Ratna, anak perempuan satu-satunya di rumah ibu Hidayat berlari ke arah ruang kamar. Ia adalah salah satu di antara banyak orang yang jatuh cinta kepada hujan. Sekali waktu, ia memindahkan hujan ke dalam salah satu lembar kertas tugas menulis puisi, mata pelajaran Bahasa Indonesia ke dalamnya. Saat tiba bagi dirinya untuk membacakan puisi tersebut di depan kelas, angin berembus pelan melalui jendela berbingkai kayu tipis. Seorang lelaki, kakak kelas, melintas dengan seragam putih, kemeja, yang dibiarkan terburai hingga melewati pinggang dan ikat pinggang. Lelaki tersebut memakai topi di atas kepalanya. Topi berwarna abu-abu pudar dengan gambar bola basket di bagian tepi. Sekali waktu, saat hujan tak turun dan orang-orang sedang ramai membuat antrean, di kantin dan tempat wudu, lelaki, tersebut akan menatapnya dari jauh kemudian memindahkan wajah Ratna ke dalam sehelai kertas. Lelaki tersebut begitu gemar membawa-bawa pensil konte saku seragamnya sehingga obrolan yang mestinya berlalu tenang di ruang perpustakaan, selasar masjid, ruang kelas, dan koridor akan menjadi obrolan yang berlalu bersama angin. Ratna memajang puisi yang ditulisnya di permukaan dinding kamar, berdampingan dengan puisi-puisi yang ditulisnya pada waktu luang. Ruang kamar Ratna selalu rapi dan memiliki buku terbaru yang ditempatkan di bagian muka deretan rak buku. Meski suaranya merdu, Ratna tak suka menyanyi. Meski Ratna menyukai novel-novel bertema kriminalitas dan misteri tak terpecahkan, ia tak tertarik untuk mengikuti kakak lelakinya yang gemar bermain catur. Kakak lelakinya memajang piala pertandingan catur yang pernah dimenangkannya di sudut ruang kamar dan membiarkannya berdebu, terselimuti debu, hingga berminggu-minggu lamanya. Sampai kemudian perempuan yang terpaksa dinikahinya menemukan kain lap paling tepat untuk permukaan piala setinggi satu meter di atas permukaan tanah. Saat kakak lelakinya menikah, Ratna mendapatkan tugas untuk memilah sayur mayur di atas pinggan lebar bergambar buah-buahan. Dengan tangan yang terbiasa meramu kata-kata, Ratna menempatkan daun singkong yang telah direbus selama satu jam dalam sebuah panci besar. Ketika ia memindahkan lembaran daun singkong tersebut, salah seorang kerabat yang merupakan adik perempuan dari ayahnya yang telah meninggal berkata kepadanya bahwa ia keliru. Ratna kemudian menghentikan aktivitasnya dan berkata bahwa ia hanya mengikuti contoh saja. Ibunya telah memulai perjalanan terlebih dahulu. Memindahkan sayuran ke dalam pinggan dengan membiarkan lembaran tersebut tak beraturan. Bibinya kemudian memberikan contoh bagaimana sayuran daun singkong tampak lazim disajikan dalam sebuah acara pernikahan. Daun singkong tersebut dibentuk menyerupai bola dengan jumlah yang sama satu sama lain sehingga setiap orang akan mendapatkan jumlah lembaran yang sama. Selain itu, tamu yang datang memenuhi undangan akan leluasa dengan garpu dan sendok di tangannya.
“Mereka tidak makan dengan menggunakan tangan,” ucapnya. Setelahnya, ia berlalu menyambut tetangga yang tinggal tak jauh dari Masjid Al Hidayah dan kawasan pekuburan yang berseberangan dengan lahan yang tak lama lagi akan berubah menjadi kawasan perumahan berukuran 36, 45, dan 90. Saat atap rumah ibu Hidayat meneteskan air yang mengalir melintasi lubang yang pernah membuat salah satu kucing kampung paling kesohor terperosok karena terburu-buru mengejar seekor tikus, anak perempuannya, yaitu Ratna akan tergerak untuk membuka laci meja kerjanya. Di sana, ia meletakkan sehelai brosur yang pernah dibagikan oleh seorang pekerja properti bernama Bahrudin. Bahrudin telah menjadi pekerja properti bagian marketing selama enam bulan. Saat itu, sore hari. Ratna sedang berjalan melintasi kawasan rumah mungil dengan halaman yang luas yang tak dilalui oleh