Partner Provider

diarymilks
Chapter #2

Demi Uang, Ayo!

Harvah Group, 12.35

Lena mendarat di meja kerjanya. Mungkin ia masih emosi, jadi rasanya tidak lapar. Ia langsung buka laptop untuk melanjutkan pekerjaan.

Sebagai recruiter yang sudah lima tahun bekerja, Lena sudah dikenal hampir di setiap sudut perusahaan. Oleh para manager yang selalu membutuhkan karyawan baru atau oleh divisi yang tingkat keluar masuk karyawannya tinggi. Lena adalah orang pertama yang dicari walaupun ada dua rekan recruiter lainnya.

Lena terbiasa kerja cepat. Menerima permintaan, mencari disemua sumber, melakukan screening, mengadakan interview, melakukan negosiasi dan memastikan posisi itu terisi sebelum berubah menjadi masalah dan teguran. KPI Lena hampir selalu tercapai. Kadang bahkan melampaui target. Tapi entah kenapa, karirnya seperti komedi putar yang hanya jalan di tempat.

Beberapa kali ia coba melamar ke perusahaan lain tapi akhirnya tidak ada yang lebih baik seperti Harvah. Disini setidaknya sudah memiliki gaji diatas UMR, lima hari kerja, flexible time tanpa sistem absensi, sarapan dan makan siang gratis, sistem kerja yang rapi dan terstruktur karena sudah tersertifikasi ISO, beban kerja yang tidak serabutan, bahkan ada fasilitas olahraga, karaoke dan salon gratis.

Prinsip Lena sederhana: kalau tidak lebih baik, lebih baik tidak. Ia tidak ingin meninggalkan sesuatu yang sudah ia bangun hanya untuk mendapatkan sesuatu yang belum tentu lebih baik. Karena itu, meski lima tahun ini tidak ada perkembangan, ia memilih bertahan.

Bertahan meski pencapaian kerjanya hanya dihargai oleh bonus KPI yang bahkan tidak terasa juga pengaruhnya. Lena masih harus mencicil beberapa hutang. Masih menghitung pengeluaran sebelum akhir bulan. Masih berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu. Dan ini bukan tentang ia tidak kerja keras atau gaya hidupnya ketinggian. Tapi bagi orang-orang seperti dirinya, meningkatkan taraf hidup memang tidak semudah membalik telapak tangan.

Meskipun begitu, bisa menjadi bagian dari Harvah Group tetap merupakan sebuah keberuntungan, walau ia seringkali dikecewakan. Bagaimana ia tidak kecewa, saat seluruh tenaga dan usaha sudah ia kerahkan dalam bekerja, ia justru harus melihat teman seangkatannya dipromosikan lebih dulu. Lalu, suatu waktu saat company holiday diumumkan, namanya juga tidak ada di list karyawan yang berangkat padahal KPI nya selalu mencapai target. Sherly, managernya, menjelaskan senetral mungkin bahwa kuota kali ini terbatas dan memiliki prioritas bagi karyawan lama yang belum berangkat. Lena sempat patah semangat karena tahun-tahun lalu bisa berangkat seluruhnya asal KPI tercapai. Lena heran prioritas seperti apa yang membuat kerja kerasnya kembali berada di urutan belakang. Tidak hanya itu, bahkan ia juga berkali-kali melihat penghargaan best employee jatuh kepada divisi sales dan operasional. Padahal Lena merasa sudah bekerja dengan sangat baik. Absensinya bagus. KPI tercapai. Kandidat yang direkrutnya bahkan beberapa kali menjadi karyawan terbaik perusahaan. Lena kembali protes kan hal ini.

“Kenapa best employee selalu sales atau operasional?”

Sherly menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Budget awarding dipangkas, Len. Jadi cuma ada satu best employee aja. Makanya kita kasih ke sales supaya mereka makin semangat jualannya.”

“Terus gue?”

“Lu kenapa?”

“Gue juga perlu semangat, kak.”

Sherly menghela nafas dan langsung menyodorkan handphonenya ke Lena. Di layar sudah terbuka aplikasi online food.

“Gue traktir kopi, biar lu semangat,” ucap Sherly.

"Ih, bukan ini maksud gue!" kesal Lena namun tetap ambil handphone itu dan memilih menu.

Lebih dari itu, hal yang paling memberatkan hati Lena adalah saat ia merasa divisinya, pekerjaanya, seperti tidak terlihat oleh manajemen. Divisi lain selalu memiliki kesempatan bertemu langsung dengan manajemen dalam meeting. Sementara Lena selalu bekerja di belakangnya. Ia hanya datang ketika divisi membutuhkan orang dari hasil meeting. Ia mendatangkan kandidat. Mengisi kebutuhan. Menutup kekosongan. Lalu mengulang semuanya lagi. Lena juga ingin manajemen tahu kalau karyawan terbaik di perusahaan itu adalah hasil rekrutannya.

Lena ingin pekerjaannya memiliki wajah. Ia ingin kontribusinya memiliki nama. Tetapi semakin lama rasanya ia semakin lelah berharap. Bukan karena ia memahami kondisi perusahaan. Bukan juga karena ia sudah menerima semuanya. Ia hanya terlalu lelah untuk terus menginginkan sesuatu yang mungkin memang tidak disediakan untuknya.

