Paraji

Eka Retnosari
Chapter #20

Kaleng Cat di Kawasan Perumahan

Sebagian kaleng cat tersebut bertebaran di kawasan perumahan yang sebagian telah ditanami. Pohon cemara setinggi dua meter. Ratna menerima lembaran brosur dan kelak meninggalkan dua helai dari tiga helai yang diberikan ke halaman rumah pelukis cangkang telur. Sambil lalu, dengan aroma bunga di hidungnya, Ratna berpapasan dengan kendaraan-kendaraan yang seluruh kacanya berwarna hitam. Ratna tiba di teras rumah ibunya saat azan Magrib berkumandang. Kakak lelakinya, Hidayat juara catur berganti pakaian. Semula celana kemudian kain sarung kotak-kotak, Cap Gajah Duduk. Hadiah dari Marni, perempuan pemilik toko material yang kerap menggunakan jasanya untuk mengantarkan barang-barang dan bahan-bahan material yang dipesan oleh pemilik rumah yang sedang melakukan renovasi atas rumah yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun. Pun kepada pemilik rumah baru yang belum puas dengan rumah yang masih dicicilnya. Istri Hidayat juara catur, yaitu Arni Ratna Dewi tidak menunaikan salat Magrib. Namun, tidak pula mendahului para penghuni rumah untuk melakukan makan malam. Ia akan memasuki dapur, memindahkan piring dan gelas kotor ke bawah keran untuk kemudian membersihkannya dengan busa sabun colek dan obrolan tentang kandungannya yang telah memasuki usia enam bulan. Ibu Ratna akan menimpali obrolan dengan barang-barang, perabotan dapur yang tak tuntas ditatanya. Semula dalam rak kemudian permukaan meja dapur lalu bagian dalam mangkuk plastik besar yang dibelinya dari seorang pedagang keliling yang acapkali menawarkan pembelian perabotan dengan cara mencicil. Sementara Ratna memutuskan untuk tak memajang brosur tersebut di permukaan dinding ataupun permukaan meja. Ia mengisi waktu Magribnya dengan menunaikan salat Magrib seorang diri kemudian membaca Al-Qur’an bersampul hitam tebal, hadiah dari Hidayat juara catur. Saat tak didera rasa lelah dan kantuk, Ratna akan mengaji sebanyak dua juz Al-Qur’an. Sementara saat tak didera rasa lelah dan kantuk, Ratna akan mengaji sebanyak satu juz Al-Qur’an. Saat lelah dan kantuk, Ratna hanya menghabiskan setengah juz Al-Qur’an saja. Selebihnya, ia menghabiskan waktu dengan menulis puisi, membaca novel, dan merapikan deretan buku. Sambil tak lupa mengingat perbedaan lembaran kulit singkong berbentuk lembaran dengan daun singkong berbentuk bola. Ratna terlelap di salah satu sofa ruang tamu pada salah satu hujan yang gaduh, jatuh di permukaan seng. Ketika terlelap, ia bermimpi melihat dirinya dan ibu yang melahirkannya. Tubuhnya mengecil dan memendek, lebih muda dari usia yang sebenarnya. Begitu pula dengan ibunya yang tampak lebih muda. Berambut ikal bergelombang, tanpa ikat rambut dan penjepit rambut. Ibu Ratna memangkas pakaian hangat berbentuk jaket dengan kancing besar yang tidak ditautkan. Ibu Ratna memakai celana panjang bahan hitam dan selop serupa perempuan Tiongkok. Dalam mimpinya, Ratna adalah anak semata wayang. Satu-satunya sehingga seluruh bagian rumah dapat dikuasainya. Ratna bermain boneka kain di ruang tamu berbentuk rumah Jepang yang masing-masing berderet, berjajar, tanpa kegaduhan dari telapak kaki dan radio seorang tua yang kesepian. Ibu Ratna tinggal di dapurnya yang tak berjarak jauh dengan ruang tamu. Asap mengepul dari salah satu wajan serta panci yang berusaha keras mematangkan sayur lodeh. Ratna kemudian membuka pintu rumah dan mendapati angin yang semilir menyelinap. Ia terbangun oleh tawa mahasiswa Pendidikan Geografi yang ramai melontarkan candaan tentang undak unduk basa dengan anak-anak penduduk berusia delapan hingga dua belas tahun. Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia tersebut telah menghabiskan bulan pertamanya melalui masa KKN, Kuliah Kerja Nyata. Ia bersama mahasiswa lain yang berlainan jurusan tinggal di rumah-rumah penduduk yang dipercaya dapat mendatangkan kebaikan.              

