Petir dan guntur terdengar bersamaan ketika lelaki berkumis tebal itu muncul dari kereta yang memuntahkan orang-orang yang tampak tak asing dengan lampu-lampu yang terpasang di kanan-kiri stasiun. Sebagian merasa nyaman dengan kemeja yang melekat di tubuh. Kemeja dengan kerah tegak berdiri yang kain kerasnya terasa tiap kali bergesekan di permukaan kulit leher. Kulit leher itu belum pula mencicipi air mandi setelah delapan jam perjalanan meninggalkan stasiun sebelumnya hingga dua atau tiga penghentian. Setiap penghentian selalu permisif kepada para pedagang seperti pedagang telur asin, pedagang tahu Sumedang, dan pedagang tasbih. Lelaki berkumis tebal hampir terkantuk dengan tas ransel mungil yang dipangkunya selama perjalanan. Tas mungil itu adalah tas milik anak keduanya. Ia memiliki dua anak yang didapatnya dari pernikahannya yang pertama. Awal tahun 1991, menjadi tahun yang membawa perubahan bagi rutinitas, keseharian, dan suasanya hatinya. Lelaki berkumis itu bekerja di Jalan Riau 11 Bandung, sebuah rumah sakit jiwa yang memisahkan pasien-pasiennya ke dalam tiga kelas. Pasien terfavorit pada bulan Maret adalah seorang Tionghoa yang baru saja ditinggalkan oleh keluarganya. Semula, keluarganya mendirikan sebuah pabrik roti di Jalan Cicadas, tak jauh dari jalan besar dan Matahari Department Store. Pabrik roti tersebut dibangun dengan sisa tabungan yang dibawanya dari tanah kelahiran. Karena anak pertama kakek tua Tionghoa berusia delapan puluhan tersebut memiliki sejumlah kawan dekat dan relasi, maka memasarkan roti bukanlah hal yang sulit baginya. Selain itu, ia memiliki dua anak lelaki berusia tiga puluhan yang pandai berkawan, menambah teman baru, dan mempelajari cara mereka berkomunikasi. Anak pertama kakek tua Tionghoa berhasil mendapatkan dua orang pacar. Pacar pertama adalah seorang karyawan pabrik sepatu. Usianya masih sembilan belas tahun. Ia tinggal tak jauh dari tempat pembuangan akhir sampah yang bersampingan dengan pabrik sepatu tersebut. Sekali waktu, pabrik sepatu itu menambah barang yang diproduksinya seiring bertambahnya jumlah relasi, permintaan, dan penawaran. Pabrik sepatu tersebut memproduksi handuk-handuk seukuran saputangan, handuk-handuk sepanjang lima puluh sentimeter yang acapkali digunakan oleh atlet sepakbola, atlet bulu tangkis, dan pemain tinju kawakan yang seminggu sekali muncul di TVRI. Lelaki anak pemilik pabrik roti tersebut kemudian memacari karyawan pabrik handuk yang bertahan hingga enam bulan lamanya. Lelaki berkumis tebal tersebut adalah salah satu di antara banyaknya lelaki yang menyalakan televisi pada minggu pagi. TVRI ditonton pada waktu yang sama dengan kretek yang tak nyaman tinggal dalam kemasan yang mengungkunginya dengan gambar pabrik rokok, ancaman, serta warna cokelat yang melekat hingga pengisapnya dapat merasakannya seperti ia merasakan sebatang cokelat dari Rusia atau cokelat leleh yang tersembunyi dalam buntalan donat Jerman. Seusai pertandingan tinju dan pergumulan asap rokok, lelaki berkumis tebal itu akan melakukan hal yang sama. Mempertandingkan benda-benda yang dapat diadukan sehingga dapat menghasilkan kemenangan dan kekalahan.
