Ruangan kamarnya memiliki sebuah mesin tik yang kegaduhannya acapkali mendatangkan racauan dari ayahnya yang memiliki kebiasaan mengisi kotak-kotak Teka-teki Silang tanpa menyisakan sedikit pun ruang kosong. Ayahnya, yaitu Adang selalu berkisah tentang cerita rakyat tiap kali Tina menghampiri tubuhnya dan mengeluhkan tentang banyaknya pedagang yang mengetuk pintu. Tangannya telah begitu lelah mengetik dan menyusun kata-kata serta kalimat yang sama dalam proposal berisi sejumlah angka yang kelak akan berbuah dengan senyuman merekah istri-istri mereka. Lima ratus ribu atau tiga ratus ribu demi memperbaiki salah satu ban yang tak sengaja melindas salah satu paku payung yang tersebar di permukaan jalan berpolisi tidur. Tina dengan boneka beruang berwarna krem dan pita merah muda di leher akan menunjukkan jemari dan telapak tangan yang keriput sebelum waktunya. Sementara Adang akan menunjukkan telapak tangan dan jemari yang sama yang sebagian jarinya telah dihiasi cincin berhiaskan batu ali berwarna hijau. Dua buah cincin di jemari sebelah kanan dan satu buah di jemari sebelah kiri. Adang akan memamerkan lembaran buku Teka-teki Silang tanpa memperlihatkan sampul bukunya kepada Tina hingga ia tak lagi membahas tentang proposal dan semacamnya. Setelah kedua telinganya tuntas menyimak deretan kosakata yang baru terpikir dan ditemukannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia milik istrinya serta kisah tentang kelinci yang dapat menaiki pohon kemudian terjatuh tanpa menjerit, Tina akan kembali memasuki ruangan kamar tidur dan mengetik sejumlah kata, kalimat, seperti yang tertera dalam lembaran proposal. Para pedagang tersebut tak mengetuk pintu dengan tangan lengang. Mereka membawa serta proposal yang sebelumnya pernah digunakan oleh pedagang cingcau untuk mengajukan dana penambahan jumlah cingcau dan perbaikan kaca roda yang biasa digunakan sebagai sumber penghasilan. Pedagang cingcau tersebut biasa berdagang di halaman belakang Sekolah Dasar, di depan pintu pagar atau gerbang sekolah yang bersisian dengan Taman Kanak-kanak. Ada sebuah karusel berwarna kuning dan ayunan biru muda di sebelah kiri gerbang. Kampung tersebut tak memiliki pedagang es serut yang serutan esnya dapat dihiasi sirup warna-warni. Merah, kuning, dan biru. Warna-warna pelangi. Saat mereka membutuhkan es batu, mereka akan menempuh perjalanan. Menuruni undakan, melintasi Masjid An-nur, melintasi kawasan peternakan bebek berbulu cokelat dan berselaput hitam, serta kandang kerbau yang sebagian kerbaunya begitu gemar menghabiskan waktu dengan tidur siang yang ranum serta mengenyangkan. Para pendamba es batu akan melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi pacilingan sambil merekatkan kerah atau tepian kaus agar aroma kotoran yang telah bertahun-tahun tak dibersihkan tak tiba di tepi rongga hidung. Terlebih memasukinya. Mereka kemudian akan menyeberangi ruas jalan yang pada waktu musim hujan akan tertutup seluruhnya. Digenangi banjir bereceng gondok, ramai oleh tarian belut, dan kemasan makanan yang dibuang secara sembarang oleh orang-orang yang menjadikan ziarah sebagai kebutuhan penebus dosa dan rasa sesal pada bilangan waktu yang ditempuh dengan bekerja daripada menunggui seseorang yang terbaring di atas sebuah dipan dalam keadaan sekarat. Orang-orang pendamba es batu akan memasuki kawasan yang telah bermusuhan selama satu abad dengan kawasan Cicukang sehingga setiap pintu yang terbuka adalah pintu yang menawarkan hidangan yang lebih hangat daripada nasi basi atau kerak yang tertinggal