Es batu yang disiapkan oleh seorang pedagang es batu telah berderet serupa balok kayu. Pedagang es buah atau es potong, juga es jus akan menyebutkan jadwal yang biasa mereka lalui pada setiap harinya. Tetangganya yang adalah seorang janda yang menitip satu buah balok es batu untuk menghancurkan banyak buah. Ia membuka sebuah tempat minum jus di teras rumahnya agar dapat mencicil sepeda motor terbaru yang biasa dipakainya untuk bertamasya mengelilingi area sungai, rel kereta api, dan deret pertokoan pakaian sisa ekspor yang memajang mantel, jaket, dan pakaian rajut luar negeri. Pun sepatu-sepatu, topi kulit, dan jam tangan yang ditinggalkan oleh seorang pelancong ketika mereka menemukan kejutan di tengah perjalanan. Kehilangan satu atau dua benda setelah melewatkan percakapan yang hangat dan menyenangkan dengan seorang asing, pribumi yang begitu mengetahui seluk-beluk dan kelokan kabel di atas gedung-gedung bertinggi rendah dan jumlah angkutan umum yang ada di Bandung. Setelah mendapatkan es batu, Obir dan suami Esin kembali menempuh perjalanan. Melintasi sungai dan pacilingan serta kandang kerbau yang tampak sangat akrab dengan kawanan bebek berkaki cokelat. Seseorang, muazin, pendatang dari daerah Leles baru saja memasuki masjid. Tempat wudu terletak di bagian dalam masjid. Di lantai satu, di samping kanan. Dulu, pada tahun 80-an, masjid tersebut belum memiliki lantai satu yang ruasnya menyentuh dinding rumah Ketua Rukun Warga. Seiring waktu, bersamaan dengan banyaknya proposal yang tiba di meja Kantor Kelurahan, permintaan warga tentang penambahan ruas area masjid pun dikabulkan. Mereka memiliki masjid dengan ukuran lantai satu yang bertambah luas. Warga diperkenankan untuk menggunakan halaman tambahan tersebut sebagai tempat melaksanakan pesta pernikahan. Sebuah resepsi. Setelah melangsungkan akad nikah di lantai utama masjid, di atas karpet, di hadapan wajah jemaah masjid yang rutin melaksanakan ibadah salat fardu. Di sudut kiri perluasan lantai satu tersebut, terdapat sebuah pintu sehingga masjid An-nur dapat dimasuki dari dua arah. Pintu kiri bagi jemaah lelaki yang tinggal tak jauh dari masjid dan kandang kerbau. Pintu kanan bagi jemaah perempuan yang tempat tinggalnya lebih dekat dengan jalan besar. Tak jauh dari tangki air berwarna biru yang tangganya seringkali dinaiki oleh anak usia Sekolah Dasar yang tak memiliki ketertarikan pada Pekerjaan Rumah dan semacamnya. Pintu sebelah kanan tersebut bersisian dengan rumah Ketua Rukun Warga yang memiliki dua orang puteri. Anak pertamanya adalah seorang guru Taman Kanak-kanak sementara anak keduanya mendapatkan penghasilan tambahan dari kue tar yang dibuatnya. Puluhan kue tar bergambar tokoh kartun yang masih digemari oleh anak-anak usia Sekolah Dasar yang menjadikan televisi dan tabloid sebagai teman bermain setelah menempuh delapan jam waktu pembelajaran. Di atas sebuah meja kayu yang dipakai bersama. Meja kayu yang permukaannya penuh dengan pesan dan kesan, juga salam yang ditujukan untuk seseorang yang tak juga melontarkan sapaan. Kadang, sebuah pengumuman dilekatkan di samping meja, setelah seksi kebersihan membersihkan permen karet dan cipratan ludah, demi mengabarkan pasangan terbaru yang berhasil memadukan cinta kasih. Berpasangan sebagai pacar yang akan saling melindungi, kalau-kalau seseorang hendak menghapus keberadaan dengan melakukan hal serupa atau lebih dari yang biasa atau yang pernah dilakukan. Keluarga Ketua Rukun Warga tersebut adalah keluarga yang paling sering mengunjungi masjid. Tak hanya pada waktu lebaran Idul Fitri ataupun Idul Adha. Saat bulan Ramadan tiba, sebuah kawasan yang terdiri atas dua puluh ubin telah ditandai sebagai kepemilikan. Bahwa kawasan tersebut tak boleh ditempati oleh jemaah lain.
