Paraji

Eka Retnosari
Chapter #33

Orang-orang Baru dan Pendatang

Orang-orang baru, pendatang asal luar kota, bekerja sebagai pegawai honorer. Ia bekerja sebagai sekretaris, bersama dua orang staf sehingga mengoperasikan komputer adalah hal yang biasa terjadi. Pesawat komputer baru, telah menempati ruangan depan dan ruangan tengah. Ruangan depan diperuntukkan bagi notulen rapat yang juga bertugas untuk mendokumentasikan semua kegiatan, rangkaian kegiatan yang terjadi pada hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat, pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore. Hal itu berlangsung setiap hari. Pengulangan ritual yang sama dan diselingi oleh sesekali rapat yang membahas hal-hal yang terjadi selama waktu-waktu tertentu dan inspeksi ketika hujan tiba pada musim kemarau. Telepon umum tersebut menjadi tempat pertemuan orang-orang seperti pengamen yang kehilangan pacarnya, pelajar yang tak sempat melanjutkan perkenalan dengan pelajar dari sekolah lain, dan seorang pekerja yang wajib menghubungi sesama pekerja. Atau orang-orang yang memiliki banyak waktu luang untuk bercakap-cakap tentang hal-hal yang telah lama berlalu seperti kisaran, taksiran, dan ampas-ampas yang berenang mulai dari daratan hingga ke tepian sebuah hilir. Orang-orang akan patuh terhadap jadwal untuk bertamasya. Sabtu untuk melakukan serangkaian persiapan seperti mandi lebih dari dua kali sehari, memasang masker di wajah, dan merapikan kuku. Telepon umum menjadi tempat pertanyaan-pertanyaan dilontarkan seperti pertanyaan tentang harga terendah sebuah produk terbaru. Pengering rambut, sisir yang dapat digunakan untuk membentuk gelombang pada rambut, dan alat senam yang dipajang dengan harga mula-mula. Harga perkenalan, sebelum harga-harga yang mesti ditebus dengan setengah jumlah penghasilan dan penawaran yang tidak pada tempatnya seperti apakah bisa barang-barang tersebut mendapatkan pemangkasan harga hingga tujuh puluh lima persen. Lalu apakah barang-barang tersebut dapat dicicil sebanyak lima belas kali. Atau apakah barang-barang tersebut dapat ditukar dengan barang serupa hingga memenuhi syarat tertentu, yaitu syarat minimal pembelian dan syarat maksimal pendapatan. Orang-orang tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti, utuh, dan benar. Mengenai jumlah, kemungkinan-kemungkinan, terlebih mendapatkan barang-barang tersebut secara cuma-cuma. Gratis, tanpa perlu melakukan pembayaran seperti pertemanan antara teman sebaya dan persahabatan antara dua saudara kandung yang berlainan usia dan berlainan visi, misi, serta peruntukan. Orang-orang mendapatkan hal yang sama tentang jawaban, yakni pesawat telepon yang ditutup secara tiba-tiba, tanpa jawaban, tanpa balasan, terlebih salam. Kesunyian menjadi tanda berakhirnya sebuah upaya pencarian dan penemuan terhadap hal-hal yang belum tentu benar, namun terkemas dalam pengemasan yang elok dan memesona. Hari Minggu menjadi waktu paling tepat untuk melakukan perjalanan-perjalanan ringan seperti perjalanan dalam kota, menuju tempat wisata. Berenang di kolam renang dan tempat pemandian umum, menonton film di bioskop, dan menaiki dataran tinggi. Menempati tempat-tempat yang memungkinkan untuk melihat pemandangan seperti deretan pepohonan, langit yang bersih dari kabel dan pesawat terbang, dan rumput-rumput yang masih berembun serta tak memiliki bagian yang sobek dan telah berubah warna.

