Paraji

Eka Retnosari
Chapter #16

Salah Satu Juri yang Melakukan Penilaian

Ketua Rukun Warga menjadi salah satu juri yang bertugas untuk melakukan penilaian terhadap pertunjukan yang ditampilkan. Tarian modern, tarian berpasangan, tarian berkelompok, dengan kostum berupa pakaian sehari-hari. Pertunjukan kabaret yang mengedepankan riasan di wajah dan kemampuan mereka dalam mengendalikan mulut ketika melakukan percakapan tanpa suara. Pengeras suara selalu menjadi hal yang didahulukan dalam rapat-rapat panitia daripada bahasan tentang kotak konsumsi. Lelaki pembenci kaus dan pemakai kaus tersebut akan menyibak tirai ketika sebuah keramaian terjadi. Waktu tidurnya akan tetap sama pada setiap harinya. Namun, 1987 kemudian menjadi tahun terakhirnya menempati rumah dua lantai tersebut. Ia membawa koper mungil berisi pakaian dan sebuah guci mungil kesayangannya dan tak pernah mempertimbangkan sebuah kepulangan sejak tanah lapang tersebut dijadikan sebagai tempat pertunjukan orang-orang yang berkampanye. Lelaki penggemar kemeja tersebut adalah salah satu di antara banyak penduduk yang tak menaruh minat dan ketertarikan pada politik. Ketika orang-orang melakukan rapat kecil-kecilan di tiap-tiap rumah demi membahas calon presiden beserta pertimbangan untung-rugi dan selamat-tidak selamat. Tiap kali rumahnya didatangi oleh orang-orang yang mengiklankan tokoh politik tertentu, lelaki berkemeja dan penggemar kemeja akan menutup pintu rumahnya dan menyalakan pesawat radio dan atau televisi. Rumah yang kemudian ditinggalkannya setelah pemilu terakhir yang tak diikutinya serta ramai surat kaleng yang dialamatkan kepadanya menjadi salah satu rumah yang dilelang di kantor kelurahan. Sebuah keluarga pendatang dari Garut kemudian menjadi pembeli pertama rumah tersebut dan menjadikannya sebagai toko material. Sebuah toko yang menjadikan paku, semen, dan segala jenis bebatuan sebagai barang dagangan. Toko material tersebut selalu dijagai oleh anak perempuan semata wayangnya yang akan melahap semangkuk bakso berisi saus cabai dan kecap setiap pukul empat sore. Sementara kedua orang tuanya, akan memiliki jadwal yang sama untuk menghitung dan memisahkan berbagai jenis paku dan palu. Orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan toko material, akan mendatangi toko tersebut ketika pipa di kamar mandi rumah yang mereka tempati, mengalami kebocoran. Atau seekor tikus bertubuh besar, tiba-tiba melintas setelah tubuhnya berhasil menerobos sebuah papan kayu yang telah memasuki masa usia tertuanya untuk terjatuh ke permukaan lantai. Sekali waktu, pada bulan-bulan tertentu, ketika kemarau telah tiba, sebuah rumah yang telah lama tak ditempati, akan mendatangkan rezeki bagi keluarga asal Garut tersebut. Rumah yang memerlukan renovasi tersebut akan mendatangkan bon berupa tagihan atas semen, pasir, bata merah, cat, genting rumah, hingga cat kayu dan cat tembok. Hidayat pada tahun tersebut masih menjadikan kesehariannya sebagai pegawai pabrik tekstil Tarumatex