Nasi putih, daun singkong, dan satai udang yang dijajakan dalam sebatang lidi. Tiga ekor beserta ekor dan kulit yang utuh. Dicelupkan ke dalam minyak panas, sebelumnya dimandikan dalam tepung panir meski tidak terlalu banyak. Lagipula, Adam tidak seperti mahasiswa lain yang suka meminta sebutir telur asin di samping kasir atau sebungkus kerupuk kulit ketika kedekatan berupa percakapan telah terjalin. Bahasa tentang kabar, pujian tentang rasa makanan, kebaikan penjaga nasi dan lauk pauk, dan semacamnya. Dan seterusnya. Adam kemudian berkata pastilah hal itu, pukulan dan bentakan itu adalah ujung dari aksi demonstrasi yang pernah dilakukannya di lapangan Gazibu, tak jauh dari Gedung Sate. Petrus tersebut mengingatkan Adam tentang tugas-tugas dan kewajiban yang harus dilakukannya sebagai seorang mahasiswa. Mengikuti aksi demonstrasi tidak menjadi salah satu persyaratan menjadi mahasiswa ataupun kelulusan. Adam menangkis pukulan selanjutnya yang hendak dilayangkan ke wajahnya. Ia berkata bahwa ia adalah salah satu di antara banyaknya warga negara yang memiliki hak untuk berserikat dan berkumpul, menyampaikan pendapat dan aspirasi. Petrus segera melibasnya dengan mulut. Bahwa menyampaikan pendapat dan aspirasi merupakan salah satu di antara banyaknya peristiwa yang dapat mengganggu ketertiban umum, menimbulkan keresahan, serta membuatnya sama dengan pelaku vandalisme. Adam naik pitam, namun tidak tertarik untuk membalas pukulan. Adam berkata bahwa semua aksi demonstrasi yang pernah diikutinya tak pernah menyertakan tindakan perusakan semacam membakar ban atau bendera, menorehkan kata-kata di permukaan dinding, serta memenuhi jalan dan lapangan dengan poster berisikan serapah dan amarah. Petrus tersebut kembali memukul wajah dan batang lehernya dengan cepat sehingga Adam tak memiliki sempat untuk menangkisnya. Ia mendekat ke arah wajah Adam kemudian bertanya apakah ia hendak berlagak. Karena jika iya, masih ada miliaran orang yang ingin atau tertarik melakukan hal yang sama. Berteriak di muka dinding, merengek serupa anak kecil, memohon agar seseorang di balik dinding sudi membelikan sehelai pakaian baru. Pengganti pakaian lama, usang, dan kumal. Hal serupa seperti yang tengah dilakukannya pada malam itu. Adam memegangi pipi dan terlupa pada botol minuman rasa leci serta kacang tanah rebus. Ia berkata tentang rencananya pada masa depan, pada hari esok, bahwa ia menginginkan kehidupan yang baik, tenang, dan menang. Ia sedang menjalankan dan menuntaskan tugas sebagai pembuat artikel surat kabar kampus. Ia berencana untuk menuntaskan kuliah pada tahun tersebut sehingga aksi demonstrasi tak akan menjadi hal yang menjadi prioritas. Petrus tak berkata-kata lagi. Ia berjalan melintasi pintu bercat biru tanpa menutup ataupun membantingnya. Sepeda motor tanpa penyaring pada knalpot kemudian meraung, membelah dan memecah kesunyian undakan dan rerumputan berderet di samping papan pengumuman dan penunjuk arah. Setelah mendapatkan kelulusannya, Adam menikahi mahasiswa pemberi kacang tanah dan memilih kota Bandung sebagai tempat paling tepat untuk bersembunyi. Sebuah rumah yang terletak sekitar lima meter dari pintu gerbang Komplek Bina Marga, mereka sewa dengan harga tujuh ratus ribu rupiah per bulan. Rumah tersebut terletak di samping jalan umum selebar dua kendaraan, tak jauh dari pertigaan yang mempertemukan pejalan dengan pengendara yang melaju dari Jalan