Paraji

Eka Retnosari
Chapter #12

Warna gelap di kelopak mata dan hiasan di punggung tangan

Dadang Syarifudin telah mengelola toko tersebut selama satu tahun dan memercayakan ingatan tentang orang-orang yang datang untuk meninggalkan utang pasta gigi, sabun mandi, dan mi instan rasa ayam bawang atau kaldu ayam kepada anak pertamanya yang adalah seorang perempuan. Dadang Syarifudin telah menikahi istrinya sejak keduanya masih berusia enam tahun. Keduanya dipertemukan dalam hubungan kekerabatan antara suku yang sama dan tempat tinggal yang sama sehingga raut wajah adalah hal kecil di antara banyaknya ingatan tentang tungkai kaki, mata kaki, dan bekas luka yang tertinggal di salah satu tubuhnya ketika ia terjatuh di hadapan matanya. Dengan lutut yang berdarah dan polisi tidur yang tak pernah bersalah. Dadang Syarifudin kemudian menjadi lelaki dengan raut wajah yang tak pernah terbahak meskipun ia sedang berhadapan dengan kejutan yang tersaji lewat sebuah gunungan nasi kuning ataupun kue tar berbentuk roda pedagang bubur ayam. Wajahnya masih serupa lelaki-lelaki pengisi Teka-teki Silang yang terbiasa dengan setiap kotak lengang dalam lembaran yang diisinya. Aan kemudian menemukan wajah istrinya serupa dengan wajah salah satu model dalam majalah yang mengulas tentang riasan pesta pernikahan. Warna gelap di kelopak mata dan hiasan di punggung tangan. Air mandi beraromakan bunga dan percikannya yang disisakan hingga ia meninggalkan jejak berupa amanat yang dihadirkan dalam bentuk karangan yang tertinggal di permukaan tempat tidur. Aat kemudian menjadi perempuan yang memiliki ingatan yang kuat. Tak hanya juz terakhir dalam Al-Qur'an, tapi puluhan wajah yang bekerja di kantor tempat Aan bekerja. Sekilas, wajah-wajah itu seperti hujan yang sama yang turun pada setiap harinya. Setiap lelaki yang memiliki kumis di wajahnya selalu memiliki cara yang sama dalam berbicara. Pun berkata-kata tentang lawakan serupa yang tak mementingkan tawa yang sama. Atau cara menyapa yang sama.                                    

