Isah, peragawati kampung Cicukang sedang melintasi catwalk. Rambutnya basah karena air mandi sebanyak satu ember yang dibawa oleh suaminya yang tubuhnya dihiasi oleh banyak gambar binatang kesayangan. Isah meninggalkan televisi yang sedang menayangkan iklan deterjen dan pewangi pakaian. Setiap kali ia menelusuri ruas jalan selebar setengah meter antara roda pedagang bubur hingga gapura, helaian rambut basahnya dikibaskan ke arah permukaan jalan dan orang-orang yang sedang belajar bagaimana cara melangkah dan menaklukkan rasa malas. Pedagang bubur adalah salah satu pendatang dari Subang yang berjuang untuk memangkas rasa malas dengan memilah suwiran ayam yang dimasaknya sejak satu jam setelah azan Subuh berkumandang. Icel, anak pemilik angkot sedang membersihkan daun telinga kanannya setelah tidur malamnya kali itu kembali dibangunkan oleh pengeras suara yang bersampingan dengan atap rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak kedua matanya mampu membaca alfabet dan menggambar wajah manusia di atas kertas bergaris. Sementara adik semata wayangnya, Itta, pun telah tuntas membasahi rambut dan menghiasinya dengan jepit rambut Tweety Bird. Ia tak memiliki masalah dengan kedua telinganya sehingga ketika ayahnya yang berperut serupa balon meneriakkan namanya, Itta akan segera menghampirinya dengan ingatan yang baik. Tentang jumlah muazin dalam satu bulan, pun jadwal mereka mengumandangkan azan Subuh hingga azan Isya. Sementara malam hari hingga pagi, seseorang berpakaian hangat rajut akan membangunkan petidur dengan kayu besar di tangan. Mendaratkan pukulan di permukaan tiang listrik dan sebuah rantang bermotif loreng yang saat itu tak digunakan sebagai penampung nasi ataupun makanan berkuah. Meski semua bahan makanan tersaji di permukaan meja kayu yang warnanya telah aus dan memiliki gelap di keseluruhan abu, pemilik warung Batak tak akan tergerak untuk mengubah keseluruhan bahan makanan tersebut menjadi masakan. Ia melontarkan sapaan kepada Isah yang telah lima kali melintasi catwalk. Dua rumah di samping kiri, tak jauh dari jalan lebar, baru saja membuka pintu depan rumah. Lelaki muda berusia delapan belas memutuskan untuk memulai harinya yang ranggas dengan memanaskan sepeda motor seharga lima ratus ribu rupiah per bulan. Ia sedang menghitung jumlah tidur siang nenek yang menempati ruang gelap, kamar paling bawah, di ujung rumah tua yang seluruh dindingnya penuh dengan lukisan dan hiasan khas negara Turki dan Tiongkok. Kepada orang-orang yang berkunjung ke rumahnya pada petang hari, sepulang dari sawah, nenek lelaki bernama Atep itu akan berkisah tentang pengalamannya menjemur tomat dan cabai merah di sebuah rumah yang saat itu memiliki jarak lima kilometer dari masjid. Ia tinggal dalam kamar yang tak memiliki cahaya lampu sehingga kucing-kucing yang dimilikinya dapat tertidur tanpa mengkhawatirkan pukulan sapu ataupun keranda yang diusung oleh orang-orang yang bertugas untuk mengangkat dan memindahkan keranda dari Taman Pemakaman Umum Jati ke halaman Masjid An-nur. Suami dari peragawati berambut basah tersebut memanggil istri yang sangat dicintainya. Pagi itu, ia baru saja tuntas memasak tempe dan menggoreng telur dadar dengan minyak goreng yang tak habis dipakai pada hari sebelumnya. Mulutnya belum beraromakan alkohol. Kedua anak lelakinya sedang bersiap menelusuri pagi dengan gitar yang setiap senarnya telah diperiksa berulang kali. Mereka duduk di atas tikar, di hadapan gelas-gelas berisi teh manis dan piring berisikan tempe dan telur yang dipisahkan oleh potongan daun kemangi serta timun. Isah tak memiliki waktu untuk mengunjungi pasar sehingga pagi harinya akan ia habiskan