Kiai Undi memiliki seorang anak perempuan bernama Dedeh. Dedeh meski memiliki mata sipit, tak tampak seperti orang Jepang. Kulitnya berwarna sawo matang, tubuhnya setinggi Nengsih. Pada usia tujuh tahun, Ummah memakaikan jilbab dan kain kerudung untuk menutupi rambut lurusnya beserta poni yang rimbun serta sepasang kaki yang saat itu belum berwarna sawo matang. Ia mengikuti Taman Pendidikan Al-Qur’an yang dikelola oleh ayahnya, Kiai Undi. Kiai Undi mengajarinya cara membaca Al-Qur’an dan menghafalkan juz 30 beserta terjemahnya. Satu minggu sebelum Idul Fitri, pada Minggu Ramadan, Dedeh beserta anak-anak seusianya mengikuti lomba membaca Al-Qur’an dan hafalan Al-Qur’an juz 30 yang saat itu berlangsung di halaman Masjid An-Nur. Dedeh menjadi juara pertama. Mendapatkan hadiah berupa buku tulis dan pensil, piagam penghargaan bertuliskan namanya dan sebuah piala yang dapat dibawa pulang. Dedeh yang saat itu memiliki seragam warna pepaya muda yang belum dipetik dan dihidangkan pada acara memakan rujak bersama, seperti arisan dan semacamnya, naik ke panggung dengan kepala ditekuk dan wajah serta mata terpaku pada kain abu-abu tebal yang menutupi permukaan panggung. Di luar dugaannya, pembawa acara mengumumkan bahwa selain perlombaan membaca Al-Qur’an dan menghafalkan juz 30, setiap siswa yang mengikuti pendidikan di Masjid An-Nur juga mendapatkan peringkat berdasarkan kehadiran dan peningkatan kemampuan. Dedeh menduduki peringkat pertama. Pengumuman di atas panggung tersebut merupakan kejutan yang membuat wajahnya memerah dan kepalanya semakin tertunduk. Dedeh membawa pulang tiga piala berukuran kecil, tiga sertifikat, dan tiga pak buku tulis. Karena berat, Ummah membantunya membawakan tiga pak buku dan dua buah piala. Sesampainya di rumah, Dedeh memajang piala-piala tersebut di atas meja belajar. Kiai Undi memasangkan bingkai bagi tiga helai piagam Dedeh setelah membelinya di deret tempat fotokopi dan penjilidan makalah di Jalan Suka Asih. Jalan Suka Asih terletak di samping Jalan A.H. Nasution yang melabuhkan angkutan umum jurusan Cicaheum-Cileunyi ke kawasan Alun-alun dan pasar serta Masjid Raya Ujung Berung. Satu minggu setelahnya, Dedeh mendapatkan hadiah atas perjuangannya mempelajari Al-Qur’an, yaitu jalan-jalan ke Pangandaran, makan di restoran yang menjadikan ikan gurame sebagai hidangan utama, serta berenang di kolam renang hotel tempatnya menginap selama dua hari. Rama, mahasiswa Pendidikan Geografi melakukan hal yang sama selama menempuh masa Kuliah Kerja Nyata. Mengajarkan cara membaca Al-Qur’an dan menghafalkan juz 30. Kiai Undi mendapatkan tidur siang selama dua jam dengan dengkuran halus yang tak membangunkan Ummah yang juga melakukan hal yang sama setelah lelah membaca tafsir Al-Qur’an. Karena Kiai Undi memiliki lantai rumah yang sunyi dan selalu bersih, maka Rama memilihnya sebagai tempatnya melakukan tidur malam. Permukaan lantai rumah Kiai Undi terbuat dari semen yang dilapisi aci sehingga jika ia rutin dibersihkan dua kali sehari, akan dapat memantulkan wajah penghuninya. Pada zaman dahulu, ketika Dedeh masih berusia tujuh tahun, anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an akan mempelajari Al-Qur’an melalui Mushaf yang dikemas per satu juz. Setiap juz dibedakan berdasarkan warna. Warna hijau untuk juz 30, warna kuning untuk juz 29, dan warna merah untuk juz 28. Meski berbeda warna, mushaf-mushaf tersebut memiliki lembaran yang sama. Cokelat dengan tinta hitam menggumpal dan tebal. Di bagian awal mushaf, terdapat halaman berisi barisan huruf hijaiyah. Huruf hijaiyah yang belum mendapatkan garis fathah, kasrah, dan dhammah di kotak pertama dan huruf hijaiyah yang telah mendapatkan garis fathah, kasrah, dan dhammah di kotak kedua. Alif, ba, ta, tsa, dan seterusnya. Kemudian a, i, u, dan seterusnya. Dilanjutkan dengan tanwin seperti an, in, un, dan seterusnya. Setelah halaman-halaman pengenalan, siswa Taman Pendidikan Al-Qur’an akan mendapati halaman Al-Qur’an surat Al Fatihah