Sobar Hodayat telah tuntas dengan hafalan Al-Qur’annya. Ia tengah mempersiapkan Ramadan yang ramai oleh kunjungan ibu-ibu pengajian. Ibu-ibu pengajian tersebut memiliki jadwal mengaji tiap hari Kamis petang, ba’da Asar di ruang utama Masjid Jami An-Nuur. Sementara ibu-ibu yang bertempat tinggal di sekitar rumah Ustaz Dedi, akan mengadakan pengajian setiap Minggu pagi. Pengajian tersebut akan berlangsung selama dua hingga tiga jam. Sobar Hidayat akan menjadi imam salat Tarawih berjemaah, menggantikan Kiai Undi yang telah dilanda penyakit rematik, encok, dan meriang. Ramadan tahun ini, akan diisi dengan menjadi salah satu di antara banyak jemaah yang berlomba untuk menuntaskan rakaat Tarawih dan Witir sejumlah dua puluh tiga rakaat. Biasanya, salat Isya pada malam pertama Ramadan akan berlangsung selama sepuluh hingga dua belas menit. Sementara salat Tarawih akan berdurasi sesingkat pandangan mata dan tolehan kepala Kiai Undi kepada jemaah Masjid Jami An-Nuur. Tahun ini, Masjid Jami An-Nuur memasuki jadwal untuk direnovasi agar pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri dapat lebih khusyuk. Selain itu, jemaah salat Idul Fitri sedang mengalami peningkatan jumlah. Empat jam sebelum pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri, jemaah telah berlomba untuk bangun pagi. Sebelum azan Subuh berkumandang, setelah salat sunat Tahajjud dan Witir dilakukan, jemaah akan meletakkan sajadah di lantai pertama masjid. Di samping teras rumah Wili, salah seorang warga yang sekali waktu, pernah menjadi peserta Taman Pendidikan Al-Qur’an. Ia kemudian menjadi guru Taman Kanak-kanak, tak jauh dari undakan yang memisahkan rumahnya dengan ruas jalan dan tangki air.
Taman Kanak-kanak tersebut dimiliki dan dikelola oleh Pak Koesno. Wili memiliki murid sejumlah lima belas siswa yang akan berdatangan pada waktu pagi dan sepuluh siswa yang akan berdatangan pada waktu siang. Wili memiliki seorang asisten dalam mengajar anak Taman Kanak-kanak, yaitu adik kandungnya yang memiliki hobi dan kegemaran membuat kue tar. Wili merupakan salah satu di antara banyak jemaah yang akan melangkahkan kaki pada pagi hari untuk meletakkan sajadah di permukaan lantai Masjid Jami An-Nuur. Tak jauh dari perkampungan Cicukang dan perumahan baru, yaitu Perumahan Cisaranten terdapat rel kereta yang selalu dilalui oleh siswa yang bersekolah di sekolah swasta. Tak jauh dari Jalan Soekarno Hatta. Rel kereta tersebut kemudian dilalui pula oleh mahasiswa yang menempuh pendidikan di universitas swasta yang berlokasi tak jauh dari Jalan Soekarno Hatta. Menjelang siang, rel kereta akan dilintasi oleh pekerja yang bekerja di kawasan Buah Batu, Cicadas, dan surat kabar Jawa Barat, yaitu Pikiran Rakyat. Aan telah menghabiskan pagi harinya dengan berjalan-jalan pagi daripada bersepeda melintasi rel kereta yang memisahkan penduduk kawasan Guruminda dan Cisaranten. Pada Ramadan, penduduk kampung Cicukang dan Cisaranten akan melaksanakan ibadah dengan menyertakan kompetisi memakan buah. Salah seorang guru senior di Sekolah Dasar, yaitu Bu Elis akan memilih salah seorang siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan. Siswa tersebut merupakan salah satu di antara banyak jemaah yang menghabiskan waktu puasanya dengan menghafalkan juz tiga puluh. Sobar Hidayat menempelkan pengumuman di dinding Masjid Jami An-Nuur tentang perlombaan, kompetisi, dan acara yang akan digelar pada Ramadan. Jemaah yang menunaikan ibadah salat Tarawih berjemaah di masjid