Oleh pemilik ular piton dan ular sanca akan mempertandingkan ayam jago yang sebelumnya telah dimandikan dengan air yang tinggal dalam semprotan pembersih kaca. Isah yang saat itu masih menjadi istri setianya, telah berhenti menjadi peragawati. Ia menjadikan lintasan catwalk yang pernah dilaluinya sebelum menjemur pakaian-pakaian yang dicucinya seorang diri. Sabun colek kuning telur seharga lima perak yang dapat digunakan hingga akhir bulan. Oleh mendapatkan penghasilan dari membunuh orang. Satu per satu korban lintah darat asal Sumatera yang tak mampu melunasi utang, akan menjumpai salah satu dari ular yang dipeliharanya. Nasabah lintah darat perempuan akan terhenti hingga salah satu dari ular yang dipeliharanya memasuki vagina kemudian tinggal dalam rahim yang sama dengan rahim yang pernah memuntahkan anak-anak yang pernah dilahirkannya. Tak satu pun dari anak-anak itu mampu melunasi utang yang lahir atas nama kebutuhan. Televisi untuk menonton opera sabun dan film layar lebar yang menayangkan film-film futuristik, kompor tanpa sumbu yang dapat menyimpan minyak tanah selama berminggu-minggu, tirai tak tembus pandang sehingga ia dapat bersembunyi dari kejaran penagih utang dan orang-orang semacam Oleh atau karib Oleh yang tak pernah lupa menanyakan tanggal paling tepat untuk meregangkan nyawa. Kakek tua Tionghoa itu memiliki anak ketiga yang juga adalah seorang lelaki. Berbeda dengan kedua kakak lelakinya, anak ketiganya tak terlalu menyukai hal-hal seperti berpacaran, pusat perbelanjaan, dan kewajiban untuk bangun pagi. Terlebih bekerja keras, membersihkan dinding akuarium, membersihkan bebatuan di dasar akuarium, dan memberi makan ikan dengan cacing-cacing yang telah dibekukan. Selama lima tahun, kakek tua Tinghoa tersebut mendapatkan keuntungan dari pabrik roti yang didirikan dan dikelolanya. Orang-orang mendatangi pabrik itu untuk membeli roti dengan harga pabrik, setengah harga dari harga yang dipasarkan dalam bentuk roti bakar, roti kukus, dan roti goreng. Roti bakar banyak dibeli oleh buruh-buruh pabrik yang mendapatkan shift malam hari, penjaga keamanan gudang, dan pekerja kantoran yang bermukim di kawasan pinggiran kota. Adang, mahasiswa asal luar kota dan mahasiswa asal luar daerah menjadikan roti bakar sebagai makanan pengganjal perut yang dapat bertahan hingga esok pagi. Sementara mahasiswa-mahasiswa lokal dan pribumi lebih menyukai roti kukus dengan selai stroberi dan blueberry. Penyajian dengan cara dikukus, dapat mempertahankan rasa dari selai dan mentega tawar yang diberi dari pabrik yang sama. Warung-warung kaki lima membeli roti tawar kemasan satuan dan kemasan panjang pada tiga jam sebelum pabrik memasang tanda pengumuman bahwa roti telah tandas sebelum pukul enam. Penduduk di sekitar pabrik yang bermukim di wilayah Cicadas, Kiaracondong, dan Buah Batu, selalu kehabisan waktu. Mereka biasanya akan membeli roti satuan yang dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Setelah tahun kelima, pabrik roti kakek tua Tionghoa memiliki pesaing. Mula-mula, pesaing itu adalah seorang lelaki muda berusia tiga puluhan yang telah fasih berbahasa Arab, berkulit putih, berkumis, dan bercambang. Ia tampak seperti seorang saudagar kain yang memasarkan kain-kain hasil tenunan penduduk lokal pasar-pasar kota besar, terutama Tanah Abang. Ketika pertama kali bersalaman dengan anak pertama kakek tua Tionghoa, lelaki itu berkisah tentang perjalanan yang dilakukannya selama tiga hari