Nangka-nangka yang telah berpindah tempat tersebut menempuh perjalanannya. Menantunya kemudian turut berperan sebagai seseorang yang bertugas untuk mengantarkan nangka-nangka tersebut ke setiap pintu rumah yang pintunya terbuka pada waktu Magrib. Sementara dua buah jendela yang terletak tak jauh dari pintu, memiliki tirai yang akan ditutup pada waktu tengah malam. Ketika seseorang memadamkan lampu dan teringat pada nyala api di atas kompor yang tertinggal dan terlupa karena obrolan yang begitu sengit dengan salah seorang tetangga yang acapkali mengiklankan Baygon sebagai pengganti sirup. Sirup adalah hadiah yang kerap dibagikan oleh Tante Batak pemilik warung pada setiap pembelinya yang setia. Mereka yang akan menjadikan ritual pagi harinya sebagai saat paling tepat untuk menanyakan harga ikan asin dan cabai merah di muka warung yang menjajakan untaian kerupuk, permen karet, sandal jepit, berbagai bentuk celengan yang terbuat dari plastik, serta sebuah telepon rumah yang baru dipasang oleh Tante Batak dua bulan setelah merayakan natal di kampung halaman. Menantu Hajjah Aminah akan menunggui setiap pintu yang didatanginya demi mendapatkan kembali piring mungil berisi nangka. Orang-orang yang menempati rumah yang kepala keluarganya akan memperdengarkan musik dangdut pada pukul lima petang tersebut akan berkata bahwa nangka yang dibagikan oleh Hajjah Aminah ke setiap rumah memiliki rasa manis yang tidak kesat dan keharuman yang tak membuat pemakannya ingin mengganti aromanya dengan aroma lain yang berasal dari salah satu botol pewangi ruangan. Aan tak perlu memastikan apakah nangka-nangka yang dibagikannya tak berpindah tempat ke salah satu tempat pembuangan sampah. Aan akan melanjutkan perjalanan hingga memasuki rumah terakhir, yaitu rumah salah seorang seniman yang bekerja sebagai seorang pelukis. Seniman tersebut akan menunaikan ibadah puasa ketika anak perempuannya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu pesantren, kembali pulang dengan membawa pakaian yang telah tuntas dicuci dan disetrika. Seniman tersebut tidak menunaikan ibadah puasa, namun berharap dapat memiliki anak perempuan yang selalu menunaikan ibadah puasa. Anak perempuannya mendapatkan pendidikan di lingkungan pesantren sehingga ketika mereka melakukan percakapan di ruang tamu ataupun di ruang makan, seniman tersebut akan merasa seperti berbincang dengan guru-guru yang mengajarnya di pesantren. Pesantren tempatnya menuntut ilmu, memiliki fasilitas laundry sehingga seniman tersebut tak perlu bersusah payah menghabiskan akhir pekannya dengan mencuci pakaian anak perempuannya. Aan akan menanyakan anak perempuannya, di muka pintu, di samping lukisan yang terbuat dari cangkang telur, ketika menyodorkan piring kecil berisi nangka. Seniman tersebut akan berujar bahwa anak perempuannya sedang dalam perjalanan. Atap rumah Hajjah Aminah terbuat dari genting merah tua yang sebagian telah mengalami perubahan warna. Lumut tumbuh subur pada beberapa bagian. Sebagian lumut tersebut melekat di tepian kaus atau kemeja yang tak usai dikelantang setelah Aan menjemurnya pada permulaan pagi. Sebuah tangga yang terbuat dari kayu dengan empat buah paku yang sebagian telah memiliki karat di samping drum berukuran empat kali tubuh orang dewasa yang terbiasa melahap dua belas telur rebus pada setiap harinya. Tangga tersebut tak habis digapai oleh Hajjah Aminah ketika sopir angkutan kota Panghegar-Dipati Ukur membawa pulang kering tempe dan tumisan kacang merah terakhir yang masih teronggok dalam mangkuk loreng seukuran punggung Hajjah Aminah ketika ia menghaluskan kacang tanah yang sebelumnya telah disangrai selama sekejapan mata. Atau sekatupan mata salah seorang anak perempuan seseorang, anak pegawai toko eletronik yang akan memberikan dan membagikan hadiah berupa kue kering yang telah dikemas dalam stoples curah transparan. Ada hiasan berupa pita yang melekat serupa dengan pita yang melingkar di kanan dan kiri anak perempuan pemilik warung Batak saat Minggu pagi. Dua jam sebelum ia tiba di gereja yang mempertemukannya dengan salah seorang pemain basket dari Yahya. Sekali waktu, Brian, nama lelaki itu melintas, dengan sepeda motornya yang berwarna hitam dan memiliki suara yang sama dengan raungan kendaraan bermotor yang melintas di lajur jalan, tak jauh dari Pacuan Kuda dan kerumunan orang yang tak akan kembali tanpa membawa buah tangan. Makanan yang dikemas dalam kantung plastik atau kertas cokelat bergambar perempuan bergaun dan bertopi putih. Seorang nona dari Belanda, mirip dengan seorang perempuan bergaun dan bertopi putih. Seorang nona dari Belanda, mirip dengan seorang perempuan yang menghiasi kemasan pembalut yang pembalutnya terbentang, tanpa dilipat dan sayap di kedua tepi.
