Partner Provider

diarymilks
Chapter #1

Harvah Group

Lena Ariana adalah seorang recruiter andal di Harvah Group.

Selama lima tahun bekerja, namanya sudah dikenal hampir di setiap sudut perusahaan. Oleh para manager yang selalu membutuhkan karyawan baru. Oleh divisi yang tingkat keluar masuk karyawannya tinggi. Atau oleh bagian manajemen yang selalu minta karyawan baru dengan tiba-tiba, Lena adalah orang pertama yang dicari walaupun ada dua rekan recruiter lainnya.

Lena terbiasa kerja cepat. Menerima permintaan, mencari disemua sumber, melakukan screening, mengadakan interview, melakukan negosiasi dan memastikan posisi itu terisi sebelum berubah menjadi masalah dan teguran. KPI Lena hampir selalu tercapai. Kadang bahkan melampaui target. Namun, ada satu hal yang lima tahun ini tidak pernah benar-benar berhasil ia capai. Pengakuan.

Lena tidak membenci Harvah Group. Justru sebaliknya, ia terlalu mencintai tempat ini. Beberapa kali ia coba melamar ke perusahaan lain. Mengikuti proses interview dan psikotestnya, membandingkan benefit, menghitung gaji, mempertimbangkan jarak, hingga membayangkan kemungkinan masa depan. Tapi akhirnya, tidak ada yang benar-benar terasa seperti Harvah yang memiliki gaji sudah diatas UMR, lima hari kerja, flexible time tanpa sistem absensi, sarapan dan makan siang gratis, sistem kerja yang rapi dan terstruktur karena sudah tersertifikasi ISO, beban kerja yang tidak serabutan, bahkan ada fasilitas olahraga dan salon gratis.

Prinsip Lena sederhana: kalau tidak lebih baik, lebih baik tidak. Ia tidak ingin meninggalkan sesuatu yang sudah ia bangun hanya untuk mendapatkan sesuatu yang belum tentu lebih baik.

Karena itu, ia memilih bertahan. Bertahap dan pelan-pelan. Walaupun kadang pencapaian kerjanya hanya dihargai dengan kenaikan gaji yang bahkan tidak terasa juga pengaruhnya. Lena masih harus mencicil beberapa hutang. Masih menghitung pengeluaran sebelum akhir bulan. Masih berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu. Dan ini bukan tentang ia tidak kerja keras atau gaya hidupnya ketinggian. Tapi bagi orang-orang seperti dirinya, meningkatkan taraf hidup memang tidak semudah membalik telapak tangan.

Lena bukan berasal dari keluarga berada. Ia kuliah dengan beasiswa. Sejak sekolah, ia sudah terbiasa mengusahakan segalanya sendiri sampai akhirnya bisa ia dapat. Tidak ada modal keluarga. Tidak ada warisan orangtua. Tidak ada pihak yang bisa menanggung masa depannya. Lena bekerja. Menabung. Mencicil. Berusaha. Lalu mengulang semuanya lagi dari bekerja.

Sekeras apa pun Lena berusaha, ada kenyataan yang tidak bisa ia abaikan. Keluarganya yang belum memiliki rumah, hutang yang masih datang dan pergi, masalah keluarga yang selalu menemukan bentuk baru. Lucunya, setiap kali Lena merasa sudah berhasil naik satu langkah, hidup seperti menemukan cara untuk menariknya kembali ke anak tangga paling bawah. Kadang ia lelah, tapi tetap harus naik. Kemiskinan struktural ini selalu membuat Lena merasa seperti perlombaan keluar dari sedotan lumpur hidup.

Itu kenapa, meski tidak pernah mendapatkan pengakuan atau apresiasi bekerja, tapi bisa menjadi bagian dari Harvah Group tetap merupakan sebuah keberuntungan meski ia seringkali dikecewakan.

Bagaimana Lena tidak kecewa, saat seluruh tenaga dan usaha sudah ia kerahkan dalam bekerja, ia justru harus melihat teman seangkatannya dipromosikan lebih dulu. Lalu, suatu waktu saat company holiday diumumkan, namanya juga tidak ada di list karyawan yang berangkat padahal KPI nya selalu mencapai target. Sherly, managernya, menjelaskan senetral mungkin bahwa kuota kali ini terbatas dan memiliki prioritas bagi karyawan lama yang belum berangkat. Lena sempat patah semangat karena tahun-tahun lalu bisa berangkat seluruhnya mau lama atau baru. Lena heran prioritas seperti apa yang membuat kerja kerasnya kembali berada di urutan belakang. Tidak hanya itu, bahkan ia juga berkali-kali melihat penghargaan best employee jatuh kepada divisi sales dan operasional. Padahal Lena merasa sudah bekerja dengan sangat baik. Absensinya bagus. KPI tercapai. Kandidat yang direkrutnya bahkan beberapa kali menjadi karyawan terbaik perusahaan. Lena kembali protes kan hal ini.

“Kenapa best employee selalu sales atau operasional?”

Sherly menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Budget awarding dipangkas, Len. Jadi cuma ada satu best employee aja. Makanya kita kasih ke sales supaya mereka makin semangat jualannya.”

“Terus gue?”

“Lu kenapa?”

“Gue juga perlu semangat, kak.”

Sherly menghela nafas dan langsung menyodorkan handphonenya ke Lena. Di layar sudah terbuka aplikasi online food.

“Gue traktir kopi, biar lu semangat,” ucap Sherly.

"Ih, bukan ini maksud gue!" kesal Lena namun tetap ambil handphone itu dan memilih menu.

Lebih dari itu semua, hal yang paling memberatkan hati Lena adalah saat ia merasa divisinya, pekerjaanya, seperti tidak terlihat oleh manajemen. Divisi lain selalu memiliki kesempatan bertemu langsung dengan manajemen dalam meeting. Sementara Lena selalu bekerja di belakangnya. Ia hanya datang ketika divisi membutuhkan orang dari hasil meeting. Ia mendatangkan kandidat. Mengisi kebutuhan. Menutup kekosongan. Lalu mengulang semuanya lagi. Lena juga ingin manajemen tahu kalau karyawan terbaik di perusahaan itu adalah hasil perekrutannya.

Lena ingin pekerjaannya memiliki wajah. Ia ingin kontribusinya memiliki nama. Tetapi semakin lama rasanya ia semakin lelah berharap. Bukan karena ia memahami kondisi perusahaan. Bukan juga karena ia sudah menerima semuanya. Ia hanya terlalu lelah untuk terus menginginkan sesuatu yang mungkin memang tidak disediakan untuknya.

"Belum waktunya, Len," ucap Sherly saat Lena mengeluh tentang karirnya yang stuck dan ingin promosi.

"Belum atau emang gak bisa?" tanya Lena dengan nada menebak.

Sherly terdiam sesaat lalu mencondongkan diri, "Gue aja baru naik manager setelah 12 tahun gabung. Lu tau sendiri disini layer strukturnya panjang dan diisi sama karyawan lama semua."

Lena terdiam saja karena begitulah Harvah Group. Memang harus ada yang meninggal dulu untuk bagian bawah bisa naik jabatan.

"Jangan terlalu berharap disini, Len," ucap Sherly menasehati "Lu masih 27 tahun, masih bisa cari kesempatan di luar. Kalau gue udah gak bisa, tahun depan gue 40 tahun dan gue udah putuskan akan pensiun disini. Tapi lu masih panjang, pasti banyak tempat lain yang lagi nunggu kedatangan lu."

Lihat selengkapnya