar untuk berjalan kaki. Mengepit tas mungil di ketiak, bertahan dengan satu-satunya sepatu kulit yang dimilikinya, dan menghirup sebanyak-banyaknya udara pagi yang berserakan di sekeliling bangunan pabrik sepatu dan pabrik tekstil Tomenbo yang berdampingan, bersisian. Pabrik sepatu tersebut dimiliki oleh orang Tiongkok yang kemudian diwariskan kepada anak cucunya hingga puluhan tahun kemudian. Sementara pabrik tekstil Tomenbo dimiliki oleh orang-orang Jepang yang akan senang hati mengakhiri hidup ketika sebuah keputusan yang diusulkan menghasilkan kerugian.
Pabrik sepatu itu dikelilingi oleh pintu pagar besi hingga menutupi seluruh bagian dinding pabrik. Sementara pabrik tekstil menyisakan ruas untuk karyawan-karyawannya agar bisa melihat pemandangan dari arah ketinggian. Buruh pabrik Tomenbo yang berpakaian seragam cokelat muda dan cokelat tua tersebut, serta topi Fujiko F. Fujio di tengah kepala, akan memasuki pintu gerbang dengan wajah cerah dan riang. Setelah melintasi gerbang, mereka akan mendaki bukit tinggi berwarna hijau yang penuh dengan rumput hingga kemudian ia tiba di muka pabrik yang mengharuskannya menelan segala jenis suara. Saat waktu istirahat tiba, buruh pabrik Tomenbo akan menghampiri pedagang makanan dan minuman yang berjajar di dekat pagar berwarna serupa dengan kemeja cokelat muda yang mereka pakai pada setiap harinya. Buruh pabrik Tomenbo menerima gaji lebih besar daripada buruh pabrik sepatu. Saat buruh pabrik Tomenbo mendapatkan kecelakaan di tempat kerja, seperti jari terpotong ataupun telinga terbelah, pihak pabrik akan membayar ganti rugi berupa uang puluhan juta. Sementara buruh yang bekerja di pabrik sepatu milik orang China, akan segera mengajukan pengunduran diri jika mereka dilanda gangguan di tempat kerja, seperti pergunjingan ataupun pemalakan, pemukulan dan perundungan. Pesangon tidak akan mereka dapatkan. Hidayat yang perkenalannya dengan papan catur telah dimulai ketika mulutnya merasakan sasagon untuk yang pertama kali, tak akan menghabiskan waktu dengan melakukan percakapan dengan orang-orang yang bekerja di pabrik sepatu ataupun pabrik tekstil meskipun sebagian besar dari mereka akan melontarkan sapaan. Hidayat memiliki raut wajah yang mudah dikenali, selain karena rahang wajah dan tingginya tubuh. Pun punggungnya yang akan selalu membungkuk tiap kali ia berpapasan dengan orang-orang yang gemar menyapanya dengan mendahulukan pertanyaan. Tentang kabar ibu yang melahirkannya, juga nenek yang ketika itu masih hidup dan tinggal dalam ruang kamarnya yang gelap dan memiliki seekor kucing hitam-putih bernama Cingor.
Cingor merupakan kependekan dari Ucing Bangor. Seekor kucing nakal yang keempat kakinya kerap menghinggapi meja tempat ibu Hidayat menghidangkan nasi dalam bakul mungil dan menyertakan empat jenis lauk sebagai pendamping. Hidayat akan menelusuri ruas jalan seberang pabrik hingga masjid pertama yang ditemukan oleh pejalan kaki setelah usai dengan Jalan A.H. Nasution. Sekolah tempatnya belajar, terletak di ruas sebelah kanan yang membuatnya kembali menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Melintasi kawasan Suka Asih yang menjadi satu-satunya tempat orang-orang menemukan mesin laminating pertama dan pencetak buku yang difotokopi demi memenuhi keperluan mereka terhadap buku bacaan dan permintaan dari guru les yang tiba pada tiga kali seminggu. Di ruas jalan PU, Hidayat akan menemukan deretan tukang ojeg yang menunggu pekerja PU dengan kertas koran yang dijajakan di sebuah meja berhiaskan gelas kopi. Hidayat merupakan pelajar yang tidak pernah banyak melontarkan sapa ataupun salam sehingga ketika tubuhnya melintasi pintu gerbang sekolah, tempat yang segera ditujunya adalah ruang kelas dan bangku pertama. Hidayat meraih peringkat pertama dan berhasil mempertahankannya selama tiga tahun. Hidayat memiliki seorang teman sebangku yang juga bertubuh tinggi, beralis tebal, dan menduduki peringkat kedua selama tiga tahun. Kelas yang mereka tempati, tak memberlakukan perubahan posisi duduk, rotasi, ataupun tukar-menukar teman sebangku. Keduanya tak pernah memiliki pacar ataupun teman dekat sehingga ketika bel di sekolah berdering, Hidayat beserta teman sebangku akan menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki dan tak memasukkan nama perempuan ke dalam percakapan. Hidayat dan teman sebangku akan menempuh perjalanan pulang dengan pembahasan tentang kuis, soal-soal, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum diselesaikan. Teman sebangku Hidayat bertempat tinggal di kawasan Suka Asih, tak jauh dari pabrik sehingga pada malam hari, waktu tidurnya akan diiringi oleh suara-suara gaduh yang berasal dari pabrik tekstil milik orang Jepang. Kedua telinganya dapat mendengar suara benang-benang yang berbaris rapi serta jeritan hantu perempuan yang kepalanya terpenggal akibat tidak berhati-hati. Namun, tidur teman sebangku Hidayat selalu tidur nyenyak yang berlangsung selama tiga jam dalam satu malam. Setelahnya, teman sebangku Hidayat akan melakukan rutinitas yang sama pada setiap harinya. Membasuh tubuh dengan air wudu, sembahyang malam, berdoa dan berzikir, hingga suara-suara hantu perempuan yang terkikik tersebut tak terdengar lagi. Hantu perempuan pegawai pabrik yang tertawa setelah tengah malam, biasa terdengar pada malam Jumat. Sementara malam minggu akan menjadi malam yang ramai oleh aroma parfum dan taluan sepatu hantu perempuan yang pernah bekerja sebagai tunasusila. Di ruas jalan A.H. Nasution dan sudut-sudut gelap deretan pertokoan dan bioskop yang berdampingan dengan dingdong. Aroma parfum hantu perempuan tunasusila tersebut bertahan selama sekitar lima menit sebelum akhirnya berganti dengan aroma tengik serupa ikan asin yang telah dijerang di bawah terik matahari, di permukaan atap rumah dan genting tua, selama berhari-hari. Dingdong tersebut berdampingan dengan bioskop tua yang atapnya telah terbang, terbawa salah satu angin ribut yang datang pada salah satu musim hujan. Meski banjir, orang-orang tetap mendatangi bioskop itu bersama pasangan yang telah mereka temukan pada tiga jam sebelum film yang sama diputar. Film usang yang di dalamnya tak terdapat pemotongan salah satu adegan ranjang ataupun adegan yang dibintangi oleh Ida Iasha. Sebagian dari poster film tersebut terkikis hujan dan ingatan orang-orang, pelintas ruas jalan alun-alun kota, pengemudi angkutan umum yang lelah dengan lembaran kumal di genggaman, serta pelamun dalam angkot yang berdesakan pada petang hari, setelah pukul empat. Hidayat tak lagi menyimak lawakan teman sebangkunya tentang suatu waktu ketika sakit gejala tipus yang membuatnya tak mampu melahap potongan ayam yang biasanya selalu lezat dalam mulut. Teman sebangku Hidayat menghilang di ruas jalan besar yang diapit oleh pedagang buah dan pedagang gorengan. Hidayat mengayun sepasang kaki dan tas kecil di ketiak kemudian menemukan kebahagiaan yang ranum ketika ia melintasi pedagang surat kabar, majalah, dan buku teka-teki silang. Dalam kantung seragam sekolahnya, terdapat uang kumal lima ratus rupiah yang kemudian digunakannya untuk mendapatkan salah satu di antara surat kabar yang terbit setiap hari. Hidayat membeli surat kabar yang pernah menggaji tetangganya setiap bulan. Surat kabar yang juga kerap