Angkutan kota Panghegar-Dipati Ukur selalu melintas tiap lima menit sekali. Ia memiliki tiga warna yang tidak terlalu mencolok, yaitu putih, kuning, dan hijau. Seorang Batak penjaga warung, memiliki dua mobil angkutan kota, satu buah pohon jambu, tiga kontrakan, dua rumah, dan dua orang anak. Ia biasa disapa dengan sebutan Tante Batak. Sementara suaminya biasa disebut Om Batak. Selain mendapatkan penghasilan dari warung yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, Tante Batak mendapatkan penghasilan dari uang yang dipinjamkannya kepada orang-orang, yaitu penduduk Kampung Cicukang yang penghasilannya tak pernah mencapai angka delapan juta rupiah per bulan. Mayoritas penduduk Kampung Cicukang, bekerja sebagai buruh pabrik, menjadi PNS honorer, dan berwirausaha dengan cara berdagang dan menawarkan jasa menjahit pakaian, mendesain kata dan gambar di permukaan kaus sablon, memandikan mobil dan sepeda motor, memotong dan mencukur rambut, mengecat dinding rumah, membangun dan mendirikan rumah, memperbaiki bagian yang rusak dalam sebuah kendaraan, serta mengantarkan makanan yang dipesan oleh orang-orang yang merayakan pesta ulang tahun, syukuran-syukuran kecil semacam khitanan atau pertunangan. Pada awal tahun baru, Tante Batak memasang pesawat telepon dan memajangnya di atas etalase warung. Etalase tersebut dipenuhi oleh produk-produk sehari-hari seperti sampo, sabun mandi batangan, sabun mandi sachetan cair, minyak telon dan minyak kayu putih, susu bubuk bergambar bendera, kue kuning dan putih telur satuan, teh bubuk sachetan, kuaci, rokok eceran, telur ayam yang diletakkan dalam keranjang kawat besi berlubang, membentuk ikatan serupa jaring. Pemantik rokok berisi bensin, digantung di samping etalase kaca transparan. Pada pertengahan tahun, Tante Batak memasang pesawat telepon seharga lima ratus ribu rupiah. Pesawat telepon tersebut digunakan oleh Tante Batak untuk berhubungan dengan keluarga mereka di Medan. Lala, salah seorang anak yang terlahir paling muda adalah orang yang paling sering ia hubungi dan terkadang ia kirimi uang pada saat musim kenaikan kelas berlangsung. Lala tak jauh beda dengan anak keduanya yang juga sama-sama perempuan. Anak kedua Tante Batak berusia sepuluh tahun, menjelang sebelas. Sementara Lala berusia lima tahun dan tak sabar hendak memasuki pendidikan Sekolah Dasar Negeri. Lala adalah keponakan Tante Batak yang fasih berbahasa Arab. Suatu waktu, ayahnya yang adalah seorang pedagang kain tenun, pindah ke Turki. Ke Turki, ia membawa serta istri dan anak semata wayangnya. Anak semata wayang saudagar kain tersebut belajar di rumah, menghabiskan waktu dengan menghafalkan Al-Qur’an, membaca juz pertama Al-Qur’an, dan menghafalkan doa-doa pendek. Lala bukanlah anak yang gemar meninggalkan rumah, berjalan-jalan, dan bermain sepeda. Lala lebih suka bermain di rumah dengan boneka, belajar memasak kepada ibu yang melahirkannya, dan menikmati waktu tidur siang yang panjang.
Satu buah pesawat telepon di ruang tamu, ruang kamar, dan warung depan. Warung tersebut memiliki dua sayap, yakni sayap kanan dan sayap kiri. Sayap kiri digunakan untuk menjajakan lauk pauk dan sayur mayur. Terkadang, lauk pauk yang tak biasa seperti cumi, jeroan sapi, kaki kambing, ceker ayam, dan hati sapi yang masih berlumuran darah. Dalam waktu dua jam setelah pintu dibuka, papan penyangga barang dagangan akan segera sepi dan hanya meninggalkan remah-remah sayur, ulat sayur, dan ikan asin serta ikan kere yang akan menjadi rezeki bagi seorang ibu rumah tangga yang terlambat bangun pagi. Di tengah warung, terdapat lemari es satu pintu berwarna hijau muda. Lemari es tersebut digunakan oleh Tante Batak untuk menyimpan es bubur kacang, es susu stroberi, es rasa pisang, puding es, buah-buahan potong seperti semangka dan melon untuk makan malam, dan air es yang kerap digunakan Tante Batak untuk menghilangkan rasa panas. Bandung bukanlah kota kelahirannya. Ia dilahirkan di Medan, dengan cuaca yang begitu terik, kemarau yang begitu panjang, dan retakan tanah sebagai pemandangan. Harta benda pertama-tama yang dimilikinya adalah kalung liontin berbandul lingkaran kubah gereja. Ia memiliki orang tua yang sangat peduli kepada anak-anak perempuannya seperti Tante Batak, seorang perempuan penjahit pakaian anak dan gaun anak, serta anak terakhirnya yang bekerja sebagai pedagang kain.
