Paraji

Eka Retnosari
Chapter #31

Memasang Ubin dan Marmer

Ceu Jua adalah seseorang yang bertugas untuk menyiapkan bumbu. Kepala kambing akan dijadikan santapan bersama. Dimasak dan diolah secara bersama-sama. Lengkuas, daun salam, tomat, palawija, bawang putih, hileud sawah, hingga segala jenis ketumbar. Desi masih menyandarkan tubuhnya di dinding gapura. Sepuluh menit lagi, seorang lelaki tua beruban, berpakaian kaus belang-belang, akan menghampirinya untuk mengisahkan cerita yang sama, yaitu anak perempuannya, Marni yang saat itu telah tuntas memasang ubin dan marmer di seluruh permukaan lantai rumah. Setelahnya, ia akan menceritakan Indri, cucu perempuannya yang telah mengalami perubahan bentuk serta memiliki lemari pakaian terbaru, berupa lemari pakaian geser ala Jepang yang bahan bakunya serupa dengan bakiak. Pada rentang tahun 1990-an, bakiak masih ramai digunakan oleh jemaah masjid dan pejalan yang benar-benar membutuhkan masjid untuk menunaikan ibadah salat, memberikan sumbangan ala kadarnya, serta menanyakan beberapa hal seperti tanah dan tekstur tanah, sosok yang paling berpengaruh di Kampung Cicukang, dan alat transportasi yang dapat digunakan, lazim digunakan oleh pendatang. Jemaah Masjid An-Nuur selalu menyodorkan jawaban melebihi pertanyaan yang diberikan. Jawaban-jawaban dilontarkan di permukaan sajadah, berselimut kain sarung yang tetap awet meski dipakai selama bertahun-tahun, dan tak jauh dari Mushaf Al-Qur’an yang sampulnya terlepas karena terlalu sering dijamah, dibaca, dan dikaji. Kiai Undi belum mengajukan penambahan untuk Mushaf Al-Qur’an yang biasa dibaca oleh jemaah Masjid An-Nuur. Ibu-ibu pengajian lebih senang melakukan hal atau tindakan yang lahir atas inisiatif sendiri. Mereka melakukan arisan dengan Al-Qur’an sebagai bonus atau tambahan selain uang sejumah lima juta rupiah yang dapat digunakan untuk membuka rekening haji dan umrah. Neni Ganeni, koordinasi arisan memasang tanggal, bulan, dan tahun yang dapat mereka gunakan untuk menunaikan ibadah umrah sebagai mula-mula. Sementara ibadah haji akan dilakukan pada tahun kesepuluh setelah tabungan arisan terkumpul pada waktu yang sama, di luar dari uang arisan umrah yang telah mereka setorkan setiap bulan.                                                                                                   