dibaca oleh Aan ketika ia duduk di sebuah kursi kayu pada pukul delapan dengan kacamata berantai melekat di depan matanya yang berminus tiga. Orang-orang asing namun berusia lanjut, kerap datang untuk menanyakan barang pecah belah yang tak lagi menempati ruas meja. Aan akan berkata bahwa ia sedang membaca sebuah surat kabar yang di dalamnya terdapat banyak tulisan yang telah memuat tulisan yang ditulis tidak dengan mata tertutup. Ia kemudian akan memanggil istrinya, Aat, untuk mendengarkan kisah orang-orang asing berusia lanjut yang wajahnya tak pernah melintasi kamar mandi dan tempat pemandian umum kamar mandi Hajjah Aminah. Aat akan meninggalkan ruangan kamarnya, dengan senyuman di wajahnya, kemudian menghampiri orang-orang asing berusia lanjut yang memasuki pekarangan rumah Hajjah Aminah dengan sebuah karung di punggung. Orang-orang asing berwajah tirai ruang makan tersebut kemudian akan berkisah tentang perjalanan yang telah ditempuhnya. Tentang jumlah anak yang dimilikinya di suatu tempat dan salah satu terminal di kota Bandung yang dijadikannya sebagai tempat penitipan anak. Karena suatu sebab, orang-orang asing berusia lanjut tersebut mendapatkan kantuk yang kentara. Ia tertidur di salah satu kursi bus kota dengan dua orang anak yang dibawanya dari salah satu kecamatan yang pernah menjadi tempatnya mengajukan Kartu Tanda Penduduk. Karena usianya telah lanjut, pegawai kantor kelurahan dan kecamatan yang didatanginya, tak dapat mengabulkan permintaannya untuk memiliki kartu identitas terbaru dengan foto wajah yang menghadap ke arah kamera, menyunggingkan senyum, dan mengatupkan bibir. Ia harus mengeraskan suara, menambah volume suara, agar pegawai kantor kelurahan berusia dua puluh tiga dapat memahami maksud dan tujuan perempuan tua tersebut. Ketika suara perempuan tersebut tak juga sampai ke dalam lubang telinga, ia menjadi salah satu perempuan yang menyerah pada nasib. Jalan kemudian menjadi tempatnya melangkahkan kaki dengan kedua anaknya yang berselisih usia sebanyak tiga tahun. Mereka hendak menempuh perjalanan ke kota Bandung dengan sebuah bus antarkota antarprovinsi yang berhenti di depan deret pertokoan Kalimas yang menjajakan pakaian jadi keluaran pabrik pakaian jadi yang berlokasi di kawasan Bandung Selatan. Ia bersama kedua anaknya kemudian menempuh perjalanan terjauhnya dengan pemandangan berupa lampu-lampu kota dan orang-orang yang mengepit tangan anak kesayangannya dalam perjalanan menuju salah satu toko yang memajang sepatu bertali, berkancing bunga, dan berwarna merah mengilap. Ketika ia tiba di kota Bandung, ia berkata kepada kondektur bus kota bahwa ia hendak pergi ke Bandung. Terminal kemudian menjadi tempatnya terlelap. Aat bukan sekali itu berhadapan dengan orang-orang asing yang menjadikan halaman rumah Hajjah Aminah sebagai tempat untuk mendapatkan sehelai tiket menuju perjalanan selanjutnya. Aat tak menanyakan perihal kedua anaknya yang ditinggalkannya di terminal. Ketika Aat memasuki rumah, didapatinya barang-barang pecah belah, piring-piring yang terletak di dalam lemari. Piring-piring tersebut dimasukannya ke dalam karung setelah mempertimbangkan uang sepuluh ribu rupiah yang masih tersisa dalam salah satu amplop anggaran keuangan rumah tangganya pada bulan tersebut. Biasanya, uang sisa dari anggaran belanja pada salah satu bulan, akan menempati stoples di samping akurium sehingga kelak pada akhir tahun, uang yang terkumpul dapat digunakannya untuk membeli salah satu perabotan elektronik terbaru. Blender yang berukuran lebih besar yang dapat digunakan untuk menghancurkan sayuran. Atau mesin pembuat roti yang iklannya selalu muncul lima kali sehari di televisi hitam putih dengan seorang model kalender yang wajahnya telah menghiasi ratusan halaman kalender. Aat kemudian menjejalkan uang sebanyak sepuluh ribu rupiah ke dalam karung putih milik salah satu di antara banyak orang asing yang tiba di halaman rumah Hajjah Aminah. Sementara Hidayat masih menjadi salah satu di antara pensiunan pegawai pabrik Tarumatex yang tak menjadikan waktunya sebagai waktu yang tepat untuk merindukan kepulan kopi salah satu penjaga keamanan yang gemar melontarkan sapa dengan menyebutkan nama lengkapnya. Nama yang tertera di kartu identitas yang dimilikinya. Kartu identitas yang direkatkan di depan pakaian seragam yang telah ia pakai sejak sepasang kakinya melangkah, mengayun, meninggalkan pintu rumah ibunya yang selalu menyiapkan makanan yang berbeda pada setiap harinya. Kartu identitas tersebut melekat di permukaan saku pakaian dan membawanya pada setiap kendaraan umum, transportasi publik yang dinaikinya dan membuatnya tiba pada lamunan tentang hari esok. Jika sebuah kecelakaan terjadi, seorang lelaki yang bekerja sebagai kernet angkutan umum akan mengabarkan salah satu ruas jalan yang memiliki keramaian lain serupa papan iklan atau selebaran tentang produk yang dapat menghilangkan lemak dalam waktu satu bulan. Atau alat olahraga seharga lebih dari satu juta rupiah yang dapat dicicil sebanyak dua belas kali. Hidayat kemudian menjadi salah satu lelaki berusia puluhan yang kedua matanya tak pernah menyaksikan cipratan darah yang memiliki kemungkinan untuk tertumpah dari salah satu kepala pengendara sepeda motor yang menempuh harinya, waktunya, dengan keinginan untuk menyudahi bilangan usia. Sebagian dari pengendara sepeda motor tersebut biasanya akan memberikan tanda kepada orang-orang yang berjalan di ruas jalan dengan kecepatan laju sepeda motor yang dikendarainya. Jika ia terpelanting atau terjatuh di salah satu tiang, bagian belakang truk, ataupun pinggiran jalan, pengendara dan pejalan tak akan menjadikan hal itu sebagai kejutan. Kendaraan-kendaraan yang berada di ruas jalan akan tetap melaju menuju tujuan masing-masing. Seorang polisi bertubuh kurus, lelaki, dengan peluit di bibir akan mengalihkan arus terdekat dengan mayat. Seseorang kemudian melakukan pemanggilan kepada ambulans demi memindahkan mayat tersebut ke salah satu laci berisi mayat-mayat yang sebagian besar menghadapi hal yang sama. Hidayat menjadi salah satu di antara pekerja pabrik dengan kain kemeja halus terpilin dan deretan kancing yang bertaut hingga ke bagian leher. Sepatunya selalu hitam, mengilap di bagian ujung, dan bertali hingga setiap tautannya tak pernah terburai dan memiliki kemungkinan baginya untuk terinjak dan menghentikan langkah. Ketika tiba waktunya menuruni kendaraan umum yang dinaikinya, Hidayat akan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, menandai salah satu pedagang yang dilihatnya di salah satu trotoar yang menjajakan majalah. Bahwa suatu hari nanti, saat gaji bulanannya telah dibayarkan sebanyak satu bulan sekali dan bukan dua kali sebulan, Hidayat akan membeli salah satu majalah. Majalah olahraga yang mengulas tentang olahraga dan majalah politik yang memberitakan hal-hal yang berkaitan dengan politik. Hidayat tidak pernah tertarik untuk membeli makanan dan minuman yang dijajakan di sekitar jongko majalah ataupun seorang lelaki berjanggut yang berdagang di atas sehelai kain putih. Lelaki berjanggut tersebut menjual buku panduan salat, buku panduan doa dan zikir, kiat-kiat menjadi muslimah dambaan, serta buku-buku yang mengajarkan pembacanya untuk melakukan penghematan dan berpikir positif.
