Para pemesan gaun tersebut meninggalkan satu hingga dua pasang gaun yang terbuat dan tersusun dari kain semi sutera, memakai renda di setiap tepi, serta memiliki lapisan di bagian dalam pakaian. Ibu Ratna mencoba pakaian yang berbeda ketika memakai gaun yang dipajang di pertokoan dan gaun yang dipakai secara langsung di rumah penjahit yang melakukan pengukuran seorang diri. Gaun-gaun tersebut menempati lemari kayu jati dan menunggu pemiliknya hingga bulan-bulan setelahnya, hingga tahun-tahun setelahnya, dan hingga waktu yang tak dapat ditakar dan ditawar oleh pedagang ulen.
Enti yang sangat menyayangi ayahnya, yaitu Encar biasa meracik ulen pada Sabtu malam. Ulen sebagian digoreng dengan minyak curah tanpa menyertakan karet gelang dan plastik kemasan. Enti masih belum berumah tangga, tinggal bersama Imas dan Encar. Imas adalah istri kedua Encar. Setelah istri pertamanya meninggal dunia, Encar memiliki seluruh sawah yang pernah digarap oleh istri pertama. Pun rumah, beras-beras di gudang bawah loteng kayu, hong tempat istri pertama memasak nasi asap, nasi yang memiliki rasa asap dari kepulan yang mengepul dari tungku, bata, dan panci berbentuk terompet. Encar pun memiliki sumur dengan air paling jernih, kucing-kucing yang turun-temurun dan tak pernah mencakar, serta atap yang tak dipenuhi rumput ataupun lumut. Atap rumah itu adalah objek pertama yang dilihat oleh Encar tiap kali Encar mendatangi dan mengunjungi rumah kayu yang lotengnya menghadap ke jalan tersebut. Sebelum kematian istri pertama Encar, anak pertamanya yang adalah seorang perempuan, mengemasi barang-barang untuk kemudian pulang. Anak pertama Encar tinggal di Leles, semula bersama dua anaknya, lelaki-perempuan. Cucu pertama Encar, yaitu cucu pertama istri pertama Encar mati bunuh diri dengan cara meloncati lantai dua loteng rumah istri pertama. Ia tak mendapati satu pun kenangan baik yang tertinggal dari pertengkarannya dengan ibu yang melahirkannya. Ibu yang melahirkannya menghardiknya tentang pakaian yang dikenakannya. Petang hari adalah waktu yang krusial. Pada waktu-waktu tersebut, semua perempuan tak diperkenankan untuk keluar rumah, memakai pakaian yang memperlihatkan lutut, betis, dan paha, serta menampakkan perhiasan yang biasa melekat dan tampak ada di wajah dan permukaan tubuh. Sementara itu, anak kedua yang adalah cucu kedua istri pertama Encar akan kembali pulang, menemui ibu yang melahirkannya. Kematian kakak perempuannya di tengah jalan selebar lima meter yang memisahkan gapura dan halaman rumah Hajjah Aminah, membawa duka selama tujuh hari, yakni satu minggu. Istri pertama Encar mengadakan acara tahlilan, sampai akhirnya membagikan makanan berupa nasi kotak tembikar yang terdiri atas nasi, ayam, ikan asin, tempe, tahu, dan kerupuk. Istri pertama Encar tak menghendaki adanya kematian yang disegerakan seperti bunuh diri dan semacamnya. Ia menyusul cucu pertamanya setelah terbaring di ruangan kamarnya yang tak berjendela dan tak berlampu. Kamar tersebut terletak di samping dapur, tak jauh dari tungku yang kehilangan asap dan benda-benda semacam bata merah dan abu yang dapat digunakan sebagai tapas pembersih panci, penggorengan, dan sendok. Pun peralatan makan lainnya. Pertengkaran yang terjadi setiap kali Encar datang berkunjung adalah pertengkaran dengan tanpa menyertakan bahasan tentang istri kedua, Enti, dan ulen-ulen yang biasa dijajakannya pada Minggu pagi. Enti tak pernah berkekurangan. Semua ulen yang dimasaknya selalu habis terjual. Rumah Encar menghadap ke arah rawa yang permukaan airnya dipenuhi eceng gondok, antanan, dan belukar yang menautkan gedebog pisang dengan daun pisang. Gedebog pisang tersebut dipisahkan dari mayit yang disertainya. Mayit-mayit yang semua bersampingan dengan gedebog pisang tersebut, akan menempuh masa dan waktunya untuk merenangi selokan besar selebar dua hingga tiga meter. Selokan besar tersebut berair jernih, memiliki rincik yang sama seperti rincik yang mengalir di sekitar kulah. Mula-mula, ia terlalui oleh satu atau dua pejalan yang menghabiskan waktu dengan menghadiri pemakaman. Menghadiri pemakaman adalah hal yang merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan homestay, Kuliah Kerja Nyata mahasiswa, dan liburan seorang pekerja kantoran. Menghadiri pemakaman pun menjadi materi pembelajaran insidental yang diajarkan di pesantren-pesantren semacam yayasan ataupun rumah singgah. Orang-orang menyamarkan pertautan antara kehidupan dengan kematian dengan berada pada area terdekatnya, pada jarak terdekatnya dengan liang kuburan, yakni liang kematian. Manusia tak boleh menjaga jarak dengan kematian yang selalu mengejarnya dengan berbagai cara dan berbagai upaya. Melalui peristiwa yang disamarkan serta pertautan antara orang pertama dan orang kedua.
