Binar hanya membisu ketika Umi Rani menaruh setumpuk peralatan sekolah baru. Tatapan dan nada bicaranya lembut membuat bocah sepuluh tahun itu cukup tenang berada disampingnya.
“Mulai besok, Binar berangkat sekolah, ya.” ucap Umi Rani yang dibalas dengan anggukan kecil. Kepala Binar menunduk masih tidak memiliki keberanian memandang lawan bicara. Tiba-tiba suara pintu terbuka mengejutkannya. Seketika kaki kecilnya melangkah mundur dengan tangan menutup telinga. Bayangan perempuan yang ia panggil mama kembali mencuat di benaknya. Siluetnya dengan rambut panjang dan sapu di genggaman membuat sekujur tubuh BInar bergidik hebat.
“Berapa kali Umi bilang ketuk pintu dulu sebelum masuk.” tegur Umi Rani kepada anak-anak penghuni panti lainnya. Ia tahu Binar ketakutan dan berusaha mengendalikan diri ketika mendengar sesuatu yang mengejutkan.
Tiga bulan yang lalu, ketika terakhir kali Binar merasakan tubuhnya diseret dan dihujani pukulan, ia terbangun di sebuah ruang putih yang asing. Umi Rani dan beberapa orang lainnya nampak berbicara sangat serius. Gadis kecil itu tidak mengerti dengan yang mereka katakan, namun entah mengapa dirinya sangat lega keberadaan mamanya tak ada disana. Meskipun jejak kenangan mama Binar masih saja membuatnya ketakutan.
“Dia begitu sejak suaminya memilih pergi bersama perempuan lain. Sayang sekali amarahnya ia lampiaskan ke putrinya sendiri.”
“Mengapa orangtua bisa setega ini dengan anak kandungnya sendiri?”
“Hei, semua ini salah suaminya yang selingkuh. Perempuan itupun sebetulnya membutuhkan pertolongan.”
***
Sudah enam bulan sejak pertama kali Binar menginjak panti dan menjadikannya rumah baru. Anak-anak panti lainnya sering mengajaknya bermain namun sering ia tolak. Mereka teman-teman yang baik, tapi Binar tidak cukup berani membaur diantara mereka.
“Woi... bawa sini cepetan!” seru seorang anak laki-laki kepada dua teman lainnya saat Binar berjalan pulang sekolah yang tak jauh dari Panti. Seragam batik yang mereka kenakan sama dengan yang ia pakai. Melihat salah satu diantaranya melempar buku latihan ujian akhir, Binar menerka anak-anak itu kakak kelasnya di sekolah.
“Ini sukanya nyolongin ikan di rumah nih.” Kata salah satu anak yang berpakaian tidak rapi. Tangannya membawa seuntai tali rafia yang ia lilitkan ke leher seekor kucing. Binar sontak membatu di tempat menyaksikan pemandangan itu.
“Heh, Rifki! Lepasin tuh kucingnya.” teriak Lala yang menemani Binar pulang. Perempuan berkucir kuda yang duduk di kelas enam itu menatap gerombolan anak laki-laki tanpa takut.
“Ogah. Sukanya eek di rumahku sama ngambilin ikan. Dia harus dihukum dong.” Gerombolan anak laki-laki itu mulai menyeret anak kucing berbulu oranye yang mengeong-ngeong keras. Binar melihat salah seorang dari mereka melemparinya batu. Belum puas, ia tendang si kucing yang tengah berpusar-pusar kebingunan ingin menyelamatkan dirinya. Namun tali yang membelit lehernya mencegahnya kabur. Lala tampak bergerak mendekat hendak menyelamatkan si kucing. Namun anak yang berpakaian tak rapi mengacungkan batu padanya.
“Apa? Berani? Papaku juga ingin melemparinya dengan batu kalau sampai rumah lagi.”
“Yuk Binar, kita bilangin Umi Rani biar mereka dimarahi.” ajak Lala. Melihat batu di tangan anak bernama Rifki itu membuatnya agak takut. Ketika Lala menggandeng tangan Binar, ia cuma berdiri mematung dengan sekujur tubuh bergidik. Bayangan mama mulai memenuhi kepalanya. Telinga Binar berdenging mendengar si kucing mengeong seolah meminta pertolongan. Sedangkan matanya masih terpaku menyaksikan hal mengerikan itu.
“AAAAAAAAAAAAAAA...” Lala terkejut bukan main mendengar jeritan Binar yang kini berlari meraih ranting pohon yang tergeletak di piggir jalan. Dengan langkah cepat ia dekati anak laki-laki yang juga menatapnya terkejut. Dengan ranting digenggaman, Binar mengayunkan rantingnya sembarangan berusaha menjauhkan Rifki dan teman-temannya dari anak kucing yang mengeluarkan darah d ujung matanya. Tubuh kecilnya meringkuk tampak sukar berdiri.
Ketika mereka menjauh dari anak kucing yang lemas di permukaan aspal, Binar jatuhkan ranting dari tangannya dan segera memugut anak kucing tak berdaya itu. kaki mungilnya berlari kencang menuju panti dan menemukan Umi Rani bersama mamang, tukang kebun panti di halaman. Belum sempat wanita berjilbab kuning kenari menanyakan sebab kedatangan Binar yang tiba-tiba, tangis bocah itu meledak dengan anak kucing yang ia rengkuh tak berdaya.
***
Sore harinya, Umi rani tengah berdebat dengan salah satu orang tua anak yang terkena ayunan ranting Binar. Anak perempuan berambut hitam sepunggung itu duduk meringkuk di samping kardus anak kucing yang ia selamatkan seraya mengelusnya pelan. Kaki si kucing patah dan harus dibebat perban. Sedangkan darah di ujung matanya sudah dibersihkan. Umi Rani menyuruh Ira yang sudah duduk di bangku kelas sepuluh membawa kucing itu ke dokter hewan bersama mamang, siang tadi.
“Ini namanya kekerasan. Lihat lengan anak saya lecet kena ranting anak itu.” seru laki-laki bersuara berat.
“Anak-anak saya cuma ingin menyelamatkan kucing yang disiksa anak bapak.” balas Umi Rani yang mulai tak sabar.
"Jangan bilang Ibu ini lebih membela kucing daripada manusia.” geram orangtua Rifki, anak laki-laki yang terluka karena sabetan ranting Binar. “Bisa-bisa saya memperkarakan ini ke polisi.”
“Silahkan saja.” sahut Umi Rani tegas. “Dengan begitu semua orang akan tahu bagaimana cara bapak mendidik anak. Di usia sekecil itu dengan kejam dia menyakiti binatang dan mengancam teman-temannya dengan batu. Bahkan dia sendiri yang mengatakan bahwa bapak akan menyakiti kucing itu jika datang kembali ke rumah bapak. Silahkan lapor polisi. Kalau perlu undang saja media. Atau harus saya sendiri yang memediakan ini?”