Seorang lelaki bersepeda motor terbujur di samping rel kereta dalam bersimbah darah. Kepalanya ditutupi oleh helm, sementara tubuhnya ditutupi jaket kulit hitam setebal ingatan dan dompet terakhir yang tinggal dalam tas selempang. Meski begitu, kematian tetap dijumpainya. Sementara bola lampu di gudang belakang tubuhnya tak lagi dipermainkan oleh anak kucing ataupun angin dan semacamnya. Bukan uang yang kemudian menjadi bahasan Aat ketika suaminya berkata bahwa hari esok dan seterusnya akan dihabiskannya dengan melamunkan cara terbaik untuk menutup hari dan memindahkan warna senja. Ia berencana untuk melukis wajah atau membeli sebuah buku gambar dan pensil konte. Pertama-tama, ia akan belajar membuat garis hidung, gambar mata yang terkatup dan memiliki bulu mata yang begitu ranum dan rapat oleh ingatan tentang bentuk wajah dan percakapan yang sebagian memuai dan bertukar dengan percakapan beraromakan ampas kopi. Selanjutnya, Aan berencana untuk menghafalkan Al-Qur'an. Kembali mengulang dan menguji ingatannya tentang rukun iman dan rukun Islam yang dinyanyikan tidak dalam laju kereta dan bus kota. Setelah melalui satu tahun pertamanya dalam merebah dan mendedahkan ingatan tentang petuah lebah, Aan akan menambah jumlah hafalannya dan beralih ke surat-surat yang lumayan mudah untuk diingat. Surat Ar-rahman, Yasin, ataupun surat Al Mulk. Aat telah mengingat hampir tiga juz Al-Qur'an. Juz tiga puluh, juz dua puluh sembilan, dan juz dua puluh delapan. Mulutnya merekahkan senyum yang belum beroleskan pemerah bibir, sementara kedua pipinya telah terlebih dahulu menerbitkan sinar matahari pagi. Ia melontarkan candaan kepada Aan tentang jumlah pekerja di ibu kota yang mengalami stres pada setiap harinya. Mereka memilih gedung tinggi sebagai tempat terakhir menatapi pagi dan menyudahi siang. Makan di restoran termahal, melakukan panjatan pada gedung paling populer, serta memenuhi tantangan terakhir dari semua tantangan dan kejujuran yang belum sempat terjawab ketika anak panah tertuju kepada satu-satunya wajah. Pertanyaan dan desakan tentang orang paling pertama yang disentuh, bagian tubuh perempuan yang pernah diselami, dan kemungkinan berselingkuh dengan rekan kerja ataupun seseorang yang bekerja di kawasan yang sama. Tak jauh dari lobi dan lift yang memperjumpakan dengan tumpukan kertas kerja. Aat melontarkan candaan yang tak berubah menjadi malapetaka. Tentang jumlah rel kereta di kota kembang dan banyaknya jumlah rumah susun yang juga bisa dinaiki kalau-kalau Aan tergerak untuk melakukan gaya hidup yang sama. Ia sungguh tak sabar untuk membaca rubrik yang membahas seputar tips keuangan dan permasalahan tentang psikologi perempuan. Aat tak memiliki ketertarikan pada tuntutan untuk mengubah riasan wajah ataupun bentuk kerudung yang melekat di permukaan kepala. Setelah percakapan dan pertukaran kabar yang singkat tentang keputusannya berhenti bekerja, Aat berencana untuk menyusun jadwal yang menyertakan olahraga dan makanan sehat di dalamnya. Selama satu bulan, Aat kelak akan menghabiskan satu piring lotek yang akan bersambung dengan makan siang dan makan malam. Tubuhnya telah lama tak mengalami pertumbuhan. Aan masih setipis dahan pohon cabai dan wajahnya sedatar ikan teri di dalam kolam yang airnya tak terlalu jernih. Aat menawarkan diri untuk menjadi instruktur berenang selama kurun waktu tertentu yang kemudian bertukar dengan sebuah tawa dan candaan yang hambar. Suami Hajjah Aminah muncul dari dalam ruangan kamar dengan tasbih yang tak berhenti berputar di genggaman tangan. Ia mengetahui perihal segala kisah yang masih serupa hantaran wajah sehingga kabar tentang pekerjaan yang disudahinya serupa dengan kabar yang didengarnya lewat pesawat radio. Rumah Hajjah Aminah memiliki satu buah pesawat radio yang diletakkan di dalam ruangan kamar. Anak perempuannya, Aat, tak diperkenankan untuk menjadi pendengar radio. Pada waktu-waktu tertentu, ketika ia telah tuntas membaca majalah, novel, ataupun buku teks, Aat akan menghampiri pesawat televisi dan menonton tayangan Minggu pagi. Siaran berita, ulasan tentang kebaya, dan pertunjukan boneka si Unyil yang bersambung dengan tontonan wayang orang. Sekali waktu, halaman rumahnya terpilih menjadi tempat pengambilan gambar sebuah sinetron televisi yang mengisahkan tentang kehidupan ibu-ibu rumah tangga. Area halaman dan kamar mandi yang dijadikan sebagai kamar mandi umum menjadi lokasi utama pengambilan gambar. Puluhan ember warna-warni menjadi pengganti ember karet warna hitam yang menempati halaman kamar mandi. Beberapa pemuda berusia tanggung dipekerjakan sebagai pembersih noda kuning yang memiliki kemungkinan untuk tertinggal di permukaan lantai, dinding kamar mandi, ataupun mesin pompa air. Pakaian-pakaian baru dikemas dalam kantung plastik transparan. Agar kelak ketika ia menjadi properti pengambilan gambar, tampak menarik pandangan mata ibu-ibu rumah tangga yang menjadikan sinetron sebagai teman bicara. Pada waktu yang lain, lelaki-lelaki berwajah serupa kertas koran basah kembali menggunakan halaman rumah Hajjah Aminah sebagai tempat penggambilan gambar untuk acara yang membahas tentang hal-hal ringan semacam sampah dan barang-barang pecah belah. Seorang lelaki harus menjadikan kegiatan mencicipi tanah dan cokelat sebesar genggaman tangan sebagai sebuah latihan sebelum pengambilan gambar dilakukan. Anak-anak berusia di atas lima tahun selalu diperbolehkan untuk menjadi salah satu penonton pengambilan gambar. Sinetron ataupun feature berita televisi. Sebuah kursi besar yang biasanya tinggal dalam ruangan tengah rumah Hajjah Aminah diletakkan di teras depan agar Hajjah Aminah memiliki luang waktu dan matanya leluasa melihat jalannya pengambilan gambar.                                                                                                                        

Emir, salah satu di antara dua sopir yang dimilikinya kemudian melakukan inisiatif. Ia menggunakan kamera yang dimilikinya untuk mengabadikan jalannya pengambilan gambar. Pada suatu waktu yang lain, halaman rumah Hajjah Aminah berubah menjadi tempat pertunjukan kuda lumping. Lima orang perempuan berseragam lelaki dengan ekor kuda yang dikibas-kibaskan ke arah pengunjung dan anak-anak yang harus menghabiskan satu jam pertamanya dengan merajuk. Orang tua mereka kemudian mengizinkan anak-anak berusia di bawah lima tahun untuk menyaksikan pertunjukan memamah beling, pecahan gelas, dan cangkir yang terlempar karena suatu sebab. Beling-beling tersebut berserakan di halaman, di permukaan tikar dan karung bekas yang sebelumnya digunakan sebagai pengemas tepung terigu dan beras. Dua rumah dari sebelah kanan warung Batak, terdapat sebuah tempat yang menjadikan gas serta minyak tanah sebagai barang dagangan. Pada awal tahun, Komar, pemilik warung tersebut menambah barang dagangannya. Dengan terigu, berkarung-karung terigu agar anak-anak usia Sekolah Dasar dapat melalui tahun-tahun pertamanya berinteraksi dengan tepung di ruangan dapur mereka yang tak lebih luas dari hamparan tikar penuh beling. Ketika penari kuda lumping tersebut memamah pecahan kaca, anak-anak berusia di bawah lima tahun akan melihatnya seperti salah satu di antara banyaknya tokoh kartun yang menghabiskan waktunya dengan melakukan hal yang sama pada setiap harinya. Beling-beling tersebut tampak seperti kudapan yang mengenyangkan. Dua jam adalah waktu yang mereka perlukan untuk memamah beling-beling dan melakukan tarian penutup. Sementara seorang lelaki dengan wajah yang sama dengan lelaki yang sekali waktu bertugas untuk mengukur jalan dan mencatat segala jenis ukuran bertugas untuk mengedarkan kain batik yang menjadi tempat orang-orang melemparkan uang. Kepingan ataupun lembaran ke dalamnya.                    


Lihat selengkapnya