Paraji

Eka Retnosari
Chapter #25

Salah Seorang Pelamar yang Mengetuk Pintu Rumah secara Langsung

Anak pertamanya dinikahinya dengan salah seorang pelamar yang mengetuk pintu rumah secara langsung, seorang diri, pada waktu hari masih pagi. Lelaki tersebut merupakan seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung, sementara anak perempuannya adalah mahasiswa Magister yang masih menempuh pendidikan di unversitas yang sama. Pegawai TU tersebut mendapatkan potongan sebesar lima puluh persen atas biaya sewa gedung untuk menggelar acara resepsi. Resepsi yang berlangsung selama tiga hari tersebut memisahkan tiga jenis tamu undangan. Undangan pada hari pertama, yaitu Jumat, berlangsung selama dua jam pada malam hari, pukul 19.00 hingga pukul 21.00. Tamu-tamu yang diundang pada Jumat adalah keluarga dekat, kerabat, dan rekan kerja pegawai TU tersebut. Tamu-tamu yang diundang pada Sabtu adalah teman-teman kuliah kedua mempelai dan sedikit teman sepermainan yang masih rajin bertukar kabar, ucapan selamat pada hari raya, dan bertukar foto di ruang pesan singkat pribadi. Tamu-tamu yang diundang pada Minggu adalah penduduk Kampung Cicukang yang pernah menjadi jembatan penghubung antara dua wilayah yang telah bermusuhan sejak kucing-kucing jalanan menempati ruas jalan. Idah merupakan salah satu di antara banyaknya jembatan penghubung. Untuk pertama kalinya, Idah merasakan rasa sup krim jamur ayam di permukaan lidahnya akrab dengan rasa botrowali, kunyit, serta kencur racikan seorang Mbak pedagang jamu asal Jawa Tengah. Kadang, saat mereka tak sengaja bertemu di salah satu pintu, keduanya akan bertukar isi tas dan bakul jamu. Idah boleh mencicipi jamu secara cuma-cuma. Gelas mungil berisi campuran jamu kunyit, campuran kencur, botrowali yang disusul dengan satu gelas berisi minuman jahe. Minuman jahe tersebut acapkali disebut sebagai pemanis. Sementara Mbak pedagang jamu akan mendapatkan seperempat minyak goreng sebagai alat tukar. Sup krim jamur ayam tersebut mendapatkan taburan potongan roti kering berbentuk dadu. Karena para penghubung tersebut tak datang seorang diri, dinding tanpa kain penghias menjadi sandaran, tempat mereka menghabiskan waktu dengan makan malam terpanjang dan terlengkap. Selain sup krim jamur ayam, Idah pun melahap martabak telur, makaroni schootel yang dikemas dalam pinggan persegi alumunium foil, ayam semur, serta bistik sapi yang dimasak dengan brokoli yang pada kemudian hari, disebutnya sebagai brokoli mentah. Setelah menghadiri acara resepsi pernikahan, Idah memeluk erat bingkisan yang dihadiahkan oleh pagar ayu, dua orang perempuan yang merupakan kerabat dari pegawai TU penyelenggara acara pernikahan. Idah mendapatkan bingkisan berupa tas pembungkus atau pengemas mukena yang permukaannya berhiaskan bunga, daun, tanpa mukena di dalamnya. Kepada setiap orang yang ditemu dan dilihatnya di jalan, Idah akan mengisahkan pengalamannya menghadiri undangan resepsi pernikahan. Tentang lezatnya makanan dan minuman yang dihidangkan, tentang ketiadaan hiburan di panggung utama, seperti dangdut ataupun kawihan seorang mojang berpakaian kebaya. Orang-orang yang duduk di teras rumah, menghabiskan waktu dengan menghitung jumlah sepeda motor yang melintas, tak pernah menanyakan perihal kepulangan atau rasa dari makanan yang pernah dicicipinya dalam sebuah pesta. Idah setelah menempuh perjalanan panjang dari pasar, akan menghampiri pintu rumah warga Kampung Cicukang yang memiliki seorang ibu, seorang anak perempuan, atau seorang istri yang akan berlari atau membanting pintu tiap kali seorang asing melintas. Mendongakkan wajah ke arah jendela serta meninggalkan ketukan yang tak berlanjut pada sebuah sapaan. Juga bahasan tentang pagi yang sejuk, teh yang hangat, kudapan di atas meja, serta jumlah antena yang harus diperbaiki. Idah dengan punggung membungkuk sekali waktu, untuk mengenakan kain di atas kepala dan rambutnya yang ikal. Namun, karena terik, Idah memutuskan untuk menanggalkannya dan lebih berpihak kepada angin. Angin dapat menyejukkan waktu dan mengubah jalanan yang dilaluinya menjadi sebuah taman dengan rerumputan segar di permukaan tanah. Pun bunga dan daun serta kupu-kupu yang berterbangan, menghinggapi satu per satu bunga. Ayunan diletakkan di tengah-tengah, tak jauh dari kursi dan bangku bertuliskan nama tempat. Nama kota tempat ia melihatnya sekali waktu, dalam mimpi yang didapatnya pada salah satu tidur siang yang mengenyangkan. Idah akan mengabari pemilik rumah bahwa ia telah tiba di depan pintu. Selain memiliki tubuh yang kuat, Idah pun memiliki kemampuan dalam mengingat nama-nama penduduk Kampung Cicukang dan Cisaranten yang akan berlari begitu seorang asing menghampiri pintu untuk menawarkan sebuah brosur, peralatan memasak, sol sepatu, ataupun ember yang tak mudah terbelah meski dibanting berulang kali. Idah beruntung karena mendapati kursi depan yang lengang dan tak berpenghuni sehingga ia dapat meluruskan kaki dan mengawali obrolan, transaksi, dengan cerita tentang cumi yang untuk pertama kalinya dicuci dan dipisahkan dari perut, tinta, serta permukaan kulit yang membungkusnya. Biasanya, cumi yang dibelinya hanya dicuci seadanya. Isi perut cumi-cumi tetap tinggal dalam perutnya serta permukaan kulitnya masih berwarna merah. Seorang perempuan paruh baya menghampiri pintu depan yang setengah terbuka. Tercium aroma karbol pembersih lantai dan cairan pembersih serangga.                                                                                                             

