Paraji

Eka Retnosari
Chapter #4

Zaitun dan Kulit Kuning Langsat

Pagi hari di Kampung Cicukang. Seorang lelaki pemabuk baru saja menggantung leher di bawah pohon jambu. Pohon jambu tersebut telah ranum oleh jambu air yang berjatuhan satu per satu. Menjatuhkan satu persatu buahnya hingga ia tiba ke permukaan tanah yang sebelumnya berdampingan dan berserakan dengan daun-daun kering, cangkang permen cokelat, dan tiupan pelan lelaki Bilal. Menjelang Ramadan, lelaki-lelaki Bilal akan melakukan pemberitahuan, semacam pengumuman kepada setiap jemaah yang mendatangi Masjid Al Hidayah lima kali sehari. Bahwa kain sarung yang melekat di tubuhnya adalah kain sarung yang telah tiba pada masa habis pakai. Lelaki Bilal akan terbangun pada pagi hari, pukul empat, untuk menyampaikan kepada orang-orang, penduduk Kampung Cicukang bahwa pagi hari adalah waktu terbaik untuk memastikan setiap lampu berada pada tempat yang benar. Begitu pula dengan setiap selimut yang acapkali dipakai orang untuk memisahkan diri dengan mimpi yang mempertemukannya dengan bidadari, pemasang suara jangkrik, serta pemintal anyaman. Orang-orang terlelap pada pukul sepuluh malam setelah memastikan durasi iklan yang melintas di tengah laju sinetron, sebanyak jumlah penonton sebuah konser. Iklan obat sakit kepala, iklan kopi tubruk, iklan deodoran penghilang bau badan, iklan kudapan berbahan dasar kacang, serta iklan permen lima rasa. Sebelum tengah malam, Mak Ani dan perempuan-perempuan muda lainnya akan mematikan televisi. Pada tengah malam, iklan di televisi akan menelan jumlah orang-orang yang berjalan, melangkahkan kaki, dengan ingatan yang lamat tentang jumlah kulit kuaci yang tersebar di permukaan karpet dan sobekan kertas Al-Qur’an yang telah berulang kali dibaca oleh Kiai Undi dan istrinya, yaitu Ustazah Ummah. Ustazah Ummah berusia delapan puluh delapan tahun, berdarah Sunda, memiliki dan memelihara lima ekor kucing berwarna putih-hitam. Kucing-kucing itu tak pernah meninggalkan halaman rumah Kiai Undi. Mereka minum susu pada pagi hari dan makan tulang ayam pada petang hari. Ustazah Ummah hampir tak pernah lagi melahap nasi putih, protein hewani, dan makanan-makanan yang menimbulkan derak dan gemeletuk di gigi ketika menyantapnya. Kiai Undi akan menyiapkan buah-buahan. Jeruk Mandarin, sesekali sirsak, mangga, dan sawo yang telah matang. Buah-buahan itu dibelinya dari pasar seusai menunaikan salat Subuh, sebelum akhirnya tiba di permukaan meja depan rumah. Bersanding bersama kitab-kitab, buku-buku tipis, dan kertas-kertas bertuliskan kaligrafi. Kiai Undi memiliki hobi, kegemaran, yang sama dengan anak pertamanya, yaitu Sobar Hidayat. Sementara keponakannya, menjadikan menulis kaligrafi sebagai pekerjaan. Masjid An-Nur adalah tempat pertama yang menggunakan jasanya sebagai penulis kaligrafi. Ia menghiasi dinding atas masjid, kubah masjid tepian dinding masjid, serta bingkai jendela masjid. Pada petang hari, keponakan Sobar Hidayat akan mengajarkan anak-anak usia Sekolah Dasar untuk membaca, menulis, dan menghafalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an diajarkan seumpama kue, sepotong demi sepotong, sebelum akhirnya tiba pada remahan-remahan yang diinginkan oleh orang tua mereka. Setiap kali Ramadan tiba, orang tua mereka akan datang untuk mengantarkan berbagai jenis buah yang dikemas dalam bentuk es buah, sup buah, dan buah yang dikemas dalam bentuk es krim. Mereka memastikan bahwa anak-anak mereka telah memiliki hafalan yang benar, minimal satu juz Al-Qur’an, kemampuan untuk menuliskan kembali ayat-ayat yang dibacanya serta dihafalnya, dan menyebutkan nasihat-nasihat yang telah didengarnya sebelum pembelajaran berlangsung. Keponakan Sobar Hidayat memiliki kegemaran yang sama dengan ibunya, yaitu Hajjah Pipih. Hajjah Pipih berusia tujuh puluh delapan tahun, memiliki kegemaran memasak dan menyajikan nasi kuning setiap pagi untuk disantap dan ditandaskan