Paraji

Eka Retnosari
Chapter #18

Anak Lelaki Bernama David

Anak lelakinya bernama David. Ia telah menempuh pendidikan selama lebih dari satu abad. Seorang ibu yang anak lelakinya sedang ia jemput dengan sepeda motor tanpa bising dan helm akan berujar kepada perempuan berambut gulali tersebut. Bahwa semua pelajar Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan telah meninggalkan kelas. Anak lelakinya ada di televisi, tumbuh sebagai seorang lelaki yang bisa membedakan rupa-rupa pohon dan tanaman yang ditanam dalam pot yang satu dengan pot yang lain. Anak lelakinya telah tumbuh besar, memiliki jakun dan rambut panjang serupa perempuan. Kedua telinganya memakai anting berbentuk lingkaran yang sama dengan anting yang melekat di lubang hidung Mang Jana. Mang Jana tinggal tak jauh dari Masjid An-Nur, pacilingan, pesawahan, dan kandang kerbau yang memisahkan bilik-bilik pegawai pabrik dan kamar mandi umumnya yang terpisah sebanyak enam meter. Lelaki-lelaki berusia tanggung yang telinganya juga beranting akan berjajar di samping pematang. Menunggu salah seorang pelajar yang akan berjalan dengan membawa banyak ingatan tentang Pekerjaan Rumah dan salah seorang guru yang memarahinya di depan kelas. Saat seorang pelajar beransel melintas tanpa seorang kawan di sampingnya, lelaki beranting yang tak kenal air mandi tersebut akan menjadikannya sebagai sasaran tembakan dari bebatuan yang telah menempati salah satu kantung pakaiannya. Tembakan tersebut akan mengenai permukaan rawa pacilingan yang seluruhnya berisi kotoran manusia yang rumahnya belum memiliki WC. Ia memiliki tenaga yang kuat, cukup kuat untuk mematahkan ratusan pena anak Sekolah Dasar yang tak dibekali uang oleh kedua orang tuanya. Kotoran manusia tersebut melekat di permukaan seragam, pakaian, dan topi yang dipakai oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama. Pelajar tersebut tak pernah dibekali uang oleh orang tuanya sehingga lelaki berusia tanggung tersebut tak berhasil memiliki uang yang sama dengan uang yang biasa digunakan oleh orang tuanya untuk membeli telur, roti tawar, susu, mentega, dan tepung terigu. Ia, pelajar tersebut tak sempat untuk meneteskan air mata sehingga pintu rumahnya adalah tujuan yang dikejarnya dengan ingatan yang kelak akan ia timpa dengan ribuan lagu, film, buku, dan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tak memiliki batu dalam genggaman ataupun saku baju. Atau rumah Hidayat juara catur yang terbuat dari seng sehingga setiap kali hujan, kegaduhan akan terdengar. Kegaduhan tersebut terdengar hingga dapur dan halaman belakang. Meski hujan, ibu Hidayat juara catur tak pernah lupa memasak. Halaman rumah dan terasnya menjadi sepi dan lengang dari suara pelalu-lalang dan pengamen jalanan yang acapkali menjadikan halaman rumah Uu, nenek tua, perempuan paling tua di Cicukang sebagai tempat berteduh dari terik dan keramaian orang-orang yang bekerja.                                                                