selama tiga puluh hari berturut-turut, akan mendapatkan bingkisan lebaran berupa kue kaleng wafer bergambar noni-noni Belanda, sajadah baru bergambar Kabah dan masjid serta warna merah yang melekat pekat. Pun permen Relaxa sebanyak satu bungkus yang berdampingan dengan buah semangka berukuran sedang. Buah semangka tersebut menempuh perjalanan terdekatnya. Setelah dipanen dan dipindahkan ke dalam truk berukuran mungil, semangka-semangka tersebut akan diletakkan di lantai masjid. Jika jumlahnya melebihi, maka semangka-semangka itu akan ditempatkan di halaman rumah Wili guru TK. Jika semangka tersebut telah berpindah ke dalam rumah-rumah penduduk kampung Cicukang, Sobar Hidayat akan memerintahkan salah seorang tetangganya untuk memetik kelapa yang berjajar tak jauh dari kandang kerbau. Mang Jana telah menjanjikan satu ekor kerbau dari banyaknya kerbau yang dimilikinya. Salah satu kerbaunya akan dipotong dan dimasak di dapur Ceu Jua. Ceu Jua biasa menangani sapi, ayam, nangka, dan daun singkong yang tiba di ruangan dapur. Sapi, ayam, nangka, daun singkong, dan terkadang hati sapi dan kepala kambing tersebut akan dimasak selama seharian sebelum akhirnya diedarkan ke rumah-rumah penduduk. Penduduk kampung Cicukang akan melahap hidangan bercampur santan dan cabai merah keriting yang sela-selanya belum dihinggapi ulat dan semacamnya. Mereka, seusai menuntaskan rakaat Tarawih akan menyalakan televisi, duduk melingkar di atas tikar, membuka pintu belakang rumah, dan semakin meyakini bahwa Ceu Jua adalah perempuan penghuni Kampung Cicukang yang pandai memasak. Di televisi, terdapat panggung yang menghadirkan anak-anak peserta lomba membaca dan menghafalkan Al-Qur’an juz 30. Anak-anak berusia sekitar tiga hingga tujuh tahun. Memakai pakaian sponsor, melakukan gerakan yang telah dicontohkan oleh orang tua mereka di rumah dan sepanjang perjalanan menuju panggung. Sebelum memasuki waktu sahur, salah seorang anak perempuan mereka akan menata piring-piring kotor menjadi satu tumpukan kemudian mencucinya satu demi satu. Tak hanya kerbau, penduduk kampung Cicukang juga selalu mendapatkan hadiah berupa sabun colek untuk mencuci pakaian dan piring-piring kotor. Pakaian-pakaian yang semula basah tersebut menempati ruas dan tali yang menghubungkan tiang listrik yang satu dengan tiang listrik yang lain, dinding rumah yang satu dengan dinding rumah yang lain, atap yang satu dengan atap yang lain. Atap yang dijadikan tempat berjemur, memanen sebanyak-banyaknya vitamin D, janda yang baru ditinggal pergi oleh suami keduanya. Atau salah seorang perawan yang telah berencana untuk menjadi pekerja Kantor Kelurahan, memakai seragam yang sama seperti seragam Udan, Tatang, atau Sopian. Namun, mereka adalah penjaga keamanan pintu gerbang yang memisahkan ruas jalan Bina Marga dengan ruas jalan PU. Di sepanjang jalan PU, terdapat sejumlah lahan yang disewa oleh warga Bina Marga yang telah menempati rumah dinas selama lebih dari sepuluh tahun untuk ditanami cabai, tomat, dan daun kemangi. Pada waktu-waktu tertentu, tersebutlah seorang perempuan bernama Idah yang gemar mengisi waktu dengan berjalan kaki. Perempuan bernama Idah tersebut berusia tujuh puluh lima tahun. Ia memiliki dua orang anak lelaki, yaitu Iding dan Idam. Baik Iding maupun Idam, keduanya telah memiliki pekerjaan tetap dan sebuah kendaraan. Mobil carry bekas pakai yang dibelinya seharga enam puluh juta rupiah dari seorang lelaki tua dan Tiongkok yang memperkerjakannya sebagai pengemudi.