oleh Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di Kantor Kelurahan sebagai sekretaris dan petugas administrasi. Pada Senin pagi, Hajjah Pipih akan bekerja lebih awal, lebih pagi karena para pekerja, Pegawai Negeri Sipil, akan mengikuti persiapan upacara bendera pada Senin pagi, pukul setengah tujuh. Hajjah Pipih, ketika masih berusia dua puluhan pernah melakukan hal yang sama dengan keponakan Sobar Hidayat, yaitu mengajar mengaji dan menyelinginya dengan cerita, kisahan, tentang orang-orang kecil yang tinggal di sekitar Rasulullah. Orang-orang itu adalah para pedagang, ummahat (ibu-ibu rumah tangga), penggali parit, serta anak-anak kecil yang memiliki pekerjaan sebagai penghitung bintang-bintang. Pada zaman tersebut, menghitung bintang-bintang adalah pekerjaan yang berhubungan dengan ilmuwan-ilmuwan besar yang pekerjaan sehari-harinya adalah membaca dan menulis. Sambil menyelesaikan satu buku tebal tentang bumi dan isinya, ilmuwan-ilmuwan tersebut akan memperkerjakan anak-anak untuk menghitung jumlah bintang yang mereka lihat pada malam hari. Malam hari menjadi waktu yang tepat bagi mereka untuk berkumpul, membakar batu dan api, sebelum akhirnya menjatuhkan pandangan kepada langit. Langit menjadi tempat anak-anak melemparkan pertaruhan mereka tentang hari esok. Suatu masa ketika waktu untuk berburu telah tiba dan waktu untuk menggali banyak parit telah memasuki masa. Orang-orang yang mendengarkan dengan saksama, tumbuh menjadi seorang pedagang yang ramah kepada orang-orang yang datang bertandang untuk menimbang antara jeruk, apel, serta berbagai jenis anggur. Hajjah Pipih menabung selama dua puluh lima tahun sebelum akhirnya mampu pergi berhaji ke Tanah Suci bersama rombongan sepengajian. Mereka telah mempersiapkan ibadah naik haji sejak hafalan mereka masih berkutat di angka tiga juz saja, yakni juz 28, juz 29, dan juz 30. Hafalan juz 30 merupakan modal awal yang mempertemukan mereka dengan selasar Masjid An-Nur yang saat itu masih berupa tumpukan bata. Tumpukan bata merah tersebut merupakan sumbangan dari warga Komplek Bina Marga yang bekerja sehari-hari sebagai pegawai pemerintahan, pegawai swasta, dan pensiunan. Hidayat seusai bermain catur, melakukan percakapan dengan ayam-ayam yang tinggal dalam jeruji kayu, satu jam sebelum atraksi kuda lumping digelar di halaman rumah Hajjah Aminah. Hajjah Aminah telah membersihkan halaman, pekarangan, mencabuti rumput-rumput, menyiangi bunga liar yang sekali waktu dipetik oleh murid Sekolah Dasar dalam perjalanan yang ditempuhnya dari sekolah tempat mereka belajar hingga halaman rumah tempat mereka tinggal dan mengerjakan Pekerjaan Rumah. Soal cerita tentang seorang paman dengan traktor yang baru dibelinya dari toko paling ramai di ibu kota. Seusai pertunjukan kuda lumping nanti, Hajjah Aminah hendak menunaikan janji untuk menemui Arni, istri dari Hidayat juara catur yang pada bulan sebelumnya telah memenangi kompetisi serupa, seperti biasanya, ia menjadi juara pertama. Mengalahkan anak dari Ceu Ilot yang masih mempertimbangkan masak-masak untuk menceraikan istrinya yang baru saja diterima menjadi fotomodel kalender. Ia membahasakan kesuksesan sebagai sebuah sarana yang dapat menyampaikannya pada tujuan-tujuan besar, semacam kesempatan untuk bekerja di suatu tempat yang berbeda. Lapangan pekerjaan yang tak mempertemukannya dengan orang-orang yang masih dalam perjalanan untuk mencapai angka tertentu, saldo tertentu dalam buku tabungan yang mereka letakkan di samping pesawat televisi yang selalu menyala, menampilkan pertunjukan konser penyanyi-penyanyi dan kelompok penyanyi yang gemar berkerumun dengan orang-orang yang menempatkan hiburan di peringkat pertama, sebelum memasuki ranah atau wilayah yang menautkan manusia dengan materi, uang, kebutuhan untuk menghemat, dan mendapatkan jaminan keselamatan ketika berjalan pulang pada malam hari dan ketenangan ketika menaiki tempat tidur untuk memejamkan mata dan