Mak Ani bertugas untuk membersihkan rumah kontrakan berdinding merah muda. Isah, seorang pedagang cireng, akan melakukan penyisiran, dari rumah ke rumah, memasarkan kisah tentang amal buruk seorang lelaki pemabuk serta sagu yang berhasil dibentuknya menyerupai mainan clay, malam berwarna merah tua yang selalu dimainkan oleh anak perempuannya. Isah memiliki anak perempuan berponi, berusia sekitar empat tahun, serta lantai yang seluruhnya dipenuhi malam. Anak perempuannya bercita-cita ingin menjadi seorang seniman, pembuat patung dan ornamen dengan menyertakan bentuk yang didapatnya dari ingatan dan mimpi ketika tidur siang. Isah tak memiliki ingatan yang utuh tentang masa muda yang pernah dihabiskannya di Sekolah Dasar Inpres, yang terpilih sekitar dua kilometer dari Masjid Al Hidayah. Sekolah Dasar Negeri memiliki posisi yang sama dengan masjid sehingga perlakuan yang didapat pun akan sama. Ketika sebuah masjid baru didirikan di tengah lintasan lajur dan jalan yang menghubungkan Jalan Cicukang dengan kawasan perumahan, komplek Bina Marga, para pejalan, pelajar, dan guru Sekolah Dasar berpakaian seragam, mencoba untuk tetap berjalan dengan tanpa menolehkan mata dan pandangan ke arah masjid baru. Setiap pertengahan tahun, orang-orang mendaftarkan anak kandung mereka ke Sekolah Dasar Negeri yang bersisian dengan bak penampungan sampah terakhir sebelum diangkut ke Bantar Gebang, Bekasi. Mereka tak memiliki pertanyaan tentang biaya, jadwal pembelajaran, dan kepastian mengenai masa depan. Koridor sekolah menjadi tempat ibu-ibu berusia sekitar tiga puluh tahun hingga empat puluh lima tahun, untuk memerhatikan ransel dan sepatu masing-masing anak, pelajar, dan pergelangan tangan. Sebagian murid baru merasa cukup beruntung dengan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan yang digunakan untuk bersalaman dengan murid baru yang kelak akan menempati salah satu bungkus. Mereka berbaris, mengikuti instruksi walikelas yang telah mengajar selama lebih dari tiga puluh tahun. Pagi itu, salah seorang guru Sekolah Dasar Negeri, memperkenalkan seorang guru lelaki berambut putih yang merupakan pindahan dari Sekolah Dasar Inpres. Ia hendak mengakhiri kariernya dengan sebuah rumah mungil bercat putih-merah yang terletak tak jauh dari pohon cemara yang berderet di samping sekolah. Pun satu-satunya kelas berdinding semen abu-abu yang terpisah sekitar lima puluh meter dari gerbang sekolah. Ruang kelas tersebut biasanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran Matematika kelas enam Sekolah Dasar Negeri. Sementara pada siang hari, ruang kelas tersebut selalu lengang. Siswa Sekolah Menengah Pertama telah memiliki masing-masing kelas sehingga Maman, penjaga sekolah akan memasang kunci di pintu ruang kelas tersebut pada sore hari. Karena lengang, ruang kelas tersebut kemudian digunakan oleh pelajar Sekolah Dasar Negeri yang memiliki pacar untuk berpacaran. Setiap kelas, memiliki pasangan yang namanya kerap disebut dan diingat oleh walikelas dan geng. Nama-nama yang populer dan tak asing di telinga tersebut kemudian melakukan hal yang lebih dari sekadar bertukar pandangan dan bersalaman. Mereka menggunakan uang jajan tiga ratus ribu rupiah untuk membeli tiket bioskop dan bermain dingdong sepulang sekolah. Sementara pasangan yang tak memiliki uang jajan tiga ratus ribu rupiah akan menjadikan ruang kelas berdinding abu-abu tersebut sebagai gedung bioskop, dengan pasangan tersebut sebagai tokoh utama. Di salah satu bangku, anak perempuan akan belajar membedakan suara. Suara penyanyi dangdut dengan suara penyanyi keroncong. Pacarnya adalah salah satu personel band yang telah pandai menabuh drum, memainkan tuts piano, dan pandai pula memainkan gitar. Anak perempuan yang telah menempuh masa jadian selama dua bulan tersebut akan mencurahkan isi hatinya tentang ibu yang melahirkannya. Tentang ketidakadilan perlakuan yang diberikan kepadanya dan kepada kakak perempuannya. Selain itu, ia memiliki seorang ayah yang menjadikan kantornya sebagai rumah kedua. Biasanya, pada akhir pekan, ayahnya akan bermain squash atau tenis meja di halaman belakang rumah, di samping garasi yang memarkir satu mobil baru dan satu mobil tua. Sejak anak perempuan tersebut menjalani hubungan, ayahnya tak pernah lagi memiliki waktu untuk bermain dan berolahraga pada akhir pekan. Ia tak memiliki kebiasaan untuk mengajukan pertanyaan di ruang kelas pembelajaran ketika guru Ilmu Pengetahuan Sosial sedang memberikan penjelasan tentang arah angin. Atau guru Matematika yang tangannya begitu kuat menggenggam sebatang kapur tulis sambil menanyakan jawaban atas pertanyaan tentang titik koordinat. Ruang kelas yang sunyi adalah ruang makan dan ruang keluarga berisi piring-piring lengang dan televisi yang dibiarkan menyala dengan suara terpelannya. Pembaca berita yang menggebu, mengabarkan peristiwa kebakaran sebuah pabrik kendaraan bermotor, sementara ruang dapurnya selalu sepi dari nyala api. Anak perempuan