Sita Story

Tri harnanik atas asih
Chapter #5

Di Kamar Tari

Hari senin, hari pertama orang pada beraktifitas. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang menunggu bis sambil mengotak atik Hp. Ada yang gelisah nunggu jemputan di tempat kerjanya. Ada yang nongkrong-nongkrong di warung gang 5. 

Sita melangkahkan kakinya ke warteg. Ingin sekali merasakan sayur asem plus ikan pindang dan sambel terasi kesukaanya. “Hmm ... yummy.” Ia merasa seperti pulang ke kampung menikmati sayur asam buatan ibunya yang tak ada duanya.

“Sayur asamnya buk, plus ikan pindang jangan lupa kasih sambel terasi sedikit yak.” Sita memesan makanan favoritnya. 

Sita celingukan ke sudut jalan menuju gang 5. Tumben Rio tak ada disana. Beberapa hari ini ia tak pernah muncul menganggunya lagi. Syukurlah kalau gitu, ia tak merasa terganggu lagi. Sita tersenyum sendiri. 

“Ni Neng 10.000 saja," ujar pelayan warteg yang bernama mbak Inah, Sita segera menyodorkan uang sepuluhan ribuan di kantong celananya.

“Gak kuliah neng?” tanya mbak Inah, sambil merapikan gelas kotor di meja.

“Gak bu, libur UTS kok.” Sita tersenyum simpel sambil mengulurkan uang sepuluh ribuan. “Makasih ya Bu..."

“Iya neng ..”

Sita segera beranjak kembali ke kostnya jalanan ramai dan padat. Hilir mudik orang berjalan hampir tak ada celah. Maklum samping kost-kostan putri terdapat masjid besar di komplek Auri. Masjid yang punya sejarah di masa lalu hingga hampir setiap hari kegiatan pengajian didalam masjid itu. Apalagi kalau bulan puasa, jamaahnya membludak sampai ke pelataran masjid.

Gang 5 begitu ramai hari itu. Sita buru-buru masuk ke kamar kostnya. Sesaat ia tertegun ada sandal 2 pasang di depan kamar Tari. “Apa mereka gak kerja hari ini?” Pikirannya berkelana. Biasanya mereka paling rajin berangkat ke tempat kerja, jarang mereka libur.

Pintu kamar Tari sedikit terbuka, berarti anaknya gak sedang tidur. Sita buru-buru ingin menyapa Tari, tapi diurungkan niat tersebut.

Terdengar suara samar-samar percakapan antara Tari dan temannya. “Siapa itu?” bisik Sita dalam hati. Hembusan nafas yang terdengar pelan dan kata-kata mereka terucap dari mulut Tari.

“Sayang ... aku pingin cuti sehari, dua hari kira-kira, Leader kita mengabulkan tidak ya?”

“Tentulah, kalau kamu punya alasan yang kuat."

“Ya ... aku pingin kita melewati hari itu dengan leluasa tanpa ada bayangan Leader Susi yang cerewet itu.”

“Ya ... aku mengerti, kamu senangkan aku disini?” tanya lawan bicara, yang sudah diduga itu suara Dewi.

“Ahh ... sungguh menjijikan!" makinya dalam hati. Sita tiba-tiba pingin muntah melihat percakapan mesra yang dilakukan teman kostnya itu.

Lihat selengkapnya