Paraji

Eka Retnosari
Chapter #29

Atlet Berusia Sembilan

Atlet berusia sembilan tersebut bernama Apip, hapal dua juz Al-Qur’an dan tak pernah meninggalkan jadwal latihan bulu tangkis serta jadwal salat berjamaah di masjid. Sementara adik satu-satunya, yaitu Abiyu memiliki kebiasaan memerangi anak-anak lelaki seusianya yang mulut dan lidahnya terbiasa mengucapkan kata-kata kotor seperti anjing, goblok, tolol, dan semacamnya. Dini hari, ketika neneknya, yaitu Hajjah Aminah sedang memilah sisa kol yang tersisa setelah masakan yang dijualnya menyisakan satu atau dua menu masakan. Hajjah Aminah akan mencuci kol sisa, memotong-motong bagiannya, kemudian meraciknya dalam bentuk kudapan, dan memasukkannya ke dalam genangan minyak panas. Abiyu akan menyiapkan pistol-pistol plastik yang dimilikinya, untuk kemudian diisinya dengan air keran. Pistol-pistol itu akan menempati ruas saku yang dipakainya, untuk ditembakkan ke arah anak Sekolah Menengah Pertama yang menempuh pendidikan di bangku swasta. Siswa SMP swasta tersebut tinggal sekitar sepuluh kilometer dari SMP Swasta yang berhadapan dengan perumahan baru berisi rumah yang seluruhnya dicat, dilapisi cat oranye, dan memiliki pintu segiempat hitam dengan bulatan atau lingkaran di bagian tengah. Perumahan tersebut tak dihuni oleh salah satu penduduk ataupun seseorang yang tinggal tak untuk menetap. Abiyu akan bersiaga dengan pistol plastik di sakunya agar dapat menembakkan air ke arah wajah mereka yang belum tuntas dengan tidur yang didapatnya serta tak tuntas mandi pagi. Sebuah kendaraan dengan empat ban besar menghampiri tiang yang memisahkan dua buah rumah. Rumah pertama, di sebelah kiri jalan adalah rumah seorang pegawai kantor pajak. Ia memiliki tiga anak lelaki yang masing-masing berselisih dua tahun. Anak pertama adalah tiga anak lelaki yang masing-masing berselisih dua tahun. Anak pertamanya adalah pegawai kantor pajak yang berlainan divisi. Dua bulan telah ia lewati dengan seragam putih-hitam yang membuatnya berjarak dengan pesawat komputer di ruangan kamar. Pesawat komputer tersebut merupakan benda tempatnya menyimpan foto-foto ketika ia berlibur ke Pelabuhan Ratu dan Pantai Pangandaran. Dua adik lelakinya bekerja sebagai pelatih olahraga di sebuah klub. Keduanya merupakan atlet bulu tangkis yang pernah meraih piala kemenangan selama berulang kali juara pertama, juara kedua, tingkat kota, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan tingkat Asia. Keduanya pun rutin mengaji dan menghapalkan Al-Qur’an setiap habis Magrib. Akhir pekan, sebelum mengunjungi arisan keluarga, kedua anak lelaki Pak Syukur akan menunggu kedatangan Pak Olip, guru mengaji di Kampung Cisaranten yang memiliki tiga jadwal pengajian yang harus diisinya pada hari Minggu.                