tiga malam. Pertama-tama, ia menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, meninggalkan buku-buku Pujangga Baru dan Balai Pustaka yang menempati rak buku dan meja ruang tamu. Ia kemudian menaiki kapal, menjadi salah satu penumpang yang menempuh perjalanan dengan menyisihkan sebagian keuntungan dari kain-kain yang dipasarkan. Di perjalanan, hal yang dilakukannya adalah membaca dan menghafalkan kitab suci, menyapa ibu dan anak-anak yang melamun di jendela, dan memesan teh tanpa campuran susu ataupun hal lain selain susu. Sesampainya di Pulau Jawa, lelaki itu menaiki kereta, singgah di Tasikmalaya untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan dari salah satu toko kain miliknya, kemudian melanjutkan perjalanan hingga Jakarta. Di Jakarta, ia melakukan hal yang sama dengan hal yang dilakukannya di Tasikmalaya. Mencatat pengeluaran dan pemasukan dari pabrik kain. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda, yaitu mendirikan pabrik roti di kota Bandung, di kawasan yang tak jauh dari kawasan pabrik tekstil, pabrik baterai, pabrik barang-barang elektronik, dan pabrik kertas. Tiga bulan setelahnya, kakek tua Tionghoa itu tak mendapatkan keuntungan. Roti-roti yang diproduksi dan biasa dibeli oleh pedagang roti dan penggemar roti, memasuki masa kedaluarsa dan teronggok hingga tak layak lagi dikonsumsi. Empat bulan setelahnya, kakek tua Tionghoa memutuskan untuk menutupi kerugian yang diderita dengan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Berbekal sisa keuntungan dari penjualan roti, keluarga kakek tua Tionghoa menempuh perjalanan dengan kapal berisi muatan-muatan yang dipesan oleh orang-orang Eropa dan Timur Tengah. Mereka meninggalkan anak ketiga mereka yang masih menempuh pendidikan di sebuah sekolah yayasan Kristen, tak jauh dari pabrik roti yang pada bulan kedua setelahnya, ramai didatangi oleh tikus-tikus yang tak usai melahap keju sisa dari salah satu pabrik roti atau warung roti yang menjajakan roti tepat di hadapan pabrik bohlam dan terminal bus antarkota antarprovinsi serta dalam kota. Tikus-tikus itu melarikan diri dari ular-ular yang usai menuntaskan pekerjaannya, namun tak menemukan kepuasan dari rahim yang dimasuki dan dilahapnya.
Anak ketiga kakek tua Tionghoa, tinggal dalam yayasan yang mendidiknya. Ia menyerahkan dirinya sebagai seseorang yang sudi bekerja selama seumur hidup dengan melakukan pelayanan, pekerjaan-pekerjaan orang dewasa seperti memperbaiki atap rumah yang bocor, mengecat permukaan dinding kelas, memetik sayur di halaman belakang, dan turut melakukan pekerjaan yang sama dengan penjaga dan pengelola kantin. Ia belajar memasak, mencoba dan merasai serta membedakan rasa yang ada pada setiap masakan, pun menyajikannya dalam pinggan siswa yayasan. Ia mendapatkan jatah makan tiga kali sehari yang kelak akan berfungsi sebagai upah atas kerja keras yang telah dilakukan. Makanan yang terdiri atas nasi, buah, sayur, dan protein nabati. Tanpa daging dan tanpa ayam. Ia sungguh tak keberatan menahan hasrat dan keinginannya untuk melahap makanan yang berasal dari unggas dan ternak rumput. Tahu, tempe, kacang polong, dan sesekali telur. Biasanya pada akhir pekan. Selama pembelajaran berlangsung, ia menjadi petugas keuangan. Bendahara kelas, sekretaris kelas, hingga akhirnya menjadi ketua kelas. Ia bertugas untuk membersihkan papan tulis seusai pembelajaran, meletakkan kursi di permukaan meja, dan membersihkan lantai ruangan pembelajaran.