Pada akhir pekan, para pekerja kasar dan buruh, serta pengajar paruh waktu yang bekerja hampir dua puluh empat jam sehari, akan melakukan pengambilan gambar. Dengan kamera saku berklise panjang atau kamera polaroid yang dapat disewakan selama dua hingga tiga jam. Kamera polariod itu dipajang dengan bentuk, rupa, serta warna yang sama di pinggir jalan besar. Di atas trotoar dan tak jauh dari lampu lalu lintas. Sementara itu, fotografer sewaan dengan tarif Rp15.000 hingga Rp45.000 per jam akan berbaris rapi, sesuai nomor urut dan antrean, untuk mendapatkan kesempatan memotret salah seorang kepala keluarga sebuah keluarga yang dapat tertawa pada akhirnya. Akhir pekan menjadi waktu paling tepat untuk melupakan telepon umum di samping kantor kelurahan, terlebih pesawat televisi dan surat kabar usang yang memberitakan suatu hal dengan cara yang sama. Namun, penempatan dan tempat yang berbeda. Aki Ada akan menelusuri jalan sunyi untuk mencari seseorang, pedagang ulen yang disajikan dengan cara dibakar. Tanpa minyak, penggorengan, dan sudut lancip yang dapat menimbulkan suara derak ketika tiba di mulut pengunyahnya.

Aki Ada hampir berusia seratus tahun. Anak kandung dan menantunya adalah salah satu di antara banyak pekerja yang merindukan akhir pekan. Akhir pekan itu, mereka lalui dengan bertamasya ke Ciwidey. Memetik buah stroberi dan merendam kaki di kolam belerang berwarna toska serta melintasi kebun teh yang tak pernah sepi dari para pemetiknya. Pukul enam mereka akan kembali pulang, membawa buah tangan berupa teh manis dalam kemasan botol dan teh manis dalam kemasan kotak. Aki Ada menyukai segala jenis teh, dengan atau tanpa gula. Selain teh, Aki Ada menyukai ketan bakar meski sering terlupa, dan kadang sering tertukar, bahwa pedagang ketan bakar yang tak pernah memedulikan hari libur adalah Enti, anak kandung Encar yang juga tak pernah mengisi akhir pekan dengan bertamasya dan berbelanja baju baru. Selain Aki Ada, Encar pun menyukai ketan bakar dan teh manis yang dijerang kemudian dituang ke dalam cangkir loreng seukuran lima kali bibirnya yang akan selalu tertawa ketika ia tiba di teras rumah ibu Ratna. Kunjungannya yang tiba-tiba tersebut, selalu tentang atap rumah yang tidak tampak indah. Atap yang tak memiliki genting terbaru sehingga genting-genting tersebut selalu dipenuhi dan ditutupi lumut. Lumut-lumut itu tak hanya melekat di permukaan genting, namun berpindah ke permukaan dinding bata, latar tempat ibu Ratna mencuci pakaian dan piring-piring, serta tiang di halaman belakang yang bersampingan dengan dapur tempat Ratna merebus mi instan dan menjerang minuman semacam sereal instan. Pun penekuk yang adonannya lebih mudah daripada adonan kue kering semacam nastar, kastangel, dan lidah kucing. Ibu Ratna tak menanam lidah buaya sehingga ia memiliki telapak kaki yang kasar, berbelah, dan membawa-bawa jejak yang dibawanya dari permukaan lantai tempatnya mengingat dan melupakan beberapa hal dalam hidupnya seperti jumlah benang yang belum dipisahkan dari plastik yang mengemasnya dan jumlah gaun yang tergantung di lemari pakaian tanpa pernah terambil kembali oleh seseorang yang menjahitnya pada suatu waktu. Orang-orang asing yang tak tinggal untuk menetap dan menginap meskipun hanya sesaat, mendatangi rumah ibu Ratna untuk melakukan pengukuran terhadap tubuh, lingkar dada, lingkar pinggang, dan tepian lengan. Sekali waktu, mereka menatapi dinding, hiasan di sudut ruang tamu, serta kertas lepas bergaris yang disobek dari salah satu halaman, biasanya halaman terakhir, untuk direkatkan di permukaan dinding. Kertas-kertas semacam jadwal belajar seminggu, daftar tugas yang harus diselesaikan, serta kertas bertuliskan motto, kata-kata mutiara yang diambil dari halaman buku motivasi yang sekali waktu dipinjam dari perpustakaan sekolah. Para pemesan gaun tersebut, biasanya akan menanyakan hal-hal terkait wajah seseorang dalam potret, gambar seseorang dalam lukisan, dan pemilik dari kertas bergaris tersebut. Lalu sambil menuliskan angka yang tertera dalam meteran sepanjang 150 sentimeter, ibu Ratna akan menjawab pertanyaan orang-orang tersebut. Bahwa lelaki dalam potret tersebut adalah suaminya. Ia telah meninggal dunia karena meningitis, TBC, dan stroke. Biasanya, ia pandai berkawan dengan tetangga dan sesamanya. Namun, tubuhnya tak kuat lagi bekerja dan melakukan perlawanan terhadap kematian yang seringkali datang bertubi dalam berbagai bentuk. Sesekali menyamar sebagai undangan-undangan yang mengejutkan, salam-salam ala kadarnya, dan obrolan ringan menjelang waktu Magrib tiba. Sementara wajah dalam gambar atau lukisan adalah wajah Nyai Roro Kidul yang pada waktu-waktu tertentu, disamarkan dan diubah namanya menjadi seorang perempuan tanpa nama yang berasal dari Bali. Wajahnya yang tenang seperti lautan dan rambutnya yang panjang menjuntai serta lancip pada bagian ujungnya, menjadi patokan utama kecantikan. Siapa yang mampu menyamar, akan mendapatkan kekuasaan serupa dengan Nyai Roro Kidul.

