Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Namun, tidak seorang pun di ruang meeting executive itu berani berdiri dari kursinya. Meeting proyek yang telah berlangsung hampir dua jam belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai.
Bagaimana bisa selesai kalau Adrian masih mempermasalahkan kenaikan budget pembangunan yang mencapai dua puluh persen dari project plan awal.
Pertama, angka itu sudah jauh melewati deviasi yang seharusnya.
Kedua, ia minta seluruh project analyst menghitung ulang contingency cost saat itu juga dan mempresentasikan dasar perhitungannya. Dalam hitungan menit, meja meeting dipenuhi laptop yang terbuka, lembar data yang berpindah tangan, dan suara diskusi yang semakin tegang.
Ketiga, ia tidak menerima alasan proyek berhenti karena curah hujan yang tinggi mengakibatkan lokasi terendam banjir dua meter.
"Hujan bukan sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit tanpa pola. Ada berapa musim di Indonesia? Apakah setiap musim waktu datangnya selalu berubah-ubah?"
Tidak ada yang menjawab.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain.
"Bukan cuacanya yang salah," katanya tenang, "Data kalian yang nggak benar."
"Tapi curah hujan tahun ini memang di luar perkiraan, Pak," sahut salah seorang project analyst.
"Berarti angka yang ada di budget plan kamu hasil kira-kira?"
Pria itu langsung terdiam.
Adrian menarik napas panjang. Kesabarannya habis.
"Saya tahu sejak kalian mengajukan proposal budget plan, kalian pakai baseline tahun lalu, kan?"
Tak ada jawaban.
"Waktu saya tanya apakah angkanya sudah sesuai kondisi sekarang, sudah diproyeksikan, dan sudah direview ulang, kalian jawab apa?"
Hening.
Adrian mengetuk meja dengan ujung jarinya, "Kalian jawab apa waktu itu?"
"Iya, sudah sesuai, Pak."
"Sudah diproyeksikan, Pak."
Adrian mengangguk, "Terus kenapa harus ada meeting ini lagi?"
Tak ada yang berani menjawab.
"Kenapa?!" Suaranya meninggi.
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan beberapa orang di luar ruang meeting sempat menoleh ketika suara Adrian terdengar hingga koridor.
Pada akhirnya, meeting selesai tanpa perubahan budget. Adrian menyerahkan satu instruksi sederhana, cari solusi agar proyek tetap berjalan tanpa menambah anggaran. Satu per satu orang keluar dari ruangan dengan wajah lelah dan ekspresi putus asa.
Sementara Adrian baru saja masuk ke ruangannya, sekejap ia langsung keluar dengan langkah cepat. Niko sudah berdiri di belakang sambil membawa beberapa dokumen. Adrian akan temui kepala BPBD, ia minta Niko cari private room. Niko langsung memperlihatkan tampilan reservasi private room dekat kantor BPBD. Sudah. Adrian mengangguk, oke.
Masalah banjir yang mengancam pembangunan cukup menguras waktu Adrian. Namun, seperti biasa, ia tidak pernah membiarkan masalah berlarut-larut. Negosiasi. Koordinasi. Keputusan cepat. Keesokannya, beberapa unit penanganan banjir dari BPBD diturunkan ke area proyek. Genangan berhasil ditangani. Pembangunan kembali berjalan. Dan yang paling penting, anggaran proyek tetap sesuai rencana. Proyek itu selesai tepat waktu dan masa kerja Manager Project itu juga diselesaikan. Semua anggota tim proyek menerima surat peringatan.
"Tapi, Pak," Manager HR yang duduk di hadapan Adrian tampak ragu. "Kalau kita langsung cut, kita tetap harus memberikan kompensasi sesuai kontrak."
"Berikan."
"Tapi apa kita tidak beri toleransi waktu supaya dia bisa mencari pekerjaan baru?"
Adrian mengangkat wajah dari dokumen di tangannya, "Jangan sampai saya buat keputusan cut dua orang. Kamu dan dia."
Manager HR terdiam sambil menahan jari-jarinya mulai gemetar. Adrian kembali menunduk membaca dokumennya. Manager HR itu berdiri, lalu keluar dari ruangan.
****
Prakarsa Group dikenal sebagai gurita bisnis di bidang konstruksi yang memiliki kredibilitas terbaik diantara semua pesaing. Perusahaan itu tidak hanya menawarkan pembangunan yang terencana dan terstruktur, tetapi juga menjadikan ketepatan waktu sebagai salah satu standar utamanya.
Prinsip itu telah berjalan selama puluhan tahun. Sampai Adrian, anak tunggal sang pemilik, kembali menginjakkan kaki di Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan masternya di Jerman.
Berbeda dengan gaya kepemimpinan ayahnya yang cenderung berfokus pada operasional, Adrian datang dan mengacak-acak hampir semuanya. Struktur organisasi dirombak. Jumlah karyawan dievaluasi. Beban kerja dihitung ulang. Beberapa posisi dihapus. KPI yang selama bertahun-tahun berantakan dipaksa untuk dibenahi. Sistem audit operasional dan keuangan diperketat. Bahkan ketika perusahaan menggunakan auditor eksternal, Adrian tetap mengawasi prosesnya secara langsung.
Baginya, perusahaan tidak bisa terus berjalan hanya karena sudah bertahan selama tiga puluh lima tahun. Jika sistemnya buruk, perbaiki. Jika orangnya tidak mampu, ganti. Jika tidak suka dengan caranya bekerja, silakan keluar. Sesederhana itu.
Adrian tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan siapa dirinya kepada orang lain. Apa yang ia lakukan memang begitulah caranya bekerja. Sebagai anak pemilik perusahaan, sebenarnya Adrian bisa saja duduk nyaman di ruang direktur, menerima laporan, menandatangani dokumen, menghadiri beberapa meeting, lalu pulang. Nyatanya, ia justru menjadi orang yang paling sering berada di tengah masalah. Turun langsung. Bertanya. Memeriksa. Mengoreksi. Mengevaluasi. Tentu dengan caranya sendiri yang sering kali disalahpahami.
Banyak orang menilai mulut Adrian terlalu tajam. Ia bisa mengatakan seseorang tidak kompeten tanpa perlu meninggikan suara. Bisa menemukan kesalahan hanya dengan beberapa pertanyaan. Dan ketika ada karyawan mengeluhkan tekanan pekerjaan, jawabannya hampir selalu sama, "Kalau nggak sanggup, resign."
Adrian hanya merasa orang yang benar-benar mampu bekerja tidak akan punya banyak waktu untuk mengeluh. Ia juga pernah bekerja untuk orang lain. Pernah dimarahi karena kesalahan. Pernah berada di posisi paling bawah. Pernah diancam akan dipecat. Tapi ketika masalah datang, yang ia lakukan adalah mencari cara agar masalah itu selesai. Bukan mencari alasan agar dirinya tidak disalahkan. Itulah yang selalu ia tuntut dari seluruh karyawan Prakarsa Group.
Dan setidaknya, begitulah perusahaan itu berjalan. Stabil. Terstruktur. Tepat waktu. Di bawah kendali seorang direktur yang terlalu tegas untuk diajak bermain-main. Adrian disegani. Dihormati. Sekaligus dibenci. Ia tahu semuanya dan ia tidak peduli.