Siang terang benderang di halaman rumah Hajjah Aminah setelah hujan atau gerimis datang bertandang menjelang waktu Dhuha tiba. Pertunjukan kuda lumping menyisakan beling-beling yang serpihannya tertinggal di permukaan telapak kaki seorang nona berpakaian merah muda. Pagi-pagi ia datang bertandang, menanyakan nasi sisa yang tak habis dijual oleh seorang penjual nasi. Wajahnya tampak asing, oranye, dan Jakarta. Hajjah Aminah tak memiliki nasi sisa sementara halaman rumahnya tak hanya dipenuhi beling, pun serpihan beras. Butirannya tiba di permukaan teras berbatako, meski ia belum juga didekati dan direkati adonan semen. Suami Hajjah Aminah memandikan ayam jago setelah ia berhasil menaklukkan ayam jago milik penjual balon. Penjual balon tersebut selalu menjadi orang yang pertama kali tiba di sekolah tempatnya bekerja. Setelahnya, akan datang susul menyusul, pedagang-pedagang lain seperti pedagang bakso tusuk, pedagang bubur ayam, dan pedagang boneka kertas. Mereka berbaris dan berjajar di halaman belakang Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan, di samping pagar Taman Kanak-kanak Cendana. Taman Kanak-kanak tersebut memiliki karusel, ayunan, jungkat-jungkit yang dapat digunakan oleh semua orang. Anak sekolah, orang tua yang sedang menunggui anaknya belajar, dan pengunjung yang tiba untuk melakukan semacam tolehan, melakukan pembelian atas satu atau dua boneka kertas, serta bertukar kabar dengan orang-orang yang dikenal dan orang-orang yang baru dikenal. Pedagang balon akan bergabung dalam kerumunan pedagang menjelang tengah hari ketika pedagang bubur ayam telah merapikan mangkuk-mangkuk berhiaskan gambar ayam jago merah darah, hitam, dan hijau, bersanding bersama merk penyedap rasa. Pedagang bubur ayam tersebut selalu menggunakan penyedap rasa sehingga para pembelinya yang adalah siswa Sekolah Dasar akan memberikan penilaian terhadap bubur ayam yang dijualnya. Bubur ayam tersebut adalah salah satu hidangan yang diracik oleh istri dari pedagang bubur ayam tersebut. Ia memiliki banyak amunisi yang dipersiapkannya sebelum memenangi pertempuran dengan pedagang lain. Karena tak mencukupi, maka akhir pekan selalu ia gunakan untuk menjadi pengemudi taksi tembak. Deretan taksi tanpa argo yang berderet tak jauh dari lintasan jalan tol. Menjelang pagi, banyak kendaraan akan memuntahkan satu per satu penumpangnya yang seluruhnya adalah perempuan. Dengan riasan yang luntur karena masa, acara, dan keadaan, calon penumpang taksi putih tersebut akan berjalan gontai, menghampiri deretan taksi, menebak pengemudi yang tak akan menipu dan menyakitinya untuk yang kedua atau yang ketiga kali. Dengan rongga mulut beraroma sampah, calon penumpang taksi tembak tersebut akan sibuk menanyakan arah. Barat ataukah Timur, tempat yang dapat ia gunakan untuk mandi pagi, menggosok gigi, dan berganti pakaian. Mereka telah mempersiapkan segalanya. Pakaian, riasan ala kadarnya seperti parfum, bedak tabur dan bedak padat, gincu, pemerah pipi, serta pelembab wajah dan sabun pencuci wajah. Di ruang-ruang kedap suara, tempat mereka menyumbangkan suara, terdapat banyak hal seperti cerita tentang teman kerja, lelucon tentang anak dan istri yang tak bisa membedakan raut wajah dan parfum, serta keluhan tentang lalu lintas Jakarta. Biasanya, pekerja ibu kota tersebut akan melakukan pemesanan pada satu minggu sebelumnya. Memilih mahasiswa semester satu, semester dua, mahasiswa tahun pertama perkuliahan untuk menjadi teman mereka selama beberapa jam. Menyanyikan lima lagu sumbang dan melupakan umpatan, perkelahian dengan teman kerja, serta perasaan takut kehilangan anak dan istri. Ketika pesawat telepon di rumahnya selalu dihampiri dering orang-orang yang tak dikenal. Begitu pula dengan surat-surat yang jumlahnya melebihi satu helai. Namun, sedu dan sedan itu tak akan sepanjang gerimis ataupun tolehan pedagang bubur yang sekali waktu memisahkan satu per satu mangkuk ayam jago miliknya setelah meraih kekalahan dalam arena perdagangan dengan pedagang balon. Pedagang balon, ketika itu, mendapatkan