Anak-anak putus sekolah tersebut menjadikan lahan yang belum dialiri listrik dan lampu itu sebagai tempat bermalam. Mengisap batang rokok yang mereka pindahkan dan gilirkan dari satu mulut ke mulut lain. Mereka telah meninggalkan bangku sekolah sejak kelas tiga Sekolah Dasar karena seseorang yang tinggal di sekitar rumah memperkenalkannya pada sepeda. Selain sepeda itu tampak baru dan kuat, dengan sepasang ban serupa dengan ban sepeda motor, mereka boleh mengendarai sepeda tersebut tanpa bayar. Mereka mencoba sepeda tersebut untuk pertama kalinya kemudian menaikinya untuk mengitari jalanan sekitar rumah. Anak-anak putus sekolah tersebut tinggal di rumah kayu yang kepala keluarganya gemar menghabiskan berbatang-batang rokok, melamunkan masa lalu dengan kaus singlet membalut tubuh, serta poster seorang rocker yang masih dalam perjalanan. Pada mulanya, Mak Ani menanami lahan tersebut dengan biji cabai yang didapatinya secara cuma-cuma. Tanaman-tanaman yang ditanamnya tumbuh subur sehingga ia mendapatkan tambahan penghasilan dari gaji yang didapatnya sebesar dua ratus ribu rupiah per kunjungan. Saudagar tanah tersebut akan melakukan kunjungan setiap satu bulan sekali, memeriksa keadaan dan kondisi rumah warisan. Atap, genting, pintu kamar mandi, dan permukaan lantai. Mak Ani akan melaporkan orang-orang yang memasuki lahan tanpa sepengetahuannya. Tentang nama, usia, dan lokasi tempatnya tinggal. Pagar-pagar kayu dipasang tiga bulan setelahnya. Karena pagar kayu tersebut memiliki ketinggian sekitar satu setengah meter, satu atau dua anak putus sekolah akan melakukan panjatan. Memanjat pagar kayu, memetik cabai dan terung, kemudian bermalam di lahan tersebut sebelum akhirnya meninggalkan lahan dalam keadaan penuh sampah berupa batang rokok dan kartu remi. Dua bulan setelahnya, saudagar tanah menitipkan sejumlah uang kepada Mak Ani untuk memasang kawat di sekitar batang pagar. Kawat-kawat itu pada pertengahan tahun tumbuh menjalar. Mengelilingi pagar seumpama ular. Mak Ani memenuhi jadwal yang telah dibuat dan disepakatinya. Mengunjungi lahan setiap akhir pekan, membersihkan permukaan rumput dari puntung rokok, korek api bekas pakai, dan kangkung pembungkus rokok berisi dua belas batang rokok. Serta ular-ular kecil yang merayap setelah melalui perjalanan panjang melintasi rawa berisi puluhan eceng gondok dan katak yang tak henti melompat. Ketika Mak Ani menemukan satu atau dua orang anak putus sekolah sedang tertidur dengan tubuh tertelungkup di atas tanah atau tumpukan jerami, Mak Ani akan menghampiri Kantor Desa. Salah seorang sekretaris Desa yang telah mengabdikan dirinya, hidupnya, selama lebih dari lima belas tahun, akan menyelesaikan perkara dengan caranya. Anak-anak putus sekolah itu akan didatanginya pada waktu malam, setelah ia menuntaskan semua pekerjaan dan surat-surat serta menunaikan salat Isya berjemaah di Masjid An-Nuur. Mereka tinggal tak jauh dari kulah, tempat pemandian umum yang airnya tak pernah berhenti mengalir. Pun setiap tetesannya tak pernah ternodai busa sabun ataupun cairan pembersih lantai yang dimuntahkan oleh salah seorang petugas kebersihan Masjid Al Hidayah. Untuk bisa mencapai kulah, orang-orang harus melintasi rumah Ustaz Dedi, Lilis, dan kedua anak lelakinya. Masjid Al Hidayah dan deret rumah petak berwarna merah muda yang akan disewa seharga tiga ratus ribu