Hidayat tidak pernah tertarik untuk membeli makanan dan minuman yang dijajakan di sekitar jongko majalah ataupun seorang lelaki berjanggut yang berdagang di atas sehelai kain putih. Lelaki berjanggut tersebut menjual buku panduan salat, buku panduan doa dan zikir, kiat-kiat menjadi muslimah dambaan, serta buku-buku yang mengajarkan pembacanya untuk melakukan penghematan dan berpikir positif.
Pada Senin dan Kamis, Hidayat akan berpuasa. Menahan diri dari makan dan minum serta menghabiskan waktu lebih banyak dengan menyimak daripada mengobrol. Udan adalah senior di pabrik tempatnya bekerja ketika itu. Seorang lelaki bertubuh kekar yang menjadikan satu kilo telur rebus sebagai santapannya pada setiap hari. Telur-telur yang selalu dilahapnya kemudian menjadi salah satu di antara banyak hal yang dibanggakannya pada setiap hari. Selain istri, yaitu Nurmi, perempuan yang pernah dipacarinya sejak keduanya masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama swasta. Karena nilai-nilai mereka tak memadai, keduanya kemudian menjadikan sekolah swasta sebagai pilihan. Udan selalu berkisah di antara banyak hal yang dibanggakannya selain telur-telur yang dimakannya, tentang perjuangannya menyelesaikan pendidikan di sekolah swasta dengan jumlah siswa yang dapat dihitung jari. Hidayat bersekolah di sekolah negeri yang jumlah siswanya sebanyak empat puluh orang dengan perbandingan jumlah siswa perempuan dan lelaki dengan jumlah yang sama. Sementara Udan dan Nurmi bersekolah di sebuah sekolah yang tak menjadikan jumlah siswa sebagai salah satu syarat dimulainya pembelajaran. Nurmi kemudian dikisahkan sebagai perempuan baik yang gemar menabung dan memiliki kedua telinga yang mampu mendengarkan dan hati yang bisa menerima nasihat. Dari gaji dua mingguan yang diterimanya, Nurmi kerap menjadikan toko emas sebagai tujuan. Nurmi membeli cincin, gelang, anting-anting dan menyimpan sisanya di bank. Pada lima tahun usia pernikahannya, Nurmi dan Udan menjadi pasangan pertama yang telah mampu memiliki rumah sendiri. Tanpa menyewa dan menjadi salah satu di antara banyaknya pasangan yang menempati rumah petak seharga seratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Udan membeli sebuah rumah yang semula adalah tempat tinggal salah satu preman bertato yang kerap menghabiskan waktunya dengan menghabiskan lima botol alkohol di samping gapura dan teras rumah seorang petani tua berusia hampir sembilan puluh yang kerap memakai pakaian yang sama pada setiap harinya. Preman bertato tersebut hendak mengakhiri hidupnya pada akhir 1986 ketika rahim perempuan yang pernah dinikahinya satu bulan sebelum Ramadan, sedang mengandung bayi laki-laki berusia enam bulan, tak juga kembali. Preman bertato tersebut menikahi seorang perempuan pedagang jamu yang menjadikan jamu sebagai salah satu alasan ia membuka mata pada setiap harinya. Perempuan kelahiran Kuningan tersebut masih berusia sembilan belas ketika preman bertato tersebut menikahinya. Karena alkohol yang ditenggaknya membawanya berkelana pada suatu tempat yang ramai oleh aliran sungai dan kelopak bunga, ia kemudian kerap menjadikan istrinya sebagai bantal yang dapat ditinjunya sesuka hati. Ia bersama anak yang dilahirkannya pada waktu subuh dengan bantuan tangan Mak Ani, kemudian berujar di telinga lelaki preman bertato bahwa ia hendak pulang ke rumah orang tuanya di Kuningan. Ketika preman bertato tersebut bertanya tentang rentang waktu yang dapat dihabiskannya dengan menjumpai perempuan yang pernah melahirkannya, istri preman bertato tersebut berkata bahwa ia hanya akan menghabiskan waktu sebanyak dua hari saja. Tak lebih lama daripada para pemudik yang kerap menghabiskan waktu dan usia di atas jalanan. Ketika istri yang dinikahinya tak juga kembali, bahkan pada Ramadan dan hari raya berikutnya, preman bertato tersebut kemudian membeli lebih banyak botol-botol berisi alkohol. Ia kemudian menjadi salah satu preman bertato yang tewas dengan dada terbakar alkohol. Rumah yang ditempatinya menjadi salah satu rumah kosong yang diiklankan, dilelang, di kantor kelurahan dengan Aan sebagai pemimpin dan pengendali lelang. Udan kerap mengulang cerita yang sama, pembahasan tentang rumah tersebut yang merupakan salah satu prestasi yang didapatnya selain berpacaran dengan perempuan semacam Nurmi. Hidayat meski telah berhenti bekerja sebagai buruh pabrik dengan ijazah Sekolah Menengah Atas Negeri di antara buruh-buruh pabrik lain yang berijazah Sekolah Menengah Pertama swasta, selalu mengisi waktunya dengan bekerja. Rumah ibunya kerap didatangi oleh Marni, perempuan berusia empat puluhan yang telah mengelola sebuah toko material yang memiliki jam kerja sebanyak dua belas jam setiap harinya. Toko material tersebut semula merupakan sebuah rumah kosong yang ditinggalkan oleh seorang lelaki lajang bertubuh rendah yang menaruh kebencian kepada kaus dan pemakai kaus. Lelaki bertubuh rendah tersebut menempati rumah warisan tanpa berminat untuk memiliki seorang istri, terlebih lagi anak. Rumah tersebut berseberangan dengan sebuah tanah lapang berumput yang kerap dijadikan sebagai tempat bermain sepak bola ataupun pertunjukan pada salah satu hari besar. Sebuah panggung diletakkan di tengah lapangan. Panggung yang terbuat dari deretan tong minyak dan oli yang isinya telah berpindah ke dalam angkutan kota dan truk yang bertugas untuk menyampaikan berkarung-karung beras dan kapas yang diproduksi di salah satu rumah. Kebenciannya pada kaus dan orang-orang berkaus telah dimulai sejak tahun 1985 ketika Nia, salah satu perempuan yang menjadikan rumahnya sebagai tempat mengelola kapas menolak permintaannya untuk menjadi kekasihnya.
