Paraji

Eka Retnosari
Chapter #22

Juz Terakhir dalam Al-Qur'an

Kiai Undi memiliki penghasian tetap sebesar dua juta rupiah per bulan. Kiai Undi memiliki tiga orang keponakan yang terdiri atas dua lelaki dan satu perempuan. Sobar Hidayat setelah menuntaskan juz terakhirnya memutuskan untuk pulang ke kota kelahirannya, meninggalkan tambak udang dan kolam ikan emas untuk memulai kehidupan rumah tangga dengan salah seorang perempuan penduduk Kampung Cicukang. Keponakan Kiai Undi yang juga adalah seorang lelaki, sedang menempuh masa usia bekerja. Pada usianya yang menginjak tiga puluh enam, ia telah menempuh usia bekerja. Pada usianya yang menginjak tiga puluh enam, ia telah memiliki penghasilan di atas lima juta rupiah, yaitu lima belas juta rupiah per bulan. Keponakan Kiai Undi tersebut bernama Osad, telah hampir enam tahun lamanya, ia bekerja di Malaysia. Osad tidak terlalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kitab, maupun rutinitas yang mengaitkannya dengan pena, rutinitas Subuh, dan malam panjang berisi pembacaan lantunan ayat Al-Qur’an. Osad memiliki kegemaran melakukan dan mencoba segala macam alat kebugaran yang sebelumnya belum pernah ditemukannya ketika menempuh pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Bandung. Osad tampak seperti seorang binaragawan ketika pada salah satu perayaan Idul Fitri, ia mengunjungi Kiai Undi dan Ummah dengan membawa uang tabungan sebesar dua puluh lima juta rupiah yang kemudian dapat digunakan oleh Kiai Undi untuk membeli dua petak sawah yang tanahnya masih gembur beserta bibit padi yang telah siap untuk ditanam di dalamnya. Sementara Sobar Hodayat lebih memilih kamar sebagai tempatnya beristirahat, Osad akan menghabiskan waktu liburnya dengan mengunjungi tiap rumah yang berderet, mulai dari gapura 17-8-1945 hingga Masjid Jami Al Hidayah yang terletak di ujung perkampungan, setelah dipisahkan oleh dua warung yang menjajakan barang-barang dagangan yang sama. Bahan-bahan mentah untuk dimasak seperti bayam, kangkung, tomat, tempe, kacang panjang, dan oncom. Kerupuk kemasan satuan seharga dua ribu rupiah dipajang di bagian depan warung. Ditempatkan dalam kemasan plastik bermerk yang dicetak di atas sehelai kertas tipis berukuran lima kali tiga sentimeter. Sementara limun, Chicki Ball, dan biskuit cokelat berisi lima keping ditempatkan di bagian kiri meja. Kepala keluarga, istri, dan anak-anak mereka telah siap untuk bersalaman dan menerima uluran amplop berisi uang pecahan seratus ribu rupiah. Sehelai uang seratus ribu rupiah terbaur, berwarna merah muda, tanpa jejak sidik jari sopir bus kota ataupun daki seorang kernet truk antarkota antarprovinsi. Lembaran yang tersimpan dalam amplop berperekat tiba di setiap genggaman tangan penduduk kampung Cicukang. Sebagian menanyakan kabar, apakah ia terkena flu, sakit, atau cedera selama menghabiskan waktu di Malaysia. Sebagian menanyakan kepemilikan pacar atau istri, tunangan, status, dan semacamnya. Salah seorang ibu berusia enam puluhan yang merupakan personel pengajian ibu-ibu pada waktu petang, Kamis, setiap Minggu, akan memeriksa jemarinya. Memastikan ketiadaan cincin di salah satu jemari sambil menceritakan salah seorang perempuan yang disebutnya sebagai kerabatnya. Salah seorang perempuan yang juga gemar mengaji dan baru saja memasuki usia tujuh belas. Meski belum berjilbab, perempuan tersebut telah memiliki kemampuan menata rumah, mencuci piring, menyetrika pakaian, dan memandikan bayi. Sambil melipat kedua tangannya, Osad berkata bahwa ia belum siap berumah tangga. Rumah tangga baginya seperti berbelanja miliaran bata merah dan berkarung-karung semen. Dengan pekerjaan yang dimilikinya serta besaran gaji yang diterimanya setiap bulan, Osad baru sampai pada tahap menanam padi dan mempelajari bibit yang satu dengan bibit yang lain. Di rumah sebuah keluarga yang memiliki anak kecil di bawah lima tahun, Osad akan menyempatkan diri untuk menimang anak tersebut. Mengangkatnya di salah satu lengan hingga anak tersebut menyadari bahwa lengan Osad tampak seperti sebuah siku-siku. Ia bergelantungan di lengan Osad seperti salah seorang pemain sirkus. Usai berkeliling ke setiap rumah dan menyalami mereka dengan meninggalkan amplop putih, Osad akan menghampiri Masjid Jami Al Hidayah. Di samping Masjid Jami Al Hidayah, terdapat sebuah bedug berkulit kerbau berusia paling tua. Kerbau tersebut disembelih ketika Osad sedang mengikuti kursus komputer dan bahasa asing di sebuah lembaga yang berlokasi sekitar enam kilometer dari rumah Kiai Undi. Osad mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Tiongkok selama satu tahun dan sangat berbahagia ketika ia mendapatkan sertifikat yang dapat dilampirkannya ketika ia mengajukan lamaran pekerjaan ke sebuah pabrik di Malaysia. Masjid Jami Al Hidayah dikelola oleh Dewan Keluarga Masjid yang dipimpin oleh Ustaz Dedi.                                                                              