dengan memastikan wajah dan seluruh kulit di tubuhnya tak memiliki kotoran. Botol losionnya selalu penuh terisi. Sementara gincu bibirnya kelak akan berganti dengan kemasan yang baru, tiap kali suaminya yang mencintainya seperti ia mencintai setiap tato di tubuhnya, menemukannya dalam keadaan kosong. Anak keduanya masih berusia delapan tahun. Asep, kakak yang selalu ia sebut dengan tanpa menyertakan sapaan berupa sapaan yang biasa dilontarkan kepada seseorang yang dituakan telah tuntas mengajarinya cara memetik gitar ketika usianya masih enam tahun. Di muka gapura, dari arah Kantor Kelurahan, melintas sebuah kendaraan. Sepeda motor yang melaju dengan kecepatan sedang. Sepeda motor tersebut telah menelusuri ruas jalan Soekarno Hatta dan memasuki kawasan Guruminda. Tak lama lagi, sepeda motor tersebut hendak memasuki halaman rumah Hajjah Aminah. Anak perempuan Hajjah Aminah masih berada dalam gudang dengan bola lampu yang sesekali padam karena angin pagi dan kabel yang terantuk kucing kecil yang tersesat. Kucing kecil berusia enam bulan tersebut adalah salah satu kucing yang tinggal dalam rumah Hidayat, salah satu di antara banyaknya buruh pabrik yang bekerja di pabrik Tarumatex. Hidayat memelihara dua ekor kucing, kucing betina dan kucing jantan yang memiliki jadwal untuk menyantap ikan tongkol pada setiap harinya. Kucing betina Hidayat kemudian hamil dan melahirkan empat ekor bayi kucing yang warnanya serupa dengan kucing betina. Anak perempuan Hajjah Aminah tak memiliki ketertarikan pada binatang sehingga ketika halaman atau gudang berisi buku, tumpukan majalah dan surat kabar, serta Yellow Pages tersebut berpindah tempat, ia akan menganggapnya seperti kendaraan umum yang melintas sewaktu-waktu. Sama seperti ketidaktertarikannya kepada anak. Hajjah Aminah tak pernah menanyakan perihal anak sehingga jadwal penimbangan bayi yang berlangsung sesuai jadwal, tak serta merta membuatnya harus melontarkan sapaan kepada bayi yang dibawa oleh ibu-ibu penimbang bayi. Aan memarkir sepeda motornya di halaman rumah Hajjah Aminah. Ia melontarkan sapaan kepada Hajjah Aminah yang sedang meletakkan sebuah piring berisi makanan yang dipesan oleh salah seorang buruh pabrik sepatu yang kedua tangannya telah mampu memindahkan dua buah gunung dan sehalaman pantai. Buruh pabrik sepatu tersebut memiliki jadwal bekerja dari hari Senin hingga hari Minggu, dua belas jam sehari, memukuli kulit sepatu yang sebelumnya telah diolesi lem oleh empat orang perempuan yang mulutnya bertugas untuk berbicara selama dua belas sehari, Senin hingga Minggu. Waktu makan paginya adalah salah satu dari rentang waktu terhening dalam hidupnya sehingga wajah orang-orang yang pernah melintas dalam hidupnya dengan mulut terkatup dan rambut yang telah ditutupi sehelai kain tipis kemudian melintas. Dengan piring berisi makanan pagi hari dan telepon genggam yang ramai oleh percakapan dan pembahasan tentang orang-orang yang memasuki gerbang pabrik sepatu dengan rambut yang masih basah karena mandi yang diakhirkan atau mata yang masih terpikat pada motif di permukaan bantal. Aan membawa dasi yang melonggar di lehernya. Kemejanya terburai seperti ingatannya tentang sesalan yang semula tak seberapa. Seseorang masih melekatkan jari telunjuk di ujung hidungnya yang ia anggap sebagai sebuah hinaan. Terlebih jika ia dilayangkan di dalam sebuah forum semacam rapat yang menghadirkan editor utama surat kabar tempatnya bekerja. Aat, istri Aan yang adalah anak perempuan Hajjah Aminah meninggalkan gudang tempat ia memeriksa majalah perempuan yang memuat khusus cerita bertema Ramadan dan puluhan majalah bertema pernikahan. Majalah-majalah tersebut dipilihkan oleh