Paraji

Eka Retnosari
Chapter #30

Pedagang Oncom dan Jalabria

Enti adalah pedagang oncom dan jalabria yang berulang kali mengantarkan kabar tentang segala jenis pendekatan yang telah dilakukan dan masih dilakukan oleh montir Bengkel Motor Galuh. Mulai dari menawari tiket konser Noah hingga ajakan untuk menghabiskan Sabtu petang di warung mi instan tengah kota yang kini mendaptkan sebuah grup musik pengiring latar dan beberapa menu tambahan. Menu baru seperti mi goreng sambal terasi kepala ikan dan mi rebus gulai cabai hijau kornet sapi yang disajikan dengan irisan daun jeruk dan daun kemangi segar. Fitriyani pegawai kantor desa belum menyanggupi ajakan lantaran kesibukan dan perasaan tak nyaman, tak enak hati, kepada janda berambut jagung tersebut. Janda berambut jagung tersebut bernama Desi, memiliki awalan huruf yang sama dengan salah seorang pacar yang kini telah menjadi mantan. Deni Martono adalah mantan pacar yang telah memacarinya sejak usianya tujuh tahun hingga usianya genap delapan tahun. Saat itu, mereka menempuh pendidikan di sekolah yang sama, yaitu Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan 02 Bandung. Desi menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, sementara Deni Martono menempuh perjalanan dengan sepeda. Deri tak mengalami masa pendidikan di Sekolah Dasar Inpres, dengan sepeda. Deri tak mengalami masa pendidikan di Sekolah Dasar Inpres, Taman Kanak-kanak, dan Kelompok Bermain (Kober).                                                

Sebuah Taman Kanak-kanak terletak tak jauh dari Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan 02 Bandung. Ia berdampingan dengan pagar kuning setinggi dua meter di muka jalan, tak jauh dari area tempat pedagang jajanan menjajakan es berbagai rupa, bentuk, dan wadah serta sirup perasa. Sementara kue pukis dan semacamnya, keripik dan semacamnya, donat dan cokelat, didekatkan ke arah pintu masuk Taman Kanak-kanak dan pintu belakang Sekolah Dasar Negeri Bina Harapan 02 Bandung. Deni Martono meninggalkan Desi setelah mereka melewatkan pengalaman pertama menonton film di bioskop. Lima kilometer dari gapura tempat Desi menunggu menonton film di bioskop. Lima kilometer dari gapura tempat Desi menunggu kedatangan mobil pribadi yang dipesannya, terdapat bioskop pertama di Bandung Timur. Astor dan dingdong telah berhasil menarik perhatian anak kecil dan anak muda yang belum memiliki pengalaman menonton film, terlebih menonton film di bioskop. Bagi Desi, hal itu, pengalaman menonton film di bioskop adalah pengalaman pertamanya. Bagi Deni Martono, hal tersebut merupakan pengalaman keseratus, sementara bermain dingdong merupakan pengalaman pertamanya dalam bermain, memainkan permainan di luar rumah. Setelahnya, Deni Martono akan mengajak Desi untuk menonton film dan bermain di rumahnya saat kedua orang tuanya sedang sibuk bekerja. Kakak perempuannya masih menghabiskan waktu, belajar, les, dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Deni Martono memperkenalkan Desi kepada permainan Mario Bros, sepasang montir berseragam overall yang tak pernah lepas dari kumis dan topi pet. Ia tampak begitu antusias dan senang dengan jeritan, mulut yang terbuka dan pipi bersemu merah. Deni Martono meninggalkannya pada tahun kedua perkenalan dan pertemanan, tanpa memiliki permasalahan dengan perkuliahan, huruf kapital, alfabet, dan sederet kata bertema seperti buah-buahan, sayur-sayuran, jenis kendaraan, ibu kota negara Asia dan Eropa, serta arah angin dan rambu lalu lintas. Deni Martono meninggalkan kecamatan yang mempertemukannya dengan Desi, meninggalkan Bandung, meninggalkan Indonesia, untuk kemudian tinggal di Amerika Serikat. Bersekolah di salah satu sekolah swasta, memiliki teman dekat seorang lelaki yang juga berawalan huruf D, gemar mengoleksi dan memainkan segala maçam permainan, serta mulai memiliki kepercayaan diri untuk menyanyi di ruang publik. Desi tak pernah lagi mengingatnya, menuliskan namanya, serta mencari tahu kabar terakhir tentangnya. Ia berjumpa dengan banyak teman, wajah baru yang sebagian adalah lelaki. Ia melakukan perkenalan, mencoba berbagai jenis pakaian dan warna yang dirasanya cukup pantas melekat di tubuhnya, mengunjungi tempat-tempat baru semacam bioskop. Meninggalkan kawasan Bandung Timur, berjalan-jalan ke tengah kota, mencoba berkenalan dengan salah seorang seniman sebelum akhirnya melalui pengalaman pertamanya. Menjadi model sebuah lukisan seorang seniman Bandung yang menghargai lukisannya seharga seratus lima puluh ribu rupiah. Lukisan wajah dan tubuhnya yang masih terhubung meski tanpa kain dan pakaian, diletakkannya di dalam kamar. Di atas sehelai tempat tidur yang berganti rupa dan wujud pada tahun dua ribu.                                                            