Ustaz Dedi memiliki tempat tinggal di samping Masjid Al Hidayah. Ia memiliki seorang istri bernama Lilis yang kesibukan sehari-harinya adalah merawat seisi rumah, pekarangan dan pagar kayu, serta menyiapkan keperluan suami dan kedua anaknya. Ustaz Dedi dan Lilis memiliki dua orang anak lelaki yang berselisih usia sekitar dua tahun. Kedua anak lelaki Ustaz Dedi menyambut kedatangan Osad dengan jamuan di atas meja kayu yang terbuat dari susunan dan anyaman bambu. Di atas meja tersebut terhidang ubi, kacang tanah rebus, dan ciu. Hidangan tersebut dibeli dari seorang pedagang bandrek dan bajigur yang seringkali beredar pada sore hari menjelang Magrib. Atep adalah anak pertama Ustaz Dedi. Berusia dua puluh empat tahun, telah menikah, dan telah memiliki penghasilan dari toko beras yang dikelolanya. Orang-orang yang tinggal di rumah-rumah Kampung Cicukang sangat menggemari beras pandan wangi daripada beras lainnya. Meski mereka lebih sering membeli beras eceran seperti beras satu kilogram, lima ratus gram, dan dua ratus lima puluh gram, Atep selalu melayani setiap pembeli yang datang dan menambah bonus pembelian dengan senyuman dan sapaan jenaka seperti ketika ia menyapa ibunya, yaitu Lili. Sementara adiknya, yaitu Sandi, adalah salah satu di antara banyaknya pedagang nomor perdana, pulsa, dan telepon genggam bekas pakai. Seperti Atep, Sandi pun telah berkeluarga. Menikah dengan teman sekolahnya ketika menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas dan telah memiliki satu orang anak lelaki berusia satu setengah tahun. Toko nomor perdana dan pulsa tersebut berdampingan dengan toko beras yang dikelola oleh Atep. Saat mereka berhadapan dengan orang-orang yang berhutang, keduanya akan selalu mempersilakan sambil tak lupa mencatat setiap nama, barang, jumlah, dan harga yang kelak harus mereka bayarkan pada tanggal yang telah mereka janjikan. Orang-orang yang berhutang tersebut akan membayar dengan jumlah yang sama. Jika mereka berhutang sebanyak lima puluh ribu rupiah, maka harga yang sama pula yang harus mereka bayarkan. Sementara cicilan untuk sepuluh kilogram beras yang diajukan oleh seorang kepala keluarga beristri satu dan beranak empat, biasanya memiliki tanggal jatuh tempo. Penghutang boleh mencicil sepuluh kilogram beras selama enam bulan. Bagi pembeli beras yang terbiasa membeli beras tanpa menambahkan gelar gharimin di belakang namanya, Atep akan memberikan hadiah berupa penyebutan nama dalam sesi pembacaan doa seusai menunaikan salat berjemaah di masjid. Ia akan memberi tahu Ustaz Dedi bahwa nama-nama yang ia tulis di secarik kertas adalah nama orang-orang, pembeli beras, yang tak berhutang. Ustaz Dedi kemudian menyebutkan nama-nama mereka dalam sesi pembacaan doa yang setiap lafaznya diaminkan oleh jemaah salat fardu berjemaah. Baik Atep ataupun Sandi memuji hasil kerja keras Osad atas tubuhnya yang semakin tampak sehat dan sawah-sawahnya yang tetap terpelihara meskipun ia tak selalu pulang kampung. Osad membalas pujian keduanya dengan pujian yang sama. Bahwa keduanya telah menjadi