Parents-parents Rivalry

Ayuning Dian
Chapter #6

Pengakuan


Berbeda dengan kediaman keluarga Amartya yang minim ornamen, keluarga Ramdan lebih menekankan tema green house pada tempat tinggal mereka. Tak heran, jika dari halaman telah terlihat suasana serba hijau. Di ruang tamu pun, tanaman hias diatur sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan menenangkan dan menyegarkan.

Di ruang itu pula, Kamal dan Aliya sedang menunggu dengan cemas kedatangan Kirana. Setelah mendapatkan petunjuk dari Indri beberapa menit lalu, rumah kawan lama mereka segera dikunjungi. Beruntungnya, saran dari Indri tepat. Rima, ibu Satria, menjelaskan bahwa Kirana memang ada bersama mereka.

Di sofa lain, Damar dan Nabila terlihat lebih tenang kendati benak mereka gelisah. Sementara sang tuan rumah yang menemani, Gema Ramdan, tampak canggung dengan keadaan tersebut. Basa-basinya dengan Kamal dan Aliya dirasa kurang tepat waktunya sehingga dia lebih sering menyela perbincangan dengan menyilakan minuman yang telah mendingin di atas meja.

Aliya lekas-lekas bangkit saat sosok sang putri terlihat dari celah-celah lemari kabinet yang memisahkan ruang tamu utama dengan ruang tamu sekunder. Wajahnya semringah. Tanpa menunggu Kirana mendekat, dia langsung menyongsong. Dipeluknya sang putri semata wayang dengan haru. Kamal pun menghela napas lega. Dia turut menghampiri keluarga kecilnya.

“Syukurlah kamu enggak apa-apa, Sayang. Mama khawatir banget tadi. Mama pikir kamu..., ah, sudahlah. Sekarang kamu di sini dan semuanya akan kembali seperti dulu,” kata Aliya.

“Maaf, ya, Al, kami enggak langsung kasih tahu kamu. Soalnya, kami juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Rima menjelaskan.

“Nana yang minta ke Tante Rima supaya enggak kasih tahu siapa pun dulu,” terang Kirana.

Aliya tersenyum. Dia mengusap wajah sang putri dengan binar bahagia. “Enggak apa-apa, Sayang. Kita cerita nanti aja setelah sampai rumah, ya.”

“Ma, sebelum itu, Nana mau tanya satu hal. Nana mau Mama sama Papa jawab dengan jujur.”

Aliya tersenyum ragu. Nalurinya mengatakan sesuatu yang tak menyenangkan akan terjadi. Namun demi sang putri, dia mengiakan saja. “Mau tanya apa, Sayang?”

Kirana menatap orang tuanya bergantian, kemudian melirik sekilas pada Damar dan Nabila. “Apa benar, mereka orang tua kandung Nana?”

Tubuh Aliya menegang. Senyumnya seketika pudar. Pertanyaan itu membuat insting keibuannya bekerja lebih kuat. Cepat-cepat dia menggamit kembali sang putri.

“Kenapa kamu tanya seperti itu, Sayang?”

“Ma, Nana udah gede,” keluh Kirana. Dia tatap sang mama dengan lembut, “Nana butuh penjelasan. Nana enggak mau ada rahasia-rahasiaan lagi. Semalam Nana dengar semuanya. Tentang Nana, tentang mereka ..., tentang Mama.”

“Sayang....”

“Itu benar, Na. Damar dan Nabila adalah orang tua kandung kamu.” Tiba-tiba, Kamal menyela. Hal itu terang saja membuat Aliya terkejut bukan main. Matanya melotot pada sang suami.

“Papa! Kenapa Papa malah ngomong gitu?” protesnya.

Lihat selengkapnya