Hajjah Aminah adalah contoh utama dalam berhaji. Meski luas tanah, lahan, dan perkebunan masih banyak tersisa, ia lebih memilih untuk menabung dengan metode arisan meski kesibukan telah memisahkan Hajjah Aminah dengan ibu-ibu. Setelah menyisihkan pendapatan dengan angka yang sama, secara teratur dan kontinyu, Hajjah Aminah mendapatkan jumlah seperti yang telah ia rencanakan sejak muda, ketika usianya masih dua puluh lima dan ia berencana untuk menjadi sekretaris koperasi. Koperasi adalah unit usaha yang dibangun oleh suaminya, yaitu Tedi. Tedi hampir tak pernah lagi menghabiskan waktu dua puluh empat jam untuk bekerja, banting tulang selama delapan jam sehari setelah sawah, kebun, lahan parkir yang dimilikinya, dikelola oleh koperasi kemudian koperasi membagi keuntungan sebanyak tujuh puluh persen. Aan, menantunya, selepas bekerja sebagai kuli tinta di surat kabar, bekerja pula di Koperasi tersebut. Mencatat pembukuan yang merupakan hal baru baginya. Ia memiliki kegemaran baru, yaitu mengumpulkan banyak benang wol untuk istrinya. Aat agar ia dapat mengisi waktu luangnya dengan merajut pakaian hangat. Mantel dan sebagainya. Pada awal tahun dua ribu, rapat keluarga kecil-kecilan menghasikan sebuah keputusan besar yang maslahat bagi bersama. Keputusan itu terkait sisa tanah yang terletak di bagian belakang rumah Hajjah Aminah, bersampingan dengan Kantor Kelurahan, tak jauh dari sawah dan rumah petak kontrakan milik Tante Batak yang juga berbisnis dengan pengemudi angkutan kota Panghegar-Dipati Ukur. Dua buah kendaraan angkutan kota Panghegar-Dioati Ukur terparkir di depan rumah Tante Batak. Selain angkot, Tante Batak kemudian berinisiatif untuk memasang pesawat telepon rumah dan menjadikannya sebagai pesawat telepon umum. Dian dan anak-anak SMA seusianya, yaitu enam belas tahun, biasanya akan menghabiskan waktu petang hari dengan mengunjungi pesawat telepon umum warna biru yang terletak di samping Kantor Kelurahan Cisaranten Bina Harapan. Pesawat telepon tersebut menjadi objek yang dicari, dinanti, dan tak mengapa jika ia dijadikan sebagai tempat mengantre. Karena antrean tersebut mencapai meter kelima dan durasi satu episode opera sabun, Dian dan teman-temannya akan menghampiri rumah Tante Batak, memasuki pintu depan warung Tante Batak, kemudian melakukan panggilan telepon. Pesawat telepon berbentuk pesawat telepon kantoran, warna merah tua, yang disandingkan dengan kotak tempat menyimpan koin pecahan seratus rupiah. Tante Batak akan berjaga di samping pesawat telepon sebagai penjaga dan pengingat waktu. Ketika ia telah melompati waktu satu menit, Tante Batak akan mengingatkan Dian dan teman-teman untuk memasukkan koin pecahan seratus rupiah. Kakek tua beruban dan berkaus belang tersebut tak juga muncul dari undakan tangga, jalan tanjakan, dan gang sempit yang memisahkan antara rumah Pak Dadang dengan rumah Kodiron, alumnus D-3 Institut Teknologi Bandung yang bekerja sebagai tim produksi senjata PT Pindad. Desi memulas bibirnya dengan lipstik merah menyala dan sedikit terhenyak bahwa hari itu, montir Bengkel Motor Galuh sedang mengisi jadwal bekerjanya dengan memperbaiki tiga sepeda motor yang berlokasi tak jauh dari gapura. Perlahan, ia beranjak meninggalkan gapura dan berpikir bahwa memiliki seorang anak perempuan adalah kebahagiaan. Ia dapat mengisi harinya dengan memandikan dan mendandani anak perempuannya yang saat itu masih terlelap di tengah tempat tidur miliknya. Ketika berjalan, ia mencium bau sesuatu dan menerjemahkannya sebagai sebuah tanda keburukan. Hal yang serupa semacam perceraian akan menimpanya, sementara kendaraan pribadi yang dipesannya masih dalam perjalanan menuju rute terbaru, rute yang tak akan memperjumpakannya dengan montir Bengkel Motor Galuh. Jika ia berpapasan dengan sekawanan domba, yang juga milik Mang Jana, maka ia akan memasrahkan nasibnya siang itu kepada dua lelaki yang bertugas menjagainya. Selebaran telah diedarkan ke rumah-rumah penduduk warga Cicukang. Pamflet telah dihadiahkan kepada genggaman seseorang yang berjalan pulang dengan keringat ala kadarnya. Sepulang bekerja. Pamflet