A. H. Nasution. Jalan Soekarno Hatta, dan jalan PU, yaitu Komplek Bina Marga. Setelah sebelumnya melintasi Jalan Golf Selatan, kawasan yang ramai oleh tangki seribu meter dan pembakaran genting rumah berwarna oranye dan merah. Serta bata merah yang telah dipesan sejak jauh hari oleh pemilik sekolah swasta, pemilik gedung milik usaha bersama, serta perumahan baru yang terletak di ruas jalan yang memisahkan kawasan Cicukang dengan Cisaranten. Rumah yang mereka sewa, tampak seperti garasi bawah tanah seorang saudagar tanah yang telah menjadikan membeli tanah sebagai hobi dan kegemarannya sejak tahun 1980-an. Saudagar tanah tersebut memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia memiliki seorang istri, yaitu seorang sekretaris yang setiap bulannya selalu menuntutnya untuk membelikan tas baru, pakaian baru, dan sepatu baru. Penghasilan yang didapatnya setiap bulan, tak pernah mencukupi sehingga ia harus menekuni bisnis lain selain merancang bangunan, gedung, rumah, lahan kosong, serta gedung-gedung tua yang telah lama tak ditempati oleh seseorang. Seseorang yang tinggal dan menempati luar kota, luar daerah, luar provinsi, luar negeri. Rumah-rumah tak berpenghuni tersebut terletak di kawasan Utara Bandung. Tak jauh dari Lembang, kampus Bumi Siliwangi, dan kawasan Ciumbuleuit. Ia menangani rumah-rumah tak berpenghuni tersebut. Melakukan pemugaran, merenovasi beberapa bagian rumah, serta mengurus administrasi rumah-rumah tersebut agar ia tampak seperti rumah yang siap untuk dihuni. Diiklankan dan dipasarkan tak hanya melalui mulut ke mulut, telinga ke telinga. Menepis kabar burung yang menyampaikan hal tentang rumah siap huni yang dilabeli harga lebih murah daripada harga rumah baru, perumahan baru, rumah susun yang diam-diam telah mulai didirikan di kawasan samping rel kereta. Atau bandara yang menjadi pilihan wisatawan Asia Tenggara yang berkunjung sebagai pelancong untuk sementara waktu. Dua atau tiga bulan. Sebagian pintu rumah susun dihuni dan ditempati pegawai pabrik kertas yang memproduksi buku tulis bergaris, kertas HVS 70 gram, dan amplop bertepi garis jajar genjang merah dan biru. Kertas-kertas tersebut kemudian hinggap di atas meja pekerja kantor yang bertugas untuk membuat banyak surat permohonan, surat permintaan, dan surat penawaran. Sebagian diubah bentuknya menjadi pesawat terbang, perahu, katak yang bisa melompat, serta topi ulang tahun balita dan batita yang menunggu-tunggu saat terbaik untuk meniup lilin. Bertepuk tangan dan antusias kepada isi kado dan bungkusan yang dititipkan oleh tetangga. Sebagian buku dan kertas tiba di meja seorang pelajar yang mendapatkan tagihan menulis karangan. Kertas ujian berwarna abu-abu dengan pita sebagai hiasan. Sebagian pelajar yang begitu ketagihan menghitung saat ujian Matematika, akan kembali ke meja guru. Mengambil sehelai demi sehelai yang tak lama kemudian akan penuh dengan angka. Penghitungan penjumlahan, pengurangan, pembagian, FPB, dan bilangan faktor. Sementara pembelajaran mengarang memiliki buku khusus. Memisahkan kertas abu-abu berserat dengan buku tulis bergaris. Mereka, para siswa tersebut, anak-anak Sekolah Dasar tersebut menulis di buku tulis khusus. Setiap minggu, siswa memiliki tagihan menulis satu karangan narasi berbagai tema. Pada akhir semester, mereka memiliki satu buku tulis bergaris yang penuh oleh cerita yang mereka tulis selama dua jam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung selama dua pertemuan. Pertemuan pertama penyampaian materi, pertemuan kedua penulisan narasi. Buku tulis berisi karangan siswa tersebut kemudian menempuh perjalanan. Pada akhir tahun, siswa Sekolah Dasar Negeri akan duduk rapi di hadapan meja guru Bahasa Indonesia yang di permukaan mejanya terdapat buku tulis berisi karangan narasi. Mereka akan mendapatkan buku tulis bertanda tangan tinta merah. Tanda tangan guru Bahasa Indonesia beserta catatan, komentar terhadap karangan. Pada akhir tahun, jika mereka beruntung, sebagian dari buku tersebut akan berpindah ke permukaan meja saudagar tanah yang namanya mulai populer sejak 1985. Selain mencoba bisnis tanah dan rumah tua serta rumah-rumah kosong, ia mulai memasuki dunia pendidikan setelah sekali waktu, salah seorang guru Pendidikan Agama Islam mendatangi rumahnya untuk mengajukan sebuah proposal perbaikan gedung sekolah. Setelah membaca dan mempelajari proposal tersebut selama sepuluh menit, ia menyodorkan dana sumbangan sebanyak sepuluh juta rupiah. Saudagar tanah tersebut telah menunaikan ibadah haji sebanyak empat kali dan memiliki rutinitas mengkhatamkan Al-Qur’an setiap satu bulan sekali di masjid yang didirikan dan dirancangnya. Masjid tersebut berlokasi tak jauh dari rumah yang merupakan rumah keempat yang dimilikinya. Rumah pertama yang dimilikinya adalah sebuah rumah dinas berukuran empat puluh lima meter persegi, dua kamar, dan satu kamar mandi. Pada tahun awal pernikahan, ia memiliki satu orang anak perempuan yang memiliki paras seperti paras perempuan yang dinikahinya. Saudagar tanah tersebut menempati rumah dinas di Komplek Bina Marga selama dua tahun, sebelum akhirnya menempati rumah warisan di kawasan Jalan Cisaranten. Ibu Hajjah Aisyah merupakan ibu dari saudagar tanah tersebut. Ia meninggal dunia pada 1979. Hajjah Aisyah memiliki empat anak lelaki, yaitu suami dari Hajjah Aminah, saudagar tanah, dan dua pekerja yang masih berproses, saat itu, sebelum akhirnya menjadi salah satu di antara banyaknya Pegawai Negeri Sipil. Saudagar tanah tersebut memiiki penyakit jantung sehingga rutinitas bersepeda dan berjalan-jalan di sekitar perumahan merupakan kebiasaan yang dilakukannya setiap Minggu. Rumah warisan yang kemudian ditempatinya empat tahun setelah kematian, berlokasi di kawasan Cisaranten Kulon, di tengah lahan luas dengan pemandangan berupa pepohonan jambu, rambutan, dan sirsak. Di samping rumah, terdapat rawa dan sungai. Tanaman eceng gondok masih menggenangi permukaan rawa. Katak-katak ramai bersuara dan berlompatan pada waktu pagi. Di belakang rumah, terdapat lahan luas yang sebagian ditanami bunga oleh seorang warga Kampung Cicukang, yaitu Mak Ani, yang bekerja sebagai paraji (dukun beranak) pada setiap harinya. Sementara menunggui lahan belakang rumah warisan tersebut adalah pekerjaan yang sesekali dilakukannya. Pada dua tahun terakhir menjelang kepindahan saudagar tanah, Mak Ani bertugas untuk memasang pagar kayu di sekitar lahan tersebut. Semula, setiap sore, lahan lengang tersebut tampak seperti belukar. Belukar tersebut kadang menjadi tempat anak-anak Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Menengah Pertama swasta untuk bermain sepakbola, egrang, atau bancakan. Karena lahan tersebut tak dipagari, maka ia menjadi tempat bermain anak-anak putus sekolah setelah azan Isya dikumandangkan dari Masjid Jami Al Kautsar yang dinding dan ubinnya berwarna hijau muda.