Cingor merupakan kependekan dari Ucing Bangor. Seekor kucing nakal yang keempat kakinya kerap menghinggapi meja tempat ibu Hidayat menghidangkan nasi dalam bakul mungil dan menyertakan empat jenis lauk sebagai pendamping. Hidayat akan menelusuri ruas jalan seberang pabrik hingga masjid pertama yang ditemukan oleh pejalan kaki setelah usai dengan Jalan A.H. Nasution. Sekolah tempatnya belajar, terletak di ruas sebelah kanan yang membuatnya kembali menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Melintasi kawasan Suka Asih yang menjadi satu-satunya tempat orang-orang menemukan mesin laminating pertama dan pencetak buku yang difotokopi demi memenuhi keperluan mereka terhadap buku bacaan dan permintaan dari guru les yang tiba pada tiga kali seminggu. Di ruas jalan PU, Hidayat akan menemukan deretan tukang ojeg yang menunggu pekerja PU dengan kertas koran yang dijajakan di sebuah meja berhiaskan gelas kopi. Hidayat merupakan pelajar yang tidak pernah banyak melontarkan sapa ataupun salam sehingga ketika tubuhnya melintasi pintu gerbang sekolah, tempat yang segera ditujunya adalah ruang kelas dan bangku pertama. Hidayat meraih peringkat pertama dan berhasil mempertahankannya selama tiga tahun. Hidayat memiliki seorang teman sebangku yang juga bertubuh tinggi, beralis tebal, dan menduduki peringkat kedua selama tiga tahun. Kelas yang mereka tempati, tak memberlakukan perubahan posisi duduk, rotasi, ataupun tukar-menukar teman sebangku. Keduanya tak pernah memiliki pacar ataupun teman dekat sehingga ketika bel di sekolah berdering, Hidayat beserta teman sebangku akan menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki dan tak memasukkan nama perempuan ke dalam percakapan. Hidayat dan teman sebangku akan menempuh perjalanan pulang dengan pembahasan tentang kuis, soal-soal, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum diselesaikan. Teman sebangku Hidayat bertempat tinggal di kawasan Suka Asih, tak jauh dari pabrik sehingga pada malam hari, waktu tidurnya akan diiringi oleh suara-suara gaduh yang berasal dari pabrik tekstil milik orang Jepang. Kedua telinganya dapat mendengar suara benang-benang yang berbaris rapi serta jeritan hantu perempuan yang kepalanya terpenggal akibat tidak berhati-hati. Namun, tidur teman sebangku Hidayat selalu tidur nyenyak yang berlangsung selama tiga jam dalam satu malam. Setelahnya, teman sebangku Hidayat akan melakukan rutinitas yang sama pada setiap harinya. Membasuh tubuh dengan air wudu, sembahyang malam, berdoa dan berzikir, hingga suara-suara hantu perempuan yang terkikik tersebut tak terdengar lagi. Hantu perempuan pegawai pabrik yang tertawa setelah tengah malam, biasa terdengar pada malam Jumat. Sementara malam minggu akan menjadi malam yang ramai oleh aroma parfum dan taluan sepatu hantu perempuan yang pernah bekerja sebagai tunasusila. Di ruas jalan A.H. Nasution dan sudut-sudut gelap deretan pertokoan dan bioskop yang berdampingan dengan dingdong. Aroma parfum hantu perempuan tunasusila tersebut bertahan selama sekitar lima menit sebelum akhirnya berganti dengan aroma tengik serupa ikan asin yang telah dijerang di bawah terik matahari, di permukaan atap rumah dan genting tua, selama berhari-hari. Dingdong tersebut berdampingan dengan bioskop tua yang atapnya telah terbang, terbawa salah satu angin ribut yang datang pada salah satu musim hujan. Meski banjir, orang-orang tetap mendatangi bioskop itu bersama pasangan yang telah mereka temukan pada tiga jam sebelum film yang sama diputar. Film usang yang di dalamnya tak terdapat pemotongan salah satu adegan ranjang ataupun adegan yang dibintangi oleh Ida Iasha. Sebagian dari poster film tersebut terkikis hujan dan ingatan orang-orang, pelintas ruas jalan alun-alun kota, pengemudi angkutan umum yang lelah dengan lembaran kumal di genggaman, serta pelamun dalam