di dasar sebuah dandang yang karena terlupa akan dibiarkan berasap selama bermenit-menit hingga terdengar sebuah teriakan dari salah seorang kepala rumah tangga. Deretan rumah yang berjajar di tepi jalan mungil tersebut ditanami oleh sejumlah tanaman dan bunga. Sebagian pohon apel dan mangga yang rutin berbuah pada waktunya. Saat salah seorang anak perawan mereka yang bertekad untuk tak melanjutkan pendidikan ke universitas akan memetik dan memanen salah satu pohon, anak perawan yang lain, dua rumah di sebelahnya, akan melakukan hal yang sama. Mereka akan membantu perawan tersebut untuk memindahkan mangga dan apel sehingga siang hari yang terik akan dihabiskan dengan membuat rujak yang sambalnya terbuat dari lima cabai, tanpa bawang, disertai potongan kencur, dan sejumput garam. Belum sempat memasuki halaman rumah pedagang es batu, orang-orang yang memiliki keperluan dengan es batu, yaitu Obir dan suami dari Esin bersirobok dengan dua orang lelaki, warga Cisaranten, seteru dari Cicukang yang baru saja meninggalkan halaman rumah Kiai Olip. Mereka memiliki seorang guru mengaji yang gemar mengajarkan penduduk sekitar tentang iman dan takwa.
Kiai Olip memiliki seorang puteri dan seorang cucu yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama. Ia memberi nama cucunya Rosi agar seluruh bagian tubuhnya, termasuk ruh yang bersemayam dalam tubuhnya memiliki aroma mawar dan membawa-bawa aroma mawar tersebut dalam keseharian. Ke mana pun cucunya itu pergi. Dua orang lelaki yang baru saja meninggalkan halaman rumah Kiai Olip memakai sandal jepitnya sepasang dengan hiasan berupa nama ketika Obir dan suami dari Esin melintas. Mereka melontarkan sapaan. Obir menanyakan kepentingan yang kemudian dijawabnya dengan kabar bahwa anak keduanya sedang sakit keras. Tubuhnya diserang demam tinggi, terbaring di atas sofa, dengan handuk kecil basah ditempel di permukaan dahi. Ia memerlukan air Kiai Olip yang biasanya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Obir berharap agar anak keduanya cepat sembuh, sementara rumah pedagang es batu masih terletak di ujung sebuah jalan. Di samping masjid dan beduk yang akan memperdengarkan suaranya sebelum ayam kokok milik Kiai Olip mengeluarkan suara panggilan serupa kabar kepada orang-orang yang terlelap dengan ingatan yang lamat tentang pelintas yang menganggukkan kepala dan pelintas yang mengiklankan barang-barang pecah belah. Atau balon yang di dalamnya terdapat butiran pasir agar seorang anak dapat mendengar deburan ketika ia memainkan balon tersebut di halaman atau permukaan tempat tidur. Rosi tampak sedang duduk di teras rumah Kiai Olip. Rambutnya berwarna cokelat muda seperti bola mata dan bibirnya. Teh hangat rupanya menjadi minuman favoritnya, selain tapai ketan dan wajik yang dibuat sejak minggu-minggu sebelum pagi paling hingar bingar terjadi karena seseorang baru saja memasuki usia paling tepat untuk dikhitan. Arak-arak seorang anak berusia enam tahun di atas singa kuning berambut lebat. Rosi sedang memasuki rutinitas pukul empat petang. Memilah butiran dedak yang memiliki kemungkinan terselip di antara banyaknya butiran beras. Rambutnya lurus, dibelah samping, pipinya putih seperti beras yang kelak akan dicucinya sepuluh menit kemudian. Orang-orang tak pernah menyodorkan tagihan berupa pertanyaan tentang jadwal paling tepat untuknya menutup aurat. Kiai Olip masih melihat cucunya sebagai bayi yang baru belajar berjalan. Sementara membaca adalah kelebihan yang bisa didapat dan dicapai oleh anak manusia yang baru terlempar ke dunia.