Pada Senin dan Kamis, Hidayat akan berpuasa. Menahan diri dari makan dan minum serta menghabiskan waktu lebih banyak dengan menyimak daripada mengobrol. Udan adalah senior di pabrik tempatnya bekerja ketika itu. Seorang lelaki bertubuh kekar yang menjadikan satu kilo telur rebus sebagai santapannya pada setiap hari. Telur-telur yang selalu dilahapnya kemudian menjadi salah satu di antara banyak hal yang dibanggakannya pada setiap hari. Selain istri, yaitu Nurmi, perempuan yang pernah dipacarinya sejak keduanya masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama swasta. Karena nilai-nilai mereka tak memadai, keduanya kemudian menjadikan sekolah swasta sebagai pilihan. Udan selalu berkisah di antara banyak hal yang dibanggakannya selain telur-telur yang dimakannya, tentang perjuangannya menyelesaikan pendidikan di sekolah swasta dengan jumlah siswa yang dapat dihitung jari. Hidayat bersekolah di sekolah negeri yang jumlah siswanya sebanyak empat puluh orang dengan perbandingan jumlah siswa perempuan dan lelaki dengan jumlah yang sama. Sementara Udan dan Nurmi bersekolah di sebuah sekolah yang tak menjadikan jumlah siswa sebagai salah satu syarat dimulainya pembelajaran. Nurmi kemudian dikisahkan sebagai perempuan baik yang gemar menabung dan memiliki kedua telinga yang mampu mendengarkan dan hati yang bisa menerima nasihat. Dari gaji dua mingguan yang diterimanya, Nurmi kerap menjadikan toko emas sebagai tujuan. Nurmi membeli cincin, gelang, anting-anting dan menyimpan sisanya di bank. Pada lima tahun usia pernikahannya, Nurmi dan Udan menjadi pasangan pertama yang telah mampu memiliki rumah sendiri. Tanpa menyewa dan menjadi salah satu di antara banyaknya pasangan yang menempati rumah petak seharga seratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Udan membeli sebuah rumah yang semula adalah tempat tinggal salah satu preman bertato yang kerap menghabiskan waktunya dengan menghabiskan lima botol alkohol di samping gapura dan teras rumah seorang petani tua berusia hampir sembilan puluh yang kerap memakai pakaian yang sama pada setiap harinya. Preman bertato tersebut hendak mengakhiri hidupnya pada akhir 1986 ketika rahim perempuan yang pernah dinikahinya satu bulan sebelum Ramadan, sedang mengandung bayi laki-laki berusia enam bulan, tak juga kembali. Preman bertato tersebut menikahi seorang perempuan pedagang jamu yang menjadikan jamu sebagai salah satu alasan ia membuka mata pada setiap harinya. Perempuan kelahiran Kuningan tersebut masih berusia sembilan belas ketika preman bertato tersebut menikahinya. Karena alkohol yang ditenggaknya membawanya berkelana pada suatu tempat yang ramai oleh aliran sungai dan kelopak bunga, ia kemudian kerap menjadikan istrinya sebagai bantal yang dapat ditinjunya sesuka hati. Ia bersama anak yang dilahirkannya pada waktu subuh dengan bantuan tangan Mak Ani, kemudian berujar di telinga lelaki preman bertato bahwa ia hendak pulang ke rumah orang tuanya di Kuningan. Ketika preman bertato tersebut bertanya tentang rentang waktu yang dapat dihabiskannya dengan menjumpai perempuan yang pernah melahirkannya, istri preman bertato tersebut berkata bahwa ia hanya akan menghabiskan waktu sebanyak dua hari saja. Tak lebih lama daripada para pemudik yang kerap menghabiskan waktu dan usia di atas jalanan. Ketika istri yang dinikahinya tak juga kembali, bahkan pada Ramadan dan hari raya berikutnya, preman bertato tersebut kemudian membeli lebih banyak botol-botol berisi alkohol. Ia kemudian menjadi salah satu preman bertato yang tewas dengan dada terbakar alkohol. Rumah yang ditempatinya menjadi salah satu rumah kosong yang diiklankan, dilelang, di kantor kelurahan dengan Aan sebagai pemimpin dan pengendali lelang. Udan kerap mengulang cerita yang sama, pembahasan tentang rumah tersebut yang merupakan salah satu prestasi yang didapatnya selain berpacaran dengan perempuan semacam Nurmi. Hidayat meski telah berhenti bekerja sebagai buruh pabrik dengan ijazah Sekolah Menengah Atas Negeri di antara buruh-buruh pabrik lain yang berijazah Sekolah Menengah Pertama swasta, selalu mengisi waktunya dengan bekerja. Rumah ibunya kerap didatangi oleh Marni, perempuan berusia empat puluhan yang telah mengelola sebuah toko material yang memiliki jam kerja sebanyak dua belas jam setiap harinya. Toko material tersebut semula merupakan sebuah rumah kosong yang ditinggalkan oleh seorang lelaki lajang bertubuh rendah yang menaruh kebencian kepada kaus dan pemakai kaus. Lelaki bertubuh rendah tersebut menempati rumah warisan tanpa berminat untuk memiliki seorang istri, terlebih lagi anak. Rumah tersebut berseberangan dengan sebuah tanah lapang berumput yang kerap dijadikan sebagai tempat bermain sepak bola ataupun pertunjukan pada salah satu hari besar. Sebuah panggung diletakkan di tengah lapangan. Panggung yang terbuat dari deretan tong minyak dan oli yang isinya telah berpindah ke dalam angkutan kota dan truk yang bertugas untuk menyampaikan berkarung-karung beras dan kapas yang diproduksi di salah satu rumah. Kebenciannya pada kaus dan orang-orang berkaus telah dimulai sejak tahun 1985 ketika Nia, salah satu perempuan yang menjadikan rumahnya sebagai tempat mengelola kapas menolak permintaannya untuk menjadi kekasihnya.