kemenangan tiga kali lipat dari balon-balon yang dijualnya menjelang siang dan permintaan dua anak kakak beradik, serta pasangan suami istri yang hendak merayakan pesta ulang tahun salah seorang anggota keluarga. Dua anak kakak beradik tersebut adalah saudara petugas taman sekolah, kelas V Sekolah Dasar Negeri. Mereka akan mengundang seluruh teman sekelasnya untuk merayakan hari jadi anak pertama yang kesebelas tahun. Anak pertama merupakan siswa yang tak bermasalah dengan siswa-siswa lain sehingga membeli kartu undangan dan menuliskan satu per satu nama teman sekelasnya, tanpa bertanya kepada seseorang di sampingnya dan seseorang yang lain yang tak memiliki banyak hal untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan ataupun bahan diskusi di ruang keluarga dan ruang makan. Sementara anak kedua akan merayakan pesta ulang tahun dengan segelintir teman sekelas. Ia tak terlalu memercayai pertemanan yang universal, yakni pertemanan yang dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Oleh karena itu, ia hanya memercayai beberapa orang saja, salah satu di antara teman sekelas yang pernah menjadi teman sekelompok ketika mendapatkan tugas untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas kelompok serta empat orang lainnya, yakni orang-orang yang mengingat namanya, pernah memanggilnya dengan suara pelan serta anak salah seorang kerabat yang tak memiliki pertikaian dengan orang tua kandungnya. Maka, keduanya akan merayakan pesta ulang tahun pada waktu yang berbeda. Anak pertama pada minggu sore, setelah salat Asar, sementara anak kedua akan merayakan pesta ulang tahun pada minggu setelahnya, dengan ditemani orang tua dan tak bermasalah dengan keributan tetangga, obrolan tetangga, ataupun selorohan tetangga. Karena anak pertama akan mengundang semua teman sekelasnya, maka ia memerlukan jumlah balon yang lebih banyak daripada adiknya. Balon-balon itu kelak akan dipajangnya di hampir seluruh bagian rumah. Pagar kayu depan rumah, teras, halaman, ruang tamu beserta empat sudutnya. Pun sudut-sudut akuarium dan seluruh permukaan lantai rumah. Setiap tamu undangan akan diperkenankan untuk memecahkan balon. Dan ia akan bersikap tak apa, tak masalah, tak mempermasalahkan jika tamu-tamu yang diundangnya keliru mengucapkan ‘birthday’ dan memilih untuk menggantinya dengan ‘burstday’. Jika mereka berkehendak untuk mengubah pesta ulang tahun tersebut menjadi pesta memecahkan balon, maka ia akan menjadi seseorang yang tak berkeberatan. Sementara adiknya akan menjadikan pesta perayaan ulang tahun sebagai upaya untuk memadamkan api dalam lilin angka yang dibeli oleh orang tuanya dalam keadaan mata tertutup. Keduanya tak akan mempermasalahkan perbedaan waktu, susunan acara, dan jumlah balon yang dipesan karena keduanya akan mendapatkan hadiah berupa kado dengan isi yang sama, sama jenis, rupa, bentuk, dan warnanya. Pun jumlah yang pada akhirnya mereka dapatkan. Jika kakak pertama mendapatkan hadiah berupa mainan mobil seukuran tubuhnya, maka anak kedua pun akan mendapatkan hadiah berupa mainan mobil seukuran tubuhnya, mendapatkan hadiah yang sama. Hadiah tersebut akan mereka buka dalam keadaan mata terbuka sehingga usia yang bertambah akan membuatnya menjadi seseorang yang dewasa dan memiliki kepercayaan diri ketika memperkenalkan suatu benda ataupun seseorang. Benda-benda yang diperolehnya ketika berulang tahun, tak pernah mengalami perpindahan tempat sehingga mereka akan selalu mendapatkan kembali mainan-mainan miliknya setiap kali mereka memerlukan benda tersebut untuk mereka gunakan. Sementara balon-balon berlubang tersebut akan berserakan. Robin telah tiba pada tiang kesepuluh setelah pada tiang listrik pertama, direkatkannya pipinya yang bertulang ranum. Permukaan tiang listrik telah dilapisi dan dipenuhi karat karena hujan selalu datang tiap kali seseorang merayakan pesta ulang tahun. Saat seseorang meniup balon, hujan akan melebat. Saat seseorang memecahkan balon, petir pendamping hujan akan terdengar. Orang-orang penduduk Kampung Cicukang kemudian akan mematikan