Komar, lelaki yang sehari-harinya bekerja dengan menjagai tabung gas, karung-karung terigu, dan minyak tanah dalam kaleng berukuran setengah dari tubuhnya akan melalui sepanjang hari dengan membaca berita dalam surat kabar yang pernah menggaji Aan, menantu Hajjah Aminah, sekali sebulan. Pada saat azan berkumandang, Komar akan menutup tokonya dan mengajak dua anak lelakinya untuk berjalan ke arah kanan, menuruni undakan, melintasi rumah Ketua Rukun Warga, kemudian menunaikan ibadah salat fardu secara berjemaah. Ketiganya akan mengawali ritual dengan salat sunat dan menerima uluran salam dari jemaah yang tiba lebih dulu. Komar acapkali membawa-bawa kacamata bertangkai dan berantai sehingga setiap kali ia melakukan sujud, kacamata tersebut selalu mengeluarkan derak, jika ia tak tertinggal di permukaan sajadah. Komar meninggal dunia pada pertengahan tahun ketika Aan sedang mengulang-ulang hafalan juz 29. Di samping akuarium dan televisi cembung hitam-putih yang mengabarkan penurunan harga sembako. Salah satu ikan di antara empat ekor ikan dalam akuariumnya mati ketika seseorang menjadi yang paling akhir mengabarkan tentang kematian. Ia tertidur dalam tidur yang panjang dengan lembaran surat kabar yang dipeluknya dan darah yang mengalir melalui mulutnya yang menganga. Kabar tentang kematian yang terjadi tanpa sangkaan serupa kejutan tersebut tak membuat jera orang-orang yang setiap harinya gemar melakukan hal yang sama. Mereka tetap membaca surat kabar, bergegas melakukan perjalanan, bekerja selama lima hingga enam hari seminggu, melakukan pemenuhan terhadap kewajiban yang dilayangkan oleh pihak lain selain dirinya. Sementara anak-anak usia Sekolah Dasar akan melakukan perjalanan, cukup dengan berjalan kaki. Tanpa menautkan harapan pada laju kendaraan penjemput ataupun sepeda yang digunakan oleh sebagian orang tua yang memiliki jeda antara memasak dengan menonton televisi, membersihkan rumah dengan memasang masker wajah sambil menyetel pesawat radio yang penyiarnya akan dengan senang hati menyampaikan pesan antara pendengar yang satu dengan pendengar yang lain. Pada waktu Magrib, Isah sang peragawati akan menuntaskan pekerjaan dengan ingatan bahwa catwalk yang dilaluinya pada setiap hari masih memiliki ukuran yang sama. Sementara lelaki berpeci dan berkaus belang-belang akan menjadikan petang hari sebagai waktu paling tepat untuk memasuki rumah. Setelah sebelumnya memastikan bahwa Isah sang peragawati telah mengganti pakaian dengan pakaian terbaru setelah tetesan hujan membuat sebagian ruas basah. Lelaki tua tersebut akan meninggalkan gapura yang biasa dijadikan sebagai dinding tempatnya bersandar. Lelaki tersebut akan berjalan menelusuri gang yang diapit oleh dua buah rumah. Rumah seorang pekerja PT. Pindad, alumnus Institut Teknologi Bandung yang telah menempati rumah tersebut selama enam bulan di sebelah kanan. Sementara di sebelah kiri, terdapat rumah Dadang Syarifudin yang memiliki jam kerja lebih pendek daripada pegawai pabrik dan pegawai bank. Lelaki tua berpeci tersebut akan menuruni undakan dan berhenti di sebuah rumah, di sebelah kiri. Ia memiliki seorang cucu lelaki berusia enam bulan yang sedang belajar menuturkan kata-kata dan melakukan pijakan pertamanya di permukaan lantai. Lelaki tua berpeci tersebut belum sempat menutupi hari dengan melakukan mandi sore sehingga anak perempuannya akan mengingatkannya seperti ia mengingatkannya pada makanan yang biasa digemarinya. Namun, lelaki tua berpeci tersebut lebih mudah mengingat pintu daripada jadwal mandi sore yang harus dipenuhinya pada waktu-waktu tertentu. Saat orang-orang bergegas mengambil air wudu dan melangkah menuju masjid An-nur, ia akan menghampiri sofa, duduk di permukaannya setelah membuka pintu rumah. Ia akan mengamati laju orang-orang yang menempuh perjalanan dari rumah menuju masjid, dari masjid menuju rumah. Ketika orang-orang tersebut telah menyurutkan langkah, kedatangan Aki Ada adalah sebuah penghiburan di antara obrolan tentang jumlah kata yang berhasil diucapkan oleh cucu lelakinya dan jumlah langkah pertamanya pada hari itu. Aki Ada berusia puluhan tahun lebih tua daripada dirinya. Ia memiliki ingatan yang baik tentang nama orang-orang yang telah menempati rumah di ruas jalan Cicukang. Kepada lelaki tersebut, Aki Ada akan berkisah tentang salah satu di antara banyak penduduk yang melalui hari terakhirnya. Orang-orang