Mahasiswa Pendidikan Sejarah tinggal di rumah pemilik bebek dan kerbau, yaitu Jana yang menikah dengan seorang perempuan Sunda yang wajahnya tampak seperti orang Turki yang tinggal di perdesaan dan memiliki kebiasaan memetik daun anggur. Mahasiswa Pendidikan Matematika tinggal di rumah Udan, satpam, penjaga keamanan senior yang menambah penghasilannya dengan berdagang bakso bondon. Bakso bondon terbuat dari tepung terigu dan tepung aci. Tapioka yang dicampur dengan lemak sapi dan sesekali diberi isian ikan asin yang diblender setelah direndam dalam genangan air bersih selama dua jam. Waktu petang dan malam hari sesudah Isya adalah waktu paling tepat untuk mahasiswa Pendidikan Matematika melakukan pendampingan. Sesekali ia akan membantu Udan mencetak puluhan pentol yang akan diedarkan pada pagi hari. Di sepanjang rumah-rumah penduduk kampung Cicukang, lintasan jalan besar yang dilalui oleh kendaraan umum, namun lebih sering sepeda motor. Mang Ujang, lelaki berkumis tebal, pemakai celana jins dan kaus polo yang beruntung karena mendapatkan kepercayaan mengelola dan memasarkan pentol-pentol tersebut di halaman belakang Sekolah Dasar Negeri. Di depan pagar, di samping Sekolah Taman Kanak-kanak, berebut pembeli dan pelanggan. Mahasiswa Pendidikan Sejarah tinggal di rumah Ceu Ilot yang bekerja sebagai penimbang badan dan pencatat tinggi badan serta berat badan bayi dan balita serta memasak bubur kacang hijau untuk dibagikan setelahnya. Ceu Ilot memiliki seorang suami yang tak gemar berkata-kata. Pagi hari, seusai mandi pagi dan menikmati tembakau di teras rumah, suami Ceu Ilot akan menyapa ternak-ternaknya dan dua petak sawah. Pada akhir tahun, sebelum mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia menempati salah satu kamar bertirai kain dan memiliki meja kayu jati serta meja rias yang memiliki cermin setinggi setengah dari tubuhnya, suami Ceu Ilot telah membuat sebuah saung. Rumah mungil di tepi sawah yang dapat dijadikannya sebagai tempat beristirahat setelah menemani seekor kerbau membajak sawah. Sementara Jana memiliki puluhan bebek dan belasan kerbau, suami Ceu Ilot merasa cukup dengan satu ekor kerbau berukuran besar yang akan menemaninya pulang sebelum Magrib. Kerbau milik suami Ceu Ilot berdampingan dengan kerbau-kerbau Mang Jana. Tengah hari, mahasiswa Pendidikan Sejarah akan mengantarkan tiga tumpuk rantang berisi makan siang suami Ceu Ilot. Nasi yang dimasak dalam panci, tanpa penanak nasi dan pemanas nasi yang panasnya dihantarkan oleh listrik. Ketika suami Ceu Ilot memasukkan nasi putih hangat beserta jengkol dan tempe goreng, sambal terasi dan kerupuk Black ke dalam rongga mulutnya, ia dapat merasakan asap dan daun pisang yang masih tinggal serta melekat dalam setiap butiran nasi. Ceu Ilot selalu menggunakan daun pisang sebagai penutup panci atau dandang yang digunakannya untuk memasak. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda tinggal di rumah Wawan pegawai PLN. Wawan memiliki istri yang tinggal di rumah. Kesibukan sehari-harinya adalah memasak, belajar menjahit pakaian serta merajut pakaian hangat yang kelak akan dipakai oleh Wawan dan anak perempuannya jika ia memiliki benang wol yang melimpah, melebihi jumlah bawang merah dan bawang putih di ruang dapur. Pada waktu Magrib dan Isya, istri Wawan beserta anak perempuannya, yaitu Nengsih akan mendatangi masjid untuk melaksanakan ibadah salat Magrib dan Isya berjemaah. Keduanya merupakan jemaah tetap pengajian ibu-ibu yang rutin digelar tiap minggu pagi. Istri Wawan dan anak perempuannya akan mendatangi pengajian setelah menyapu seluruh permukaan lantai rumah, mengelap kaca jendela, dan mengepel setiap ubin hingga meninggalkan aroma cemara tak hanya di permukaan. Sari yang merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda tersebut akan membantu keluarga Wawan, menyiangi daun sayuran yang akan dimasak serta berbelanja benang wol di deret pertokoan yang bersampingan dengan pasar dan toko buku penjaja majalah dan surat kabar. Pun membelanjakan seratus ribu rupiah di kantung jas almamaternya untuk membeli jarum dan strimin agar waktu malam hari setelah salat Isya, tak sepi dari obrolan mengenai pakaian hangat dan tusuk jelujur yang membentuk tubuh seorang anak Sekolah Dasar bertopi merah lebar. Sari, mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda tinggal dalam kamar yang sama dengan Nengsih. Nengsih tak terlalu suka berbicara. Namun, tiap kali Ramadan, Nengsih menjadi pemenang pertama lomba meletakkan sajadah di permukaan lantai masjid. Sementara jemaah lain akan didera kebingungan karena tak mendapatkan lahan dan ubin untuk melaksanakan ibadah salat Magrib berjemaah. Nengsih dan ibunya akan mendapatkan pahala salat Tarawih dengan tenang dan nyaman, seusai meninggalkan bentangan sajadah tersebut selama satu jam atau empat puluh menit. Rama, mahasiswa yang gemar tertawa dan melontarkan lelucon adalah mahasiswa Pendidikan Geografi yang mendapatkan keberuntungan karena tinggal dalam atap yang sama, rumah yang sama dengan Kiai Undi. Kiai Undi memiliki raut wajah mirip orang Jepang. Bermata sipit, berkulit putih, dan bekerja keras setiap hari. Ketika pertama kali menjadi pengajar baca dan tulis Al-Qur’an, Kiai Undi menghabiskan waktu untuk bekerja selama sepuluh jam per hari, Senin hingga Minggu. Tanpa hari libur dan jeda untuk tamasya dan melakukan kunjungan ke rumah-rumah. Memasuki usia tujuh puluhan, Kiai Undi mengurangi jam kerjanya dan akhirnya menyadari bahwa ruang kamar dan ruang tamunya selalu tampak bersih, rapi, dan wangi. Begitu pula dengan kamar mandi dan teras rumah. Kiai Undi beristrikan seorang perempuan baik, taat, dan bersahaja bernama Ummah. Ummah pun memiliki mata sipit dan kulit putih serupa porselen Tiongkok. Setiap hari, Ummah selalu mengaji. Membaca berlembar-lembar halaman Al-Qur’an serta membaca terjemah dan tafsir setelahnya. Kiai Undi tak memiliki televisi. Namun, ia memiliki tiga buah sepeda motor yang merupakan hadiah, pemberian dari salah satu keponakan yang adalah seorang lelaki berkumis tebal. Serupa kumis orang Turki dengan rambut bergelombang serupa gulungan ombak Pantai Pangandaran.              


Lihat selengkapnya