Pemilik kertas tersebut adalah anak kandungnya yang masih harus belajar menguraikan angka dan membenarkan letak pembalut dalam celana dalam. Ratna mendiami ruangan kamarnya yang sunyi dan sesekali saja dikunjungi atau didatangi teman perempuan yang bersekolah di tempat yang sama. Meski mereka tak duduk di bangku yang sama, teman perempuan Ratna, yakni Nengsih, akan melakukan percakapan-percakapan ringan seperti film-film usang yang diputar di televisi, cowok terbaru yang meninggalkan kartu nama dan sedang melakukan pendekatan, serta rencana-rencana yang akan diwujudkan lima tahun yang akan datang. Nengsih tidak terlalu menyukai telepon umum. Ia lebih menyukai pertemuan-pertemuan langsung sehingga berkunjung ke rumah tetangga adalah hal yang mesti ia lakukan selain membersihkan rumah, memasak masakan rumahan, dan membantu ayahnya menghilangkan rasa pegal dengan memijat leher, kepala, dan telapak kaki. Ratna sekali waktu mendatangi telepon umum untuk menghubungi satu-satunya nama yang dapat ia ingat ketika membaca buku mata pelajaran, modul, atau surat kabar berisi tajuk rencana, artikel, dan cerita pendek surat kabar. Ratna menghubungi seorang lelaki pemalu yang tak pernah memiliki keberanian untuk melihat dan menatap perempuan. Terlebih melakukan sapaan, mengobrolkan hal-hal yang bersifat musiman seperti pakaian dan potongan rambut, pun memisahkan diri dalam kerumunan. Ratna melakukan panggilan yang diikuti dengan sebuah sapaan. Sapaan terebut tak berujung dengan kata, kalimat, dan pembahasan tentang guru Matematika terbaik atau guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang dapat menjelaskan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan tanpa tertawa. Ratna mendengarkan suara burung, bersamaan dengan hilangnya suara lelaki pemalu tersebut. Burung-burung itu tinggal dalam sangkar yang sekilas tampak seperti tembikar. Lelaki pemalu tersebut tinggal di ruang belakang, tak jauh dari dua ekor burung yang dipelihara oleh ayahnya. Ayahnya adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam yang telah hafal 30 juz Al-Qur’an dan telah menunaikan ibadah haji sebanyak sepuluh kali. Lelaki pemalu tersebut turut menunaikan ibadah haji sebanyak dua kali dan sedang dalam perjalanan menuntaskan hafalan Al-Qur’annya. Burung-burung berkicau dalam sangkar, mengabarkan petang yang masih mengambang. Ratna menutup percakapan dengan suara keping koin yang gaduh di telinga dan tak terdengar hingga tertinggal dalam ruang-ruang semacam perasaan.



Lihat selengkapnya