Sita Story

Tri harnanik atas asih
Chapter #8

Malam kelam

Sita dan Rio rencana malam ini ingin menyelesaikan teror misterius yang dilancarkan oleh Dewi dan Tari. Dengan mengendap-endap Sita pulang ke asrama putri. Rio menyelinap masuk mencari tempat persembunyian. Di kamar lorong dekat kamar Dewi.

Sita memberanikan diri saat masuk ke kamarnya. Ia harus melewati kamar Dewi dan Tari. Hening tak ada sesuatu yang mencurigakan. Dengan langkah setenang mungkin ia membuka pintu kamarnya. Bau pengap menyeruak dari dalam kamar. Seharian ia tinggalkan kamarnya tanpa ia bersihkan kamar yang berukuran 3 x 4 m itu. 

1 menit 2 menit waktu berjalan. Ia sengaja mematikan lampu kamar agar bisa memantau dari dalam kamar hal-hal yang mencurigakan di asrama putri ini. Tiba-tiba kilat menyambar, padahal siang hari cuaca cerah sekali.

“Apa malam ini mau hujan,” desahnya pelan. Ia beranjak duduk dekat jendela kamar yang menghubungkan taman Bu Irfan dengan kamar kostnya. Pandangannya menyapu 1 demi satu sudut taman. 

Pandangannya terpana pada ayunan. Ada sosok berbaju hitam dan topi pet sedang berayunan. Pelan sekali, wajahnya pucat sekali. “I ... tuuu kan pak Irfan!” hatinya menjerit. Buru-buru ia mengeluarkan ponsel di dalam tas untuk menghubungi Rio, tapi saat ia menengok lagi ke taman, sosok itu sudah tidak ada. Ia pun mendesah pelan.

Di luar kamar kostnya, ada suara langkah terseret menuju kamarnya. Spontan membuat Sita menggigil ketakutan. “Si ... siapa itu, apakah orang suruhan Dewi yang ingin menghabisinya?” langkah itu berhenti tak lama kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Antara rasa takut dan penasaran ia membuka kedua sudut untuk memastikan siapa yang selama ini menakut-nakutinya.

“Itu kan Dewi ...” mata Sita terbelalak kaget. Topinya ia kenal dengan sosok yang merubah bentuk  laki-laki dengan jubah hitam rambut ikal agak gendut dengan celana cut bry kesukaanya. Sita tak pernah salah menebak sesuatu yang disukai Dewi maupun temannya.

Dengan keberanian yang tersisa, Sita membuka pintu kamar. Dewi mundur beberapa langkah.

“Kamu ... Dewi kan?” tanya Sita menyelidik.

Sosok yang ada di depan Sita diam tak bergerak. Tiba-tiba dari arah belakang Rio menyekap sosok tersebut.

“Ayo ngaku!” teriak Rio. Orang itu meronta-ronta kesakitan. Kedua tangannya di tarik kebelakang, otomatis ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di lantai. 

Rio buru-buru melepas topengnya. Dan benar dia adalah Dewi yang ia curigai selama ini. “Dewiii !!!” pekik Sita. 

“Kenapa kau melakukan ini padaku, apa salahku?” tanya Sita sengit. Dewi diam tak berkutik, tetapi mata liarnya menatap Rio dan Sita bergantian.

“Tega sekali kau teror aku, sampai aku ketakutan," kata Sita kalap. 

“Memang kenapa? Kamu pantas mendapatkannya.”

“Tapi kenapa alasannya, apa aku punya salah?” 

“Banyak, banyak sekali kesalahan yang tidak sadar kamu lakukan.”

“Jangan mencari-cari alasan Wi, kamu sudah ketahuan jadi kamu harus ikut aku, akan kulaporkan pada Ibu kost, biar kamu diusir!” teriak Rio.

Dewi mendengus geram. Jari-jari bergerak meronta-ronta tapi tangan Rio lebih kuat darinya. 

Tiba-tiba dari arah belakang Tari datang, “Hei ... apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan?" Ia panik melihat Dewi jatuh tak perdaya, kemudian Tari memeluk Dewi. 

“Kamu tidak apa-apa? Kok jadi gini sich?” 

“Makaya kalo bikin rencana yang matang," sindir Rio. Sita tersenyum sinis.

Lihat selengkapnya