Partner Provider

diarymilks
Chapter #1

Jalan Menuju Keberhasilan

Jam sudah hampir menunjuk pukul sembilan, tapi Lena masih memandangi dirinya depan cermin. Hari ini ia memang izin datang siang ke kantor. Bukan karena kesiangan, bukan juga karena mendapat panggilan interview. Hari ini ia punya urusan yang jauh lebih penting yaitu menjemput rezeki yang sudah menunggunya di Prakarsa Group.

Ayo berangkat!

Sepanjang perjalanan yang didukung oleh angin dan laju ojek online yang sedikit lambat, Lena mulai berpikir ulang. Sebenarnya, ia masih belum sepenuhnya paham tujuan kerja sama ini. Kenapa mereka memintanya mencarikan pasangan hidup? Bagaimana mereka bisa begitu percaya padanya? Dan yang paling mengherankan, kenapa mereka berani membayarnya semahal itu?

Maksud Lena, masih banyak pihak yang lebih berpengalaman di bidang ini. Sementara dirinya? Pertama, ia hanya seorang recruiter yang selama ini mencari orang yang mau kerja, bukan cari orang yang mau pacaran atau menikah. Kedua, percintaannya saja tidak berhasil, bagaimana ia bisa mengurus percintaan orang lain? bahkan ia tidak pernah punya pengalaman yang mendukung. Lena menghela nafas sejenak, entahlah, ia tidak yakin dan tidak berani untuk hanya sekedar berucap, semoga hari ini berhasil.

Tapi meski begitu, Lena selalu percaya bahwa segala sesuatu terjadi pasti punya alasan, apalagi yang mendatangkan kebaikan. Dipilih sebagai pihak kerja sama dengan perusahaan sebesar Prakarsa Group merupakan hal baik baginya. Meski ragu, ia tetap berharap semoga ini bisa menjadi jalan baginya untuk benar-benar berhasil dalam hidup.

Ngik!

Bruggg!!!

"Aw!" teriak Lena saat kepalanya terbentur helm driver.

Driver langsung panik meminta maaf dan menyakinkan kalau ada kecelakaan di depan. Masih meringis, Lena mengangguk paham karena jalanan yang tadinya lancar mendadak padat. Klakson bersahut-sahutan, sementara beberapa pengendara saling menyalip dan berdempetan demi mencari celah.

Tiba-tiba Lena terdiam. Ia baru menyadari sesuatu. Waktu meeting nya. Mata Lena langsung melotot saat melihat jam tangan yang mendekati pukul sepuluh. Panik mulai muncul saat ia melihat jalanan masih padat dan tidak memungkinkan untuk kendaraannya jalan. Ia berusaha melihat ke depan. Ke arah keramaian yang disebabkan sebuah taksi dan gerobak buah yang bertabrakan, lengkap dikerumuni orang-orang yang berdebat dan penasaran.

Lena turun dan berjalan ke depan. Di sana, ia lihat sopir taksi sedang didesak warga untuk mengganti rugi, sementara si sopir bersikeras bahwa tukang buah itu yang sembarangan menyeberang. Lena tidak berniat menjadi pahlawan untuk melerai perdebatan itu. Ia hanya ingin cepat sampai ke Prakarsa Group. Tanpa banyak pikir, Lena langsung memunguti buah-buah yang berserakan dan mengembalikannya ke gerobak. Beberapa orang ikut membantu sambil mengomel karena kecelakaan itu sudah terlalu lama menghambat jalan. Gerobak buah akhirnya dipinggirkan. Taksi itu pun langsung melaju dengan kencang, disusul kendaraan lain yang satu per satu mulai bergerak.

Lena segera kembali ke ojeknya, “Ayo, Pak!”

Ojek kembali melaju. Sayangnya, tetap lambat. Lena benar-benar kesal menyaksikan itu. Ia bahkan sudah meminta untuk ngebut saja. Tapi sang driver memberitahu kalau ini sudah kecepatan paling tinggi untuk sebuah motor scoopy! Lena terdiam pasrah.


****


Prakarsa Group

Lantai 15 — Executive

Pukul 10.35.

Adrian sedang memeriksa beberapa dokumen saat Niko, sekretarisnya, datang membawa kabar.

“Pak, meeting dengan Partner Provider kemungkinan diundur. Mereka ada kendala di jalan.”

"Batalkan saja," ucap Adrian tanpa menoleh sedikit pun.

Niko terdiam. Sebenarnya, ia sudah duga akan seperti itu. Untuk urusan waktu, Adrian tidak akan toleransi.

“Tapi mereka mengirimkan video kondisi jalan, Pak.”

“Apa kejadian di jalan itu satu banding seribu yang gak bisa diprediksi?” potong Adrian.

“Kalau mereka serius dengan kerja sama ini, mereka bisa memperhitungkan waktu dan kendalanya.”

Niko mengangguk, “Baik, Pak.”

Adrian berdiri, mengambil beberapa dokumen, “Saya gak punya waktu untuk menunggu.”

Ia melangkah menuju pintu, “Saya mau tinjau progres dengan tim proyek. Sampaikan saja, kerja sama dibatalkan.”

Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung pergi. Niko hanya bisa menghela napas, entah harus mencari ke mana lagi pihak yang bisa mencarikan pasangan hidup untuk Adrian, direktur utama Prakarsa Group.


Sementara itu, Lena akhirnya tiba di Prakarsa Group. Begitu turun dari ojek, ia langsung lari masuk ke lobby. Langkahnya melambat ketika dari arah seberang, ia melihat Adrian jalan bersama tim proyeknya.

Deg. Jantung Lena langsung berdegup saat mata mereka bertemu. Adrian memandangnya. Langkah Lena jadi terhenti, mengikuti arah Adrian yang jalan melewati.

"Wah, perusahaan ini bener-bener bagus sampai ke orang-orangnya, andai Harvah punya satu kayak gitu," gumam Lena tersenyum.

Senyum Lena langsung hilang saat ia teringat. Meeting! Lena langsung lari ke meja resepsionis.


Adrian sudah berada dalam Alphard putih yang terparkir depan lobby. Tapi pandangannya masih tertuju ke dalam gedung, tepat ke arah meja resepsionis. Ia langsung menelepon HR Manager.

“Hari ini ada jadwal interview?” tanya Adrian tanpa basa basi.

“Ada, Pak. Project Manager, atas nama Annabella Stevanny.”

“Kapan?”

“Sekarang, Pak.”

“Oh,” Adrian mengangguk kecil, seolah memahami sesuatu.

“Saya jam dua kembali ke kantor. Langsung jadwalkan dia interview dengan saya.”

“Oh? Iya, Pak. Baik.”

Adrian langsung mengakhiri panggilan. Mobil melaju meninggalkan lobby.


Di ruang meeting lantai tiga, Lena masih tidak percaya saat Niko bilang bahwa kerja sama mereka dibatalkan.

“Dibatalkan Pak?” Lena memastikan.

Niko mengangguk, “Iya. Harusnya meeting kita jam sepuluh, ini sudah lewat hampir satu jam, kamu baru datang.”

Lihat selengkapnya