Ibu Hidayat juara catur sedang memasak tempe yang ditumbuk dalam cobek dan cabai-cabai serta kencur yang tak habis dimasak selama satu atau dua hari. Selain tempe, yang diolah dan diracik menjadi perkedel, ibu Hidayat juara catur juga memasak ikan goreng dan sayur bayam yang bawang merahnya dimasukkan utuh ke dalam wajan yang telah bertahun-tahun digunakannya untuk memasak banyak masakan yang dihidangkan di atas meja kerja yang pernah dipakai oleh mendiang suaminya untuk menulis dan menggambar. Suaminya adalah salah satu di antara banyak lelaki Kampung Cicukang yang mendapatkan keberuntungan dengan jemari dan tangan yang dimilikinya. Dengan jemari dan tangan yang dimilikinya, ia dapat membuat denah dan bangunan yang kemudian didirikannya seorang diri. Sekali waktu, karena iba kepada salah seorang tetangga yang menganggur, ia membawa serta lelaki yang merupakan kepala keluarga tersebut untuk membantunya mendirikan bangunan-bangunan dan rumah yang digambarnya. Restoran orang Tiongkok beranak lima, rumah seseorang yang telah tuntas menabung, dan sekolah atau perkantoran yang dikelola oleh lelaki dan perempuan yang pernah merasakan ghiroh yang sama di universitas tempat mereka belajar. Setelah satu per satu denah dan gambar tuntas dikerjakannya, suami ibu Hidayat juara catur meninggal dunia. Lelaki itu meninggalkan rumah, istri, anak-anak, dan tabungan beraromakan keringat yang menetes ketika ia bekerja di bawah terik matahari dan tak jarang hujan deras. Dulu, suami ibu Hidayat juara catur adalah seorang perenang. Karena ia pandai berenang, ia menjadi salah satu transmigran yang selamat dari kecelakaan yang menenggelamkan kapal Tampomas. Pakaian, buku-buku, dan celengan ayam jago miliknya tak selamat. Suami ibu Hidayat juara catur tak jadi menempuh studi kedokteran setelah melalui masa-masa sulit menaklukkan lapar dan masa menganggur. Ia belajar menata batu dan memilah bata sehingga pada kemudian hari, ia memiliki pemahaman yang cukup untuk membedakan asbes, seng, dan genting yang sama dengan genting yang melekat di atap gedung-gedung perkantoran. Ketika mengisap batang rokok dan menunggui kopi hitamnya tenang, ia mengutarakan harapannya agar anak perempuannya, yaitu Ratna dapat menjadi sekretaris desa. Menempuh pendidikan di Bandung, mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil, dan membuka tabungan di sebuah bank yang berlokasi tak jauh dari Kantor Desa. Sementara Hidayat dapat menghabiskan waktu, hidup, dan usianya dengan bermain catur dan memastikan rumah yang menjadi tempat tinggalnya sebagai rumah anti bocor. Ia tak akan mempermasalahkan kegaduhan yang acapkali terdengar ataupun bulir hujan yang menghiasi permukaannya ketika hujan berlangsung lebih lama. Lebih lama daripada suara penyanyi kesayangan Hidayat yang tiba pada bagian reffrain. Ketika ibu Hidayat juara catur sedang menumbuk tempe, Hidayat sedang menghitung lembaran uang yang ditabungnya dalam dompet berusia tua dan lapuk. Dompet tersebut telah menemaninya selama sepuluh tahun, sejak seorang perempuan meninggalkan rumahnya untuk menjadi perempuan yang mengantre di pelabuhan. Ia menemukan perempuan tersebut terjatuh di tengah jalan yang terbentang antara kawasan tangki air minum dengan rumah besar berisi orang-orang pengumpul limbah rumah tangga dan toko elektronik. Orang-orang tersebut bekerja sebagai pemilah hingga kelak ia mencapai jumlah yang cukup sebelum akhirnya diolah menjadi bahan baku lemari, surat, atau perabotan rumah tangga lainnya.                       

Perempuan tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Arni, perempuan hamil yang dicampakkan oleh seorang lelaki kasar bersuku Sumatera. Arni menangis, bersimbah air mata, dan meraung hingga tak sadarkan diri. Hidayat dan lelaki pemilik toko Zakia kemudian membopongnya hingga tiba di kamar belakang rumah ibu Hidayat juara catur. Hidayat kemudian mendapatkan halus perasaan yang sama seperti ayahnya. Ia tak sampai hati membiarkan perempuan bernama Arni tersebut meninggalkan rumah ibunya tanpa obat dan jalan keluar. Hidayat juara catur melangsungkan pernikahan di rumah ibu Hidayat dengan mas kawin berupa mukena dan kitab suci Al-Qur’an yang telah dilengkapi dengan terjemahnya. Selama menikah, Hidayat tak pernah menyentuhnya. Mereka berdua tinggal dalam dua kamar yang berbeda. Sementara ruang makan dan meja makan menjadi tempat keduanya bertemu kemudian membahas peristiwa yang terjadi di daerah sekitar. Selebihnya, ruang tamu menjadi tempat keduanya berpapasan, menerka perasaan dan kabar melalui wajah dan gerak-gerik. Untuk menutupi rasa malu akibat tak bekerja, Arni memperkenalkan dirinya sendiri kepada tetangga-tetangga yang berbasa-basi sebagai seorang perempuan yang serba bisa. Bisa menyanyi, mengasuh anak, dan mencucikan pakaian. Pun menyetrikanya hingga rapi dan wangi. Beberapa tetangga yang memiliki kesibukan lain selain mengantarkan anak-anak ke sekolah dan menunggui mereka mengerjakan Pekerjaan Rumah, menggunakan jasanya untuk mencuci pakaian dan menyetrika. Arni dengan rahim berisi anak manusia mampu menyelesaikan pakaian-pakaian dalam keranjang tersebut dalam waktu dua hari. Pada akhir pekan, ia akan membantu ibu Hidayat juara catur untuk memasak masakan yang biasanya tak dimasaknya pada Senin hingga Jumat. Dengan kue yang untuk membuatnya tak memerlukan oven ataupun mixer. Arni menyebutkan nama-nama makanan yang pernah dibuatnya ketika ia masih berstatus sebagai pelajar sekolah dengan sehelai kain melekat di permukaan kepalanya. Saat itu, ia masih tergabung dalam geng beranggotakan perempuan, teman-teman sekelas, gemar mengunjungi mal pada waktu-waktu tertentu, dan tak segan untuk melepaskan kain di kepalanya saat seseorang mengundangnya untuk merayakan pesta ulang tahun.               


Lihat selengkapnya