yang kisahnya selalu meluncur dari mulutnya akan menjumpai kematian pada keesokan harinya. Seperti Esin yang terbujur kaku di tempat tidur setelah menghabiskan karedok leunca yang merupakan makanan kegemarannya. Esin telah jatuh sakit sejak hujan masih berupa iklan. Selama satu minggu, Esin terbaring di atas tempat tidur. Suaminya, yaitu Aman, selalu menungguinya di samping tempat tidur dengan dudukuy yang selalu diangin-anginkan. Kalau-kalau Esin mengeluhkan banyak hal tentang hawa panas dan keinginannya untuk menghirup udara segar. Dulu, Esin mendapati keadaan serupa. Terbaring di atas tempat tidur dengan karedok leunca yang tak hanya tinggal dalam ingatan dan hasrat. Karedok leunca menjadi permintaan yang dirajuknya sepenuh hati di telinga Aman ketika ia hendak melahirkan anak pertamanya, yaitu Oom. Anak keduanya lahir dua tahun setelahnya. Setelah menandaskan karedok leunca, Kokom kemudian menjadi nama yang dipilihnya untuk anak perempuan yang belasan tahun kemudian meninggalkan kota Bandung, bekerja di Surabaya, dan memutuskan untuk tidak pernah kembali. Aman menghibur Esin dengan berbagai kisah tentang kelucuan yang didapatinya ketika menunggui sawah dan ladang. Tentang gelas minuman yang tak pernah terpecah meskipun terlempar dari genggaman tangan ketika ia terjatuh dalam perjalanannya menuju ladang. Ketika sakit di perut Esin semakin menjadi, Aman memanggil Mak Ani yang pada hari itu tak memiliki jadwal untuk membantu ibu hamil melahirkan bayi tanpa operasi. Mak Ani kemudian datang bergegas dengan membawa banyak pertanyaan tentang rasa sakit yang dirasakannya. Di tangannya, terdapat handuk dan buntalan kain berisi kunyit dan berbagai macam rempah yang biasa ia gunakan untuk mengobati orang-orang yang sedang dalam perjalanan menjadi seorang ibu ataupun seseorang yang sedang dalam keadaan sekarat. Mak Ani berhasil menenangkan Esin dan menghilangkan rasa sakit di perutnya setelah mengoleskan obat di permukaan perut Esin. Esin kemudian tertidur pulas dengan keringat menghiasi dahi dan kedua batang kaki yang ditekuknya. Aman dapat kembali tertidur pulas di atas kursi, di samping Esin dengan kedua tangan memeluk topi yang biasa digunakannya untuk memanggil angin. Keesokan harinya, Aman membawa pulang ketan, klepon, dan nasi liwet yang dibelinya dari seorang perempuan pedagang makanan keliling. Esin tak menggemari makanan yang dijual di etalase masakan Hajjah Aminah sehingga ketika tubuhnya sehat, makanan-makanan yang dibawa pulang oleh Aman akan segera disambutnya. Hari itu, Esin tak memiliki nafsu makan. Aman menanyakan lapar yang kemungkinan dirasakannya. Esin hanya meminta karedok leunca yang kemudian dikabulkannya tak lama kemudian. Aman membuat karedok leunca dengan kedua tangan yang masih beraromakan ketan dan parutan kelapa dari kudapan yang dibelinya. Karedok leunca tersebut ia pindahkan ke dalam piring seng berhiaskan seekor burung cenderawasih dengan tengokan kepala yang cantik ke arah kiri, ke untaian anggur warna ungu yang sebagian serakannya tiba di permukaan tanah. Esin menghabiskan karedok leunca tersebut dan menjumpai kematiannya delapan jam setelahnya. Mak Ani menjadi salah satu pelayat yang bersumpah kepada orang-orang yang mendatangi rumah Esin bahwa ia telah berusaha untuk menyembuhkan Esin. Mak Ani tak pernah mengetahui bahwa Esin begitu menggemari karedok leunca. Seusai bercerita, Aki Ada akan meninggalkan teras dan halaman rumah orang-orang yang dihampiri dan dikunjunginya. Ia akan menaiki undakan tangga, melintasi gapura, dan menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Menelusuri gang dan jalan sempit hingga ia tiba di sebuah rumah yang setiap sudutnya penuh dengan burung yang ditempatkan dalam sangkar, lengkap dengan minuman dan makanan yang digemarinya. Pintu rumah selalu terbuka sehingga ia tak harus melakukan panggilan dan mengejutkan salah satu cucu perempuannya yang gemar membuat pakaian hangat rajut, syal, dan peci yang terbuat dari benang wol. Seorang lelaki, salah satu dari banyaknya pegawai toko elektronik akan memasuki rumah Aki Ada pada akhir pekan untuk mengunjungi salah satu dari tiga cucu yang dimilikinya. Kepada lelaki pegawai toko elektronik tersebut, Aki Ada tak gemar bercerita. Pada akhir pekan, Aki Ada akan memasuki ruangan kamar, menyalakan radio, dan tertidur di permukaan tempat tidur berkain dan berselimut kuning.