tak mempermasalahkan katupan, helaan napas, dan semacamnya. Arni, istri dari Hidayat juara catur telah memesan zaitun yang telah terpisah dengan biji di dalamnya. Biji-biji zaitun tersebut disebar di permukaan terpal bersamaan dengan melinjo dan teratai. Pengemudi angkot Cicaheum-Cileunyi begitu menggemari sayur asem dengan banyak kulit melinjo di dalamnya sehingga Hajjah Aminah perlu meminta tolong kepada suaminya untuk berbelanja ke Pasar Ujung Berung demi mendapatkan biji zaitun dan biji melinjo. Suami Hajjah Aminah, yaitu Tedi, tak mendapatkan keduanya di Pasar Ujung Berung. Mereka telah memindahkan kol, kubis, sawi, biji melinjo, dan zaitun ke Pasar Gede Bage. Pasar Gede Bage terletak tak jauh dari kawasan pesawahan yang memisahkan dua ruas wilayah, yaitu wilayah Panghegar dan wilayah Cisaranten. Wilayah Panghegar selalu menjadi kawasan yang menebarkan aroma surga yang hanya dapat tercium baunya oleh orang-orang tertentu saja. Angkot Panghegar-Dipati Ukur mesti menyeberangi kawasan pesawahan tersebut sebelum akhirnya memasuki kawasan perumahan. Pasar Gede Bade menjadi pemberhentian terakhir angkot Panghegar-Dipati Ukur. Pasar tersebut sempat terbakar setengahnya ketika pengusaha-pengusaha asal Tiongkok membuka lahan baru, tak jauh dari pasar, sebelum memasuki masa peletakan batu pertama. Pengembang senior tersebut membangun sebuah area townhouse yang diperuntukkan bagi penduduk Bandung yang bekerja di luar kota. Mereka acapkali menempuh perjalanan dengan alat transportasi publik seperti bus antarkota, kereta, dan angkutan travel karena keterbatasan penghasilan, membeli rumah adalah hal yang mesti mengalami penundaan. Mereka menjadikan kebutuhan mereka untuk makan sebagai kebutuhan yang urgen dan mendesak, sebelum membeli pakaian dan sepatu baru. Arni menjadi salah satu penduduk kota Bandung yang memiliki kebutuhan mendesak terhadap penampilan. Kulit bersih, halus, dan mulus, serta setiap pori yang tak memiliki aroma busuk, bau, dan sebagainya. Hidayat tak pernah menyentuhnya. Ia lebih menggemari bidak-bidak catur yang siap untuk dimainkan setiap kali salah satu dari tetangganya datang bertandang untuk menantangnya bermain catur, satu lawan satu. Dengan atau tanpa hadiah yang dijadikan iming-iming serta penonton pertandingan yang berasal dari penduduk sekitar. Jika Hidayat tak bermain catur, maka tetangga-tetangganya akan datang untuk meminta benda-benda mungil yang biasanya diletakkan di atas lemari hias atau lemari pajangan, burung dan anak burung, bunga porselen, dan semacamnya. Maka, tak melakukan dan menerapkan sistem barter sehingga setiap anak memiliki kemauan dan keterampilan untuk menjadi benang dan memintalnya menjadi satu kesatuan dan padu. Arni, istri Hidayat masih mandi pagi dengan zaitun-zaitun yang digunakannya untuk membersihkan tubuh dari segala bentuk daki. Arni selalu merasa tenang dan baik-baik saja setiap kali ia usai mandi pagi. Hidayat tak gemar bercakap-cakap. Pun kepada orang-orang, wartawan-wartawan, dan pelajar sekolah negeri yang menginap untuk melakukan studi banding. Wartawan-wartawan itu acapkali melintas dengan sepeda motor dan topi di kepala, menanyakan satu atau dua kali pertanyaan tentang kiat-kiat memenangi pertandingan catur. Sementara Hidayat tak memiliki pengetahuan mengenai ikhwal dan siasat, tentang bagaimana cara membunuh dan menumbangkan satu per satu musuh, pihak yang berkonfrontasi, dan semacamnya. Ia menjalani hari-harinya tanpa memiliki kewajiban untuk menjadikan kulit tubuhnya lebih bersih, mulus, dan wangi. Sementara kedua tangannya selalu terbuka kepada setiap kelahiran. Satu per satu bayi dilemparkan dari kandungan seorang perempuan yang terjatuh dari kendaraan yang sedang dinaikinya, tanpa menangis. Ia merasakan hidup dan kehidupan sebagai suatu hal yang mesti diisi dengan hal-hal baik-baik saja. Oleh karena itu, ia selalu melakukan percakapan dengan orang-orang yang acapkali melintas pada