Hari itu adalah Sabtu. Suaminya sedang libur sehingga ia memiliki waktu yang cukup untuk membersihkan nyamuk. Ketika perempuan yang begitu menggemari warna ungu tersebut mengurangi volume suara radio yang sedang memperdengarkan ceramah seorang ustazah tentang sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, suaminya sedang memakaikan topi di kepalanya. Topi Bugs Bunny yang bagian ujungnya tidak terlalu melengkung. Suaminya menoleh ke arah Idah yang menatap sejurus sebelum ia menghampiri pagar besi hitam. Keduanya adalah pendatang dari Purwakarta. Pasangan yang telah menikah selama sepuluh tahun tersebut memiliki satu orang anak perempuan yang kepalanya telah ditutupi jilbab, kain kerudung, sejak ia masih berusia satu setengah tahun. Anak perempuannya tidak suka ditinggalkan sehingga berkunjung ke pasar atau ke warung, hampir tak pernah ia lakukan. Dulu, perempuan yang lebih akrab dipanggil dengan sapaan ‘Mbak’ daripada ‘Teteh’ atau ‘Ibu’ tersebut adalah salah satu di antara banyaknya aktivis yang pernah mengikuti aksi demonstrasi menentang kebijakan pemerintah Soeharto. Setelah salah seorang kawan seperjuangannya tenggelam dalam derasnya arus gorong-gorong yang terletak tak jauh dari kampus tempatnya belajar dan sekali-dua kali mengajar, mendampingi salah seorang dosen senior perempuan. Perempuan tersebut menjadikan rumah sebagai satu-satunya tempat pulang. Suaminya adalah salah satu aktivits kampus yang juga terlibat dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto. Ia membuat tuntutan agar pemerintah membebaskan biaya pendidikan di bangku-bangku pendidikan seperti Sekolah Menengah Umum Negeri dan Perguruan Tinggi Negeri. Sekali waktu, seorang petrus datang menghampirinya. Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda motor sepanjang tiga puluh lima kilometer, petrus tersebut tiba di halaman belakang kantor mahasiswa. Saat itu, kantor mahasiswa terletak di dalam gedung yang sama, area yang sama dengan gedung perkuliahan mahasiswa jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Selain mengikuti secara aktif organisasi dan kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa, suaminya adalah satu di antara sepuluh jurnalis mahasiswa yang mengelola surat kabar kampus. Nama lelaki itu adalah Adam. Lelaki bertubuh tinggi dengan lingkar mata di sekitar mata. Mulutnya selalu tampak pucat, seputih kertas tempat ia menulis opini, feature, dan merancang sketsa yang kelak akan digunakannya sebagai latar salah satu tulisan terpilih. Kedua pipinya yang kelak akan digunakannya sebagai latar salah satu tulisan terpilih. Kedua pipinya telah memiliki kopong yang dihadiahkan oleh malam-malam yang ia isi dengan bertumpuk-tumpuk buku bacaan, mengerjakan tulisan demi memenuhi tenggat waktu, mencicil tugas kuliah, serta melakukan rapat-rapat penting terkait perkuliahan. Pun topik yang akan digunakan selama dua belas bulan ke depan. Kantor mahasiswa menjadi tempatnya beristirahat, sesekali mandi petang di ruang kamar mandi umum yang terletak