Nia adalah perempuan yang sangat mencintai kapas dan rumah peninggalan orang tuanya. Rumah berisi kapas-kapas tersebut terletak di dalam sebuah gang yang membuat para pekerjanya harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor demi memindahkan berkarung-karung kapas yang dikemas setelah dipindahkan dari kawasan Rancaekek. Nia adalah perempuan Sunda, kedua orang tuanya berdarah Sunda dan sama sekali tak pernah menenggak kopi dan menjadikan kopi sebagai salah satu parfum di ruang dapurnya. Nia kemudian mengikuti jejak kedua orang tuanya. Tak pernah membeli dan meminum kopi, memiliki dan merenovasi rumah sendiri, serta menjadikan kapas sebagai mata pencaharian. Sekali waktu, seorang lelaki bernama Radi mendatangi rumahnya untuk menjadikannya sebagai pasangan. Bukan sebagai pacar, melainkan istri yang bertugas untuk membuat dan menghidangkan teh di meja makan. Nia di sela-sela kesibukannya mengemas kapas-kapas, kemudian menerima lamaran lelaki yang juga dilahirkan di tanah Sunda. Usia pernikahan mereka hanya berlangsung selama dua tahun. Karena stres dan kepalanya selalu dipenuhi dengan ingatan dan itungan pada kapas, keduanya kerap bertengkar pada setiap harinya. Setelah meninggalkan pukulan di wajah Nia, lelaki tersebut meninggalkannya dengan sejumlah uang dan tak meninggalkan jejak berupa kabar ataupun isu yang kerap dijadikan bahan pergunjingan ibu-ibu rumah tangga ketika mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja di tukang sayur yang melintasi kawasan gang dengan sebuah payung merah, kuning, dan hijau, terpasang di tengah roda. Nia adalah perempuan yang tak pernah meneteskan air mata. Perceraian membuatnya semakin akrab dengan kapas-kapas yang salah satu serat dan helaiannya kelak menjadi penampung darah segar perempuan-perempuan yang masih mendapatkan darah menstruasi setiap bulannya. Sebagian dari helaian kapas tersebut terbang tertiup angin dan tinggal dalam balkon-balkon perempuan-perempuan yang melangsungkan pernikahan pada usia ranum kemudian menghabiskan sisa hidupnya dengan menunggui kepulangan. Nia mendapatkan pengganti suami pertamanya, tak lama setelah ia mendapatkan kunci rumah keduanya. Nia menjadi perempuan warga Cicukang pertama yang berhasil membeli sebuah rumah di sebuah perumahan baru, proyek pengembang seorang kontraktor asal Jakarta yang menjadikan kawasan Gede Bage sebagai salah satu tempat untuk menghabiskan usia dan melalui masa tua. Salah seorang lelaki yang juga gemar menghabiskan waktu dan usianya dengan bekerja kemudian melakukan hal yang sama, membeli salah satu rumah dan menjadikan sisa usianya sebagai waktu paling tepat untuk melakukan rutinitas lain selain beribadah, yaitu membayar cicilan. Lelaki berkemeja meskipun tinggal dalam rumah yang berseberangan dengan tanah lapang dengan sebuah panggung di atasnya, tak pernah meninggalkan rumahnya demi menikmati pertunjukan yang ditampilkan di atas panggung. Anak-anak muda berusia belasan akan bertugas sebagai panitia yang menyusun dan mengendalikan acara. Sementara warga yang berusia delapan tahun hingga tujuh belas, akan menjadi pengisi acara. Mereka merancang tarian selama satu bulan sebelum pertunjukan kemudian melakukan pertunjukan yang masing-masing dilombakan.
Ketua Rukun Warga menjadi salah satu juri yang bertugas untuk melakukan penilaian terhadap pertunjukan yang ditampilkan. Tarian modern, tarian berpasangan, tarian berkelompok, dengan kostum berupa pakaian sehari-hari. Pertunjukan kabaret yang mengedepankan riasan di wajah dan kemampuan mereka dalam mengendalikan mulut ketika melakukan percakapan tanpa suara. Pengeras suara selalu menjadi hal yang didahulukan dalam rapat-rapat panitia daripada bahasan tentang kotak konsumsi. Lelaki pembenci kaus dan pemakai kaus tersebut akan menyibak tirai ketika sebuah keramaian terjadi. Waktu tidurnya akan tetap sama pada setiap harinya. Namun, 1987 kemudian menjadi tahun terakhirnya menempati rumah dua lantai tersebut. Ia membawa koper mungil berisi pakaian dan sebuah guci mungil kesayangannya dan tak pernah mempertimbangkan sebuah kepulangan sejak tanah lapang tersebut dijadikan sebagai tempat pertunjukan orang-orang yang berkampanye. Lelaki penggemar kemeja tersebut adalah salah satu di antara banyak penduduk yang tak menaruh minat dan ketertarikan pada politik. Ketika orang-orang melakukan rapat kecil-kecilan di tiap-tiap rumah demi membahas calon presiden beserta pertimbangan untung-rugi dan selamat-tidak selamat. Tiap kali rumahnya didatangi oleh orang-orang yang mengiklankan tokoh politik tertentu, lelaki berkemeja dan penggemar kemeja akan menutup pintu rumahnya dan menyalakan pesawat radio dan atau televisi. Rumah yang kemudian ditinggalkannya setelah pemilu terakhir yang tak diikutinya serta ramai surat kaleng yang dialamatkan kepadanya menjadi salah satu rumah yang dilelang di kantor kelurahan. Sebuah keluarga pendatang dari Garut kemudian menjadi pembeli pertama rumah tersebut dan menjadikannya sebagai toko material. Sebuah toko yang menjadikan paku, semen, dan segala jenis bebatuan sebagai barang dagangan. Toko material tersebut selalu dijagai oleh anak perempuan semata wayangnya yang akan melahap semangkuk bakso berisi saus cabai dan kecap setiap pukul empat sore. Sementara kedua orang tuanya, akan memiliki jadwal yang sama untuk menghitung dan memisahkan berbagai jenis paku dan palu. Orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan toko material, akan mendatangi toko tersebut ketika pipa di kamar mandi rumah yang mereka tempati, mengalami kebocoran. Atau seekor tikus bertubuh besar, tiba-tiba melintas setelah tubuhnya berhasil menerobos sebuah papan kayu yang telah memasuki masa usia tertuanya untuk terjatuh ke permukaan lantai. Sekali waktu, pada bulan-bulan tertentu, ketika kemarau telah tiba, sebuah rumah yang telah lama tak ditempati, akan mendatangkan rezeki bagi keluarga asal Garut tersebut. Rumah yang memerlukan renovasi tersebut akan mendatangkan bon berupa tagihan atas semen, pasir, bata merah, cat, genting rumah, hingga cat kayu dan cat tembok. Hidayat pada tahun tersebut masih menjadikan kesehariannya sebagai pegawai pabrik tekstil Tarumatex yang memiliki ketertarikan pada paku-paku yang berserakan di halaman toko material. Mereka tinggal dalam satu ruangan yang sama. Dengan hiasan berupa