dan Al Baqarah. Mushaf tersebut merupakan Mushaf juz pertama bersampul biru. Seluruh penduduk Kampung Cicukang adalah penggemar warna biru sehingga jika mereka dihadapkan pada pilihan di antara dua, hijau dan biru, mereka akan memilih biru. Biru di sebagian pagar, gapura, dan tong tempat sampah umum seperti biru pada tangki air yang saat itu masih rutin mendapatkan pengisian dan pemindahan secara berkala. Pada masa Kuliah Kerja Nyata yang dilaluinya, Rama mendapati anak-anak yang telah membawa hafalan dan kemampuan membaca Al-Qur’an, sejak langkah kaki mereka meninggalkan rumah. Ransel mungil di punggung mereka memiliki buku IQRA 1 hingga 6 yang membuat mereka lebih mudah dan cepat dalam membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Meski begitu, rak kayu di sudut masjid serta lemari kaca di dinding belakang masjid masih menyimpan mushaf per juz yang pernah digunakan Dedeh untuk menghafalkan. Mushaf-mushaf tersebut bersanding dan berdampingan dengan mushaf Al-Qur’an zaman Kiai Undi yang seluruh lembar dan halamannya berwarna kuning. Huruf Arab gundul, tanpa terjemahan, serta tanpa sampul depan dan belakang. Pun buku panduan salat dengan sampul muka seorang lelaki tinggi, tegap, berkemeja, dan bercelana ketat. Lelaki tersebut memakai ikat pinggang yang tak terlalu besar, tak terlalu kecil. Kepalanya ditutupi peci hitam setinggi gambar Kabah yang menghiasi sudut kalender Nahdatul Ulama yang dibawa pulang salah seorang anak penduduk kampung Cicukang yang tak selalu biru, tak selalu nasi, dan tak selalu sepak bola. Pada halaman-halaman selanjutnya, lelaki tinggi tegap berpakaian ketat tersebut akan mengisi berlembar-lembar halaman panduan salat fardu. Berdiri tegap menghadap kiblat dengan mata terpaku pada ujung sajadah bergambar kubah masjid. Satu gambar dalam kotak persegi panjang, bersisian dengan keterangan panduan salat. Pun bacaan yang ditulis dengan huruf Arab berukuran besar, tinta tebal, dan sebagian kehilangan tanda fathah, dhammah, dan kasrah. Huruf-huruf Arab tersebut kemudian ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia yang diikuti dengan terjemah dalam bahasa Indonesia. Sementara panduan bagi pelaksanaan salat jenazah dan salat bagi ia yang sedang jatuh sakit, disajikan dalam gambar seorang lelaki berpakaian koko dan kain sarung kotak-kotak bergaris. Wajah penuh kerut, mata tertutup rapat, rambut terselip di samping kedua daun telinga. Kepalanya direkati peci hitam yang tampak lumayan tinggi. Untungnya, ia tak memakai kaus kaki. Lelaki sakit dalam gambar tersebut duduk di atas sajadah yang terbentang. Pandangan dan matanya tertunduk ke bawah, ke ujung sajadah. Jika rasa sakit telah menelan segala macam kekuatan, maka ia dapat melaksanakan ibadah salat dengan cara berbaring di atas tempat tidur. Tubuh yang dimiringkan ke arah kiblat dan seterusnya. Anak-anak yang menempuh pendidikan Al-Qur’an pada sore hari, selepas Asar, biasanya akan menjadikan ruangan lantai pertama Masjid An-Nur sebagai tempat bermain. Di atas karpet berwarna hijau, bergambar kubah masjid warna kuning, tak jauh dari mimbar tempat Kiai Undi menyampaikan khutbah Jumat ataupun kuliah Subuh pada waktu pagi, setelah memimpin salat Subuh berjemaah. Kiai Undi selalu tiba di masjid sekitar pukul empat sore, setelah melalui waktu tidur siang tanpa gangguan dan mandi sore yang menyegarkan. Ummah selalu menyiapkan kain sarung yang sama. Kotak-kotak bergaris biru tua dan biru muda. Pakaian koko putih di atas sarung serta jas hitam yang setiap kancingnya tidak ditautkan. Dua tahun sebelum pergantian baligo Pemilihan Umum, rumah Kiai Undi didatangi oleh salah seorang keponakannya. Keponakan Kiai Undi yang adalah seorang lelaki tersebut menempuh pendidikan agama Islam di Tasikmalaya, di sebuah pesantren khusus lelaki. Keponakan Kiai Undi tersebut bernama Sobar Hidayat, berusia tiga puluh empat tahun, menghafal tiga puluh juz Al-Qur’an, serta telah memiliki penghasilan tetap sebesar dua juta rupiah per bulan.