Montir Bengkel Motor Galuh adalah kakak dari teman sekelasnya yang gemar berkelakar, yaitu Dadan. Dadan dan kakak lelakinya menggemari topi hingga topi dibawanya masuk ke ruang kelas tempatnya mengikuti pembelajaran. Dadan senantiasa bergurau dengan teman-teman sekelasnya dan juga gurunya. Bahkan, dalam lembar jawaban ulangan dan ujian yang dilaluinya. Saat guru kelasnya menanyakan perbedaan antara lengkeng dengan dukuh, Dadan akan berkata bahwa keduanya adalah buah yang sama, tak memiliki perbedaan. Guru kelasnya kemudian akan memberikan penjelasan dengan memaparkan perbedaan antara keduanya dengan menonjolkan serta menunjukkan perbedaan pada gambar dan foto sampai akhirnya Dadan bersimpulan bahwa lengkeng dan dukuh adalah buah yang berbeda. Pada kemudian hari, sekira tiga tahun setelahnya, Dadan menyadari satu hal dalam hidupnya. Ia, ketika itu, sedang menemani Deti, pacarnya yang bekerja di sebuah rumah sakit sebagai petugas pembersih ruangan. Deti mengajaknya berkenaan sepulang bekerja dan supermarket menjadi pilihannya untuk menghabiskan waktu dan mengisi masa perkenalan dengan kegiatan yang bersifat nyata. Mereka memilih supermarket sebagai tempat berjalan-jalan agar pacarnya dapat menemukan Mogu-mogu, minuman kesukaan yang selalu mengingatkannya pada Korea Selatan. Makanan, film, lagu, dan aktor yang digemari. Seorang sales promotion girl bertubuh tinggi, menyapanya di samping deretan minuman ringan. Ia menawarkan makanan kaleng berisi buah lengkeng dan air gula. Dadan kemudian menyadari bahwa lengkeng yang dimakannya adalah lengkeng paling lezat sedunia. Ia membenarkan semua yang telah dan pernah dikatakan oleh guru kelasnya. Dadan mengirimkan doa keselamatan untuk guru kelasnya yang telah meninggal dunia pada tahun 1998 karena gejala tipes yang dialaminya. Dadan menziarahinya pada hari raya Idul Fitri karena guru kelasnya dimakamkan di tempat yang sama, yaitu Taman Pemakaman Umum Jati. Montir Bengkel Motor Galuh tak pernah akrab dengan masjid. Wajahnya sangat asing dengan air wudhu, bedak, serta krim yang dapat melembabkan. Pendidikannya berakhir pada tahun 1996 ketika perkelahian antara kakak kelas, yaitu siswa SMP Swasta Bina Harapan melemparkan batu ke arah wajahnya. Wajahnya terluka, tepat di pelipis kanan. Darah mengalir dari pelipis. Mereka berkelahi di muka kelas, lantaran pakaian hangat bertopi yang memisahkannya dengan bangku, tas, yang dibawanya ke tengah kelas. Montir Bengkel Motor Galuh membalas pukulan yang tiba di wajahnya setelah gagal meyakinkan seniornya, kakak kelasnya, bahwa ia tak mencuri jaket bertopi seperti yang dimaksud olehnya. Senior, kakak kelasnya itu bersikeras bahwa Montir Bengkel Motor Galuh tersebut telah mengambil jaket miliknya dan menyimpannya dalam tas punggung miliknya yang semula tampak tipis dan tak berisi. Salah seorang kawan senior, kakak kelas Montir tersebut berinisiatif untuk melakukan penggeledahan. Ketika mereka melakukan penggeledahan mereka menemukan tas tersebut berisi jaket