bilah-bilah kayu memanjang di sepanjang dinding rumah dan permukaan lantai. Sementara pintu yang membatasi mereka dengan angin malam adalah sebuah pintu seng yang bagian tengahnya memiliki angka yang ditulis di atas sehelai kertas putih. Anak perempuan mereka yang mereka beri nama Susi tersebut, masih berada pada usia kanak-kanak sehingga ketika waktu luang telah tiba, hal yang dilakukannya pertama kali adalah bermain. Ia akan melintasi rumah tempatnya menghabiskan waktu dengan belajar, membantu pekerjaan orang tua, tidur, dan mengerjakan Pekerjaan Rumah. Di atas meja belajar kayu yang setiap bilahnya merupakan bilah-bilah kayu sisa dari tumpukan yang terjual dan berpindah tangan ke tangan seorang pemesan yang mendambakan kamar mandi baru ataupun ruang tamu yang berdindingkan kayu. Di halaman rumah seluas setengah lapangan bola Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan, Susi akan bermain dengan pasir. Membuat pegunungan pasir yang memiliki hiasan berupa pohon-pohon yang terbuat dari paku. Pada salah satu musim libur, ketika ia memilih kebun binatang sebagai tempat wisata, Susi menemukan sebuah mainan truk yang bagian belakangnya dapat digunakan untuk mengangkut dan memindahkan pasir dari gundukan yang diletakkan di samping tumpukan bata merah. Kala itu, rumah mereka belum memiliki pagar sehingga pagi hari yang mereka lalui selalu mendatangkan kejutan. Kejutan dari tumpukan semen dan pasir yang berkurang sebanyak setengahnya atau bilah kayu yang hilang sebanyak enam bilah. Bebatuan yang ditumpuk tak jauh dari karung-karung semen serta bata merah yang tersisa sekitar satu tumpuk dari semula tiga tumpuk. Sebuah keluarga, sebuah rumah, rupanya sedang sangat memerlukan bantuan sehingga hal yang dilakukan oleh pemilik toko material tersebut adalah membuat pagar yang terbuat dari bilah-bilang bambu yang berasal dari salah satu hutan yang mengelilingi Taman Pemakaman Umum Jati. Hidayat saat itu sedang melintasi toko material dengan tubuh masih mengenakan seragam pegawai pabrik tekstil. Ketika hujan turun, orang-orang yang menempati kawasan rumah sesudah gapura 17-an, kerap menjadikan toko material tersebut sebagai lintasan jalan cepat ataupun maraton. Pada musim kemarau terpanjang, orang-orang yang memiliki jadwal tertentu untuk menanyakan harga dan jumlah paku tak terpakai, akan tinggal di atas tikar, memusatkan perhatian dan pendengaran mereka pada pesawat radio dan obrolan tentang pakaian di jemuran yang belum berpindah ke permukaan meja setrika. Hidayat selalu memiliki hati yang lapang untuk memindahkan bambu-bambu yang berderet di hutan demi menyenangkan hati anak pemilik toko material yang selalu dibanggakan dan disebut-sebutkan sebagai perempuan yang telah pasti akan mencium aroma surga.
Anak perempuan pemilik toko adalah satu di antara anak perempuan asal Garut yang memiliki suara yang merdu ketika mengaji Al-Qur’an. Susi telah merampungkan hafalan Al-Qur’an sebanyak satu juz ketika mereka menempuh tahun pertama setelah kepindahan. Sambil menumpuk bata merah dan gunungan pasir, Susi kerap melantunkan ayat yang telah atau sedang dihafalnya. Pada petang hari, sesudah Asar, Susi akan berganti pakaian setelah sebelumnya membasuh tubuh dengan air mandi. Ia akan mengenakan salah satu di antara gaun berwarna mencolok yang tinggal dalam lemari pakaiannya. Gaun tersebut meski dilipat dan disetrika dengan tanpa memerhatikan serat dan arah yang benar dalam menyetrika, akan tampak elok ketika dilekatkan di tubuh Susi. Susi kemudian akan meninggalkan toko material, menyeberangi jalan, melintasi toko gas, dan menuruni undakan. Saat berpapasan dengan Ketua Rukun Warga, Susi akan menyanyi-nyanyi kecil. Sebuah lantunan tentang rukun iman dan rukun Islam yang pernah didengarnya sekali waktu dari salah satu guru mengaji yang pernah mengajarinya membaca Al-Qur’an di surau terdekat dengan rumah tempat mereka tinggal ketika mereka masih tinggal di Garut. Susi kemudian akan memasuki masjid, menunggu hingga anak-anak seusianya melakukan hal yang sama demi memenuhi tugas mereka dalam mengaji dan menghafalkan Al-Qur’an. Jika anak-anak tersebut tak juga memasuki masjid, Susi akan kembali menelusuri jalan yang sama. Melintasi halaman rumah Ketua Rukun Warga, menaiki undakan, melintasi toko gas, menyeberang jalan, dan memasuki halaman rumahnya yang kembali mendapatkan penambahan pasir, bata merah, dan bilah-bilah kayu. Pagar yang bambunya dipilih dan dipilahkan oleh Hidayat pada salah satu waktu luang, telah menempati bagian depan toko material. Setiap kali Hidayat melintasi ruas jalan tersebut, ia akan menatapi pagar bambu tersebut dan memandangnya seakan-akan bambu-bambu tersebut adalah salah satu di antara banyaknya lukisan yang pernah terlahir dari tangannya. Sementara pada salah satu Ramadan, rumah Hajjah Aminah yang memiliki pagar besi tersebut, akan memanggil Hidayat untuk memetik salah satu di antara buah nangka yang tergantung di empat pohon nangka, di samping tiang listrik, tak jauh dari gorong-gorong yang memisahkan halaman rumahnya dengan jalanan. Hajjah Aminah akan menjadikan bulan Ramadannya sebagai bulan-bulan Ramadan yang sama, yaitu Ramadan yang ramai oleh buah nangka yang ia bagikan ke setiap rumah yang salah satu penghuninya terbiasa untuk tidak menunaikan ibadah puasa. Ia bersama Eti guru Bahasa Indonesia akan bersaing memperebutkan salah satu rumah yang seluruh penghuninya tidak menjalankan ibadah puasa. Jika Hajjah Aminah memilih nangka sebagai buah yang juga dihidangkan di permukaan meja yang juga menyajikan hidangan buka puasa, Eti guru Bahasa Indonesia akan memilih semangka yang akan diantarkan oleh pedagang buah pada pagi hari. Eti guru Bahasa Indonesia, pada waktu Ramadan, akan memesan dua buah semangka berukuran besar untuk dibaginya kepada rumah-rumah yang kepala keluarganya masih beragama Kristen. Sementara istri yang dinikahinya telah mengikuti ritual dan agama penduduk yang tinggal lebih lama dibandingkan dengan kepala keluarga tersebut. Pun salah satu atau dua di antara anak-anak yang mereka miliki. Semangka menjadi semacam suvenir Ramadan yang dikemas dalam sup buah ataupun es krim dengan parutan kelapa muda dan agar-agar hijau serta merah yang sebelumnya telah diiris menyerupai dadu. Jika Hajjah Aminah telah menjadi yang pertama kali mengantarkan buah nangka, Eti