itu dibaca sekilas sebelum akhirnya menempati permukaan meja makan dan tertimpa tumpahan kuah sayur lodeh. Poster ditempel di papan pengumuman di samping gapura, berdampingan dengan jadwal siskamling dan pemberitahuan orang hilang. Kakek berkaus belang-belang berkerah dan berpeci tersebut telah meninggalkan rumah setelah berulang kali menghabiskan waktu dengan bersandar di dinding gapura. Dina dan ibunya segera melakukan pencarian sambil berurai air mata. Didatanginya Wawan Ketua RW dan Sopian petugas desa. Tak jauh dari kantor desa, terdapat bilik tempat pedagang pulsa, telepon genggam batangan, dan jasa cetak foto. Dina memohon kepada Sandi untuk mengetik pengumuman tentang kakeknya yang hilang, tinggi badannya, perawakannya, serta pakaian yang terakhir kali dipakainya. Sandi kemudian menenangkan Dina dan berkata bahwa setiap orang yang meninggalkan rumah, pada akhirnya akan kembali. Hal itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, kakek Dina pernah meninggalkan rumah ketika Nenek UU, pemilik sawah di Komplek Bina Marga, tiba pada musim panen. Encar, suaminya, yang telah berusia tua tanpa sepengetahuannya, membantunya memindahkan padi-padi yang telah menguning, membawa sepuluh karung beras ke pusat penggilingan beras yang terletak di kawasan Guruminda, dan memulangkan delapan karung beras untuk diletakkan di lantai bawah loteng Nenek UU yang berlapiskan kayu serta berseberangan dengan warung baru yang baru dibuka oleh seorang lelaki bertubuh pendek, alumnus Institut Teknologi Bandung. Ia baru saja menikah dengan perempuan yang dikenalkan oleh teman sepengajiannya. Guru Sekolah Dasar Islam yang mengharuskannya mengajar selama dua belas jam seminggu. Keduanya melakukan kunjungan silaturahim kepada dua rumah terdekat, yaitu rumah Hidayat juara catur dan rumah Nenek UU, pemilik sawah komplek Bina Marga. Dua karung beras berpindah ke gudang samping rumah Encar dan istri keduanya. Kepada Nenek UU, Encar berkata bahwa jumlah beras setelah mengalami proses penggilingan menjadi berkurang. Menyusut karena jumlah gabah lebih banyak daripada jumlah beras. Selain itu, tikus-tikus selalu saja berkeliaran. Memakan ujung karung sehingga satu atau dua karung kehilangan isinya. Banyak beras berjatuhan di jalan, berceceran, sebagian diminta oleh salah seorang pejalan yang barangkali sedang tersesat atau lupa jalan pulang seperti kakek Dina. Nenek UU mendengarkan dan memercayai Encar tanpa pernah menghitung jumlah karung beras dalam gudang rumahnya. Nenek UU tak pernah merasa bahwa dirinya kaya dan berkecukupan. Ia tak perlu menghabiskan waktu dengan berbelanja ke supermarket, terlebih lagi warung untuk mendapatkan beras. Dua orang cucunya, yaitu Eli dan Edi akan membantunya untuk mendapatkan lauk pauk seperti ikan asin, tahu, tempe, dan telur ayam. Nenek UU, selain menanam padi di sawah, juga gemar menanam sayuran. Terung hijau, cabai merah, cabai gendot, bawang merah dan bawang putih meski ditanam di ruas tanah yang tidak terlalu luas. Lima kali delapan meter, dua petak dari sawah tempatnya menanam padi. Nenek UU suka menanam padi seorang diri, tanpa ditemani Encar dan kedua cucunya. Anak perempuannya, Enah, telah berkeluarga dan memiliki sebuah rumah di pegunungan Leles. Setiap kali lebaran atau dua kali setahun, Enah akan mengunjungi Nenek UU, memasakkan masakan yang biasa dimasaknya. Sambal terasi, nasi putih berasap, ikan asin, tahu dan tempe goreng, serta rempeyek udang. Tetangga depan rumah Nenek UU, membagikan keripik pisang dalam kemasan plastik bening transparan sebagai oleh-oleh yang dibawanya dari kampung halaman istri barunya. Istri Kodiron alumnus Institut Teknologi Bandung gemar tersipu, bersuara pelan, dan memakai kain kerudung warna yang sama dengan warna gaun yang sedang dipakainya. Suaranya sepelan bisikan angin sehingga ibu Hidayat juara catur harus berulang kali memastikan jawaban yang didengarnya agar tak keliru ketika diceritakan kembali kepada anak perempuannya yang selalu tinggal di dalam kamar, yaitu Ratna.                                                      


Lihat selengkapnya