yang memiliki ketertarikan pada paku-paku yang berserakan di halaman toko material. Mereka tinggal dalam satu ruangan yang sama. Dengan hiasan berupa bilah-bilah kayu memanjang di sepanjang dinding rumah dan permukaan lantai. Sementara pintu yang membatasi mereka dengan angin malam adalah sebuah pintu seng yang bagian tengahnya memiliki angka yang ditulis di atas sehelai kertas putih. Anak perempuan mereka yang mereka beri nama Susi tersebut, masih berada pada usia kanak-kanak sehingga ketika waktu luang telah tiba, hal yang dilakukannya pertama kali adalah bermain. Ia akan melintasi rumah tempatnya menghabiskan waktu dengan belajar, membantu pekerjaan orang tua, tidur, dan mengerjakan Pekerjaan Rumah. Di atas meja belajar kayu yang setiap bilahnya merupakan bilah-bilah kayu sisa dari tumpukan yang terjual dan berpindah tangan ke tangan seorang pemesan yang mendambakan kamar mandi baru ataupun ruang tamu yang berdindingkan kayu. Di halaman rumah seluas setengah lapangan bola Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan, Susi akan bermain dengan pasir. Membuat pegunungan pasir yang memiliki hiasan berupa pohon-pohon yang terbuat dari paku. Pada salah satu musim libur, ketika ia memilih kebun binatang sebagai tempat wisata, Susi menemukan sebuah mainan truk yang bagian belakangnya dapat digunakan untuk mengangkut dan memindahkan pasir dari gundukan yang diletakkan di samping tumpukan bata merah. Kala itu, rumah mereka belum memiliki pagar sehingga pagi hari yang mereka lalui selalu mendatangkan kejutan. Kejutan dari tumpukan semen dan pasir yang berkurang sebanyak setengahnya atau bilah kayu yang hilang sebanyak enam bilah. Bebatuan yang ditumpuk tak jauh dari karung-karung semen serta bata merah yang tersisa sekitar satu tumpuk dari semula tiga tumpuk. Sebuah keluarga, sebuah rumah, rupanya sedang sangat memerlukan bantuan sehingga hal yang dilakukan oleh pemilik toko material tersebut adalah membuat pagar yang terbuat dari bilah-bilang bambu yang berasal dari salah satu hutan yang mengelilingi Taman Pemakaman Umum Jati. Hidayat saat itu sedang melintasi toko material dengan tubuh masih mengenakan seragam pegawai pabrik tekstil. Ketika hujan turun, orang-orang yang menempati kawasan rumah sesudah gapura 17-an, kerap menjadikan toko material tersebut sebagai lintasan jalan cepat ataupun maraton. Pada musim kemarau terpanjang, orang-orang yang memiliki jadwal tertentu untuk menanyakan harga dan jumlah paku tak terpakai, akan tinggal di atas tikar, memusatkan perhatian dan pendengaran mereka pada pesawat radio dan obrolan tentang pakaian di jemuran yang belum berpindah ke permukaan meja setrika. Hidayat selalu memiliki hati yang lapang untuk memindahkan bambu-bambu yang berderet di hutan demi menyenangkan hati anak pemilik toko material yang selalu dibanggakan dan disebut-sebutkan sebagai perempuan yang telah pasti akan mencium aroma surga.                                                                                                