guru Bahasa Indonesia akan tetap menjadikan semangka yang diraciknya sebagai hiasan meja makan. Tina yang bertugas untuk mengantarkan semangka tersebut akan menyampaikan seucap salam dari Eti guru Bahasa Indonesia yang sejak jauh hari telah menyiapkan satu lusin kemasan plastik, mangkuk plastik, untuk ia isi dengan hidangan semacam sup buah dan semacamnya. Hajjah Aminah tak memiliki sempat untuk meracik nangka-nangka yang telah menua di setiap pohon nangka yang telah tumbuh lebih tua daripada Aat, anak semata wayangnya. Nangka-nangka berwarna kuning tersebut akan dipilah dan dipindahkan oleh menantunya yang saat itu telah menjalani rutinitasnya sebagai seseorang yang menjadikan rumah dan ruangan kamarnya sebagai tempatnya mencari kata-kata, melahirkan satu atau dua artikel tentang situasi politik di Indonesia beserta analisis singkatnya tentang kans dan perubahan, serta menjadikan tidur siang sebagai salah satu di antara hadiah yang didapatnya seusai mengajukan pengunduran diri. Memisahkan nangka, melepaskan nangka dari setiap serabutnya yang sekilas tampak sama, sebagian lebih memucat dan tampak berwarna krem daripada kuning, ke dalam piring kecil. Hajjah Aminah memiliki banyak persediaan piring. Piring-piring berukuran besar, sedang, serta piring-piring berukuran mungil. Piring-piring tersebut memiliki lemari khusus, berdampingan dengan deret gelas dan hiasan yang dibelinya ketika sedang menempuh perjalanan pulang dari Mekkah Al Mukaromah. Menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya ataupun umroh bersama suami tercintanya. Nangka-nangka yang telah berpindah tempat tersebut menempuh perjalanannya. Menantunya kemudian turut berperan sebagai seseorang yang bertugas untuk mengantarkan nangka-nangka tersebut ke setiap pintu rumah yang pintunya terbuka pada waktu Magrib. Sementara dua buah jendela yang terletak tak jauh dari pintu, memiliki tirai yang akan ditutup pada waktu tengah malam. Ketika seseorang memadamkan lampu dan teringat pada nyala api di atas kompor yang tertinggal dan terlupa karena obrolan yang begitu sengit dengan salah seorang tetangga yang acapkali mengiklankan Baygon sebagai pengganti sirup. Sirup adalah hadiah yang kerap dibagikan oleh Tante Batak pemilik warung pada setiap pembelinya yang setia. Mereka yang akan menjadikan ritual pagi harinya sebagai saat paling tepat untuk menanyakan harga ikan asin dan cabai merah di muka warung yang menjajakan untaian kerupuk, permen karet, sandal jepit, berbagai bentuk celengan yang terbuat dari plastik, serta sebuah telepon rumah yang baru dipasang oleh Tante Batak dua bulan setelah merayakan natal di kampung halaman. Menantu Hajjah Aminah akan menunggui setiap pintu yang didatanginya demi mendapatkan kembali piring mungil berisi nangka. Orang-orang yang menempati rumah yang kepala keluarganya akan memperdengarkan musik dangdut pada pukul lima petang tersebut akan berkata bahwa nangka yang dibagikan oleh Hajjah Aminah ke setiap rumah memiliki rasa manis yang tidak kesat dan keharuman yang tak membuat pemakannya ingin mengganti aromanya dengan aroma lain yang berasal dari salah satu botol pewangi ruangan. Aan tak perlu memastikan apakah nangka-nangka yang dibagikannya tak berpindah tempat ke salah satu tempat pembuangan sampah. Aan akan melanjutkan perjalanan hingga memasuki rumah terakhir, yaitu rumah salah seorang seniman yang bekerja sebagai seorang pelukis. Seniman tersebut akan menunaikan ibadah puasa ketika anak perempuannya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu pesantren, kembali pulang dengan membawa pakaian yang telah tuntas dicuci dan disetrika. Seniman tersebut tidak menunaikan ibadah puasa, namun berharap dapat memiliki anak perempuan yang selalu menunaikan ibadah puasa. Anak perempuannya mendapatkan pendidikan di lingkungan pesantren sehingga ketika mereka melakukan percakapan di ruang tamu ataupun di ruang makan, seniman tersebut akan merasa seperti berbincang dengan guru-guru yang mengajarnya di pesantren. Pesantren tempatnya menuntut ilmu, memiliki fasilitas laundry sehingga seniman tersebut tak perlu bersusah payah menghabiskan akhir pekannya dengan mencuci pakaian anak perempuannya. Aan akan menanyakan anak perempuannya, di muka pintu, di samping lukisan yang terbuat dari cangkang telur, ketika menyodorkan piring kecil berisi nangka. Seniman tersebut akan berujar bahwa anak perempuannya sedang dalam perjalanan. Atap rumah Hajjah Aminah terbuat dari genting merah tua yang sebagian telah mengalami perubahan warna. Lumut tumbuh subur pada beberapa bagian. Sebagian lumut tersebut melekat di tepian kaus atau kemeja yang tak usai dikelantang setelah Aan menjemurnya pada permulaan pagi. Sebuah tangga yang terbuat dari kayu dengan empat buah paku yang sebagian telah memiliki karat di samping drum berukuran empat kali tubuh orang dewasa yang terbiasa melahap dua belas telur rebus pada setiap harinya. Tangga tersebut tak habis digapai oleh Hajjah Aminah ketika sopir angkutan kota Panghegar-Dipati Ukur membawa pulang kering tempe dan tumisan kacang merah terakhir yang masih teronggok dalam mangkuk loreng seukuran punggung Hajjah Aminah ketika ia menghaluskan kacang tanah yang sebelumnya telah disangrai selama sekejapan mata. Atau sekatupan mata salah seorang anak perempuan seseorang, anak pegawai toko eletronik yang akan memberikan dan membagikan hadiah berupa kue kering yang telah dikemas dalam stoples curah transparan. Ada hiasan berupa pita yang melekat serupa dengan pita yang melingkar di kanan dan kiri anak perempuan pemilik warung Batak saat Minggu pagi. Dua jam sebelum ia tiba di gereja yang mempertemukannya dengan salah seorang pemain basket dari Yahya. Sekali waktu, Brian, nama lelaki itu melintas, dengan sepeda motornya yang berwarna hitam dan memiliki suara yang sama dengan raungan kendaraan bermotor yang melintas di lajur jalan, tak jauh dari Pacuan Kuda dan kerumunan orang yang tak akan kembali tanpa membawa buah tangan. Makanan yang dikemas dalam kantung plastik atau kertas cokelat bergambar perempuan bergaun dan bertopi putih. Seorang nona dari Belanda, mirip dengan seorang perempuan bergaun dan bertopi putih. Seorang nona dari Belanda, mirip dengan seorang perempuan yang menghiasi kemasan pembalut yang pembalutnya terbentang, tanpa dilipat dan sayap di kedua tepi.
