"Ayo cepat pergi dari sini.” Teriak Sita sambil menggandeng Rio. Rio terpana sesaat dan kemudian mengikuti arah Sita berjalan meninggalkan asrama putri.
“Ada apa sich, kayak liat hantu?” setelah jauh berjalan mereka duduk di depan taman kota arah Bekasi Timur.
“Ya ... Ri... Oke aku ceritakan sekarang ya..” dan Sita pun mulai menceritakan kejadian-kejadian aneh di tempat kostnya. Derap langkah kaki misterius, Dewi dan Tari, anak kecil pembawa dupa, Alex yang aneh, ayunan yang bergerak sendiri tanpa ada angin di taman belakang, dan terakhir suara gemericik air yang tak ada orangnya.
Rio menatap Sita tak percaya. Ia menangkap ada sesuatu beban yang luar biasa dalam diri Sita.
“Oke .. tenang Sit, aku siap membantumu.”
“Tapi dari mana kita mulai, aku gak mau masuk dalam bagian ini. Apa aku harus keluar dari asrama putri?”
“Eh .... jangan, kamu tak perlu takut. Kita akan menyibak misteri selama ini, apakah ada sangkut pautnya dengan ibu kost dan Alex?”
“Aku gak kuat Ri ... apalagi aku harus berkonsentrasi dengan skripsiku yang tinggal sedikit lagi selesai.”
“Tak mudah mencari kost-kostan dalam waktu dekat ini, percayalah kamu tidak akan celaka.” Aku yang jamin.
“Sekarang kita ganti topik, tentang Dewi dan Tari. apa kita bongkar rahasia mereka dengan menjebak agar mereka mengaku?” Sita menggeleng cepat.
“Aku belum berani dengan usulanmu. Kalau mereka balik membenciku bagaimana?”
“Ah ... kamu selalu gak enakan ma orang lain. Kalau nyawa kamu terancam bagaimana, apa mereka mau membantumu?”
Sita hanya termenung. Dalam hatinya membenarkan setiap perkataan Rio. Ia tinggal di kost sendirian. Teror tiap hari ia rasakan, sementara Dewi, Tari dan Lena tak terlihat saat teror itu terjadi.
“Iya Ri ... sebentar sepertinya ada yang janggal. Kenapa setiap teror yang ditunjukan padaku mereka selalu tidak ada. Apa jangan-jangan pelakunya?”
“Siapa Sit? Apa kamu mencurigai seseorang?”
“Ada sich ... penghuni kost atau mungkin malah ibu kost dan Alex. Tapi apa tujuan mereka?”
“Oke .. gini kita rencanakan apa yang harus kita lakukan mulai nanti malam. Teman-temanmu pulang jam berapa?”
“Gak tau ... aku gak bisa tidur larut malam, jadi gak tahu kapan mereka pulang.”
“Nah itu dia kita mata-matain mereka dari kejauhan jangan sampai mereka tahu apa yang kita rencanakan.”
“Iya ... terus sekarang aku tak berani tidur di asrama malam ini.” Sita berkata pelan, peluh di keningnya menandakan ia kelelahan. Rio cepat-cepat mengambil sapu tangan dan diberikan pada Sita.
Sita menoleh ke samping, mata mereka beradu pandang. Sita cepat-cepat mengambil sapu tangan itu dari tangan Rio. Rio tersenyum.
“Kamu janji mau melindungiu kan?”
“Iya tenang saja, kita sama-sama ingin memecahkan misteri ini dengan cepat kan?”Sebelum menjalankan aksinya mereka menghabiskan waktu ke mall, makan di resto dan nongkrong di taman.
“Sudah saatnya beraksi,” bisik Rio.