Pada hari-hari biasanya, yaitu Senin hingga Sabtu, Pak Olip akan mengisi lima hingga delapan pengajian. Pengajian ibu-ibu di tingkat Kelurahan, Kecamatan, kota, provinsi, hingga pengajian di luar provinsi. Mengunjungi sanak saudara, kerabat yang tak memiliki pemimpin, panutan, yang dapat menghapal satu juz Al-Qur’an. Biasanya, pengajian akan dilakukan pada petang hari jika ia berlangsung di luar kota. Pak Olip akan membahas kitab kuning, shirah nabawiyah, dan memberikan kesempatan kepada salah seorang perwakilan jemaah pengajian untuk menyampaikan kultum. Kuliah tujuh menit tentang pengalaman sehari-hari. Pengalaman memasak, pengalaman merawat pasangan dan anak-anak, pengalaman memasak dan menghidangkan masakan, serta pengalaman mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi sehari-hari. Bertengkar dengan saudara sekandung yang telah berkeluarga dan memiliki kesibukan berdiskusi dengan tetangga yang telah sukses menjalani hidupnya sebagai native speaker di Turki setelah mengikuti suaminya yang bekerja sebagai penyelia di sebuah kantor yang menangani barang-barang impor dan barang-barang ekspor. Pak Olip selalu memercayakan segalanya kepada sopir yang dimilikinya, yaitu Pak Soleh yang telah menghabiskan waktu mengantarkan Pak Olip ke banyak tempat. Masjid, rumah-rumah penduduk di perumahan, penampungan masyarakat bawah, pedesaan korban bencana banjir dan tanah longsor, serta perkantoran kota-kota besar. Pak Soleh membantu Pak Olip mengingat wajah dan nama orang-orang dalam hidupnya. Ia menyimpan kartu nama, maka Pak Soleh akan mencatatnya dalam buku catatan, buku agenda bertuliskan angka tahun pada tahun yang sama ketika ia mempelajari juz pertama, juz kedua, dan juz ketiga Al-Qur’an. Pada akhir tahun sebelumnya, Pak Soleh telah menuntaskan hapalan Al-Qur’annya yang telah memasuki juz keempat. Akhir bulan, setelah menerima gaji, Pak Soleh akan menghapalkan setiap kata dan kalimat Al-Qur’an yang dihapalnya ketika jeda, ketika menunggu Pak Olip menuntaskan ceramah atau tausiah singkatnya. Pak Olip hampir tak pernah jatuh sakit. Tubuhnya selalu segar bugar, wajahnya selalu cerah, sementara orang-orang selalu mendapatinya sebagai seseorang yang sama, seseorang yang menyapanya dengan ucapan-ucapan lembut serupa tapai singkong yang difermentasikan dengan cukup waktu. Suara mereka, ibu-ibu pengajian tersebut hampir seperti suara istrinya yang telah lama meninggal dunia. Istri Pak Olip adalah seorang guru mengaji yang membuka langgar di ruang depan rumahnya yang berukuran dua kali satu sentimeter. Di dalam ruang tersebut, istri Pak Olip meletakkan Al-Qur’an, Mushaf yang dimilikinya sejak muda, ketika ia masih berusia empat tahun. Setiap tahun, ayahnya yang juga seorang guru mengaji, memiliki pesantren dan santri yang taat, akan memberinya hadiah, berupa Mushaf Al-Qur’an edişi terbaru. Mushaf Al-Qur’an tersebut tak pernah berpindah tangan meski ke tangan anak perempuannya yang lebih memilih ruang kamar sebagai tempatnya belajar mengaji, membaca Al-Qur’an dan buku-buku lain, serta melukis pemandangan di atas buku gambar yang telah memasuki tumpukan keenampuluhdelapan. Pak Olip dan Pak Soleh masih membina hubungan baik dengan keluarga almarhumah istrinya yang bertempat tinggal di Tasikmalaya. Istrinya dulu, ketika mereka pertama kali berkenalan adalah seorang penghapal Al-Qur’an yang menjadikan ruang depan dan ruang belakang rumah sebagai tempat menghapalkan Al-Qur’an dan tempat membaca shirah nabawiyah dan kisah-kisah sahabat nabi. Kini, ruang depan dan ruang belakang rumah Pak Olip selalu memiliki semerbak harum kasturi meski anak perempuannya, yaitu Rosi tak menyemprotkan minyak wangi. Pun tak meletakkan bunga, pot bunga berisi akar mawar, atau lilin pengharum ruangan. Ruangan depan rumahnya sesekali saja dihampiri oleh tubuh yang sedang menemukan jeda, pemisah antara aktivitas yang satu ke aktivitas lain. Selama setengah jam, paling lama, Pak Olip akan menghabiskan waktu untuk mengingat-ingat kenangan. Hal-hal yang barangkali pernah terlewatkan ketika ia masih mengisi waktu dan keseharian dengan istri yang sangat dicintainya. Pak Olip hampir tak pernah meneteskan air mata, kecuali saat ia menemukan pantulan wajah di permukaan kaca. Wajahnya serupa, hampir mirip dengan istri yang sangat dikasihinya. Dua kali setahun, Pak Olip akan mengnjungi makam istrinya. Ia menjadi satu, menjadi sama dengan makam lain, jasad lain, nama-nama lain, seseorang yang lain, salah satu di antara jemaah, pengingat nama dan wajahnya, pemanggil namanya untuk menoleh, pemugar bangunan dan rumah tua yang terletak di samping jalan besar, penanak nasi sebuah restoran yang selalu menyambutnya dengan sapaan hangat seumpama musim yang terus bergulir. Pak Olip tak memiliki jadwal untuk mengunjungi rumah kediaman Pak Syukur sehingga mobil dengan empat ban besar tersebut dapat melintas tanpa hambatan. Seorang janda berusia tujuh belas, berambut untaian tanaman jagung, berdiri di tepi jalan, tak jauh dari gapura. Janda tersebut baru saja diceraikan oleh salah seorang montir motor yang bekerja di bengkel motor Galuh, tak jauh dari jalan dan warung nasi Hajjah Aminah. Saat warung nasi Hajjah Aminah sepi pembeli, janda berambut untaian jagung tersebut akan meninggalkan rumah kecil dan anak semata wayangnya yang baru berusia dua tahun. Anak perempuan tersebut merupakan anak montir Bengkel Motor Galuh yang saat itu tengah melakukan pendekatan dengan seorang pegawai Kantor Desa, lima hari dalam seminggu, dengan gaji tiga ratus ribu rupiah. Montir Bengkel Motor Galuh tersebut bercita-cita menjadi pacar, kekasih, teman dekat, atau suami dari Fitriyani. Janda berambut anyaman jagung tersebut telah mengetahui kabar tersebut dari salah seorang pedagang oncom dan jalabria yang biasa berkeliling pada pagi hari, sekira pukul tujuh.                                                             


Lihat selengkapnya