Ibu Hidayat juara catur menyuguhkan teh manis dan ubi goreng di meja tamu. Kodiron memandangi cermin besar segiempat berbingkai emas yang terletak di ruang tamu. Cermin tersebut berhadapan dengan hiasan berbentuk burung rajawali, boneka koala mini, dan komedo kecil yang telah dikeraskan dengan air keras. Tak jauh dari cermin, terdapat perahu pinisi yang setiap benang dan layarnya, mesti dipasang dan direkatkan secara berurutan. Suami dan ibu Hidayat juara catur, masih sempat memperbaiki susunan perahu pinisi tersebut sebelum ia meninggal dunia karena meningitis dan tuberkolosis. Tak seorang pun karib dan tetangganya mengira bahwa suami dari ibu Hidayat juara catur akan meninggal dunia pada Kamis petang, sebelum Magrib ketika Senin pagi disambutnya dengan semangat bekerja. Lelaki berusia lima puluh delapan tersebut meninggalkan rumah dengan menggunakan sepeda. Melintasi kawasan rel kereta di Cisaranten, sebelum akhirnya berputar kembali di kawasan Panghegar. Ia, melintasi kawasan Pasar Gede Bage, berbelanja jaket kulit berkerah bulu rusa dari salah seorang pedagang cimol seharga seratus lima puluh ribu rupiah. Jaket tersebut tak segera dipakainya. Ia disimpan dan dikemas dalam bungkusan kertas koran dan plastik hitam. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Salim yang kemudian disapanya dengan ‘Ibu Salim’. Perempuan bersuara serak tersebut memintanya untuk mengecat dinding kamar anak perempuannya. Biasanya, suami dari Ibu Hidayat juara catur akan melakukan penyanggupan kepada orang-orang yang mendatangi rumahnya, entah itu di teras ataupun ruang tamu. Orang-orang selalu menjadikannya tempat meminta pertolongan dalam keadaan darurat, genting, sewaktu-waktu. Rumah seseorang yang dimasuki seekor tikus besar, atap rumah seorang nona mahasisi D-3, hingga kesempatan untuknya membunuh seorang garong atau maling lanjut usia, orang Batavia, yang tertangkap basah sedang memindahkan perhiasan Hajjah Aminah dan uang dagangan lotek ke dalam buntalan hitam. Sumai dari Ibu Hidayat juara catur bertugas untuk menembak kaki kiri garong tersebut ketika mencoba untuk melawan dan melarikan diri. Garong tersebut diletakkan di tengah lapangan parkir rumah Hajjah Aminah sampai akhirnya sebuah mobil polisi tiba untuk melakukan penahanan. Ibu Salim memintanya untuk melakukan pengecatan dinding kamar ketika anak perempuannya sedang mengikuti acara ekstrakurikuler di sekolah yang mengharuskannya menginap. Suami dari Ibu Hidayat juara catur kemudian menyanggupinya dan berkata bahwa ia akan datang pada keesokan harinya. Suami dari ibu Hidayat juara catur tiba pada pukul tujuh pagi, memeriksa keadaan kamar, melakukan kegiatan belanja seperti yang diinstruksikan, kemudian melakukan pengecatan hingga selesai. Petang hari, sebelum Magrib, suami dari ibu Hidayat juara catur telah mengecat seluruh permukaan dinding sebelum akhirnya berpamitan. Saat ia sedang mengendarai sepeda dan telah menempuh perjalanan selama lima menit, sepeda yang sedang dikendarainya terjatuh dan menimpa polisi tidur dan tempat sampah. Ia terjatuh tanpa luka, mampu menaiki sepedanya kembali dan menempuh perjalanan pulang. Malam harinya, suami dari ibu Hidayat juara catur terkena demam tinggi. Tubuhnya mengigil, mengeluarkan keringat dingin, panas tinggi, hingga tak sadarkan diri. Hidayat juara catur segera melakukan inisiatif, mendatangi mantri desa untuk mendapatkan dokter desa yang sedang memiliki luang waktu. Mantri desa, dokter lulusan Unpad yang baru lulus kuliah dan mengabdikan diri di Desa Cimenyan tersebut kemudian tiba di rumah ibu Hidayat juara catur untuk memeriksa suhu tubuh suaminya. Suhu tubuhnya empat puluh derajat Celcius. Ia mendapatkan resep obat yang harus ditebus pada keesokan harinya. Ratna melakukan pembelian obat di apotek 24 jam, sementara ayahnya terbaring di atas lantai dengan kasur busa setinggi tiga puluh sentimeter. Matanya memerah, mulutnya meracau, dan suhu tubuhnya semakin meninggi. Setelah mendapatkan obat dan makanan yang kembali dimuntahkannya, suami ibu dari Hidayat juara catur terbaring tak sadarkan diri kemudian meninggal dunia pada Kamis malam. Satu hari sebelumnya, yaitu Rabu pagi, suami dari ibu Hidayat juara catur memuntahkan air putih hangat yang diminumkan oleh anak perempuannya, yaitu Ratna. Mulutnya tak lagi meracau, sementara air putih hangat diminumkan oleh anak perempuannya, yaitu Ratna. Mulutnya tak lagi meracau, sementara suhu tubuhnya semakin meninggi. Ratna kemudian berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit Islam yang terletak di Jalan Soekarno Hatta. Ratna menghubungi instalasi Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Islam lalu sebuah mobil ambulans datang kemudian. Ibu Hidayat juara catur, Hidayat, dan Ratna, menemani suami dan ibu Hidayat juara catur yang terbaring di tengah ruangan mobil ambulans. Ketika mobil ambulans tersebut tiba di halaman unit Instalasi Gawat Darurat, dua orang petugas segera menyambut pasien dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Pasien diletakkan di ruang pemeriksaan Unit Gawat Darurat. Dua orang dokter, dibantu perawat, memeriksa suhu tubuh, jantung pasien dengan sebuah alat bernama EKG, kemudian salah satu perawat melakukan pemeriksaan terhadap paru-paru, mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium, serta menyiapkan ruang perawatan untuk pasien. Setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan kelas tiga, Ratna dan ibu dari Hidayat juara catur bergantian menemani pasien. Dokter dan perawat memasuki ruangan pada malam harinya, Rabu malam, untuk menyampaikan hasil rontgen, hasil pemeriksaan laboratorium, dan sebagainya. Dokter Rumah Sakit Al Islam menyampaikan kepada Ratna bahwa ayahnya terkena meningitis, tuberkolosis, dan demam tinggi. Dokter mengambil sampel sumsum tulang belakang ayahnya untuk diperiksa di laboratorium. Ratna kemudian berinisiatif untuk memulangkan pasien dan melakukan rawat jalan di rumah. Kamis petang, setelah menenggak obat, ayah Ratna meninggal dunia. Teman-teman dan tetangga ayahnya, pun kerabat yang biasa menemaninya mengobrol dan mengisap kretek, berdatangan untuk mengantarkan jenazah. Ratna dan ibu dari Hidayat juara catur menangisi kepergian lelaki berusia lima puluh delapan tersebut. Matahari senja terang dan bersemburat. Adik dari Dina, tetangganya, mengajukan pertanyaan kepada kakaknya tentang ketiadaan burung-burung selama pemakaman dan sebelum pemakaman. Pertanyaan tersebut dijawab oleh kakeknya yang saat itu belum meninggalkan rumah. Poster kemudian ditempel dan direkatkan di permukaan batang pohon, sementara kertas berukuran A4 yang dicetak pada hari sebelumnya telah berpindah ke tangan ketua RW dan anak buahnya, yaitu Uya, Nelis, dan Arben. Ketiganya telah menyampaikan pemberitahuan melalui pengeras suara Masjid An-Nuur sebelum akhirnya berkeliling dengan menggunakan sepeda berkeranjang. Menghampiri satu per satu ketua RT, memastikan bahwa mereka memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Kertas tanpa foto kakek Dina kemudian dilekatkan dan direkatkan di permukaan dinding gang yang biasa dilintasi oleh jemaah Masjid An-Nuur, jemaah Masjid Al Hidayah, dan buruh pabrik PT Tomenbo.
Ibu Dina, menunggui kepulangan ayahnya di muka gang, di samping gapura, dengan kain terlingkar di leher dan mata basah. Jika seseorang semacam Desi Parlinawari yang janda atau Wiwi yang sesekali menjual diri melintas dan melontarkan pertanyaan, ibu Dina akan berkata bahwa ia sedang menunggu kepulangan ayahnya, sambi memeluk sebuah mangkuk putih ayam jago yang biasa digunakannya untuk bubur sumsum kesukaan ayahnya. Bubur sumsum tanpa tambahan mutiara dan es batu. Pada rentang tahun 1990-an, pedagang bubur sumsum yang beragama Kristen itu tak menambahkan apa pun dalam bubur sumsum yang dijualnya. Dua panci besar berisi bubur sumsum, gula merah yang telah dicairkan serta santan kelapa. Warga Kampung Cicukang, mulai dari RW 1 hingga RW 9, akan membeli bubur sumsum tersebut dan menyantapnya dalam keadaan panas. Setelah tahun 2000-an, pedagang bubur sumsum tersebut bercerai dengan istrinya yang muslim kemudian menikah untuk yang kedua kalinya dengan perempuan Kristen yang berasal dari gereja yang sama. Setelahnya, ia menambahkan bubur sumsum yang dijualnya dengan mutiara merah muda dan es batu. Pembeli lainnya tetap melakukan pembelian, pada terik hari, di sela-sela waktu istirahat buruh pabrik. Buruh pabrik tak selalu menjadikan bakso, lotek, dan kupat tahu sebagai makanan makan siang, selain kotak makan siang hari berisi nasi, telur, dan potongan sosis pucat, buruh pabrik akan memesan bubur sumsum dengan tambahan es batu dan mutiara merah muda yang dapat ditandaskan dalam waktu singkat. Lima menit saja. Ratna melintasi papan pengumuman sehingga ia dapat menjawab pertanyaan ibunya saat ia menanyakan isi dari poster yang baru direkatkan. Ratna berkata bahwa tiga puluh hari setelah ini, sebuah pergelaran akan diselenggarakan di pusat desa. Pertunjukan layar tancap.