rupiah per bulan untuk meratapi hati yang patah, nasib yang hina, orang-orang yang bebal dan kurang ajar, keluarga yang memanfaatkan, serta masa depan yang masih remang-remang. Orang-orang yang menyewa rumah petak berwarna merah muda tersebut akan mengakhiri hidup dengan berbagai cara. Menyayat urat nadi, menenggak racun serangga, atau meminum ratusan pil tidur. Sebelum akhirnya tertidur dalam keadaan lelap paling panjang, tak berkesudahan. Lelap yang tak membangunkan pintu rumah petak tersebut akan sepi dari ketukan, panggilan, dan sapaan. Berhari-hari kemudian, seseorang, lelaki pemilik warung merah muda akan menghampiri pintu rumah petak miliknya setelah membeli lima bungkus bakso sapi dengan tahu cokelat dan tahu putih sebagai pelengkap. Pemilik rumah petak merah muda tersebut akan melaporkan keadaan kepada Sopian Sekretaris Desa. Sementara Sopian Sekretaris Desa akan bergegas dan bersiap dengan kamera milik Kantor Desa yang telah memperkerjakannya. Anak-anak putus sekolah tersebut tinggal tak jauh dari kulah. Orang tua yang telah melahirkan mereka tinggal di ibu kota, namun sebagian besar Garut. Tasikmalaya dan Ciamis. Mereka telah tumbuh menjadi janin di rahim perempuan berusia enam belas tahun ketika tawaran, iklan, dan iming-iming tentang masa depan dan pekerjaan di luar kota datang dalam bentuk bisikan. Mak Ani kemudian menjadi seseorang yang tak didapatinya. Pintu rumah Mak Ani yang terbuat dari bilah kayu dan bilik berserabut tersebut menjadi pintu yang sunyi, tanpa nomor dan plang nama. Terlebih bel dan petunjuk arah. Pada pertengahan minggu, seseorang yang adalah pendatang, akan menghampiri pintu rumahnya untuk memasangkan anting-anting di telinga anak perempuannya yang beranjak dewasa. Sepasang telinga yang masih utuh dısodorkan sebelum akhirnya dilintasi oleh jarum emas satu gram dan potongan kunyit sebagai pengganjal. Mak Ani akan meredakan tangisan anak perempuan tersebut dengan kisahan anak-anak yang telah tuntas melalui masa-masa sulit. Kelak, ketika ia telah terbiasa, rasa sakit akan berubah menjadi rasa nyaman. Sementara setiap luka yang tak meneteskan darah ataupun air mata akan bertukar dengan nasib baik dan masa depan cemerlang. Anak-anak perempuan yang telah memiliki anting di daun telinga tersebut akan menjadi anak-anak perempuan yang tumbuh menjauh dari rumah petak merah muda. Sebagian bekerja sebagai penjaga toko elektronik, kasir supermarket, dan merasa cukup dengan menjadi salah satu pekerja salon. Berpenghasilan delapan ratus ribu rupiah dan mampu membeli jajanan setiap pulang bekerja. Berbagai jenis olahan kanji, berbagai jenis mi, martabak untuk dimakan bersama-sama, serta sesekali jus buah yang dibuat dan disajikan oleh pegawai berseragam.
Nelis, janda berhidung bangir tersebut telah berhenti berdagang jus buah setelah seorang pengusaha waralaba memilih ruas jalan, lurusan lahan, kawasan eceng gondok, dan lima puluh meter dari Taman Pemakaman Umum Jati. Semula, Nelis yang menjadi tempat anak-anak putus sekolah tersebut menyambung hidup dan memiliki jadwal. Hal, kegiatan, dan aktivitas yang sama dengan aktivitas yang dilakukan oleh Nelis dan teman-temannya. Menyimak suara radio yang memperdengarkan ceramah K.H. Zainuddin M.Z. dan lagu kasidahan. Nelis tidak memakai jilbab ataupun kerudung. Namun, ia selalu mandi pagi dan mandi sore. Memasang kuteks