Aat menutup pesawat telepon dengan keyakinan yang dalam tentang jumlah ember di kamar mandi yang seluruhnya telah terisi penuh. Ia bertugas untuk memastikan setiap ember telah memiliki air bersih tanpa noda kuning di dalamnya agar para pengantre, yaitu ibu-ibu berusia di atas empat puluhan dapat menggunakan air bersih untuk mencuci tubuh yang digunakan untuk bekerja. Melakukan segala jenis pekerjaan yang diiklankan oleh seorang perempuan berkacamata bingkai hitam bernama Wati. Wati memiliki dua orang anak, lelaki dan perempuan, yang selalu dibawanya serta setiap kali tiba baginya menelusuri dan mendatangi rumah-rumah warga yang sedang membutuhkan pekerjaan. Dengan jaket jins dan belahan dada serta kalung bertali hitam dengan matahari besar di tengah-tengah, Wati akan hadir di pintu. Muncul sebagai sebuah kejutan bagi sebuah keluarga yang matanya lebih tertarik pada gambar erotis di kalender, sampul buku Teka-teki Silang, atau VCD film semi yang dibeli seharga lima ribu rupiah dari seorang pedagang VCD bajakan. Wati akan menghadiahkan sebuah permen yang dikemas dalam kemasan merah muda serta biru tua ke telapak tangan salah seorang anak yang pernah dilahirkan dengan bantuan tangan Mak Ani pada satu atau dua hari setelah melangsungkan pesta pernikahan. Wati akan mempertanyakan lelaki yang bertugas sebagai kepala rumah tangga untuk menghentikan tontonan di televisi. Salah seorang perempuan yang mendiami dan menempati salah satu rumah kemudian akan mencari tahu dengan membuang salah satu dari banyaknya sampah yang berserakan di meja makan. Ia akan melontarkan pertanyaan kepada salah seorang pelintas yang melintasi pagi dengan tubuh yang telah mandi dan memiliki harum sabun serta pewangi yang berasal dari botol yang dipercikkan ke telapak tangan.
Perempuan bernama Susan tersebut memiliki jadwal untuk menunggui kendaraan umum yang biasa dinaikinya setiap Senin hingga Jumat dengan baby doll putih, lipstik merah muda, dan pipi yang telah diolesi gincu yang sama dengan gincu di bibir. Pukul sembilan, halaman rumah Hajjah Aminah telah ramai oleh perempuan-perempuan dengan ember di tangan kanan dan anak yang telah melintasi usia penimbangan bayi. Mereka akan mengantre sambil menghitung jumlah buih sabun pencuci pakaian yang dihasilkan oleh tangan seorang pencuci pakaian. Ojoh adalah salah satu pencuci pakaian yang menjadikan mencuci pakaian sebagai profesinya. Ia telah memiliki sejumlah pelanggan, tiga pintu rumah yang dihuni oleh seorang guru Pendidikan Agama Islam, lelaki dan anak lelaki pedagang ikan, serta seorang mahasiswa yang sedang melalui masa Kuliah Kerja Nyata selama enam bulan. Mahasiswa tersebut menjadi buah bibir perawan-perawan berusia empat belasan dan anak Sekolah Dasar kelas enam yang mayoritas berusia dua belas tahun. Lelaki berusia dua puluh tahun yang sangat memahami segala jenis bebatuan sehingga ia dapat menghabiskan waktu selama satu hari hanya membahas tentang batu. Mahasiswa tersebut tinggal di rumah Kiai Undi, seorang Kiai yang menikah dengan seorang wanita salihah yang wajahnya sama sekali tak pernah mendapatkan sentuhan riasan, krim, ataupun bedak. Perempuan yang dinikahinya, setiap harinya, menempuh perjalanan dari ruangan kamar, teras rumah, kemudian jalan mungil selebar satu meter demi mendapati ruangan masjid yang telah dibersihkan sebelumnya. Jua adalah perempuan yang biasa bertugas membersihkan lantai masjid, dinding masjid, serta setiap kaca yang menempati bingkai jendela. Ia menyapu dan mengepel lantai masjid setelah membersihkan karpet yang menjadi alas kaki jemaah yang menunaikan ibadah salat fardu di masjid. Perempuan yang kedua matanya memiliki celak alami, berupa garis hitam yang pekat dan tak akan terkikis oleh kepulan asap kemenyan ataupun selorohan tentang gedebok pisang yang berenang dengan tenang di permukaan genangan air kotoran pacilingan, memiliki raut wajah serupa dengan orang Turki dan menjadikan cucur sebagai makanan favoritnya sepanjang hayat. Cucur dan segala makanan yang di dalamnya terdapat kejutan berupa gula merah dan seluruh permukaannya ditutupi dan diselimuti gula pasir putih. Menjelang Asar, Jua akan membawa tangan dan telapak kaki yang tak beralas tersebut untuk memasuki halaman rumah dan menyapa salah satu dari empat cucunya yang sedang menikmati waktu sore harinya dengan melahap berbagai jenis kudapan yang terbuat dari sagu. Cireng