Anak perempuan pemilik toko adalah satu di antara anak perempuan asal Garut yang memiliki suara yang merdu ketika mengaji Al-Qur’an. Susi telah merampungkan hafalan Al-Qur’an sebanyak satu juz ketika mereka menempuh tahun pertama setelah kepindahan. Sambil menumpuk bata merah dan gunungan pasir, Susi kerap melantunkan ayat yang telah atau sedang dihafalnya. Pada petang hari, sesudah Asar, Susi akan berganti pakaian setelah sebelumnya membasuh tubuh dengan air mandi. Ia akan mengenakan salah satu di antara gaun berwarna mencolok yang tinggal dalam lemari pakaiannya. Gaun tersebut meski dilipat dan disetrika dengan tanpa memerhatikan serat dan arah yang benar dalam menyetrika, akan tampak elok ketika dilekatkan di tubuh Susi. Susi kemudian akan meninggalkan toko material, menyeberangi jalan, melintasi toko gas, dan menuruni undakan. Saat berpapasan dengan Ketua Rukun Warga, Susi akan menyanyi-nyanyi kecil. Sebuah lantunan tentang rukun iman dan rukun Islam yang pernah didengarnya sekali waktu dari salah satu guru mengaji yang pernah mengajarinya membaca Al-Qur’an di surau terdekat dengan rumah tempat mereka tinggal ketika mereka masih tinggal di Garut. Susi kemudian akan memasuki masjid, menunggu hingga anak-anak seusianya melakukan hal yang sama demi memenuhi tugas mereka dalam mengaji dan menghafalkan Al-Qur’an. Jika anak-anak tersebut tak juga memasuki masjid, Susi akan kembali menelusuri jalan yang sama. Melintasi halaman rumah Ketua Rukun Warga, menaiki undakan, melintasi toko gas, menyeberang jalan, dan memasuki halaman rumahnya yang kembali mendapatkan penambahan pasir, bata merah, dan bilah-bilah kayu. Pagar yang bambunya dipilih dan dipilahkan oleh Hidayat pada salah satu waktu luang, telah menempati bagian depan toko material. Setiap kali Hidayat melintasi ruas jalan tersebut, ia akan menatapi pagar bambu tersebut dan memandangnya seakan-akan bambu-bambu tersebut adalah salah satu di antara banyaknya lukisan yang pernah terlahir dari tangannya. Sementara pada salah satu Ramadan, rumah Hajjah Aminah yang memiliki pagar besi tersebut, akan memanggil Hidayat untuk memetik salah satu di antara buah nangka yang tergantung di empat pohon nangka, di samping tiang listrik, tak jauh dari gorong-gorong yang memisahkan halaman rumahnya dengan jalanan. Hajjah Aminah akan menjadikan bulan Ramadannya sebagai bulan-bulan Ramadan yang sama, yaitu Ramadan yang ramai oleh buah nangka yang ia bagikan ke setiap rumah yang salah satu penghuninya terbiasa untuk tidak menunaikan ibadah puasa. Ia bersama Eti guru Bahasa Indonesia akan bersaing memperebutkan salah satu rumah yang seluruh penghuninya tidak menjalankan ibadah puasa. Jika Hajjah Aminah memilih nangka sebagai buah yang juga dihidangkan di permukaan meja yang juga menyajikan hidangan buka puasa, Eti guru Bahasa Indonesia akan memilih semangka yang akan diantarkan oleh pedagang buah pada pagi hari. Eti guru Bahasa Indonesia, pada waktu Ramadan, akan memesan dua buah semangka berukuran besar untuk dibaginya kepada rumah-rumah yang kepala keluarganya masih beragama Kristen. Sementara istri yang dinikahinya telah mengikuti ritual dan agama penduduk yang tinggal lebih lama dibandingkan dengan kepala keluarga tersebut. Pun salah satu atau dua di antara anak-anak yang mereka miliki. Semangka menjadi semacam suvenir Ramadan yang dikemas dalam sup buah ataupun es krim dengan parutan kelapa muda dan agar-agar hijau serta merah yang sebelumnya telah diiris menyerupai dadu. Jika Hajjah Aminah telah menjadi yang pertama kali mengantarkan buah nangka, Eti guru Bahasa Indonesia akan tetap menjadikan semangka yang diraciknya sebagai hiasan meja makan. Tina yang bertugas untuk mengantarkan semangka tersebut akan menyampaikan seucap salam dari Eti guru Bahasa Indonesia yang sejak jauh hari telah menyiapkan satu lusin kemasan plastik, mangkuk plastik, untuk ia isi dengan hidangan semacam sup buah dan semacamnya. Hajjah Aminah tak memiliki sempat untuk meracik nangka-nangka yang telah menua di setiap pohon nangka yang telah tumbuh lebih tua daripada Aat, anak semata wayangnya. Nangka-nangka berwarna kuning tersebut akan dipilah dan dipindahkan oleh menantunya yang saat itu telah menjalani rutinitasnya sebagai seseorang yang menjadikan rumah dan ruangan kamarnya sebagai tempatnya mencari kata-kata, melahirkan satu atau dua artikel tentang situasi politik di Indonesia beserta analisis singkatnya tentang kans dan perubahan, serta menjadikan tidur siang sebagai salah satu di antara hadiah yang didapatnya seusai mengajukan pengunduran diri. Memisahkan nangka, melepaskan nangka dari setiap serabutnya yang sekilas tampak sama, sebagian lebih memucat dan tampak berwarna krem daripada kuning, ke dalam piring kecil. Hajjah Aminah memiliki banyak persediaan piring. Piring-piring berukuran besar, sedang, serta piring-piring berukuran mungil. Piring-piring tersebut memiliki lemari khusus, berdampingan dengan deret gelas dan hiasan yang dibelinya ketika sedang menempuh perjalanan pulang dari Mekkah Al Mukaromah. Menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya ataupun umroh bersama suami tercintanya.

Lihat selengkapnya