Perempuan berpakaian putih yang menghiasi kemasan pembalut tersebut merupakan orang Indonesia. Mahasiswi Strata 1 yang sebelumnya telah menempuh pendidikan D-3 di sebuah institut. Sementara perempuan yang menghiasi bungkusan kertas cokelat berisi cakue dan roti goreng tersebut adalah salah satu dari banyaknya Noni Belanda yang gemar bersepeda pada waktu sore, sebelum matahari tiba di peraduan. Noni-noni Belanda dengan gaun putih dan sepeda tersebut akan hilang di balik bangunan peneropongan bintang yang kanan dan kirinya ditanami pagar kayu dan pasangan muda-mudi yang berpacaran untuk sementara waktu. Anak perempuan tersebut telah mandi sore dan membantu ibunya memindahkan pakaian-pakaian yang dijemur di halaman belakang. Wajahnya telah dibedaki dengan bedak tabur warna putih, berbahan dasar pecahan mutiara, yang biasa dipakai ibunya dua kali sehari. Rambutnya lurus dan berponi sehingga sebuah bando berwarna hitam tampak pas di permukaan kepala dan helaian rambutnya. Anak perempuan pegawai toko elektronik tersebut berujar dengan suara pelan, sampai-sampai Aat, anak perempuan Hajjah Aminah harus mengulang pertanyaannya. Anak perempuan tersebut menanyakan sayur tahu dan potongan cabai hijau yang dimasak dengan ayam segar yang kulitnya masih melekat. Aat kemudian berkata bahwa sayur tahu yang dimasaknya bersama Hajjah Aminah memiliki cabai yang masih utuh. Tak dipotong serong ataupun melintang. Anak perempuan pegawai toko elektronik kemudian berkata bahwa ia harus menempuh perjalanan pulang menuju rumah ibunya yang berpagar kayu untuk menanyakan perbedaan antara cabai yang telah dipotong dengan cabai yang masih utuh. Hujan kemudian turun begitu saja. Ia tertumpah ke permukaan jalan, memisahkan debu-debu dari permukaan dinding gapura yang biasa mejadi teman bagi seorang lelaki gila berpeci yang gemar memakai kaus belang-belang setiap kali pagi tiba mengantarkan angka yang masih lengang. Pada suatu waktu yang lain, angka-angka tersebut telah terisi penuh. Sebagian penumpang adalah pelajar Sekolah Menengah Pertama dan pelajar Sekolah Menengah Atas yang baru berkenalan dengan botol kolon beraromakan mawar dan lili yang dikemas dalam botol berbentuk elips. Seseorang, perempuan berusia enam puluh telah siap menerobos hujan dengan payung hitam di tangannya. Perempuan berambut serupa gulali tersebut telah menunggu kepulangan anak lelakinya yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan. Setiap hari, ia menunggu kepulangan anaknya di samping gerbang dan penjaga sekolah berseragam abu-abu. Perempuan tersebut memakai rok hitam, sepatu kulit dengan hak setinggi tiga sentimeter, dan kaus belang-belang hitam-putih. Penjaga sekolah tersebut tak pernah lagi menanyakan tentang nama dan alamat, ia akan berkata bahwa perempuan berambut serupa gulali tersebut sedang menunggu kepulangan anaknya yang telah terdaftar sebagai salah satu di antara banyaknya siswa yang bersekolah dengan seragam baru, tumpukan buku tulis yang masih lengang, serta tas ransel terbaru yang risletingnya masih dapat menempuh perjalanan tanpa tersangkut di salah satu pemberhentian.