Hajjah Aminah pada enam bulan menjelang pernikahannya dengan Aan. Dari majalah-majalah tersebut, Aat dapat mempelajari sosok lelaki, mulai dari fisik hingga cara membahagiakannya kelak setelah ia menjadi suami. Memasak adalah salah satu hal yang harus dilakukannya setiap hari agar lidah dan mulut lelaki yang menikahinya tak memiliki sempat untuk merasakan makanan yang dijual di kedai-kedai ataupun restoran yang menyajikan hal lain selain menu pada hari itu. Ketika Aan menikahi Aat, Aan telah memiliki pekerjaan di surat kabar. Setiap hari, ia bertugas untuk menulis puluhan feature yang kelak akan menempati ruang dalam surat kabar edisi akhir pekan. Jika pada satu hari, semua feature yang ditulisnya tak mendapatkan hati editornya, maka ia akan memangkas jumlah keyakinan dan kepercayaan dirinya pada surat kabar. Kelak, ketika semua feature yang ditulisnya hanya menghasilkan umpatan, selorohan, dan sindiran yang menyakitkan, rel kereta api akan menjadi pilihan. Sebelum seseorang kemudian menghentikan dengan sebuah amplop dan kertas di tangan. Bahwa pekerjaan yang paling utama dalam hidup adalah menjalani hidup itu sendiri. Tanpa menanggalkannya kepada seorang penunggu yang telah menghabiskan seluruh bilangan usianya dengan menunggu-tunggu waktu terbaik bagi editornya untuk melayangkan jari telunjuk. Tinju setelahnya. Kursi pada kemudian hari. Bantingan pintu pada bilangan waktu setelahnya. Aan tak menunggu lama hingga tinju, kursi, dan bantingan pintu itu berpindah ke wajah yang telah memiliki bentuk dan warna serupa dengan kertas koran. Ia selalu menyetujui semua hal yang menjadi keyakinan perempuan yang dinikahinya. Tentang anak yang tak dimilikinya sehingga keputusan untuk berhenti bekerja setelah feature yang ditulisnya serupa sampah adalah keputusan paling tepat. Ketika Aat berdiri di depan pintu gudang, Aan mengabarkan bahwa ia telah berhenti bekerja. Waktu-waktu yang akan dihabiskannya kelak adalah waktu yang panjang untuk membilang. Masjid mungkin akan menjadi pilihan untuk mengistirahatkan kedua telinganya dari bising. Dari suara seseorang yang selalu sempat untuk mengingatkan tentang tanggal dan tenggat waktu. Pun bandingan feature yang dipublikasikan oleh surat kabar pesaing. Aan tak akan keberatan jika ia harus bertukar tempat, bertukar kamar, dengan anak pertama pemilik warung Batak yang dinding kamarnya bersebelahan dengan pengeras suara masjid. Panggilan suara azan yang tepat hingga melesat ke dalam lubang telinganya akan menjadi penenang yang akan menjauhkannya dari tumpukan rel kereta, suara kereta yang selalu ditungguinya, setiap kali ia harus menyeberangi ruas jalan. Demi menemukan keramaian jalan besar, jalur cepat yang memudahkannya untuk memasuki ruang parkir seluas bilangan usia yang dihabiskannya dengan memindahkan huruf dan kata-kata. Aan membawa pulang ratusan feature dan cenderamata berupa jam tangan bertali kulit yang masih tinggal dalam kotaknya selama beberapa waktu lamanya. Hingga hujan yang turun berderai pada keesokan harinya menghapus banyak hal tentang ingatan yang tak pernah dipeliharanya dengan baik. Aan kemudian menjadi seseorang yang memiliki sikap dan tubuh yang sama dengan perempuan penjaga warung Batak ataupun lelaki pendatang yang sedang menambah luas toko di samping kiri rumahnya. Lelaki tersebut bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, bertugas untuk menjadi penyelia bagi sekolah-sekolah di wilayah Bandung Timur. Istri yang setiap hari bertugas untuk menjaga warung yang seluruh barang dagangannya diletakkan di dalam lemari kaca sehingga pembeli akan leluasa melihat dan memilah serta mempertimbangkan barang-barang yang hendak dibelinya.