Paraji

Eka Retnosari
Chapter #23

Foto Hitam Putih dalam Bingkai

Keponakan Kiai Undi yang perempuan memiliki wajah dan air muka seperti Ummah ketika ia masih berusia belasan. Ummah dalam foto hitam putih yang dikemas dalam bingkai di ruang tamu, merupakan Ummah berwajah serupa dengan perempuan Turki yang tak menganut paham sekuler. Ummah tak memiliki alis yang rimbun. Begitu pula dengan keponakannya yang perempuan yang bernama Maseriah. Maseriah tinggal di rumah kontrakan Ustaz Dedi, sekitar lima ratus meter dari Masjid Jami Al Hidayah. Bersampingan dengan bak penampungan sampah yang berseberangan dengan lahan luas milik Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga.                           

Maseriah bekerja di pabrik Tomenbo. Maseriah memiliki seragam kemeja cokelat muda dan celana panjang cokelat tua. Topi pet berwarna cokelat dan sepatu keds berwarna putih dan garis merah muda. Dua stel pakaian seragam tersebut digantung di lemari pakaian, dicuci, dan disetrika seminggu sekali bersama pakaian-pakaiannya yang lain. Kiai Undi dan Ummah sesekali dikunjunginya saat ia mendapatkan amplop gaji pertama, kedelapan, keempatbelas, dan seterusnya. Saat Idul Fitri tiba, Maseriah akan membelikan pakaian jadi, mukena berwarna putih, kue kaleng Khong Guan, kue kaleng Astor, wafer Nissin, dan dua botol sirup Marjan. Maseriah berulang kali mengumumkan kepada Kiai Undi dan Ummah bahwa ia tak berencana untuk berumah tangga. Pada malam hari, sesaat setelah ia menunaikan ibadah salat Isya seorang diri di dalam rumah yang dikontraknya seharga tiga ratus ribu rupiah per bulan, sebuah perjalanan pendek ditempuhnya seorang diri. Maseriah mendapatkan undangan untuk mengikuti rapat Karang Taruna di Kantor Kelurahan Bina Harapan. Maseriah yang saat itu belum mengisi perut kosongnya seusai bekerja, berpapasan dengan pengontrak lain. Lelaki tinggi besar dengan tubuh penuh tato tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Riyanno. Riyanno tingggal di rumah yang dikontraknya seharga lima ratus ribu rupiah per bulan. Saat Maseriah dan Riyanno berpapasan, Riyanno sedang dalam perjalanan membeli nasi bungkus di Warung Nasi Ceu Imas yang masih menyisakan lima jenis lauk, yaitu sambal goreng kentang, krecek tumis cabai hijau, ikan mas goreng, dan sambal goreng terung. Riyanno selepas perceraiannya dengan vokalis band kampus yang bermukim di Yogyakarta, memilih Bandung sebagai tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Riyanno meninggalkan Balikpapan, kota kelahiran dan kota tempatnya menempuh pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Maseriah menyapanya dan bertanya tentang seorang anak kecil yang rasa-rasanya seperti pernah dilihatnya ketika sekali waktu melihatnya dari jauh. Saat itu, Maseriah sedang berbelanja minyak kayu putih, pembalut, roti tawar, dan koyo cabai. Riyanno berkata bahwa anak kecil yang dimaksud adalah anak semata wayang. Lelaki, berusia delapan tahun, dan memiliki kegemaran bermain game dan membuat komik. Ia, Riyanno, menyebutkan nama anak lelakinya, yaitu Rebel. Maseriah sempat mengulang nama anaknya sekadar memastikan bahwa nama anak lelakinya adalah Rebel. Riyanno tertawa sekilas, membetulkan letak kacamata berbingkai hitamnya, dan berkata bahwa anak lelakinya memang bernama Rebel. Rebel Agung Pahlevi. Sementara nama belakang ayahnya tidak ia sebutkan. Rebel sedang bermain game setelah mengisi halaman keduapuluhtiga komik yang sedang ditulisnya. Riyanno kemudian memutuskan untuk menyebrang jalan demi bersua dengan pemilik warung nasi yang saat itu sedang ditemani oleh suaminya yang memiliki keyakinan bahwa warung nasinya tak perlu menghidangkan lotek, tumis wortel, dan semur jengkol untuk membedakan dirinya, warung nasinya, dengan warung nasi Hajjah Aminah. Maseriah melintasi warung nasi, berpapasan dengan lelaki penjinjing gitar yang tubuhnya menebarkan harum semerbak parfum seratus ribuan. Lelaki tersebut sedang dalam perjalanan menuju rumah salah seorang kawan lelakinya dengan batang leher ditutupi koyo cabai sebanyak satu lapis. Saat ia melintasi rumah Nia Susanti, ia melihat dua orang lelaki yang adalah kakak beradik. Nia Susanti sedang bertengger di pagar rumah dengan pakaian terusan berwarna merah muda. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Nia Susanti dihamili oleh lelaki yang baru saja bekerja sebagai tentara selama enam bulan. Pacar yang selalu mengajaknya berkencan dengan berjalan-jalan di atas sepeda motornya itu kemudian menikahinya ketika usia kandungannya telah memasuki usia empat belas. Di balik pagar, Nia Susanti melambaikan tangan dan memanggil Maseriah. Maseriah berjalan menghampirinya. Sambil berbisik, Nia Susanti bertanya kepada Maseriah tentang tujuan. Maseriah menjawab bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Kantor Kelurahan Bina Harapan untuk mengikuti rapat Karang Taruna, persiapan acara peringatan 17 Agustus 1945. Nia Susanti kemudian bertanya kepada Maseriah apakah ia tampak cantik. Maseriah kemudian menjawab bahwa ia masih tampak cantik, selalu cantik. Dua orang lelaki kakak beradik yang berdiri di samping rumah Nia Suanti selalu mengisi hari dan waktunya dengan berdiri menatapi orang-orang dan angkutan umum yang berlalu-lalang. Dua lelaki kakak beradik tersebut selalu meneteskan air liur dan menepuk kedua tangannya ke depan dada untuk melindungi tubuhnya dari lemparan batang kayu dan batu yang acapkali dilemparkan anak-anak berusia sembilan hingga sepuluh tahun sepulang menunaikan ibadah salah berjamaah di Masjid Jami Al Hidayah. Nia Susanti kemudian membetulkan letak pakaian yang membalut tubuhnya sebelum seseorang yang disebut sebagai suaminya tiba dengan sepeda motor tanpa nyaring suara knalpot. Kepada orang-orang yang melintasi pagar rumahnya, Nia Susanti selalu menanyakan hal yang sama tentang cantik atau tidaknya wajahnya. Pun suaminya yang adalah seorang tentara, bekerja di luar kota, dan memiliki jadwal kepulangan tiap akhir bulan ataupun sewaktu-waktu. Pada dua tahun usia pernikahannya, Nia Susanti memutuskan untuk tak memiliki anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Nia Susanti kemudian hanya memiliki satu anak. Lelaki yang menikahinya selalu bersikap permisif kepada setiap lelaki yang datang kepadanya untuk mencoba tubuhnya, merasakan seperti apa rasanya berhubungan badan dengan perempuan yang memiliki saudara lelaki terkena gangguan jiwa. Dua lelaki bertubuh tinggi dengan mata mendelik dan sesekali menyelang tersebut adalah saudara lelaki yang dimilikinya. Lelaki-lelaki yang mendapatkan izin untuk menikmati dan mencicipi tubuh Nia Susanti akan datang ke halaman rumahnya pada pukul dua belas malam. Pada pukul dua belas malam, Nia Susanti telah terlelap di atas karpet bersama anak lelakinya yang kepalanya tak pernah lagi ditumbuhi rambut. Televisi menyala di ruang tamu. Nia Susanti dalam lelapnya, tak pernah menyadari bahwa tubuhnya telah dicicipi puluhan lelaki berlainan profesi, usia, dan tempat tinggal. Begitu pula dengan pernikahan diam-diam suaminya di kota Sumedang bersama perempuan di bawah usia tujuh belas dan satu orang perempuan ABG lain di kota Garut. Nia Susanti kemudian ditinggalkan oleh lelaki tentara yang menikahinya untuk selamanya. Lelaki tentara tersebut tak pernah kembali memasuki Jalan A.H. Nasution, kampung Cicukang, terlebih salah satu di antara dua masjid. Masjid Jami An-Nuur dan Masjid Jami Al Hidayah. Setiap malam, setelah memastikan anak lelakinya terlelap di ruang kamarnya yang dibangun dan direnovasi dari uang yang dikirimkan oleh lelaki tentara tersebut, Nia Susanti akan bertengger di pagar rumahnya bersama dua saudara lelakinya yang sekali waktu, pernah meneriakkan semboyan dan semangat keadilan dengan suara maksimal dan lantang di halaman pabrik PT Tomenbo pada 1 Mei. Maseriah kemudian berlalu menuju lokasi tempat rapat akan digelar. Kiai Undi dan Ummah tak mendapatkan surat undangan untuk menghadiri rapat tujuh belasan. Namun, Ramadan yang tiba setiap tahun adalah Ramadan yang sama. Tahun ini, Ramadan akan dilalui dengan kehadiran Sobar Hidayat. Dalam koper yang dibawanya dari Tasikmalaya, terdapat pakaian yang serupa dengan pakaian yang selalu dipakai oleh Kiai Undi, yaitu kain sarung kotak-kotak biru dan jas hitam yang setiap kancingnya tidak ditautkan serta Mushaf tua dengan sampul berwarna hijau tua.                                    

Lihat selengkapnya