pesawat telepon dan menggantinya dengan murotal Al-Qur’an yang diperdengarkan dari pesawat televisi dan menggantinya dengan penyiar. Dulu, pada 90-an, pesawat radio masih belum memiliki iklan obat pembunuh serangga dengan tutup botol warna hijau dan hiasan bergambar obat nyamuk spiral di tengah-tengah. Penyiar masih sempat untuk mengudara, memperdengarkan iklan salam kepada orang-orang yang masih merencanakan tidur, merancang tidur, dan menjadikan tidur sebagai sebuah prestasi yang membanggakan dan membahagiakan. Robin tak pernah terlambat tiba di sekolah dan mengumpulkan Pekerjaan Rumahnya. Sebelum walikelasnya memasuki ruangan, Robin akan memamerkan selebaran-selebaran dan kertas usang yang ditemukannya di tiang listrik. Pengumuman perayaan hari besar, berita orang hilang, iklan sedot wc, iklan badut ulang tahun, harga yang harus dibayar oleh seseorang untuk mendapatkan hiasan rumah serupa krim pinggiran kue tar. Teman sebangku Robin akan segera merayakan pesta ulang tahun. Usianya akan genap memasuki angka sepuluh tahun. Orang tuanya berpenghasilan sehingga mereka memiliki uang yang cukup untuk membeli kue dan memasang lilin sejumlah sepuluh di permukaan kue. Sementara Robin dan teman-teman sekelasnya telah mengikuti kursus pembuatan kartu ulang tahun yang diselenggarakan oleh Kantor Kelurahan Cisaranten Bina Harapan. Mereka akan melaksanakan pesta perayaan ulang tahun tanpa melesatkan orang-orang semacam penempel selebaran di permukaan tiang listrik dan peniup balon. Teman sebangkunya mengusulkan kartu undangan bergambar Snoopy dengan sekop mungil berbentuk hidung boneka salju. Robin belum pernah bersentuhan dengan salju sehingga ia tak memiliki perbendaharaan kata tentang salju. Salju dilihatnya di televisi, di surat kabar, di halaman lembaran majalah dan potongan kertas surat yang acapkali digunakan oleh anak-anak perempuan untuk membersihkan ingatan dan kenangan tentang sungai limbah yang mereka lalui pada setiap harinya. Sungai limbah berwarna merah hati serupa genangan sisa-sisa sapi potong yang tak tuntas dibekukan, dlemparkan ke dalamnya pada setiap harinya. Darah-darah sapi itu berbentuk kotak dadu, sebagian memiliki rongga serupa keju, sebagian berbentuk balok padat tanpa jejak irisan pisau ataupun sayatan silet. Anak-anak perempuan yang tinggal tak jauh dari Leger, kawasan kantor pemerintahan dan hamparan lapangan golf, selalu melintasi sungai darah tersebut. Anak-anak idiot berusia tiga hingga tujuh tahun, acapkali mendapatkan nasib yang sama dengan balok darah tersebut. Mereka akan ditidurkan pada malam sebelumnya, di permukaan tempat tidur, tak jauh dari teras yang dibangun di atas lubang akhir pembuangan tinja. Mereka mendapatkan mimpi indah pada malam sebelumnya, berkelana dengan kereta kuda yang dikemudikan oleh tiga ekor kucing. Kucing-kucing itu memiliki bentuk poni yang sama, warna yang sama, ukuran yang sama, untuk kemudian memiliki ekor yang sama. Sebelum tiba pada lautan paling tenang, yakni Pasifik dan sekitarnya, anak-anak itu akan dimandikan oleh kucing bidadari berwarna kuning emas. Kucing bidadari tersebut memiliki mahkota yang juga terbuat dari emas, gaun putih, dan sepatu kucing yang dapat memasukkan suara-suara. Dalam lelapnya, orang tua mereka, yaitu Otang, Iding, dan Tang Aya akan membungkus tubuh mereka dengan selimut tipis bergambar burung Tweety dan kain yang tak habis dipakai penari. Kain itu berhiaskan lubang dan sobekan di beberapa bagian. Dengan sepeda motor dan sepeda ontel, mereka menempuh perjalanan. Mengayuh dua hingga tiga langkah bersandal jepit, melintasi gapura, dan tiang-tiang listrik tak bernyawa. Permukaan tiang listrik tersebut dihiasi oleh karat dan kertas-kertas yang masih dalam perjalanan menuju telapak tangan Robin. Mereka melintasi plang bertuliskan nama kompleks, polisi tidur, dan Tempat Pembuangan Akhir sampah limbah rumah tangga. Tak hanya warga Komplek Bina Marga saja, namun warga Kampung Cicukang, Cisaranten, dan Leger pun menjadikan tempat tersebut sebagai tempat sampah bersama. Otang dan dua