Enti mendapati Aki Ada tengah berjalan menuju teras rumah Encar. Punggungnya telah ringkih dan memiliki derak sehingga ia berjalan dengan sangat pelan. Meski begitu, Aki Ada tak menggunakan tongkat sebagai alat bantunya ketika berjalan. Aki Ada adalah seseorang yang akan berjalan dengan tenang hingga tujuan karena merasa sangat yakin pada ulen bakar yang dimilikinya. Ulen tersebut dijajakan dengan menyertakan bawang, sambal kacang cair, dan cabai rawit hijau. Aki Ada tak mesti menyertakan rajukan demi mendapatkan ulen bakar kesukaannya. Sementara itu, anak-anak kecil yang tak menggemari tamasya, bioskop, dan berbelanja di pasar, akan mendapati tumpukan ulen goreng sebagai pilihan yang harus dibeli sebelum seorang perempuan dewasa melakukan pembelian untuk keseluruhan ulen. Enti tak harus melakukan promosi dan pemberitahuan tentang ulen-ulen yang telah tuntas dibakarnya. Encar menarik dua kursi plastik yang tersimpan di belakang kaca dan bersampingan dengan sofa hijau bunga-bunga. Kursi plastik tersebut berderet sehingga Encar, Imas, dan Enti selalu siap menerima kedatangan tamu, yakni orang-orang yang begitu menyukai ulen dan orang-orang yang hendak mengobrolkan atap, genting rumah, dan cara menatap rumah. Penataan paling tepat untuk rumah yang menghadap ke arah rawa, namun masih tampak dekat dengan kawasan pekuburan Jati.
Pada malam Jumat, ia selalu mendapati aroma kemenyan yang dikepulkan dari kawasan pekuburan. Tak jauh dari kawasan pekuburan, terdapat rumah petak milik Wati yang telah mengelola bangunan dan orang-orang di dalamnya dengan banyak kegiatan serta aktivitas yang dapat melenakan pemiliknya. Namun, dapat membuat mereka menyibukkan teman-teman sesamanya sehingga hal pertama yang mereka lupakan adalah minuman beralkohol. Setelahnya, mereka akan melupakan minuman-minuman semacamnya, obat-obatan terlarang, dan film porno. Mereka tak lagi memiliki sempat untuk mengakses film porno dan meniru perbuatan orang-orang di dalamnya.
Aki Ada melahap ulen bakar setelah mengawalinya dengan rapal basmalah dan doa sebelum makan. Rapal basmalah tersebut menjadi pemisah atara Aki Ada dan Encar. Orang-orang di sekitar, biasa menyapa Encar dengan menyertakan sapaan ‘Abah’. ‘Abah dilekatkan pula kepada orang tua yang telah lanjut usia dan memasuki angka delapan puluh, namun tak mendapati kehadiran salah satu anak, salah satu cucu. Aki Ada mengemas pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan kisah tentang anak pertamanya yang baru saja membeli sepeda motor bekas seharga satu juta delapan ratus ribu rupiah. Sepeda motor tersebut digunakan oleh anak, menantu, dan cucunya untuk menempuh perjalanan menuju tempat wisata. Selain sepeda motor, mereka pun membeli topi tembikar berpita yang dikenakan oleh cucu lelakinya ketika menelusuri jalanan dan menikmati pemandangan. Pemandangan orang-orang berjualan, orang-orang bertemu, orang-orang berpisah, dan orang-orang melakukan pembelian terhadap mainan, balon, serta kaus kaki bertuliskan angka dan nama pemain sepakbola. Aki Ada mendapati ruangan yang ramai oleh para pembeli ulen, lembaran yang berpindah ke dompet dan saku Enti, serta Imas yang tak pernah kehabisan akal dan topik pembicaraan. Imas berusia sepuluh tahun lebuh muda daripada istri pertama Encar. Selain itu, ia aktif menghadiri pengajian di masjid tiap Kamis petang dan memiliki sanak famili yang tersebar ke hampir seluruh tempat dalam kota yang sama dengan kota tempatnya tinggal. Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Tasikmalaya menjadi kota yang dapat mendatangkan ketenangan bagi anak-anak dan menantu karena adanya pembela ketika mesti berhadapan dengan penentang. Aki Ada tak memiliki gigi lagi sehingga ulen bakar yang terhidang dalam piring seng di hadapannya hanya dapat dikulum dan dihaluskan sebisanya. Ia paling suka aroma asap dan arang terbakar yang tinggal dalam ketan. Sambil menyesapi aroma asap dalam mulutnya, Encar menyodorkan kopi hitam tanpa ampas ke hadapan Aki Ada. Aki Ada menyentuh ketan hitam yang bersampingan dengan ketan bakar. Ia menanyakan nama mayit yang meninggal paling akhir tatkala gedebog pisang berenang hingga tiba di teras rumah Encar. Imas kemudian menyela percakapan dan berkata bahwa gedebog pisang tersebut adalah gedebog pisang yang melalukan sisa-sisa dari penebangan pohon pisang. Tak ada yang meninggal, tak ada yang mati. Meski akhir pekan selalu menyodorkan sepi, petang hari, sebagian orang akan kembali menuju telepon umum samping kelurahan yang menawarkan ruang untuk beristirahat dari rutinitas selama satu hingga dua menit. Aki Ada berucap hamdalah kemudian melahap ulen terakhir dalam piringnya.