kendaraan bermotor dan pemain bola. Kawasan perkampungan tersebut memiliki seorang seniman lelaki berusia enam puluh tahun. Ia bekerja sebagai seorang pelukis, melukis wajah dan tubuh manusia yang memesannya sejak jauh hari. Sejak kalender masih tegak terpancang. Wajah dan tubuh manusia tersebut dilukisnya dengan menggunakan kulit telur yang direkatkan dengan putih telur yang tak usai dimasak oleh istrinya yang bekerja sebagai pembersih kawasan pekuburan. Setiap satu minggu sekali, ia akan menerima uang sebanyak seratus lima puluh ribu rupiah yang kemudian disimpannya setiap akhir bulan dalam koperasi simpan-pinjam. Kelak, ia berencana untuk mewujudkan impian ibu kandungnya yang masih hidup dan berwajah sesegar tomat merah yang dijajakan di pasar-pasar. Ibu kandungnya bermimpi untuk naik haji sebelum wafat, sementara ia berencana untuk menunaikan ibadah haji sebelum anak bungsunya, yaitu anak kelima menjumpai jodohnya di tempat bekerja dan tempatnya mengikuti kursus menjahit dan kursus bahasa Tiongkok. Kelak, ia berencana untuk mengikuti jadwal kepindahan karyawan pabrik yang memiliki prestasi baik dan kemampuan berbahasa asing lebih baik daripada semua karyawan di pabrik handuk. Setiap satu bulan sekali, keluarga pelukis cangkang telur tersebut akan mengganti handuk yang biasa mereka gunakan untuk mandi dan membersihkan keringat seusai mengikuti senam. Atau olahraga bulu tangkis yang digelar di halaman Haji Aminah pada tanggal merah. Net dibentangkan dari tiang bendera menuju pohon nangka berbuah lebat dan harum. Hajjah Aminah memiliki tiang bendera yang benderanya, merah-putih, akan berkibar setiap Agustus. Sementara Taman Pemakaman Umum Jati tak memiliki tiang bendera. Taman Pemakaman Umum Jati menampung segala jenis mayat. Dari berbagai profesi, suku, usia, dan agama. Saat hidup dan bekerja dengan pekerjaan masing-masing yang dijalaninya, mereka akan berjalan sendiri-sendiri, menelusuri gang sempit hingga jalan besar. Setelah mati, mereka berkumpul di lahan yang sama, menghirup butiran tanah dan bebatuan yang telah berubah wujud menjadi butiran halus. Menghadap ke arah yang sama. Sebagian bertahan dengan papan kayu yang memiliki kayu searah dengan jarak pandangan mata pelayat dan pembersih Taman Pemakaman Umum Jati. Sebagian telah mendapatkan hadiah berupa tembok yang berwujud batu nisan. Semen yang dibuat dengan kesungguhan serta ubin dan marmer yang memerhatikan ukuran. Nama beserta tempat tanggal lahir dirangkai dengan cat hitam yang tak akan mengelupas saat kemarau dan tak akan luntur saat hujan. Ratna akan disapa dengan sebutan Neng jika ia berpapasan dengan istri pelukis cangkang telur. Istri pelukis cangkang telur tersebut memiliki seragam yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan kaus partai politik peserta pemilu. Tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal. Karena ia seringkali membuat pemakainya merasakan panas dan gatal setelah dua jam pemakaian, maka istri pelukis cangkang telur memakai kaus hitam dari bahan katun sebelum mengenakan kaus seragam petugas pembersih Taman Pemakaman Umum Jati. Ia menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk menempuh perjalanan dari halaman rumahnya yang berpagarkan seng dan kayu, melintasi rumah keluarga Wawan pegawai PLN, menyeberangi pacilingan yang airnya telah berhenti mengalir, serta menaikkan untaian dan undakan tangga yang terbuat dari gedebok pisang. Pisang adalah buah yang selalu ada di tiap rumah penduduk kampung Cicukang. Pisang ambon lazim disajikan dalam acara tahlilan, peringatan kematian salah seorang tetua yang menjemput kematian di tempat bekerja. Sawah, ladang, atau kulah. Tempat mereka membersihkan wajah dan tubuh dengan air bening dan bersih yang tak henti mengalir. Meski airnya tak henti mengalir, orang-orang