karibnya memiliki masing-masing satu anak dengan mata juling, perut kembung serupa balon, enam jari kaki, warna mata yang penuh bercak, genangan hitam dan abu-abu di setiap jari kuku, serta ketidakmampuan mengingat dan menyebutkan nama-nama orang di sekitarnya, orang-orang dalam hidupnya. Tahun-tahun sebelum istri Otang hamil dan melahirkan, Otang mendaftarkan dirinya sebagai anggota sabung ayam yang akan digelar pada akhir pekan, Minggu sore, menjelang waktu Magrib tiba. Mereka, Otang dan kawan-kawan, akan berkumpul di halaman rumah Hajjah Aminah untuk menguji coba ayam jago yang mereka miliki. Otang selalu mendapatkan kekalahan. Ayam jago miliknya tak pernah berhasil mengalahkan ayam jago milik Oleh yang namanya kesohor karena selalu mendapatkan kemenangan di halaman rumah Hajjah Aminah. Aat dan Aan akan mendebatkan teh manis dan kopi, mempertimbangkan manakah yang lebih baik antara keduanya. Aat berpihak kepada teh manis, sementara Aan lebih menyukai kopi tubruk. Aat kemudian teringat pada kebiasaan wirid dan salawat yang selalu dilakukan oleh ibunya, yaitu Hajjah Aminah. Akhirnya, Aat menyanggupi Aan untuk membuatkan kopi tubruk. Kopi tubruk dihidangkan dalam gelas kaca setinggi lima sentimeter. Sementara Hajjah Aminah melakukan percakapan dengan pengemudi angkutan kota yang acapkali berkelakar tentang juragan angkot, Tante Batak yang sekali waktu tampak sangar, gemar melontarkan ancaman tentang jumlah setoran yang kurang dari lima ratus ribu rupiah. Mereka selalu menggunakan segala cara demi mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah. Sekali waktu, pada pertengahan minggu, salah satu pengemudi angkutan kota Panghegar-Dipati Ukur mendapatkan uang setoran sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Arena tak mencapai lima ratus ribu rupiah, ia harus menggunakan pinjaman kepada lintah darat yang bekerja dengan cara mendatangi setiap warung, melakukan percakapan, dan menyampaikan kabar baik tentang uang. Bahwa setiap permasalahan, selalu memiliki jalan keluar. Pengemudi tersebut mengajukan pinjaman sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah yang kemudian diralatnya menjadi lima ratus ribu rupiah. Dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk melengkapi kekurangan dan dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk disetorkan kepada istrinya. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan sehari-harinya adalah merawat rumah kontrakan petakan yang harga sewanya adalah seratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Pun merawat anak kandungnya yang berusia delapan tahun, bersekolah di SD Negeri, dan selalu merayakan pesta ulang tahun sejak usianya masih empat tahun hingga usia delapan tahun dengan dihadiri oleh lima orang teman sebaya yang merupakan tetangganya. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang sama. Sementara itu, Robin tinggal tak jauh dari gapura 17-an dan tiang listrik. Sore itu, ia baru saja mendapatkan pamflet baru, selebaran baru, tentang perayaan khitanan massal yang akan dilaksanakan di halaman rumah Hajjah Aminah minggu depan. Robin mendapatkan pertanyaan dari Chelsea tenntang upacara bendera yang akan digelar di Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid An-Nur untuk yang pertama kalinya. Chelsea akan bertugas sebagai pembaca doa. Ia belum menghafal doa yang harus dibacakannya di hadapan Ustaz Sobar Hidayat, siswa Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid An-Nur dan tetangga terdekat masjid, yaitu Ketua RW, petugas kebersihan masjid, dan Mang Jana pemilik kerbau. Kerbau-kerbau Mang Jana akan dibebaskan dari kandang kayu yang memisahkannya dengan deretan rumah petak, kawasan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dan pacilingan yang memisahkan dua wilayah yang selalu berseteru, yaitu kawasan Cicukang dan Cisaranten. Chelsea meremas kedua telapak tangannya yang basah dan beraroma daun asam Jawa. Sementara teras rumahnya, penuh dengan potongan bunga bawang yang dipetik dari halaman Ceu Cicih. Ceu Cicih bersuamikan seorang