angkot yang berdesakan pada petang hari, setelah pukul empat. Hidayat tak lagi menyimak lawakan teman sebangkunya tentang suatu waktu ketika sakit gejala tipus yang membuatnya tak mampu melahap potongan ayam yang biasanya selalu lezat dalam mulut. Teman sebangku Hidayat menghilang di ruas jalan besar yang diapit oleh pedagang buah dan pedagang gorengan. Hidayat mengayun sepasang kaki dan tas kecil di ketiak kemudian menemukan kebahagiaan yang ranum ketika ia melintasi pedagang surat kabar, majalah, dan buku teka-teki silang. Dalam kantung seragam sekolahnya, terdapat uang kumal lima ratus rupiah yang kemudian digunakannya untuk mendapatkan salah satu di antara surat kabar yang terbit setiap hari. Hidayat membeli surat kabar yang pernah menggaji tetangganya setiap bulan. Surat kabar yang juga kerap dibaca oleh Aan ketika ia duduk di sebuah kursi kayu pada pukul delapan dengan kacamata berantai melekat di depan matanya yang berminus tiga. Orang-orang asing namun berusia lanjut, kerap datang untuk menanyakan barang pecah belah yang tak lagi menempati ruas meja. Aan akan berkata bahwa ia sedang membaca sebuah surat kabar yang di dalamnya terdapat banyak tulisan yang telah memuat tulisan yang ditulis tidak dengan mata tertutup. Ia kemudian akan memanggil istrinya, Aat, untuk mendengarkan kisah orang-orang asing berusia lanjut yang wajahnya tak pernah melintasi kamar mandi dan tempat pemandian umum kamar mandi Hajjah Aminah. Aat akan meninggalkan ruangan kamarnya, dengan senyuman di wajahnya, kemudian menghampiri orang-orang asing berusia lanjut yang memasuki pekarangan rumah Hajjah Aminah dengan sebuah karung di punggung. Orang-orang asing berwajah tirai ruang makan tersebut kemudian akan berkisah tentang perjalanan yang telah ditempuhnya. Tentang jumlah anak yang dimilikinya di suatu tempat dan salah satu terminal di kota Bandung yang dijadikannya sebagai tempat penitipan anak. Karena suatu sebab, orang-orang asing berusia lanjut tersebut mendapatkan kantuk yang kentara. Ia tertidur di salah satu kursi bus kota dengan dua orang anak yang dibawanya dari salah satu kecamatan yang pernah menjadi tempatnya mengajukan Kartu Tanda Penduduk. Karena usianya telah lanjut, pegawai kantor kelurahan dan kecamatan yang didatanginya, tak dapat mengabulkan permintaannya untuk memiliki kartu identitas terbaru dengan foto wajah yang menghadap ke arah kamera, menyunggingkan senyum, dan mengatupkan bibir. Ia harus mengeraskan suara, menambah volume suara, agar pegawai kantor kelurahan berusia dua puluh tiga dapat memahami maksud dan tujuan perempuan tua tersebut. Ketika suara perempuan tersebut tak juga sampai ke dalam lubang telinga, ia menjadi salah satu perempuan yang menyerah pada nasib. Jalan kemudian menjadi tempatnya melangkahkan kaki dengan kedua anaknya yang berselisih usia sebanyak tiga tahun. Mereka hendak menempuh perjalanan ke kota Bandung dengan sebuah bus antarkota antarprovinsi yang berhenti di depan deret pertokoan Kalimas yang menjajakan pakaian jadi keluaran pabrik pakaian jadi yang berlokasi di kawasan Bandung Selatan. Ia bersama kedua anaknya kemudian menempuh perjalanan terjauhnya dengan pemandangan berupa lampu-lampu kota dan orang-orang yang mengepit tangan anak kesayangannya dalam perjalanan menuju salah satu toko yang memajang sepatu bertali, berkancing bunga, dan berwarna merah mengilap. Ketika ia tiba di kota Bandung, ia berkata kepada kondektur bus kota bahwa ia hendak pergi ke Bandung. Terminal kemudian menjadi tempatnya terlelap. Aat bukan sekali itu berhadapan dengan orang-orang asing yang menjadikan halaman rumah Hajjah Aminah sebagai tempat untuk mendapatkan sehelai tiket menuju perjalanan selanjutnya. Aat tak menanyakan perihal kedua anaknya yang ditinggalkannya di terminal. Ketika Aat memasuki rumah, didapatinya barang-barang pecah belah, piring-piring