di lantai bawah tanah gedung berusia puluhan tahun tersebut. Saat itu, jam dinding sedang mati karena seseorang lebih memilih untuk mengingat jumlah kata yang ditulisnya daripada baterai yang terpasang di punggung jam. Bola lampu masih menyala ketika jemari Adam masih penuh dengan tetesan keringat yang berasal dari semangatnya menuntaskan sebuah artikel tentang pergolakan. Hari itu, Adam belum makan malam dan makan siang. Kudapan terakhir yang memasuki perutnya adalah kacang tanah rebus yang masih melekat dan menyatu dengan kulitnya. Kacang tanah sebanyak seperempat kilogram itu diletakkan di samping tumpukan diktat Sosiologi dan surat kabar usang yang sebagian halamannya telah digunting dan dipindahkan ke dalam halaman kertas HVS. Istrinya, yaitu Rositapuri mendapatkan tugas untuk membuat kliping tentang pergerakan mahasiswa di kota Bandung. Rositapuri tanpa meninggalkan pesan berupa secarik kertas, akan menyertakan sebotol minuman merah muda rasa leci dengan potongan agar serta kelapa muda yang telah ditiriskan. Rositapuri telah menempuh perjalanan jauh dari ujung gerbang tempatnya menempati sebuah kamar yang disewanya tiga ratus ribu per bulan demi mengantarkan kacang tanah dan minuman yang sebelumnya telah ia titipkan di lemari pendingin koperasi mahasiswa. Selain aktif mengikuti Badan Eksekutif Mahasiswa, Rositapuri juga terdaftar sebagai salah satu pengurus koperasi. Ia akan berjaga di mesin penghitung uang, membuat daftar pembukuan, dan memastikan mahasiswa-mahasiswa yang memasuki kafetaria, tak dihinggapi rasa lupa ketika memindahkan sebatang cokelat dan permen karet. Koperasi Mahasiswa itu berdampingan dengan kafetaria buku yang sebagian besar diisi oleh buku-buku lama. Novel terjemahan tahun enam puluhan dan komik Jepang Serial Cantik. Adam belum sempat melahap kacang tanah ketika petrus bersepeda motor itu meninggalkan ketukan dan kegaduhan di pintu. Adam terkejut kemudian menghentikan aktivitas mengetiknya. Dadanya tidak berdegup kencang ketika ia menempuh perjalanan menuju pintu. Petrus bersepeda motor tersebut segera menghambur ke arahnya ketika pintu itu dibuka. Pintu berwarna biru tersebut tidak pernah dikuncinya, sekalipun ia telah menuntaskan banyak tulisan dan tiba saatnya untuk terlelap. Petrus dengan banyak bekas luka di pipi kanan dan kirinya itu dan wajah serupa tumpahan kembang gula karamel berkerak meninggalkan tonjokan di wajah Adam. Adam kemudian memegangi pipinya dan lekas mempertanyakan sebab dari sebuah pukulan. Petrus tersebut menyodorkan satu jemari telunjuknya ke arah wajah Adam dan mempertanyakan hal-hal yang telah dilakukannya dalam hidup. Bahwa Adam adalah mahasiswa tingkat akhir yang tidak memiliki hubungan kepada ibu pemilik rumah kos yang kamarnya lebih sering ditinggalkan dalam keadaan kosong. Tak berpenghuni, dengan pintu terkunci, dan pakaian di jemuran yang telah diletakkan di atas selembar kasur matras berbahan dasar busa. Pun kepada pemilik warung nasi Padang tempatnya makan satu kali sehari.

Lihat selengkapnya