Bandung memberinya udara segar dan dingin pada waktu pagi. Setiap pagi, Tante Batak tak pernah mencicipi air mandi. Pun tak pernah berganti pakaian. Dengan kaus kaki tebal dan jaket serta pakaian hangat yang terbuat dari benang wol, Tante Batak akan membuka warungnya, memastikan kunci pesawat telepon biru tua telah terpasang. Seorang remaja berpakaian seragam akan menjadi pengguna pesawat telepon pertama. Ia akan menekan setiap angka, bahagia ketika mendengarkan nada sambung dan nada terhubung, dan pada akhirnya mendengar suara seseorang membalas panggilan dengan suara renyah pagi hari. Percakapan itu akan tanpa terasa berlangsung hingga satu menit. Satu menit kemudian, Tante Batak akan keluar dari kamar dan mengingatkan pengguna pesawat telepon untuk memasukkan keping koin tambahan ke dalam kotak. Hal yang sama akan terjadi pada satu menit berikutnya. Pelajar berseragam tersebut akan menghabiskan sepuluh keping koin rupiah hingga mengakhiri percakapan degan salam penutup. Ia, Kristina Dian, akan meninggalkan warung dan kembali menuju rumah tempatnya tinggal.
Kristina Dian adalah pelajar Sekolah Menengah Atas kelas 10 yang sedang menikmati masa-masa menjadi seorang gadis yang memiliki banyak teman. Teman-teman perempuan baru dari berbagai Sekolah Menengah Pertama Negeri dan swasta serta teman-teman ekstrakurikuler taekwondo yang mempertemukannya dengan alumnus lelaki dan alumnus perempuan. Kristina Dian harus menghadiri pertemuan-pertemuan seperti pesta ulang tahun, syukuran jadian, dan kumpul-kumpul serta bercengkrama. Membahas hadiah yang mesti diberikan pada tanggal yang telah disepakati dan tempat baru yang harus dikunjungi. Belajar menyimpan kartu nama, nama, alamat, dan nomor telepon dalam daftar nomor baru seperti pelajar berseragam biru dalam angkutan kota, anak kandung ibu-ibu pengajian, dan seseorang yang tanpa sengaja bertabrakan di tengah perjalanan pulang. Pada malam harinya, Tante Batak mendapati kotak keping koin itu telah terisi penuh. Ia memindahkan keping demi keping dalam kotak ke dalam kotak kardus, sebelum akhirnya berpindah ke dalam salah satu bank yang digunakannya untuk menyimpan penghasilan dari angkutan kota yang beredar pada setiap harinya, warung yang memiliki jam operasional setiap hari, dan barang-barang yang dijual oleh anak keduanya.
Anak pertama Tante Batak adalah seorang lelaki yang memiliki kebiasaan membaca tuntas novel-novel percintaan ibu rumah tangga dan komik Jepang yang memiliki hiasan dan sampul asli seperti sampul yang dikemas di negara tempatnya berasal. Jepang adalah negara yang ia jadikan negeri impian. Kelak, ia akan bekerja sebagai seseorang yang bekerja dua puluh empat jam sehari. Berlayar dengan kapal pesiar, menaiki pesawat dan duduk di kursi-kursi terakhir, kursi-kursi lengang, dan mengantarkan satu per satu paket, surat, dan hadiah ke penjuru dunia tanpa mengeluarkan biaya dan banyak tenaga. Anak pertama Tante Batak adalah seorang penganggur yang menghabiskan waktu dengan melakukan percakapan di pesawat telepon selama satu jam. Orang-orang yang selalu menjalin komunikasi dengannya adalah mahasiswa asal luar kota, pengajar bahasa asing seperti bahasa Jepang dan bahasa Korea, dan ibu rumah tangga muda yang tak tuntas memindahkan masakan di restoran ke dalam dapur dan meja makan di tengah ruangan. Menjelang petang, ia akan menghabiskan waktu dengan melakukan pembelian makanan-makanan ringan seperti gorengan, martabak mini, es cingcau, dan kudapan khas Amerika seperti burger berukuran mungil, kentang goreng tepung berbumbu, hot dog, dan minuman kaleng bersoda. Malam hari, menjadi waktu paling tepat untuknya membuat cerita lanjutan tentang tokoh-tokoh utama seperti Zorro, pahlawan yang berebut tempat dengan penjahat sehingga pembaca dapat mencintai penjahat dan membenci pahlawan. Penghasilan utama yang didapatnya adalah menjagai warung tempat ibunya memasarkan pasta gigi termurah dan silet pencukur janggut dengan harga terendah. Lebih rendah daripada harga permen berbentuk bola, warna-warni, dan dapat menghasilkan gelembung. Gelembung adalah prestasi terbesar peniup balon. Selain gerakan peristaltik dan ruangan yang leluasa untuk menghasilkan gelembung. Tak jauh dari warung Tante Batak, terdapat Gor Bulu Tangkis Anugerah yang bersebelahan dengan sebuah pesawat telepon. Sebuah telepon umum baru yang semula berjumlah satu. Seiring waktu, ia bertambah menjadi dua, kemudian tiga. Tiga buah telepon umum yang berjajar dan berderet di samping kantor kelurahan Bina Harapan.