"Belum waktunya, Len," ucap Sherly saat Lena mengeluh tentang karirnya yang stuck dan ingin promosi.

"Belum atau emang gak bisa?" tanya Lena dengan nada menebak.

Sherly terdiam sesaat lalu mencondongkan diri, "Gue aja baru naik manager setelah 12 tahun gabung. Lu tau sendiri disini layer strukturnya panjang dan diisi sama karyawan lama semua."

Lena terdiam saja karena begitulah Harvah Group. Memang harus ada yang meninggal dulu untuk bagian bawah bisa naik jabatan.

"Jangan terlalu berharap disini, Len," ucap Sherly menasehati "Lu masih 27 tahun, masih bisa cari kesempatan di luar. Kalau gue udah gak bisa, tahun depan gue 40 tahun dan gue udah putuskan akan pensiun disini. Tapi lu masih panjang, pasti banyak tempat lain yang lagi nunggu kedatangan lu."

"Tapi gak ada yang lebih baik dari sini Kak."

"Semua punya kekurangan kelebihan dan lu jangan takut menghadapi itu. Kadang, bukan kerja karyawannya yang gak oke, tapi tempat dia yang gak kasih kesempatan untuk berkembang. Pohon kalau cuma di tanam, tapi gak disiram, ya akan mati sebelum berbuah."

Lena kembali diam. Sherly memang bukan hanya sebagai atasan tapi mentor yang selalu memberikan solusi saat ia kesulitan dan ini yang membuat Lena semakin berat meninggalkan Harvah, ia takut atasannya nanti tidak sebaik Sherly.

Sejak saat itu ia percaya bahwa mengusahakan sesuatu yang bukan untuknya hanya akan membuang waktu. Ia bahkan selalu melihat resiko sebelum melakukan apapun. Hidupnya sudah berat, jadi ia hanya akan melakukan hal-hal yang menguntungkan dirinya saja.

Itu kenapa Lena sangat semangat membangun Partner Provider, sebuah agensi rekrutmen milik pribadinya yang membantu siapapun dalam mencari tenaga kerja. Sudah berjalan dua tahun dan cukup menguntungkan.

Lena selalu menerima bentuk permintaan apapun yang masuk di email termasuk permintaan dari niko@prakarsagroup.com yang sangat amat tidak jelas itu!

Pertama, dia mengajukan kerja sama dengan nominal 25.000.000, sebuah nominal yang jauh dari harga jasanya tapi bisa menghapus sebagian besar hutan cicilannya. Tentu Lena semangat.

Kedua, bentuk kerja sama nya adalah mencari seorang wanita untuk dijadikan pasangan hidup direkturnya yang tua dan menyebalkan itu. Ini memang tidak nyambung, tapi ia paham setiap orang punya permintaannya masing-masing, meski belum pernah, tapi Lena rasa ia bisa menawarkan beberapa kandidatnya yang belum menikah.

Ketiga, tapi kerja sama dibatalkan sepihak hanya karena keadaan diluar kendalinya yang membuatnya datang terlambat. Lena terkekeh kesal, entah kenapa, ia seperti dipermainkan oleh nominal uang.


Ting!

Saat sedang rekap data turnover di tengah jam kerja yang hampir mau selesai, Lena melirik ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Ia membukanya.

[Hi, Lena! This is Niko dari Prakarsa Group.]

[Sorry approach kamu lewat WhatsApp. Untuk kerja samanya, saya dan Pak Adrian sudah diskusi dan kami mau melanjutkan yah. Apa besok kita bisa meeting jam 10.00?]

Lena terdiam kesal membacanya. Serius Niko kirim pesan begini? Apa ia tidak ingat dengan apa yang terjadi siang tadi? Setelah semua yang ia lalui sejak pagi, kemacetan, kecelakaan, sampai kerja sama yang tiba-tiba dibatalkan, sekarang mereka justru meminta kerja sama itu dilanjutkan? Lena bingung. Sebenarnya, apa yang mereka pikirkan? Seenaknya meminta orang datang, membatalkan, lalu memintanya datang lagi.

Dengan kesal Lena langsung mengetik, membalas pesan itu;

[Hi, Niko! Bisa yah.]

Kirim.

Lena meletakkan ponselnya, lalu menghela napas dalam-dalam. Tenang. Tenang. Tenang. Ia tidak boleh gegabah hanya karena kekesalan sesaatnya ini. Bagaimanapun kerja sama ini tidak murah. Demi uang, jika dilanjutkan maka ayo!

Lena pulang kerja tepat jam 22.15. Ia sengaja menuntaskan pekerjaanya demi besok bisa izin datang siang lagi. Begitulah keuntungan bekerja di Harvah Group.


****


Keesokan paginya, Lena sudah duduk di lobby Prakarsa Group sejak pukul sembilan. Masih ada satu jam sebelum meeting dimulai.

Sambil menunggu, Lena berpikri ulang, harusnya ia senang kerja sama dilanjutkan, tapi entah kenapa ia justru semakin tidak percaya diri. Mungkin karena sekarang ia sudah tahu seperti apa sosok Adrian dari kejadian kemarin, perfeksionis, tegas, dan mungkin sedikit menyebalkan.

“Lena!”

Lena menoleh. Niko berjalan menghampirinya.

Lihat selengkapnya