Tiga buah sajadah telah dibentangkan terlebih dahulu. Tak jauh dari tiang yang berjajar di dua bagian lantai satu masjid. Area tersebut akan ramai pada hari pertama Ramadan, malam pertama Ramadan yang kelak akan mematahkan hati banyak jemaah berusia remaja yang tak mempersiapkan sebuah kawasan sejak beberapa hari atau beberapa jam sebelumnya. Dengan sajadah yang dikepit di ketiak atau dipangku di bagian dada, anak-anak berusia remaja tersebut akan menaiki tangga. Menjumpai lantai dua masjid yang baru dibangun enam bulan sebelumnya. Area lantai dua dan selasar ternyata telah dipenuhi banyak sajadah. Sebagian telah memiliki jemaah yang mengisi waktu dengan melaksanakan salat sunat, mengobrol tentang menu masakan yang akan dihidangkan selama seminggu, sebagian melakukan selfie. Memotret diri sendiri agar terlahir sebuah potret berlatarkan masjid dan jemaahnya. Anak-anak berusia remaja tersebut akan menuruni tangga, meninggalkan keramaian dan kotak besar berisi uang infak yang dimasukkan oleh sebagian pengunjung masjid. Mereka akan bernapas lega ketika menemukan sepasang sandal mereka masih ada dalam serakan. Kemudian mereka akan melintasi kerumunan lelaki yang menunggu waktu salat Isya dengan menggoda perempuan yang memakai kain hingga pertengahan ruas kepala. Jeda sebelum waktu Isya akan ramai oleh permintaan pada mangkuk bakso sebelum akhirnya menyerah pada ruas jalan sepi dan lengang yang mempertemukan mereka pada sebuah masjid paling sunyi. Masjid yang di sekelilingnya tak dipenuhi pedagang dan pelempar mercon ataupun kembang api. Masjid Al Hidayah tak memiliki halaman baru. Pun tak memiliki lantai dua sehingga jemaah perempuan yang jumlahnya terbatas akan menempati ruas perpustakaan sebagai tempat menunaikan ibadah salat Isya dan salat Tarawih. Sebagian besar jemaah Masjid Al Hidayah adalah orang tua yang tak gemar berbincang, bercakap, dan melontarkan sapaan berupa pertanyaan tentang kabar dan semacamnya. Mereka memakai mukena putih besar dengan kain sarung di bagian bawah. Wajah mereka serupa dengan wajah suami-suami yang berjajar di ruang utama masjid. Anak-anak yang hendak mencari kelucuan dari gerakan salat akan menyerah karena semua orang memiliki arah kiblat yang sama dan tak pernah mengganggap hidup serta kehidupan sebagai suatu hal yang jenaka dan pantas untuk ditertawakan. Usai salat, mereka akan kembali memasuki halaman rumah dan tak lama kemudian memperdengarkan lantunan pembacaan ayat Al-Qur'an. Anak-anak berusia remaja yang sebelumnya telah membuat barisan baru di belakang punggung jemaah perempuan berpunggung lurus akan berusaha setengah mati agar tak mengeluarkan tawa meskipun kepada seekor kucing yang tiba-tiba memasuki masjid dan tertidur di permukaan sajadah. Harum bawang tercium dari arah depan teras rumah Hajjah Aminah. Hajjah Aminah telah mendapatkan seorang pelanggan, yaitu sopir angkutan kota yang belum sempat mengisi perutnya dengan makan pagi. Hajjah Aminah adalah jemaah Masjid An-Nur sehingga kunjungan seorang sopir angkutan kota merupakan salah satu di antara banyaknya kelucuan. Hajjah Aminah akan menyambut pembelinya dengan banyak kisah tentang masakan yang tuntas dimasaknya selama