Hari ini hari minggu, Lena, Dewi dan Tari libur dari kerja. Sita senang sekali, karena tidak kesepian lagi. Dan ia akan menceritakan pengalaman horornya pada saat mereka tak ada di rumah.
“Yang benar Sit, jangan-jangan kamu hanya berhalusinasi ketakutan karena selalu diteror Rio anak gang 5."
“Beneran, aku gak bohong ya. Kalian ya ... gak percayaan sama aku.” Sita dengan nada sewot.
“Sudah .. gimana kalo kita lotisan, sambil ngomongin pengalaman kita masing-masing, " tawarnya.
“Sip ... aku setuju.” Tari mengacungkan jempol kanannya. Lena hanya sibuk dengan hapenya. Sita pun berubah ceria karena Dewi bersedia mendengarkan ceritanya.
Setelah menyiapkan bumbu rujak dan buah ala kadarnya mereka sedikit berbisik, kadang tertawa renyah.
Tiba-tiba pintu diketuk seseorang. Keras sekali ketukannya hingga membuat mereka kaget dan saling pandang.
“Siapa?” tanya Dewi sambil mengunyah mangga yang dibalur dengan bumbu rujak. Tak ada jawaban. Sita bergidik melihat suasana saat ini. Apalagi ia masih ingat kejadian-kejadian aneh di kamar kostnya.
“Ih ... siapa sih iseng banget.” Tari tak sabar beranjak kepintu luar. Dengan melangkah sedikit berlari ia membuka pintu dengan kasar. Pandangannya langsung takjub melihat sosok laki-laki jangkung di depannya.
“Siapa kamu?” Spontan Tari mundur beberapa langkah. Laki-laki muda yang kira-kira berusia 20 tahunan tampak tersenyum ke arah Tari. Senyuman itu sungguh memesona.
“Ih kok malah senyum-senyum sih?” pelotot Tari. Ia merasa seperti dikuliti oleh laki-laki muda ganteng itu.
“Lagi asik ya neng ... boleh aku nimbrung dengan kalian?” Sontak keempat gadis itu melongo dan saling berpandangan. Lena langsung bereaksi cepat-cepat.
“Ya Bang sini nimbrung sekalian, kenalan dengan kita-kita. Oh .. ya namaku Lena.” Lena tersenyum sambil menjabat tangan laki-laki itu.
“Alex ...”
Tari dan Dewi agak cuek melihat tingkah mereka. Mereka asyik dengan lotisan buahnya, Sita pun ikutan makan dengan santainya. Dia sudah tahu gelagat para lelaki yang mencoba merayu gadis-gadis lugu.
Alex menarik kursi dan berbicara santai. “Kalo kamu siapa namanya?” tanya Alex mengarah pada Sita.
“Sita Om ... ups.” Sita menutup mulutnya yang keceplosan. Ya pantas disebut Om, usianya tak lebih dari 30 tahunan.
“Hei ... Sita, salam kenal ya.” Alex seakan tidak peduli dengan sebutanOm tadi. Sita tersenyum. Tinggal Tari dan Dewi yang belum memperkenalkan diri.
“Saya Tari dan ini teman saya Dewi. "
Alex memandang kedua anak itu bergantian. Ada yang aneh diantara mereka.