serupa pocong yang dibalut oleh saus tomat dan saus cabai curah yang cabai dan tomatnya digiling bersamaan, tak jauh dari mesin pemarut kelapa. Aat akan menyapa perempuan-perempuan pengantre kamar mandi yang pintunya terbuat dari besi dan akan dibuka sejak pukul enam pagi dan ditutup satu jam setelah Isya. Pekerja pabrik tekstil dan pabrik sepatu kulit yang merupakan pendatang dari Leles, Tasikmalaya, dan Garut tinggal di rumah kontrakan tanpa kamar mandi sehingga mereka akan menggunakan tempat pemandian umum dengan jadwal yang telah disepakati bersama. Pada waktu gajian tiba, yaitu tanggal lima setiap bulan, mereka akan mengumpulkan uang hingga mencapai jumlah yang cukup untuk menyewa sebuah mobil minibus demi menempuh perjalanan akhir pekan. Berlibur ke Lembang, berendam di tempat pemandian umum yang air hangatnya dipakai secara bersama demi menghilangkan salah satu di antara banyaknya penyakit kulit yang tinggal di permukaan handuk salah satu pekerja pabrik. Sementara perempuan bersuami yang suaminya bekerja dengan penghasilan tak tentu, akan memilih kamar mandi Hajjah Aminah sebagai tempatnya membersihkan tubuh. Kadang, karena ramainya jumlah pengantre dan sempitnya waktu, mereka pada akhirnya mandi bersama-sama dan menyimpan hal itu sebagai rahasia yang sekali waktu terkenang ketika memasak sayur lodeh dan memilah-milah manakah yang lebih baik. Tempe yang dibalut dengan plastik transparan ataukah tempe yang dibalut dengan daun pisang. Pedagang tempe, tahu, dan makanan yang dibuat dari olahan kacang kedelai akan mendaratkan sepeda motornya setiap hari, setiap pagi, di salah satu tiang listrik. Ia akan mengabaikan teriakan perempuan Batak yang telah menjagai warungnya selama satu jam dan mengusir lalat hijau yang begitu tertarik pada ampas tahu yang sekali waktu dipesan oleh pemetik gitar dan pelahap pil BK. Lelaki pedagang tempe dan tahu tersebut akan sabar menunggu kedatangan anak-anak perempuan dan ibu rumah tangga yang akan memasak tiga jenis masakan pada setiap harinya dan tak segan membuang sisanya jika salah satu di antara anak atau suami yang menikahinya dalam keadaan hamil hanya melahap setengah atau tiga perempat dari jumlah makanan yang tersaji di atas piring. Lelaki pedagang tahu dan tempe akan mengisi waktu menunggunya dengan menyanyikan lagu-lagu Malaysia yang sedang populer di salah satu radio demi menarik perhatian salah satu buruh pabrik pakaian berusia sembilan belas yang bercita-cita, kelak, bekerja di Malaysia sehingga lagu dan artis yang dihafalnya adalah lagu dan artis Malaysia. Setelah sejumlah perempuan usai membeli tempe dan tahu, seorang pedagang lain akan tiba di samping tiang listrik yang sama. Pedagang ayam potong yang ayamnya selalu ia sumpahi memiliki kesegaran lebih kentara dibandingkan dengan ayam-ayam yang dijual di pasar. Mereka tak perlu melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan pertunjukan tentang darah yang terciprat atau mata yang terbelalak ketika seorang ibu tua yang tangannya mengepit tas belanjaan plastik bergerigi memohon kepada pedagang ayam untuk mendapatkan ayam yang masih hidup. Ia perlu menyaksikan secara langsung, dengan kedua mata bercelak, bahwa ayam yang kelak akan menempati lambungnya adalah ayam yang tak pernah menempuh perjalanan jauh dalam sebuah mobil colt dengan punggung terbuka sehingga tubuhnya akan bersisian dan bergesekan serta dijerang oleh terik matahari yang mematangkan kotoran yang berserakan di permukaan kotak serupa kandang ayam. Anak perempuan guru Bahasa Indonesia, yaitu Tina, akan menghampiri pedagang ayam tersebut dengan wajah memberengut. Kepalanya masih penuh dengan ingatan dan taksiran tentang anggaran yang harus ia tuangkan dalam sebuah proposal. Pintu rumah ibunya seringkali didatangi oleh warga yang memiliki profesi sebagai pedagang keliling. Mereka kerap meminta bantuannya untuk membuat proposal pengajuan dana perbaikan roda bubur kacang atau ban yang biasa digunakan untuk membawa cilok, bubur ayam, dan semacamnya. Karena banyaknya pedagang yang mengetuk pintu rumah, anak perempuan guru Bahasa Indonesia kemudian menghabiskan waktu dengan merutuki meja belajar. Meraut tiga buah pensil, memotong-motong penghapus karet, menggambar wajah salah satu pedagang yang menyertakan kisah anak semata wayangnya yang digendong dalam keadaan tak sadarkan diri karena sakit gejala tipus yang dideritanya.