tersebut kemudian menuturkan tentang kakak perempuannya yang memiliki berbagai jenis gawai. Mulai dari telepon genggam model lama hingga laptop dan layar komputer Apple di ruang belajar rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak lahir, terletak di Jalan Cisaranten. Tak jauh dari Taman Pemakaman Umum Jati yang selalu ramai dikunjungi para pelayat tiap Idul Fitri. Rumah tersebut memiliki empat kamar, dua kamar mandi, ruang tamu, ruang makan yang bersisian dengan ruang keluarga. Mushola di lantai dua, bersampingan dengan ruang kerja dan perpustakaan. Halaman depan penuh dengan tanaman rumput dan bunga bougenville serta anggrek yang digantung dalam pot. Halaman belakang, garasi yang pintu kayunya berhadapan dengan jalan lebar yang dapat dilintasi oleh dua buah mobil. Anak perempuan tersebut mengisahkan salah satu pertengkaran antara dirinya dengan kakak perempuannya. Tentang jumlah pakaian yang dibeli pada hari itu di salah satu butik atau distro yang memasarkan pakaian kasual dan aksesoris satuan. Pada akhir pekan, keduanya akan mempertengkarkan jumlah pizza yang berhasil dilahapnya saat ia sibuk membalas pesan dan obrolan di ruang obrolan. Meski ia telah memiliki pacar, pelajar lelaki dari kelas lain akan mengirimkan pesan pada akhir pekan atau menjelang akhir pekan. Kartu ucapan selamat malam atau harapan bahwa hari itu akan menjadi hari terbaiknya. Sementara teman-teman dekatnya, yaitu Fitriyani, Irma, dan Devi akan mengobrolkan Pekerjaan Rumah Matematika dan tugas proyek yang harus dikerjakan bersama-sama. Setiap kelompok memiliki tagihan berupa tugas proyek yang harus dikerjakan selama satu bulan. Tugas proyek tersebut kemudian menjadi alasan anak perempuan tersebut meninggalkan rumah pada akhir pekan.
Hari Minggu pagi, Risma nama anak perempuan tersebut, akan mandi pagi, memakai pakaian terbarunya, memercikkan kolon beraroma mawar, kemudian meminta uang jajan kepada ibunya. Ibu Risma akan menyodorkan dua lembar uang pecahan sertaus ribu dan berpesan bahwa kebahagiaan dapat membuat seseorang yang berakhir pekan, tak lagi mampu mengingat waktu dan membedakan warna langit. Risma akan berkata seperti perkataan yang telah diutarakannya pada malam sebelumnya. Bahwa ia akan mengerjakan tugas proyek bersama tiga orang anak perempuan yang adalah teman sekelasnya. Salah satu rumah, yaitu rumah Fitriyani akan menjadi tempat mereka menuntaskan tugas proyek, membuat laporan penelitian tentang tanaman jambu, pohon jambu yang dicangkok dan salah satu tanaman yang distek. Risma kemudian meninggalkan rumah dengan berjalan kaki. Setelah melintasi kawasan Walungan yang setiap Minggu selalu menjadi lokasi pasar tumpah, Risma akan berpapasan dengan pacar yang bertempat tinggal tak jauh dari Walungan. Ia tinggal di salah satu rumah, bernomor enam puluh tiga, dengan dinding merekat dan melekat pada dinding rumah lainnya. Di kanan dan kiri rumah tersebut, terdapat rumah pegawai desa yang memiliki hari libur hanya pada hari Minggu. Ia tak pernah tergerak untuk mengikuti tetangganya, melakukan senam pagi atau mengitari Walungan sambil membeli lauk pauk yang telah dimasak oleh seseorang semacam Mak Ani. Juru masak kampung yang memasak tanpa menakar jumlah gula dan garam yang dimasukkan ke dalam panci besar. Lauk pauk yang telah matang tersebut dijajakan dalam mangkuk loreng besar atau baskom berbahan plastik. Sebagian telah dikemas dalam plastik kemasan dan dihargai sepuluh ribu rupiah. Ibu rumah tangga yang mendapatkan hari liburnya, akan membeli dua bungkus lauk pauk, ikan tongkol yang dimasak dengan bumbu merah dan gula merah serta sandal terbaru. Sandal yang tampak seperti sandal Bata serta kerudung bergo yang membungkus kepala dan wajah sebuah maneken. Perumahan baru yang letaknya tak jauh dari Taman Pemakaman Umum Jati tersebut baru saja meneyelesaikan tiga rumah baru berukuran tiga puluh enam meter persegi. Tiga rumah baru tersebut menghadap ke arah matahari terbit, memiliki satu buah toren oranye dan toren biru tua, serta listrik sembilan ratus watt yang dapat diisi ulang oleh seorang pendatang ibu kota yang membawa serta dua anak kandungnya yang masih berusia di bawah sepuluh tahun. Dua anak lelaki ibu muda tersebut, disekolahkan di dua tempat yang berbeda, yaitu Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan 02 dan Sekolah Dasar Negeri Ciporeat. Kedua sekolah tersebut memiliki jarak sekitar lima kilometer, terpisahkan oleh deret perumahan baru yang baru saja dibangun di atas tanah seluas sepuluh ribu meter persegi. Tanah tersebut diapit oleh sebuah pos satpam yang selalu menyisakan kekosongan, kecuali suara yang terdengar dari pesawat radio yang diletakkan di tengah meja kayu berlapiskan cat putih, gelas kaca berisi kopi hitam berampas, serta kok bulu tangkis yang bulu angsanya telah terlepas delapan helai. Kok bulu tangkis tersebut ditinggalkan oleh atlet berusia sembilan tahun yang baru saja memenangi pertandingan keseratus yang diikutinya.