Perempuan berpakaian putih yang menghiasi kemasan pembalut tersebut merupakan orang Indonesia. Mahasiswi Strata 1 yang sebelumnya telah menempuh pendidikan D-3 di sebuah institut. Sementara perempuan yang menghiasi bungkusan kertas cokelat berisi cakue dan roti goreng tersebut adalah salah satu dari banyaknya Noni Belanda yang gemar bersepeda pada waktu sore, sebelum matahari tiba di peraduan. Noni-noni Belanda dengan gaun putih dan sepeda tersebut akan hilang di balik bangunan peneropongan bintang yang kanan dan kirinya ditanami pagar kayu dan pasangan muda-mudi yang berpacaran untuk sementara waktu. Anak perempuan tersebut telah mandi sore dan membantu ibunya memindahkan pakaian-pakaian yang dijemur di halaman belakang. Wajahnya telah dibedaki dengan bedak tabur warna putih, berbahan dasar pecahan mutiara, yang biasa dipakai ibunya dua kali sehari. Rambutnya lurus dan berponi sehingga sebuah bando berwarna hitam tampak pas di permukaan kepala dan helaian rambutnya. Anak perempuan pegawai toko elektronik tersebut berujar dengan suara pelan, sampai-sampai Aat, anak perempuan Hajjah Aminah harus mengulang pertanyaannya. Anak perempuan tersebut menanyakan sayur tahu dan potongan cabai hijau yang dimasak dengan ayam segar yang kulitnya masih melekat. Aat kemudian berkata bahwa sayur tahu yang dimasaknya bersama Hajjah Aminah memiliki cabai yang masih utuh. Tak dipotong serong ataupun melintang. Anak perempuan pegawai toko elektronik kemudian berkata bahwa ia harus menempuh perjalanan pulang menuju rumah ibunya yang berpagar kayu untuk menanyakan perbedaan antara cabai yang telah dipotong dengan cabai yang masih utuh. Hujan kemudian turun begitu saja. Ia tertumpah ke permukaan jalan, memisahkan debu-debu dari permukaan dinding gapura yang biasa mejadi teman bagi seorang lelaki gila berpeci yang gemar memakai kaus belang-belang setiap kali pagi tiba mengantarkan angka yang masih lengang. Pada suatu waktu yang lain, angka-angka tersebut telah terisi penuh. Sebagian penumpang adalah pelajar Sekolah Menengah Pertama dan pelajar Sekolah Menengah Atas yang baru berkenalan dengan botol kolon beraromakan mawar dan lili yang dikemas dalam botol berbentuk elips. Seseorang, perempuan berusia enam puluh telah siap menerobos hujan dengan payung hitam di tangannya. Perempuan berambut serupa gulali tersebut telah menunggu kepulangan anak lelakinya yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan. Setiap hari, ia menunggu kepulangan anaknya di samping gerbang dan penjaga sekolah berseragam abu-abu. Perempuan tersebut memakai rok hitam, sepatu kulit dengan hak setinggi tiga sentimeter, dan kaus belang-belang hitam-putih. Penjaga sekolah tersebut tak pernah lagi menanyakan tentang nama dan alamat, ia akan berkata bahwa perempuan berambut serupa gulali tersebut sedang menunggu kepulangan anaknya yang telah terdaftar sebagai salah satu di antara banyaknya siswa yang bersekolah dengan seragam baru, tumpukan buku tulis yang masih lengang, serta tas ransel terbaru yang risletingnya masih dapat menempuh perjalanan tanpa tersangkut di salah satu pemberhentian.
Anak lelakinya bernama David. Ia telah menempuh pendidikan selama lebih dari satu abad. Seorang ibu yang anak lelakinya sedang ia jemput dengan sepeda motor tanpa bising dan helm akan berujar kepada perempuan berambut gulali tersebut. Bahwa semua pelajar Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan telah meninggalkan kelas. Anak lelakinya ada di televisi, tumbuh sebagai seorang lelaki yang bisa membedakan rupa-rupa pohon dan tanaman yang ditanam dalam pot yang satu dengan pot yang lain. Anak lelakinya telah tumbuh besar, memiliki jakun dan rambut panjang serupa perempuan. Kedua telinganya memakai anting berbentuk lingkaran yang sama dengan anting yang melekat di lubang hidung Mang Jana. Mang Jana tinggal tak jauh dari Masjid An-Nur, pacilingan, pesawahan, dan kandang kerbau yang memisahkan bilik-bilik pegawai pabrik dan kamar mandi umumnya yang terpisah sebanyak enam meter. Lelaki-lelaki berusia tanggung yang telinganya juga beranting akan berjajar di samping pematang. Menunggu salah seorang pelajar yang akan berjalan dengan membawa banyak ingatan tentang Pekerjaan Rumah dan salah seorang guru yang memarahinya di depan kelas. Saat seorang pelajar beransel melintas tanpa seorang kawan di sampingnya, lelaki beranting yang tak kenal air mandi tersebut akan menjadikannya sebagai sasaran tembakan dari bebatuan yang telah menempati salah satu kantung pakaiannya. Tembakan tersebut akan mengenai permukaan rawa pacilingan yang seluruhnya berisi kotoran manusia yang rumahnya belum memiliki WC. Ia memiliki tenaga yang kuat, cukup kuat untuk mematahkan ratusan pena anak Sekolah Dasar yang tak dibekali uang oleh kedua orang tuanya. Kotoran manusia tersebut melekat di permukaan seragam, pakaian, dan topi yang dipakai oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama. Pelajar tersebut tak pernah dibekali uang oleh orang tuanya sehingga lelaki berusia tanggung tersebut tak berhasil memiliki uang yang sama dengan uang yang biasa digunakan oleh orang tuanya untuk membeli telur, roti tawar, susu, mentega, dan tepung terigu. Ia, pelajar tersebut tak sempat untuk meneteskan air mata sehingga pintu rumahnya adalah tujuan yang dikejarnya dengan ingatan yang kelak akan ia timpa dengan ribuan lagu, film, buku, dan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tak memiliki batu dalam genggaman ataupun saku baju. Atau rumah Hidayat juara catur yang terbuat dari seng sehingga setiap kali hujan, kegaduhan akan terdengar. Kegaduhan tersebut terdengar hingga dapur dan halaman belakang. Meski hujan, ibu Hidayat juara catur tak pernah lupa memasak. Halaman rumah dan terasnya menjadi sepi dan lengang dari suara pelalu-lalang dan pengamen jalanan yang acapkali menjadikan halaman rumah Uu, nenek tua, perempuan paling tua di Cicukang sebagai tempat berteduh dari terik dan keramaian orang-orang yang bekerja.
Ibu Hidayat juara catur sedang memasak tempe yang ditumbuk dalam cobek dan cabai-cabai serta kencur yang tak habis dimasak selama satu atau dua hari. Selain tempe, yang diolah dan diracik menjadi perkedel, ibu Hidayat juara catur juga memasak ikan goreng dan sayur bayam yang bawang merahnya dimasukkan utuh ke dalam wajan yang telah bertahun-tahun digunakannya untuk memasak banyak masakan yang dihidangkan di atas meja kerja yang pernah dipakai oleh mendiang suaminya untuk menulis dan menggambar. Suaminya adalah salah satu di antara banyak lelaki Kampung Cicukang yang mendapatkan keberuntungan dengan jemari dan tangan yang dimilikinya. Dengan jemari dan tangan yang dimilikinya, ia dapat membuat denah dan bangunan yang kemudian didirikannya seorang diri. Sekali waktu, karena iba kepada salah seorang tetangga yang menganggur, ia membawa serta lelaki yang merupakan kepala keluarga tersebut untuk membantunya mendirikan bangunan-bangunan dan rumah yang digambarnya. Restoran orang Tiongkok beranak lima, rumah seseorang yang telah tuntas menabung, dan sekolah atau perkantoran yang dikelola oleh lelaki dan perempuan yang pernah merasakan ghiroh yang sama di universitas tempat mereka belajar. Setelah satu per satu denah dan gambar tuntas dikerjakannya, suami ibu Hidayat juara catur meninggal dunia. Lelaki itu meninggalkan rumah, istri, anak-anak, dan tabungan beraromakan keringat yang menetes ketika ia bekerja di bawah terik matahari dan tak jarang hujan deras. Dulu, suami ibu Hidayat juara catur adalah seorang perenang. Karena ia pandai berenang, ia menjadi salah satu transmigran yang selamat dari kecelakaan yang menenggelamkan kapal Tampomas. Pakaian, buku-buku, dan celengan ayam jago miliknya tak selamat. Suami ibu Hidayat juara catur tak jadi menempuh studi kedokteran setelah melalui masa-masa sulit menaklukkan lapar dan masa menganggur. Ia belajar menata batu dan memilah bata sehingga pada kemudian hari, ia memiliki pemahaman yang cukup untuk membedakan asbes, seng, dan genting yang sama dengan genting yang melekat di atap gedung-gedung perkantoran. Ketika mengisap batang rokok dan menunggui kopi hitamnya tenang, ia mengutarakan harapannya agar anak perempuannya, yaitu Ratna dapat menjadi sekretaris desa. Menempuh pendidikan di Bandung, mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil, dan membuka tabungan di sebuah bank yang berlokasi tak jauh dari Kantor Desa. Sementara Hidayat dapat menghabiskan waktu, hidup, dan usianya dengan bermain catur dan memastikan rumah yang menjadi tempat tinggalnya sebagai rumah anti bocor. Ia tak akan mempermasalahkan kegaduhan yang acapkali terdengar ataupun bulir hujan yang menghiasi permukaannya ketika hujan berlangsung lebih lama. Lebih lama daripada suara penyanyi kesayangan Hidayat yang tiba pada bagian reffrain. Ketika ibu Hidayat juara catur sedang menumbuk tempe, Hidayat sedang menghitung lembaran uang yang ditabungnya dalam dompet berusia tua dan lapuk. Dompet tersebut telah menemaninya selama sepuluh tahun, sejak seorang perempuan meninggalkan rumahnya untuk menjadi perempuan yang mengantre di pelabuhan. Ia menemukan perempuan tersebut terjatuh di tengah jalan yang terbentang antara kawasan tangki air minum dengan rumah besar berisi orang-orang pengumpul limbah rumah tangga dan toko elektronik. Orang-orang tersebut bekerja sebagai pemilah hingga kelak ia mencapai jumlah yang cukup sebelum akhirnya diolah menjadi bahan baku lemari, surat, atau perabotan rumah tangga lainnya.