berjam-jam. Sopir angkutan umum dan pelanggannya yang lain pun akan melontarkan lawakan yang sama. Tentang seorang pelajar yang keliru melontarkan kanan atau kiri dan salah seorang pelajar lain yang tergagap pada hari pertamanya menaiki angkutan umum sehingga sejak sepuluh menit sebelum tubuhnya meninggalkan angkutan umum, kepalanya telah dipenuhi banyak rencana dan kata. Pada detik berapa, pada belokan yang mana, pada tiang listrik yang mana, ia harus memberikan aba-aba kepada sopir angkutan umum untuk menghentikan laju. Kadang, seseorang, pelajar yang pemalu akan memendam banyak kata henti di mulutnya karena banyaknya jumlah penumpang dalam angkutan umum yang dikemudikannya. Ia terpaksa harus melewati gang yang akan membawanya pada tujuan demi menunggu hingga seluruh penumpang telah tiba pada tujuan masing-masing. Di pemberhentian terakhir, penumpang angkutan umum tersebut akan menuruni angkutan umum tanpa harus mengeluarkan suara sehingga tak seorang pun akan mendengarkan suaranya ketika ia harus menambah nadanya ketika mengucapkan kata kiri. Penumpang angkutan umum semacam itu akan mengabaikan tatapan aneh. Ia akan menundukkan kepala ke permukaan jalan dan menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki ke arah yang berlawanan, kalau-kalau angkutan umum serupa tak ditemukannya. Anak perempuan Hajjah Aminah, yaitu Aat, sedang memasuki gudang yang berdampingan dengan kamar mandi yang saat itu sedang ramai oleh busa sabun. Ia memiliki jadwal untuk memasuki gudang selama tiga hari sekali demi memastikan setiap buku yang tersimpan di dalamnya tak dihinggapi debu ataupun hewan pengerat. Bola lampu sepuluh watt di tengah ruangan masih dapat menyala ketika Aat menyalakan tombol. Tumpukan Yellow Pages dan buku tebal yang ditinggalkan oleh mahasiswa Universitas Islam Bandung yang pernah sekali waktu menginap di salah satu kamar rumah Hajjah Aminah. Mahasiswa tersebut merupakan salah seorang warga Jakarta yang sedang menempuh semester terakhir perkuliahan. Ia sedang menyusun Tugas Akhir, skripsi tentang pertambangan yang mengharuskannya untuk melakukan perjalanan ke daerah pegunungan. Di tengah jalan, pada salah satu waktu luang, ia bertemu dan berkenalan dengan seorang perempuan berbibir tebal. Mereka bertukar nama dan nomor telepon di sebuah diskotek yang membuatnya harus membayar uang sejumlah lima ratus ribu rupiah dan kelak, ayahnya yang bekerja di Kantor Pajak di Jakarta harus mentransfer sejumlah uang. Lebih awal dari bulan-bulan sebelumnya agar pada bulan tersebut, ia dapat menyambung hidup. Ia kemudian menikahi perempuan berbibir tebal tersebut karena perempuan tersebut terus mendesaknya setelah mereka melakukan hubungan badan di sebuah hotel bintang tiga. Perempuan berbibir tebal tersebut tinggal di tengah kota, bekerja sebagai pengasuh anak berkebutuhan khusus yang selalu mengangggapnya sebagai bidadari. Sementara pengasuh tersebut memiliki jadwal kencan selama enam jam sehari saat mahasiswa tersebut mendatangi rumah tempatnya bekerja. Uang yang dikirimkan oleh ayahnya setiap bulan kemudian habis, ludes, dan tandas. Perempuan yang dinikahinya harus memenuhi banyak hajat. Mengunjungi salon kecantikan, memperbaiki bulu mata, membuat tato alis, membuat lengkung di ujung kuku, dan memeriksakan kandungan ke seorang bidan. Perempuan berbibir tebal tersebut harus menghindari paraji karena paraji kelak akan menyampaikan segala macam kabar ke seluruh penduduk sebelum hal tersebut terjadi.