Nia adalah perempuan yang sangat mencintai kapas dan rumah peninggalan orang tuanya. Rumah berisi kapas-kapas tersebut terletak di dalam sebuah gang yang membuat para pekerjanya harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor demi memindahkan berkarung-karung kapas yang dikemas setelah dipindahkan dari kawasan Rancaekek. Nia adalah perempuan Sunda, kedua orang tuanya berdarah Sunda dan sama sekali tak pernah menenggak kopi dan menjadikan kopi sebagai salah satu parfum di ruang dapurnya. Nia kemudian mengikuti jejak kedua orang tuanya. Tak pernah membeli dan meminum kopi, memiliki dan merenovasi rumah sendiri, serta menjadikan kapas sebagai mata pencaharian. Sekali waktu, seorang lelaki bernama Radi mendatangi rumahnya untuk menjadikannya sebagai pasangan. Bukan sebagai pacar, melainkan istri yang bertugas untuk membuat dan menghidangkan teh di meja makan. Nia di sela-sela kesibukannya mengemas kapas-kapas, kemudian menerima lamaran lelaki yang juga dilahirkan di tanah Sunda. Usia pernikahan mereka hanya berlangsung selama dua tahun. Karena stres dan kepalanya selalu dipenuhi dengan ingatan dan itungan pada kapas, keduanya kerap bertengkar pada setiap harinya. Setelah meninggalkan pukulan di wajah Nia, lelaki tersebut meninggalkannya dengan sejumlah uang dan tak meninggalkan jejak berupa kabar ataupun isu yang kerap dijadikan bahan pergunjingan ibu-ibu rumah tangga ketika mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja di tukang sayur yang melintasi kawasan gang dengan sebuah payung merah, kuning, dan hijau, terpasang di tengah roda. Nia adalah perempuan yang tak pernah meneteskan air mata. Perceraian membuatnya semakin akrab dengan kapas-kapas yang salah satu serat dan helaiannya kelak menjadi penampung darah segar perempuan-perempuan yang masih mendapatkan darah menstruasi setiap bulannya. Sebagian dari helaian kapas tersebut terbang tertiup angin dan tinggal dalam balkon-balkon perempuan-perempuan yang melangsungkan pernikahan pada usia ranum kemudian menghabiskan sisa hidupnya dengan menunggui kepulangan. Nia mendapatkan pengganti suami pertamanya, tak lama setelah ia mendapatkan kunci rumah keduanya. Nia menjadi perempuan warga Cicukang pertama yang berhasil membeli sebuah rumah di sebuah perumahan baru, proyek pengembang seorang kontraktor asal Jakarta yang menjadikan kawasan Gede Bage sebagai salah satu tempat untuk menghabiskan usia dan melalui masa tua. Salah seorang lelaki yang juga gemar menghabiskan waktu dan usianya dengan bekerja kemudian melakukan hal yang sama, membeli salah satu rumah dan menjadikan sisa usianya sebagai waktu paling tepat untuk melakukan rutinitas lain selain beribadah, yaitu membayar cicilan. Lelaki berkemeja meskipun tinggal dalam rumah yang berseberangan dengan tanah lapang dengan sebuah panggung di atasnya, tak pernah meninggalkan rumahnya demi menikmati pertunjukan yang ditampilkan di atas panggung. Anak-anak muda berusia belasan akan bertugas sebagai panitia yang menyusun dan mengendalikan acara. Sementara warga yang berusia delapan tahun hingga tujuh belas, akan menjadi pengisi acara. Mereka merancang tarian selama satu bulan sebelum pertunjukan kemudian melakukan pertunjukan yang masing-masing dilombakan.