pagi hari dengan orang-orang yang acapkali melintas pada pagi hari dengan bergegas ke arah matahari. Sebagian menyiangi halaman berumput, alang-alang, dan segala jenis belukar. Sementara seseorang yang lain, memiliki jadwal untuk menggambar pemandangan di dinding sekolah Taman Kanak-kanak. Seseorang yang lain, Eman Supratman, lebih tertarik untuk mendatangi kantor polisi, polres yang selalu ramai dihampiri oleh kendaraan-kendaraan bermotor pada siang hari. Ia akan melaporkan anak keduanya yang belum pulang juga setelah jadwal kepulangannya. Pada satu hari sebelumnya, anak keduanya berjenis kelamin perempuan, memakai perhiasan di telinga, leher, dan pergelangan tangan. Rambutnya tak ditutupi khimar sehingga ia mudah dikenali. Dengan tubuh yang selalu dikatakan oleh teman-teman sekelasnya bahwa ia adalah seseorang yang sehat, lebih sehat daripada Susi anak pedagang paku. Susi merupakan murid baru di SD Negeri Bina Harapan 02 Bandung. Begitu memasuki ruangan kelasnya, anak-anak berseragam sekolah menghampirinya untuk menyodorkan buku harian bergambar Power Rangers. Mereka menanyakan nama dan alamat Susi yang segera dijawabnya dengan menyebutkan lokasi tempat ia bangun pagi dan menonton televisi. Televisi menjadi teman bicaranya ketika kedua orang tuanya sedang melayani orang-orang yang datang untuk membeli paku, penggaris kayu, dan memesan beberapa bilah kayu. Kayu-kayu kamper menumpuk di samping pintu masuk, sementara ia selalu saja gagal menemukan angka yang benar terhadap paku. Ibu Susi adalah perempuan Ciamis asli yang kerap menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil Carry yang dikemudikan oleh salah satu pegawainya yang bertugas untuk mengantarkan barang-barang pesanan. Barang-barang pesanan itu selalu mencapai angka minimum penjualan sebelum memasuki waktu Asar. Susi tak memiliki acara kesayangan di televisi sehingga kedua tangannya selalu sepi dari remote control, alat pengendali yang mudah mempertemukannya dengan sinetron, infotainment, dan siaran berita tiga puluh menit. Susi mengisi halaman selanjutnya di sebuah buku harian yang bukanlah halaman terakhir. Nama, tempat tanggal lahir, alamat, warna favorit, makanan dan minuman favorit, artis favorit, serta cita-cita. Susi bercita-cita ingin menjadi artis Amerika sehingga hal yang terpikir olehnya saat ini adalah mempelajari bahasa Inggris dan menabung di bank kecil yang berlokasi sekitar lima kilometer dari sekolah tempatnya belajar. Susi terbiasa bersalaman dengan orang-orang yang mengajaknya berkenalan sambil tak lupa memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang begitu menyukai dan menggemari bakso pedas dan siomai pedas. Sementara Hidayat juara catur selalu berkata kepada ibu kandungnya bahwa ia tak menyukai kue ulang tahun, pesta perayaan ulang tahun, dan badut penghibur anak-anak yang tersedu karena suatu alasan yang dibuat-buat seperti kekosongan setelah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal pada waktu yang sama di pabrik tekstil tempatnya bekerja. Ia tak memiliki suatu hal yang dapat dikisahkan, diceritakan kepada jemaah Masjid An-Nur yang pada suatu waktu, akan mengganti hamparan sajadah dengan anak-anak yang mesti ditimbang sebelum memasuki masa usia lima tahun. Orang-orang di sekitarnya tak memiliki sebab untuk menyatakan keberpihakan ketika Tante Batak pemilik warung dan kontrakan satu pintu, membuat pengumuman yang disampaikannya secara verbal kepada orang-orang yang mendatangi warung untuk membeli seperempat ayam, beras, dan minyak tanah. Tak lupa empat butir telur ayam. Empat butir telur ayam tersebut menjadi prasyarat bagi warga Cicukang untuk memperoleh persamaan dalam hal pemerolehan pemahaman yang sama dengan Susi anak pedagang paku. Ia tak pernah mempermasalahkan hidangan yang tersaji dalam piringnya tiap kali waktu makan pagi, siang, serta malam tiba. Ia tak bermasalah dengan ikan asin sepat sehingga keberadaan serta