anak yang salih, bapak yang baik bagi anak-anaknya, dan pedagang yang jujur. Atep dan Sandi masih tinggal satu rumah dengan ayah dan ibu mereka. Saat senggang, Sandi akan menanami pekarangan rumah dengan biji cabai hingga tanaman cabai tumbuh subur dan melahirkan cabai-cabai. Sementara Atep akan menemani setiap tanah dalam kaleng cat dan kaleng susu formula dengan biji kacang yang pertumbuhannya sedikit terhambat pada musim kemarau. Kaleng-kaleng cat dan kaleng susu itu kemudian digantung di halaman yang memiliki atap dengan tepian bersudut empat. Atep dan Sandi berkata kepada Osad bahwa ia telah memesan empat gelas bandrek. Bandrek tersebut dituang oleh pedagang bajigur ke dalam gelas kaca sekitar tiga puluh menit sebelumnya, sebelum kedatangan Osad. Osad kemudian berkata bahwa ia tak begitu menggemari bandrek, terlebih pada musim kemarau. Bandrek dengan parutan jahe dan kelapa hampir tak pernah ditenggaknya selama ia bekerja di Malaysia. Karena cuaca panas, Osad lebih sering minum minuman bersoda yang telah disimpan lama dalam lemari pendingin serta mendapatkan tambahan es batu. Atep kemudian tertawa dan berkata bahwa ia tak membeli minuman bersoda. Rumah Ustaz Dedi bersampingan dengan rumah warung terakhir di ruas jalan yang memisahkan rumah kontrakan dengan jemaah salat fardu berjamaah Masjid Jami Al Hidayah. Osad kemudian berkata bahwa ia hendak memilih jalan pulang yang berbeda dengan jalan sebelumnya. Pulang ketika ia mendatangi rumah-rumah penduduk kampung Cicukang. Semula, ia berjalan kaki, melewati roda tempat suami Ceu Ilot berdagang bakso tusuk yang kemudian disusul oleh roda serupa oleh Mang Ujang, lelaki berkumis yang juga pandai membuat bakso, kemudian menaiki tangga, menelusuri gang yang memisahkan dua buah rumah, yaitu rumah Pak Dadang dan rumah Kodiron, pegawai PT Pindad yang baru saja menikah dengan seorang perempuan yang dikenalkan oleh teman kuliahnya ketika mereka sama-sama menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Osad sempat bersalaman dengan Kodiron yang sedang dalam perjalanan dari pintu tua yang dibelinya seharga enam puluh juta rupiah menuju warung untuk membeli keripik pisang di warung Pak Dadang. Azan Magrib belum berkumandang sehingga Osad tidak memasuki Masjid Jami Al Hidayah. Ia melewati rumah Ustaz Dedi tanpa sempat berjumpa dengan Ustaz Dedi, berbelok ke arah kanan jalan, kemudian menempuh jalan kecil selebar satu meter yang kanan dan kirinya penuh dengan kandang kambing. Osad kemudian melintasi lapangan sepak bola yang terletak di samping kiri jalan, di bawah undakan tangga, di seberang rumah Idrus, seorang penulis novel dan cerita pendek yang sedang menganggur. Idrus petang itu sedang beristirahat, duduk di atas bangku kayu cokelat, menyilangkan kaki, dan memerhatikan Osad dengan dada bidang dan kedua betis yang kali itu tak ditutupi kaus kaki. Osad tak lantas menuruni tangga, cukup dengan menganggukkan kepala dan menempuh perjalanan pulang dengan ramai suara televisi dan radio yang memilihkan lagu-lagu dangdut untuk pendengar.

Lihat selengkapnya