pensiunan tentara yang menghabiskan masa tuanya dengan menjadi pencukur rambut. Rambut anak-anak seusia SD, rambut jemaah Masjid An-Nur, namun tidak dengan rambut perempuan. Sementara itu, Ceu Cicih akan memotong rambutnya di salon perawatan kecantikan, tak jauh dari kampus Itenas. Sepulang menghadiri acara-acara pertemuan yang mempertemukan istri-istri tentara, istri-istri pejabat, dan istri-istri pemilik saham perumahan baru di kawasan Gede Bage, Ceu Cicih akan mendatangi salon tersebut untuk merawat helaan rambutnya yang telah memiliki sehelai, dua helai, rambut putih. Kemudian membersihkan riasan di wajahnya agar dapat melapisinya dengan masker stroberi, masker lemon, dan masker yogurt. Memotong kuku, merapikan pinggirannya, dan melapisinya dengan cairan pelindung kutikula, sebelum akhirnya mengecatnya dengan cat kuku warna merah cabai. Ceu Cicih menyukai warna merah dan pakaian-pakaian dengan banyak hiasan payet dan glitter seumpama lampu disko. Mengunjungi diskotek adalah salah satu kegemaran Ceu Cicih. Setelah berusia di atas enam puluh, Ceu Cicih mengalihkan hobi dan kegemarannya dengan mengikuti acara-acara seperti arisan, pesta ulang tahun, dan perayaan hari raya tertentu dan ulang tahun pernikahan salah seorang kerabat. Setiap kali menghadiri undangan, Ceu Cicih selalu memakai pakaian baru. Pakaian-pakaian baru itu dipajangnya dalam lemari pakaian. Setelah menempati hampir seluruh ruang dalam lemari, Ceu Cicih akan memutuskan untuk melakukan pembelian lemari pakaian baru. Saat menemukan waktu luang, suami Ceu Cicih akan membuat lemari pakaian terbaru. Dengan kayu-kayu sisa yang diantarkan oleh pemuda-pemuda tanggung yang berkelana pada petang hari dengan sepeda motor tak berknalpot, mereka belum atau tak memiliki Surat Izın Mengemudi sehingga lintasan jalan sempit di depan rumah selalu menjadi tempat perlintasan bagi sepeda motor berpenumpang satu atau dua. Chelsea kemudian menyalakan pesawat televisi 14 inci, hitam putih, berantena, dan berkata bahwa ibunya, Nelis, masih dalam perjalanan. İa masih memiliki sisa waktu dua jam untuk menghafalkan doa yang harus dihafalkan sebelum upacara bendera. Nelis adalah ibu Chelsea, berusia dua puluh tiga tahun, bekerja di supermarket sebagai kasir dan menemukan jodohnya, yaitu salah satu pegawai supermarket. Suami barunya berselisih satu tahun lebih muda daripada Nelis. Ia bekerja di gudang, melakukan pengepakan dan pengemasan barang-barang yang dipesan oleh pembeli secara daring. Jika Arman berhalangan hadir, suami baru Nelis, yaitu Opik, akan menggantikan tugasnya sebagai pengantar barang-barang pesanan. Saat Nelis lengah dan beberapa pengutil supermarket berhasil mengambil dan menyembunyikan cokelat, pemantik, dan kembang gula, pengawas atau manajer akan menampar pipinya, memotong gajinya, dan memberinya peringatan. Jika hal tersebut masih akan berulang dan terjadi selama tujuh kali berturut-turut, pengawas dan manajer supermarket akan memberhentikannya. Nelis akan menjadi pengangguran dan kembali berperang dengan perempuan-perempuan geng motor yang menggantikan peran ibu-ibu mereka dengan menyampaikan cerita dan kisah yang sama dari rumah ke rumah, sampai akhirnya mereka mendapatkan satu orang berkepala kosong yang akan memercayai, meyakini, dan mengikutinya. Nelis pada bulan menjelang bulan Safar, telah mencapai keberhasilannya di supermarket dengan menangkap basah pelaku pengutilan. Nelis kemudian menampar pelaku pengutilan tersebut dan melaporkannya ke kantor polisi terdekat. Sepulangnya dari supermarket, Nelis menjumpai Chelsea, anak semata wayangnya yang berbinar ketika ia membawa pulang kaleng-kaleng berisi sup jagung, sup jamur Paman Sam yang masih jauh dari tanggal kedaluarsa sebagai pengganti tamparan-tamparan yang telah terlanjur mendarat di kedua pipinya. Robin perlahan meninggalkan halaman rumah Chelsea. Tak lama kemudian, sebuah truk melintas dan berhenti untuk melontarkan ajakan. “Ayo!” teriak pengemudi. “Ke mana?” tanya Robin. “Makan!” teriak pengemudi. Tanpa pikir panjang, Robin pun menaiki truk.