merah menyala di permukaan kuku serta gincu merah muda di permukaan bibir. Kalung tali hitam berliontin matahari warna emas lengkap dengan kedua mata, hidung, dan mulut yang menyeringai ke arah orang-orang yang sedang mengobrolkan rasa dan jus yang sedang ditenggaknya. Sopian petugas Kantor Kelurahan Desa bertugas untuk bersilaturahim. Mengunjungi bilik yang menjadi tempat tinggal anak-anak putus sekolah. Melakukan penyuluhan selama berkali-kali hingga anak-anak putus sekolah tersebut memilih rumah petak merah muda sebagai tempat tinggal selama tiga hingga lima hari terakhir. Jika mereka merasakan lapar dalam perutnya, seseorang akan datang untuk mengantarkan sisa-sisa makanan di dapur. Nelis atau salah seorang dari karibnya yang juga berstatus janda dan gemar memasang kuteks di permukaan kuku. Makanan berkuah bakso atau nasi berhiaskan tempe yang telah dibumbui penyedap rasa, lengkuas, dan daun salam. Makanan tersebut akan tandas dalam hitungan menit sebelum akhirnya terdengar nyaring suara azan melalui pengeras suara Masjid Al Hidayah. Anak-anak putus sekolah tersebut tidak menunaikan salat. Berjemaah di masjid ataupun munfarid. Saat anak-anak berusia enam tahun ramai mengaji, mereka akan berbaring di permukaan lantai. Mengakhiri hidup kemudian tak menjadi pilihan yang terpikirkan. Saat malam tiba, ketika orang-orang sedang tertidur, mereka akan memasuki kamar mandi, memanjat bonggol pohon yang sepuluh tahun sebelumnya, pernah digunakan oleh seorang lelaki pemabuk untuk mengakhiri hidup. Lelaki tersebut menandaskan belasan botol minuman beralkohol, sebelum menjerang tubuh yang tak berbasuh air mandi di bawah terik matahari, kemudian mengakhiri hidup dengan ikat pinggang yang melingkar di permukaan pinggang. Orang-orang mengabadikan mayat lelaki tersebut dalam bentuk ingatan. Serupa tontonan di layar kaca, di televisi, yang dilekatkan dalam memori. Mengenai ukuran lidahnya yang panjang, tekstur rambutnya yang serupa ijuk, jaket kulitnya yang beraroma kerbau Garut, serta ujung kakinya yang kuning, kuku tebal dan menghitam, serta kotoran buruk di kedua saluran pembuangan. Ia menjadi salah satu lelaki yang mati karena dihinggapi rasa takut pada sirene polisi, pakaian seragam, Kantor Kelurahan, serta amuk massa orang-orang yang ramai memperbincangkan cokelat, keripik kentang, dan permen nougat. Sebagian seniman atau penulis semacam Idrus mengabadikannya dalam bentuk karikatur. Cerita pendek, hingga tokoh malang dan menyedihkan dalam cerita bersambung seharga tujuh puluh lima ribu rupiah per kolom. Mayat tersebut diturunkan pada sore hari, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jati, kemudian disambut oleh lolongan anjing, kepakan sayap kelelawar, serta suara teriakan yang terdengar dari dalam tanah. Hantu lelaki yang gantung diri dengan menggunakan ikat pinggang tersebut kemudian muncul di samping bedug berkulit sapi salah satu Idul Adha yang menjadi kompetisi antara Masjid An-Nuur dengan Masjid Al Hidayah. Masjid An-Nuur memenangkan kompetisi hari raya Idul Adha dengan dua ekor sapi dan empat belas ekor kambing, sementara Masjid Al Hidayah hanya mendapatkan satu ekor sapi dan delapan ekor kambing. Setiap pemotong hewan kurban, menjadi pemilik kepala kambing yang memiliki hak penuh atas proses pembakaran kepala-kepala kambing di permukaan bara api yang dilahapnya seorang diri.