bertopi warna putih bertuliskan huruf dan angka di bagian dada depan. Montir Bengkel Motor Galuh bersikeras bahwa jaket yang mereka temukan adalah jaket miliknya, pemberian saudara lelakinya yang bekerja di pabrik jaket di Garut. Jaket tersebut merupakan hadiah ataş bantuannya memilah jaket yang dapat dijual di pasaran dan jaket yang dapat dimasukkan ke dalam pabrik untuk digunakan oleh satpam pabrik dan petugas kebersihan. Kedua kakak kelasnya tak memercayainya. Mereka membenamkan wajah dan tubuhnya dalam genangan kotoran manusia yang tersebar di kawasan pacilingan, bersampingan dengan pematang sawah yang masih gembur dengan padi dan dua ekor kerbau milik Abah Encar. Jalan mungil tersebut memisahkan kawasan masjid dengan rawa, mempertemukan jemaah salat dan pengajian Masjid An-Nuur dengan kawasan pemakaman Taman Pemakaman Umum Jati setiap kali sesi berdoa telah tuntas dilakukan. Jika mereka menemukan seseorang serupa montir Bengkel Motor Galuh tersebut, pacilingan akan menjadi tempat paling tepat untuk membalas laku perbuatan. Hal yang sama berlaku pula kepada pencuri bebek dan telur bebek, pencuri kencleng masjid, pencuri sandal jepit, pencuri buah nangka Hajjah Aminah, dan pencuri listrik yang mengalir melalui kabel di salah satu rumah tetangga. Kepala keluarga yang mencuri aliran listrik dengan memasang kabel sambungan ke salah satu rumah, akan dibenamkan dalam pacilingan selama rentang waktu yang telah ditempuhnya dengan menyalakan lampu, televisi, radio, dan mainan anak-anak seperti game watch dan semacamnya. Sementara pencuri sandal jepit dan semacamnya biasanya adalah seorang asing yang datang bertandang. Sekali waktu, tanpa identitas berupa Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga. Seseorang yang bekerja sebagai Ketua Rukun Tetangga akan mengabadikan wajah pencuri sandal jepit tersebut sampai menemukan posisi terbaik untuk diabadikan dalam foto, kemudian melekatkannya di permukaan tiang listrik yang selalu terdengar riang dan ngiangnya pada tengah malam dan dini hari. Petugas keamanan dan warga yang bertugas untuk menjaga keamanan lingkungan akan mengitari blok rumah, masjid, hingga bak penampungan sampah yang menjadi batas paling akhir, pemisah antara kawasan rumah penduduk dengan pabrik. Tiang-tiang listrik dipenuhi gambar wajah, orang-orang yang menghampiri suatu kawasan dengan kelengangan, ingatan yang memuai jika mereka menanyakan perihal nama, usia, alamat, dan asal muasal. Sementara papan di depan masjid masih berisikan pengumuman tanggal ketika warga diperkenankan untuk melakukan ibadah kurban. Ibadah shaum Ramadan terakhir ditempel di dinding yang bersampingan dengan bedug yang terbuat dari kulit kerbau yang disembelih pada salah satu kurban. Warga biasanya akan menerima potongan angka yang merupakan nomor urut pengambilan potongan daging sapi, daging kambing, dan jeroan. Kepala kambing akan dijadikan santapan bersama. Dimasak dan diolah secara bersama-sama.                       

Lihat selengkapnya