Perempuan tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Arni, perempuan hamil yang dicampakkan oleh seorang lelaki kasar bersuku Sumatera. Arni menangis, bersimbah air mata, dan meraung hingga tak sadarkan diri. Hidayat dan lelaki pemilik toko Zakia kemudian membopongnya hingga tiba di kamar belakang rumah ibu Hidayat juara catur. Hidayat kemudian mendapatkan halus perasaan yang sama seperti ayahnya. Ia tak sampai hati membiarkan perempuan bernama Arni tersebut meninggalkan rumah ibunya tanpa obat dan jalan keluar. Hidayat juara catur melangsungkan pernikahan di rumah ibu Hidayat dengan mas kawin berupa mukena dan kitab suci Al-Qur’an yang telah dilengkapi dengan terjemahnya. Selama menikah, Hidayat tak pernah menyentuhnya. Mereka berdua tinggal dalam dua kamar yang berbeda. Sementara ruang makan dan meja makan menjadi tempat keduanya bertemu kemudian membahas peristiwa yang terjadi di daerah sekitar. Selebihnya, ruang tamu menjadi tempat keduanya berpapasan, menerka perasaan dan kabar melalui wajah dan gerak-gerik. Untuk menutupi rasa malu akibat tak bekerja, Arni memperkenalkan dirinya sendiri kepada tetangga-tetangga yang berbasa-basi sebagai seorang perempuan yang serba bisa. Bisa menyanyi, mengasuh anak, dan mencucikan pakaian. Pun menyetrikanya hingga rapi dan wangi. Beberapa tetangga yang memiliki kesibukan lain selain mengantarkan anak-anak ke sekolah dan menunggui mereka mengerjakan Pekerjaan Rumah, menggunakan jasanya untuk mencuci pakaian dan menyetrika. Arni dengan rahim berisi anak manusia mampu menyelesaikan pakaian-pakaian dalam keranjang tersebut dalam waktu dua hari. Pada akhir pekan, ia akan membantu ibu Hidayat juara catur untuk memasak masakan yang biasanya tak dimasaknya pada Senin hingga Jumat. Dengan kue yang untuk membuatnya tak memerlukan oven ataupun mixer. Arni menyebutkan nama-nama makanan yang pernah dibuatnya ketika ia masih berstatus sebagai pelajar sekolah dengan sehelai kain melekat di permukaan kepalanya. Saat itu, ia masih tergabung dalam geng beranggotakan perempuan, teman-teman sekelas, gemar mengunjungi mal pada waktu-waktu tertentu, dan tak segan untuk melepaskan kain di kepalanya saat seseorang mengundangnya untuk merayakan pesta ulang tahun.
Ratna, anak perempuan satu-satunya di rumah ibu Hidayat berlari ke arah ruang kamar. Ia adalah salah satu di antara banyak orang yang jatuh cinta kepada hujan. Sekali waktu, ia memindahkan hujan ke dalam salah satu lembar kertas tugas menulis puisi, mata pelajaran Bahasa Indonesia ke dalamnya. Saat tiba bagi dirinya untuk membacakan puisi tersebut di depan kelas, angin berembus pelan melalui jendela berbingkai kayu tipis. Seorang lelaki, kakak kelas, melintas dengan seragam putih, kemeja, yang dibiarkan terburai hingga melewati pinggang dan ikat pinggang. Lelaki tersebut memakai topi di atas kepalanya. Topi berwarna abu-abu pudar dengan gambar bola basket di bagian tepi. Sekali waktu, saat hujan tak turun dan orang-orang sedang ramai membuat antrean, di kantin dan tempat wudu, lelaki, tersebut akan menatapnya dari jauh kemudian memindahkan wajah Ratna ke dalam sehelai kertas. Lelaki tersebut begitu gemar membawa-bawa pensil konte saku seragamnya sehingga obrolan yang mestinya berlalu tenang di ruang perpustakaan, selasar masjid, ruang kelas, dan koridor akan menjadi obrolan yang berlalu bersama angin. Ratna memajang puisi yang ditulisnya di permukaan dinding kamar, berdampingan dengan puisi-puisi yang ditulisnya pada waktu luang. Ruang kamar Ratna selalu rapi dan memiliki buku terbaru yang ditempatkan di bagian muka deretan rak buku. Meski suaranya merdu, Ratna tak suka menyanyi. Meski Ratna menyukai novel-novel bertema kriminalitas dan misteri tak terpecahkan, ia tak tertarik untuk mengikuti kakak lelakinya yang gemar bermain catur. Kakak lelakinya memajang piala pertandingan catur yang pernah dimenangkannya di sudut ruang kamar dan membiarkannya berdebu, terselimuti debu, hingga berminggu-minggu lamanya. Sampai kemudian perempuan yang terpaksa dinikahinya menemukan kain lap paling tepat untuk permukaan piala setinggi satu meter di atas permukaan tanah. Saat kakak lelakinya menikah, Ratna mendapatkan tugas untuk memilah sayur mayur di atas pinggan lebar bergambar buah-buahan. Dengan tangan yang terbiasa meramu kata-kata, Ratna menempatkan daun singkong yang telah direbus selama satu jam dalam sebuah panci besar. Ketika ia memindahkan lembaran daun singkong tersebut, salah seorang kerabat yang merupakan adik perempuan dari ayahnya yang telah meninggal berkata kepadanya bahwa ia keliru. Ratna kemudian menghentikan aktivitasnya dan berkata bahwa ia hanya mengikuti contoh saja. Ibunya telah memulai perjalanan terlebih dahulu. Memindahkan sayuran ke dalam pinggan dengan membiarkan lembaran tersebut tak beraturan. Bibinya kemudian memberikan contoh bagaimana sayuran daun singkong tampak lazim disajikan dalam sebuah acara pernikahan. Daun singkong tersebut dibentuk menyerupai bola dengan jumlah yang sama satu sama lain sehingga setiap orang akan mendapatkan jumlah lembaran yang sama. Selain itu, tamu yang datang memenuhi undangan akan leluasa dengan garpu dan sendok di tangannya.