Idah, setiap Senin hingga Minggu selalu meninggalkan pintu rumah pada pukul tujuh pagi, berjalan kaki hingga pasar Ujung Berung. Idah meninggalkan rumah mungil berpagar besi yang telah berulang kali direnovasi, diperbaiki, dan mengalami pergantian warna cat. Semula putih, biru muda, abu-abu, kemudian krem. Dengan pakaian berupa blus berenda melingkari leher dan pergelangan tangan, Idah menenteng tas jinjingnya yang pada Selasa dan Kamis akan ia tempatkan di ketiak. Dikepit sebagai pengganjal angin, penahan rasa mual saat angin bertiup lebih kencang daripada musim kemarau yang berlangsung pada 1990-an. Idah yang memakai sandal jepit yang terbuat dari anyaman rotan yang masih saja utuh meskipun aspal, semen, dan bebatuan telah banyak dilampahinya. Pukul sepuluh, Idah akan tiba di pasar Ujung Berung. Memasuki pintu utara pasar sambil melontarkan sapaan dan kisah tentang malamnya yang sudah-sudah. Kepada lelaki berkemeja bahan jins, bersabuk kulit, dan bersepatu kulit, ia akan melontarkan sapaan dan pertanyaan tentang anak dan istrinya yang baru saja terdaftar sebagai murid dan orang tua murid salah satu Sekolah Dasar Negeri di Bandung. Karena Idah mengunjungi pasar setiap hari, maka ia dapat mengingat dan mengetahui nama orang-orang pekerja pasar. Lelaki berpakaian bahan jins tersebut merupakan salah satu di antara banyaknya pedagang emas seperti anting, cincin, dan gelang yang acapkali diantarkan oleh ibu rumah tangga berpakaian keriting atau ikal berombak yang tak pernah melupakan payung dan sepatu kulit perempuan dengan pita beruntai di bagian ujung sepatu. Idah kemudian akan berjalan memasuki pasar, membeli bawang merah dan bawang putih, tak lupa daun bawang setengah kilo ayam, satu kilo ikan kembung, satu bungkus plastik jengkol, tomat, seledri, serta keripik singkong. Salah seorang pedagang kudapan kemudian menyodorkan kacang tanah dan emping melinjo. Idah menepuk bagian tengah dahinya dan teringat bahwa ibu Ratna yang merupakan ibu Hidayat juara catur adalah penggemar kacang tanah dan emping melinjo. Salah seorang anak lelakinya, yaitu Agus, telah meninggalkan rumah pada 1958 untuk bergabung dengan lelaki-lelaki muda yang dipekerjakan sebagai penggali tanah, penemu mata air, serta pembuat banyak sumur yang kemudian digunakan oleh penduduk Indramayu untuk mencuci pakaian dan piring serta memasak bahan makanan berkuah. Agus menjadi anak hilang yang tak dirindukan dan dipertanyakan tentang kepulangan dan semacamnya. Ia menikahi salah seorang perempuan Indramayu bernama Ida yang merupakan anak kedua, anak terakhir dari pasangan suami-istri pemilik sepuluh hektar sawah, pohon kelapa, lima mata air, dua buah truk, satu buah gudang penyimpan padi dan kelapa, serta hewan-hewan yang ranum ketika diternakkan seperti kambing dan sejumlah unggas. Agus tak pernah berjumpa dengan Osad ketika Osad menghabiskan waktu liburan di kampung halaman. Setelah berbelanja Pasar Ujung Berung, Idah menyempurnakan waktunya dengan membeli minyak goreng curah. Minyak goreng yang permukaanya tampak kuning terang dan berwarna putih serupa endapan di bagian dasar. Minyak goreng curah tersebut dikemas dalam kemasan plastik seukuran satu per empat, diikat dengan menggunakan karet berwarna merah. Idah membeli minyak goreng curah tersebut sebanyak empat bungkus. Empat bungkus minyak goreng menempati bagian atas tas kepit yang dijinjingnya dan sesekali dikepitnya sepanjang perjalanan Ujung Berung, menuju Jalan Cicukang. Setelah melintasi kawasan Zipur, Idah yang tak juga merasa lelah akan berbelok ke arah kiri jalan. Melintasi deretan tukang ojek yang memiliki pelanggan berupa pelajar Sekolah Dasar Negeri, pelajar Sekolah Menengah Pertama swasta dan pelajar Sekolah Menengah Atas swasta yang berlokasi tak jauh dari pangkalan. Idah melintasi kawasan Leger, Jalan Golf, deretan perumahan hingga tungku raksasa setinggi satu kilometer yang seluruhnya terbuat dan tersusun dari bata merah. Idah tak menemukan remahan pada permukaan jalan yang dilaluinya. Remahan roti dan sebagian potongan roti berbentuk dadu sekali waktu didapatinya pada sebuah acara undangan pernikahan anak salah seorang pegawai PU.