"Maksudnya apa ini?" Aliya menyeru. Matanya nanar menatap segenap yang ada di ruang tamu kediaman keluarga Ramdan. Dia menunjuk Damar-Nabila. "Kalian pasti mempengaruhi Nana semalam, 'kan? Atau, kalian bersekongkol sama Rima?"
"Aliya, enggak ada persekongkolan di sini. Keputusan itu murni dari Kirana sendiri." Rima menjelaskan.
"Tapi Nana enggak mungkin mutusin seperti itu. Nana enggak bakal ada pemikiran kayak gitu!" ucap Aliya penuh keyakinan.
"Ma, Tante Rima bener, kok. Nana yang mutusin itu. Nana pengin bersama mereka untuk sementara waktu."
Balasan dari sang putri membuat Aliya ternganga. Dia syok. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara.
"Ta-tapi, N-nak..., Pa, tolong kasih pengertian ke Nana, Pa." Aliya kehabisan kata-kata. Dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Baru saja semalam bermimpi indah tentang keharmonisan keluarga kecilnya, mendadak semua sirna ketika dirinya hendak menjemput Kirana. Putri semata wayangnya itu membuat sebuah keputusan yang tak pernah dibayangkan; Kirana ingin mengenal Damar dan Nabila.
"Nana, apa benar yang kamu katakan itu? Kamu sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Kamal.
Kirana mengangguk mantap. "Nana udah pikirin semuanya, Pa. Semalam, Nana udah denger penjelasan dari mereka. Nana merasa prihatin sama keadaan Tante Nabila sekarang." Kirana menatap orang tuanya penuh harap. "Ma, Pa, tolong berikan kesempatan buat Nana agar bisa berbakti sama mereka. Bagaimanapun, Nana adalah darah daging mereka. Kalau hal kecil ini bisa bikin mereka bahagia, kenapa enggak?"
"Tapi, Na, kamu enggak terbiasa hidup sama mereka. Mereka enggak ngerti kebutuhan kamu." Aliya masih bersikukuh.
"Justru karena itu, kami bisa saling kenal." Kirana menjawab.
Kali ini, Aliya benar-benar hilang akal. Dia tak mampu membantah putrinya tersebut.