Menjelang tahun 1992, anak ketiga lelaki tua Tionghoa itu tinggal dalam rumah sakit jiwa setelah mengalami patah tulang akibat terjatuh dari atap yang harus diperbaikinya dan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Kelopak mata lelaki muda tersebut terbuka selama lima jam, setelah itu diikuti oleh bibir dan rongga mulut yang biasa ia gunakan untuk menjawab pertanyaan para pejalan yang berkunjung untuk menanyakan arah, lokasi, dan rentang waktu. Pada akhir bulan menjelang tahun baru, ia tak bisa lagi membedakan antara kembang api dengan pijaran api dalam kompor sehingga ketika ia perlahan membuka tirai paling tipis dari yang dimilikinya, hal yang dapat dilakukannya adalah menghadapi dinding yang sama dengan dinding yang ia gunakan untuk menuliskan hal-hal yang dapat terjadi selama satu hingga dua tahun. Api di kantin yayasan menjalar hingga membakar buku bacaan terakhir yang dimilikinya, sebelum akhirnya melalap dan melahap buku catatan berisi hal-hal yang dapat dilakukannya pada hari esok, setelah menuntaskan banyak hal seperti merancang dan meramu masakan, makanan yang dapat dikemas dalam plastik atau kertas, serta kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi jika tahun baru menghadiahinya keadaan yang sama. Di rumah sakit jiwa, hal yang dapat dilakukannya adalah menatapi barisan semut yang tinggal di permukaan lantai yang tak ada. Setiap kali perawat perempuan memasuki ruangan untuk membuka jendela dan membiarkan sinar matahari memasuki ruangan, lelaki muda itu semakin dalam menekuri lantai. Sementara Asep, anak Oleh, mulai belajar untuk berinteraksi dengan ular-ular yang dipelihara oleh ayah yang selalu dibanggakannya. Jika ayam jagonya mendapatkan kemenangan, Oleh akan membawa ular piton kesayangannya dan melingkarkannya di leher sehingga orang-orang akan mengetahui bahwa hari itu, ia telah mendapatkan kemenangan. Sinar matahari dapat menguatkan tulang-tulang dan gemeletuk gigi Asep yang ketika itu masih bayi berusia lima tahun. Ketika seorang lelaki dewasa semacam Udan penjaga keamanan mengajukan pertanyaan, tentang hal-hal yang disukai dan dapat dijadikan sebagai pilihan, Asep akan berkata bahwa ia lebih menyukai ular sanca daripada ayam jago ataupun ular piton. Ular sanca berwarna hitam, kemilau, mengilap, gesit, dan kuat. Selain itu, ular sanca memiliki bentuk yang serupa dengan ibu-ibu pengajian yang berjalan pulang pada waktu Asar. Asep menyukai ular sanca dan akan menjadikan ular sanca sebagai karibnya. Maka, tahun 1992 menjadi tahun baginya untuk memperkenalkan lagu-lagu yang dapat akrab di telinga Asep dan ular sanca. Oleh membelikan alat musik tiup yang suaranya melengking sehingga ular sanca dapat menari-tari di hadapan Asep. Asep tak hanya belajar untuk berinteraksi, pun belajar memainkan musik dan lagu yang benar yang dapat digunakan oleh ular sanca untuk menari. Sementara itu, anak ketiga lelaki tua Tionghoa tak pernah mengetahui bahwa dua kakak lelakinya dan ayahnya yang telah berusia tua tersebut mati bunuh diri dengan melompati air laut. Kapal menjadi tempat mereka menghirup udara untuk yang terakhir kali. Lautan mempertemukan mereka dengan istri lelaki tua Tionghoa yang telah meninggal dunia lebih dulu setelah seorang pencopet menembak dadanya di kuil Cimuncang. Lautan menjadi tempat mereka mengadakan perjamuan dan perayaan atas pertautan kembali. Ketika perawat mengumumkan kepada semua pekerja rumah sakit jiwa, bahwa anak ketiga lelaki Tionghoa itu telah menjadi pasien favorit, lelaki berkumis tebal berinisiatif untuk menghidangkan masakan rumahan ke atas meja belajar yang terletak di samping tempat tidurnya. Ia selalu terlelap selama dua belas jam dan terjaga selama empat jam dengan bola mata yang tak pernah digunakannya untuk terpejam, menangis, dan mendelik. Ia menjadi lelaki yang tak mampu meneteskan air mata dan meraungkan rasa sakit meski seorang perawat lelaki meninggalkan bekas luka di permukaan kulitnya yang pucat dan tak berasa. Ia meninggalkan halaman kosong, tanpa isi dan tanpa kata-kata, ketika seorang perawat menanyainya tentang barang-barang yang pernah tinggal di sekitar lelaki muda tersebut. Ia tak mampu mengingat dan menyebutkan merk panci yang pernah menempati sudut rumah serta tak mampu menyebutkan jumlah terigu yang biasa digunakan oleh ayahnya untuk membuat roti dalam satu hari. Ia menjadi seseorang yang sunyi, sepi, dan tinggal dalam balok es batu. Ketika salah satu tahun baru menyajikan kembang api di jendela, lelaki muda tersebut mulai meracaukan khayalannya tentang pelacur.