yang terletak di dalam lemari. Piring-piring tersebut dimasukannya ke dalam karung setelah mempertimbangkan uang sepuluh ribu rupiah yang masih tersisa dalam salah satu amplop anggaran keuangan rumah tangganya pada bulan tersebut. Biasanya, uang sisa dari anggaran belanja pada salah satu bulan, akan menempati stoples di samping akurium sehingga kelak pada akhir tahun, uang yang terkumpul dapat digunakannya untuk membeli salah satu perabotan elektronik terbaru. Blender yang berukuran lebih besar yang dapat digunakan untuk menghancurkan sayuran. Atau mesin pembuat roti yang iklannya selalu muncul lima kali sehari di televisi hitam putih dengan seorang model kalender yang wajahnya telah menghiasi ratusan halaman kalender. Aat kemudian menjejalkan uang sebanyak sepuluh ribu rupiah ke dalam karung putih milik salah satu di antara banyak orang asing yang tiba di halaman rumah Hajjah Aminah. Sementara Hidayat masih menjadi salah satu di antara pensiunan pegawai pabrik Tarumatex yang tak menjadikan waktunya sebagai waktu yang tepat untuk merindukan kepulan kopi salah satu penjaga keamanan yang gemar melontarkan sapa dengan menyebutkan nama lengkapnya. Nama yang tertera di kartu identitas yang dimilikinya. Kartu identitas yang direkatkan di depan pakaian seragam yang telah ia pakai sejak sepasang kakinya melangkah, mengayun, meninggalkan pintu rumah ibunya yang selalu menyiapkan makanan yang berbeda pada setiap harinya. Kartu identitas tersebut melekat di permukaan saku pakaian dan membawanya pada setiap kendaraan umum, transportasi publik yang dinaikinya dan membuatnya tiba pada lamunan tentang hari esok. Jika sebuah kecelakaan terjadi, seorang lelaki yang bekerja sebagai kernet angkutan umum akan mengabarkan salah satu ruas jalan yang memiliki keramaian lain serupa papan iklan atau selebaran tentang produk yang dapat menghilangkan lemak dalam waktu satu bulan. Atau alat olahraga seharga lebih dari satu juta rupiah yang dapat dicicil sebanyak dua belas kali. Hidayat kemudian menjadi salah satu lelaki berusia puluhan yang kedua matanya tak pernah menyaksikan cipratan darah yang memiliki kemungkinan untuk tertumpah dari salah satu kepala pengendara sepeda motor yang menempuh harinya, waktunya, dengan keinginan untuk menyudahi bilangan usia. Sebagian dari pengendara sepeda motor tersebut biasanya akan memberikan tanda kepada orang-orang yang berjalan di ruas jalan dengan kecepatan laju sepeda motor yang dikendarainya. Jika ia terpelanting atau terjatuh di salah satu tiang, bagian belakang truk, ataupun pinggiran jalan, pengendara dan pejalan tak akan menjadikan hal itu sebagai kejutan. Kendaraan-kendaraan yang berada di ruas jalan akan tetap melaju menuju tujuan masing-masing. Seorang polisi bertubuh kurus, lelaki, dengan peluit di bibir akan mengalihkan arus terdekat dengan mayat. Seseorang kemudian melakukan pemanggilan kepada ambulans demi memindahkan mayat tersebut ke salah satu laci berisi mayat-mayat yang sebagian besar menghadapi hal yang sama. Hidayat menjadi salah satu di antara pekerja pabrik dengan kain kemeja halus terpilin dan deretan kancing yang bertaut hingga ke bagian leher. Sepatunya selalu hitam, mengilap di bagian ujung, dan bertali hingga setiap tautannya tak pernah terburai dan memiliki kemungkinan baginya untuk terinjak dan menghentikan langkah. Ketika tiba waktunya menuruni kendaraan umum yang dinaikinya, Hidayat akan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, menandai salah satu pedagang yang dilihatnya di salah satu trotoar yang menjajakan majalah. Bahwa suatu hari nanti, saat gaji bulanannya telah dibayarkan sebanyak satu bulan sekali dan bukan dua kali sebulan, Hidayat akan membeli salah satu majalah. Majalah olahraga yang mengulas tentang olahraga dan majalah politik yang memberitakan hal-hal yang berkaitan dengan politik.