yang tinggal di Kampung Cicukang yang tak memiliki mesin pompa air dan kamar mandinya tak dialiri air dari Perusahaan Air Minum, tak pernah mengambil air dari kulah. Jika mereka, penduduk Kampung Cicukang yang telah tinggal selama bertahun-tahun maupun pendatang ingin merasakan segarnya air kulah, mereka akan membawa tubuh dan diri mereka. Tanpa menyertakan ember, jerigen, dan tangki berbentuk mungil, terbuat dari bahan politik. Begitu pula dengan perempuan-perempuan yang telah berumah tangga sejak usia dua puluhan. Mereka akan pergi pagi, meninggalkan rumah sejak hidangan sarapan pagi tersaji di atas meja makan, untuk merasakan mandi dengan air kulah dan mencicipi pakaian bersih tanpa aroma deterjen karena telah dicuci dan dibersihkan dengan air kulah. Ratna memiliki kebiasaan berziarah tiap Sabtu sore, seorang diri, membawa botol limun yang telah terisi air putih mentah dari keran air di teras belakang rumah ibunya. Saat hujan, bak penampungan air akan terisi penuh oleh air hujan yang perlahan membersihkan segala jenis kotoran yang tertinggal di dasar bak. Termasuk cacing, karet gelang, dan tutup botol sampo. Ratna membeli bunga yang akan digunakannya sebagai aksesoris tanah kuburan ayahnya. Seorang perempuan tua telah menjadikan bunga merah muda dengan kelopaknya yang sebagian masih merah muda dan sebagian telah mengering serta cokelat sebagai sumber mata pencaharian. Bunga-bunga itu dijualnya seharga lima puluh ribu rupiah. Ratna membeli dua pincuk bunga seharga seratus ribu rupiah. Istri pelukis cangkang telur telah tuntas dengan tanah-tanah yang disapunya dengan sapu terbuat dari jerami. Ia membawa pulang kaleng bir, cangkang permen dan cokelat, kondom, dan selebaran perumahan yang belum tuntas dibangun. Ratna berujar bahwa ia akan menghabiskan petang harinya dengan membacakan surah Yasin untuk ayahnya yang kafir. Lagipula ia telah menuntaskan semua Pekerjaan Rumahnya. Pun membantu ibunya memasak kangkung tumis, perkedel tempe, dan sapi semur. Ibunya acapkali memintanya untuk memarut kelapa demi menghasilkan santan yang kental dan bersih dari jamahan pedagang kelapa di pasar. Setelah tuntas memasak dan hidangan makan tersaji di meja, Ratna akan meninggalkan rumah untuk berziarah ke makam ayahnya. Ibunya kerapkali bertanya apakah ia membutuhkan payung hanya untuk musim hujan dan kemarau panjang. Angin begitu semilir, burung-burung berterbangan menuju atap rumah seorang janda yang tak henti-hentinya mengoleskan cat kuku berbagai warna dan corak ke permukaan kuku. Matahari tinggal tersisa seperempatnya. Ratna membacakan doa dan surah Yasin tanpa menyisipkan pertanyaan tentang sampai atau tidaknya doa. Di muka pintu Taman Pemakaman Umum Jati yang belum memiliki grendel kunci dan seorang penjaga, Ratna berjumpa dengan Bahrudin pegawai marketing perumahan. Ia, pegawai perumahan tersebut berkata bahwa orang-orang yang tinggal di sekitar Taman Pemakaman Umum Jati telah mengajukan permohonan untuk memiliki rumah di kawasan perumahan tersebut. Cicilannya murah, hanya satu juta rupiah per bulan. Mereka yang tak terbiasa bertransaksi dengan pegawai bank, akan menggunakan jasanya untuk melakukan transaksi pembelian dengan cara mencicil melalui dirinya. Berbekal Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga berusia lebih dari dua puluh tahun, mereka telah mendapatkan pengabulan atas pengajuan kredit kepemilikan rumah. Lima tahun setelah ziarahnya pada Sabtu petang, orang-orang yang mayoritas adalah pekerja pabrik handuk dan pekerja pabrik seragam sekolah tersebut akan mendapatkan rumah berukuran 36 meter, dua kamar, satu kamar mandi dengan pintu belakang. Mereka akan mendapatkan tanah sisa yang cukup untuk ditanami pohon cabai, terung hijau, dan kangkung yang mula-mula ditanam dalam kaleng cat yang tak terpakai.