Warung ini terletak di sudut pertigaan yang menghubungkan antara gang 5 dan gang 4. Warung kecil ini yang selalu berada di ujung jalan ini bernama warung Kopral Jono karena Jono sendiri adalah anak pelarian yang tadinya ingin masuk perwira, gagal karena tertipu oleh oknum tetangganya sendiri yang kini kabur tak kembali.
Warung kopral adalah tempat tongkrongan anak muda, yang terdiri dari berbagai kalangan, diantaranya pekerja pabrik, sopir, kuli bangunan, mahasiswa dan pegawai bank harian (plecit).
Walaupun kecil, tempat ini selalu ramai. Barang-barang yang dijual seperti galon isi ulang (kebutuhan untuk anak kost), rokok, mie instan dan berbagai makanan ringan lainnya. Kopral Jono berasal dari Yogyakarta yang merantau ke Bekasi ikut kakaknya.
Seperti hari itu warung kopral ramai oleh pengunjung. Terlihat Lena berbincang akrab dengan kopral.
Dengan gaya genitnya rambut dikibaskan ke samping, ia berkata “ Mas nanti kirimin galonnya ya, bayarnya biasa akhir bulan. Belum gajian nich.” Lena dengan cueknya bersandaran di bahu kopral, membuat orang yang melihat risih.
Kopral menggeliat tak enak, walaupun kalo sendiri ia pasti menikmati moment langka itu. "Modus ..." pikirnya.
“Iya ... tenang aja Len ... nanti kukirim.”
Lena tersenyum dengan wajah ayunya ia mengucapkan terimakasih.
Segera ia berlalu dari hadapan kopral dan beberapa pembeli. Dengan rok mini dan kaki jenjangnya ia melangkah menuju asrama putri.
“Suiit ... suiiit ...” terdengar suara menggoda dari arah warung kopral. Pemandangan yang biasa untuk orang-orang yang suka nongkrong dan melihat cewek cantik lewat.
“Siapa tuch namanya?” tanya laki-laki yang bertopi dengan handuk melingkar di lehernya. Kalo lihat penampilannya seperti sopir truck.
“Lena ...” jawab Kopral singkat. Ia sibuk dengan masakan mie instannya.
“Salam ya ... he ...he ...”
"Tidak ingat dengan yang di rumah? Nanti ketahuan loh.” seloroh kopral Jono.
“Ah ... dirumah aman, dijalan lain lagi ceritanya. Ha .... ha ...” omongan supir itu mulai ngelantur.
“Eh ... Kopral,” sopir itu memperbaiki duduknya. “Selama aku disini, tuch asrama putri kok terlihat sepi ya .. Apa penghuninya tidak penuh seperti tahun kemarin?”
Kopral tertegun mendengar ucapan seperti itu. Ia juga baru sadar kalau penghuni kost putri lambat laun menurun. Tidak seperti tahun kemarin, berjubel sampai-sampai itu Bu Irfan menolak orang yang mencari kost-kostan.
“Hei .... malah bengong!” teriak sopir melempar kulit kacang ke arah kopral.
“Aku juga heran ... penghuni kost di tempat Bu Irfan tinggal yang di 10 pintu. Itu artinya 6 pintu kosong. Bulan kemarin ada Rena, pulang kampung karena ingin menetap dan bekerja di sana. Tapi beberapa orang yang menghuni di tempat itu ... Tak tau alasan mereka memilih pindah tempat."
“Berarti ada sesuatu yang membuat anak-anak kost memilih pindah,” kata sang sopir.
Kopral mengerutkan dahi, “Bisa jadi ...”
Selama ia menjaga warung bertahun-tahun baru tahun ini kejadian yang janggal ia rasakan di asrama putri milik Bu Irfan.
Reihan si anak aneh dan misterius, jeritan malam jumat dan aroma-aroma dupa di tempat itu, saat ia mengantar pesanan dari anak kost putri. Entah galon isi ulang, delivery makanan cepat saji, ataupun pulsa dan paket data.
Beberapa omongan miring ia rasakan tentang rumor asrama putri. Kondisi tempat itu tergolong megah, karena terdapat taman kecil dan bangunan kost berlantai 2 dan terkesan minimalis. Ruangannya juga rapi dan bersih. 1 set meja hias, kasur busa lengkap dengan bantal dan guling.
Selama ini ia tidak melihat kejadian aneh dengan mata kepala sendiri dan ia anggap sebagai angin lalu. Kopral yang menghuni di asrama putra di gang 4. Komplek itu memang sangat terkenal di wilayah Bekasi Timur. Di samping letaknya strategis, dekat jalan tol, BTC (Mall), Depsos dekat juga dengan pasar, makam Taman pahlawan. Siapapun yang singgah di komplek AURI akan terasa nyaman dan tak ingin pindah dari sana. Tetapi untuk asrama putri di gang 5 tidaklah demikian.
Mungkin ini pengaruh dari makam yang dipaksa dibangun asrama kost oleh pemilik asrama. Karena tanahnya punya Purnawirawan yang dihibahkan untuk pemakaman.
Gayanya urakan, rambut ikal dipotong pendek. Pakaiannya yang selalu dikenakan kaos oblong dan celana jeans. Tidak pernah ketinggalan topi sport yang bertengger di kepalanya. Dewi nama anak itu. Kost di tempat asrama putri milik Pak Irfan.