fungsinya merupakan hadiah setelah menempuh bertahun-tahun upaya memecahkan teka-teki silang serta menetesi bagian-bagian yang kosong dan lengang dalam lembar isian kata-kata bertema sama. Arni kerap menghidangkan kulit zaitun di atas meja hidangan sebagai pengganti biji melinjo. Kulit zaitun itu ditumisnya dan dipotong-potong menyerupai dadu. Kemudian ia menambahkan potongan besar tomat berukuran kepalan tangannya. Anak pertamanya, Mulyono, telah memiliki kemampuan untuk membaca Al-Qur’an. Mulai dari halaman pertama hingga halaman sepuluh. Sebelum memasuki waktu paling tepat untuk menghafalkan, Mulyono meminta kepada ibunya berupa hadiah karena ia telah fasih membaca Al-Qur’an, yakni sebuah sepeda yang bukanlah sepeda mini. Sepeda orang dewasa, tanpa warna mencolok dan keranjang di bagian depan. Ibu Mulyono, Arni, kemudian berujar bahwa ia sedang mengandung anak kedua. Ia harus melakukan penghematan agar dapat melahirkan dengan selamat. Ia harus membayar jasa Mak Ani, paraji satu-satunya di Kampung Cicukang dan menyiapkan biaya penyelesaian proses melahirkan sebelum dan sesudahnya. Ia, selain itu, harus menabung agar dapat membeli bedak bayi, minyak telon atau minyak kayu putih, serta sejumlah popok kain, kain, dan biaya syukuran. Arni perlu mengundang orang-orang di sekitar, tetangga dekat yang selalu mencarikan pelanggan, lelaki, ketika ia tak memiliki panggilan dan pintu kamarnya tak diketuk oleh seseorang seperti karyawan pabrik tekstil, yaitu pabrik Tarumatex tempat Hidayat pernah bekerja dan orang-orang yang memiliki dan menekuni pekerjaan-pekerjaan seorang pengusaha kecil-kecilan. Pedagang bakso di sebuah kios dan pengecat dinding kantor kelurahan. Kehidupan menjadi begitu hening dan sunyi ketika Arni meletakkan mangkuk berisi zaitun yang telah berubah bentuk menjadi krim oles yang berminyak, namun tak meninggalkan jejak serta bekas di permukaan kulit. Hidayat tak merasakan detak serta debar di dadanya tiap kali Arni menghampirinya seusai mandi pagi. Kehidupan berjalan begitu sunyi yang karena kesunyiannya, mengantarkannya pada dinding-dinding bergoreskan ratapan pemuda-pemuda tanggung yang sekali waktu menyamar menjadi orang yang benar. Seorang mubalig atau santri yang mampu menyimak nasihat dan petuah seusai salat Subuh di masjid terdekat. Mereka selalu menunggu waktu paling tepat untuk menyiangi tanaman di halaman, sebelum akhirnya tiba waktu paling tepat untuk menjalankan instruksi untuk menangis dan menangisi kepergian orang tua. Dalam salah satu kamar paling sunyi, bilik yang tak memantulkan suara yang sama, serta sekat-sekat pemisah ruang tamu dan ruang baca, ruang makan dengan ruang tamu bertelevisi dan berakuarium. Ikan mas berenang-renang, sementara Masjid Al Hidayah tak pernah lelah memperdengarkan Eling-eling Umat. Perempuan-perempuan berusia 60-an yang tinggal di sekitar adalah perempuan-perempuan yang tak mudah tertawa, menanggapi isu, dan menonton televisi. Mereka bercita-cita untuk menunaikan ibadah haji pada usia dua puluhan. Satu per satu perempuan yang gemar menyimak tausiah pagi dari Masjid Al Hidayah menunaikan ibadah haji setelah mendapatkan hadiah dari orang tua mereka, pengabulan atas percepatan pembagian harta warisan yang mesti dibagikan sebelum orang tua mereka berpulang ke rahmatullah. Mereka mendapatkan sejumlah uang untuk mendaftarkan diri sebagai pengantre ibadah haji sehingga sebulan sekali, mereka dapat mengikuti manasik haji. Manasik haji digelar di pusat kota Bandung, dipimpin oleh Kiai Pondok Pesantren yang tak pernah lelah mengulang-ulang hafalan 30 juz Al-Qur’an dan ribuan hadits. Hidayat juara catur akan menjemur dirinya di bawah sinar matahari pukul delapan. Sementara anak-anak perempuan Sekolah Dasar sedang berlombaan menanggalkan seragam sekolah, menggantinya dengan pakaian dalam. Celana dalam dan kaus singlet, sebelum akhirnya berjalan seumpama pasangan di lintasan menuju gapura.

Lihat selengkapnya